
Berselang beberapa saat kemudian. Shireen datang dengan membawa sesuatu di tangannya.
"Om, aku masuk ...."
Tak mendapat sahutan dari dalam, Shireen memutuskan untuk masuk saja. Ternyata yang ia tangkap saat ini, ialah pemandangan dewa Yunani yang tengah terlelap dalam sandaran kursi dengan selonjoran kaki.
"Issh, tidur posisi kayak gitu jadi aja! Gak pegel apa?" celetuk Shireen.
Ia meletakkan makanan yang ia bawa, di atas meja. Kemudian, gadis itu menghampiri Samuel yang masih asik terpejam. 'Terus gue ke sini cuma liatin orang tidur gitu?' batinnya.
Shireen mengamati wajah Samuel yang begitu tenang, ia tersenyum karena ia menyadari bahwa pria ini seseorang yang sudah mengikat cinta bersamanya. "Kenapa tampannya gak pernah hilang?" gumamnya.
"Puas?"
Seketika Shireen terlonjak, dan ingin menjauh dari pria yang sudah membuka matanya itu. Namun, Samuel begitu cekatan sampai Shireen tak sanggup untuk melarikan diri.
Pria itu mengangkat tubuh mungil Shireen ke atas pangkuannya. Menatap mendamba, memberikan senyum smirk yang mampu membuat Shireen salah tingkah.
"Om, nanti ada yang lihat posisi kita kayak gini!" ucap Shireen melihat kesana-kemari.
"Tidak akan ada!"
"Om, aku-emmph."
Shireen terkejut, ternyata semburat dari tatapan Samuel tadi selalu mengarah pada bibirnya.
Pria itu menarik tengkuk Shireen untuk memperdalam l*matannya, hingga c*umanya berkesan sensual bagi Samuel. Mengisap, menyesap, bahkan lidah pria itu bagaikan menari-nari dalam mulut Shireen, sungguh candu.
Walaupun tak mendapat pergerakan dari Shireen, yang terasa begitu kaku. Namun membuat Samuel tak ingin melepaskannya. Rasa manis di bibir merah Cherry Shireen, seakan menyapu mulutnya.
Shireen tak membalas, ia masih dalam tatapan tercengang. Membiarkan, pergerakan Samuel yang bermain-main di mulutnya, sampai pada akhirnya ia kehabisan pasokan oksigen karena ulah pria itu.
"Stop! Aku rasanya mau mati Om!" sergah Shireen dengan napas yang terengah-engah.
"Maaf, aku tidak bisa menahan melihat bibir manismu," balas Samuel dengan tatapan sayunya.
Shireen bersemu, ia tak menyangka bisa merasakan lagi ciuman yang dulu pernah mereka lakukan. Namun, kali sangat berbeda.
Cup ...
Samuel kembali mel*mat bibir Shireen. Kali ini dengan penuh kelembutan, penghayatan, sampai-sampai Shireen terbuai dan mulai membalas lum*tan dari Samuel. Sungguh mereka berciuman dengan sangat erotis.
Cukup lama mereka terbuai dalam permainan itu, hingga Shireen sendiri yang menghentikannya. Ia kehabisan napas karena Samuel yang begitu bringas dalam ciumannya.
__ADS_1
Akhirnya penyatuan bibir mereka terlepas, dengan akhiran Samuel yang mengusap sisa saliva di bibir Shireen.
"Huh, makanannya nanti dingin," ucap Shireen menahan pancaran aura wajahnya yang bersemu merah.
"Aku ingin segera menikah denganmu," balas Samuel. Shireen merasa kesal dengan jawaban ambigu dari Samuel.
"Aku bahas makanan Om, bukan nikah!"
"Tapi aku ingin cepat nikah denganmu!"
"Terserah. Kalo gak ada keperluan lagi, aku mau pulang!"
"Suapi aku dengan tanganmu sendiri!"
"What? Gak mau pakai sendok?"
"No!"
Shireen menghembuskan napasnya pasrah, ia digiring oleh Samuel menuju sofa. Di sana Shireen mulai menyiapkan makanan yang dibawa dan dimasak sendiri olehnya.
"Om, pakai sendok aja ya?"
"Aku ingin suapan dari tanganmu langsung!"
Shireen berdesis, "Hissh, emang Om gak jijik apa makan pakai tangan?"
Lagi-lagi Shireen hanya bisa mendengus. Ia dihantar oleh Samuel untuk mencuci tangan, setelahnya Shireen langsung menyuapi Samuel.
Shireen merasa geli saat jari-jari lentiknya sedikit menyentuh bibir Samuel. Sedangkan, pria itu sangat menikmati.
Namun, Samuel seperti melunjak. Entah itu sengaja atau tidak, setelah semua makanan sudah masuk ke dalam mulut, Samuel menj*lati tangan gadis itu dengan begitu sensual. Lagi-lagi itu membuat Shireen geli, ia tak habis pikir dengan otaknya yang berkelana tak wajar.
'Astaga kenapa mulutnya sehangat itu?' Hatinya seakan ada sengatan listrik, bergelisir di dada.
"Masakanmu begitu lezat, aku selalu suka," puji Samuel.
"Terima kasih. Om, aku mau kerja lagi di cafe. Tapi, aku takut gak diterima, sedangkan aku udah gak masuk kerja selama sebulan," ujar Shireen masih sibuk menyuapi makanan ke dalam mulut Samuel.
"Lantas, apa yang membuatmu takut tidak diterima? Jelas-jelas cafe itu milikku. Kau boleh keluar masuk cafe itu sesuka hatimu," balas Samuel.
"Beneran Om Shireen boleh bekerja lagi di sana? Tapi, Om ikut yah, aku takut sama manager Om yang baru itu."
"Untuk apa kau bekerja?"
__ADS_1
"Cari uanglah Om. Aku gak mau jadi pengangguran, biaya kuliahku juga harus dilunasi," cetus Shireen.
Samuel meletakkan ponselnya, pandangan pria itu mengarah lurus menatap Shireen yang juga menatapnya. "Kau tidak perlu memikirkan hal itu. Aku bisa membiayai kuliahmu sampai kau mendapat gelar sarjana yang kau inginkan, aku juga bisa memberikanmu rumah untuk tempatmu berteduh semewah yang kau mau. Kau tak perlu capek bekerja, asal kau tak pergi jauh dariku lagi," ucap Samuel tulus.
"Gak mau Om, Shireen mau hidup dengan apa yang Shireen hasilkan sendiri," balas Shireen.
"Lalu bagaimana jika kau menikah denganku segera. Jika kau sudah menjadi istriku, semua milikku sudah pasti akan menjadi milikmu juga."
Shireen menghela napasnya dengan jengah, ia sangat malas jika membahas prihal ini. "Om, Shireen belum siap ...."
"Apa yang membuatmu belum siap, hmm? Semua sudah tersedia, apa yang menjadi penghalang untuk kita menikah?"
"Restu. Bagaimana dengan restu dari orang tua Om?"
***
Shireen menunduk, saat memasuki cafe. Dia terus menyembunyikan wajahnya di lengan Samuel.
"Tolong terima kembali, gadis ini untuk bekerja di sini," ucap Samuel.
"Pak Samuel selamat datang. Jika boleh tahu, siapa perempuan ini? Biar saya intereview terlebih dahulu," ucap manager cafe.
"Tidak usah, sebelumnya dia sudah pernah bekerja di sini. Karena merawat saya, dia jadi berhenti," balas Samuel.
"Baik, Pak."
Keesokan harinya.
Shireen bekerja, seperti biasa. Ia merasa sangat senang karena kembali mencari uang dari hasilnya sendiri. Walaupun cara Shireen seperti ini, membuat para karyawan menggosipkannya jika Shireen memakai jalan mulus dengan menggunakan orang dalam untuk mendapatkan pekerjaannya kembali.
Ia juga dibicarakan mempunyai hubungan khusus dengan sang pemilik cafe. Memang benar, Shireen tak mempermasalahkan isu-isu yang mereka buat, karena semua itu suatu kebenaran. Hanya saja, ia belum siap untuk jujur dengan mereka.
"Reen sekarang jujur sama kakak, kamu punya hubungan apa sama pak Samuel?" ucap Sheila dengan penuh selidik.
"Hmm, Shireen gak ada hubungan apa-apa kok Kak," jawab Shireen gugup.
"Kakak bisa lihat kamu bohong lho!"
"Hmm, oke jujur Shireen punya hubungan khusus sama Om Sam. Tapi jangan berpikir aku ini simpanannya. Kita memang saling jatuh cinta," jelas Shireen malu-malu.
Terpaksa ia berkata jujur, karena dirinya sudah tidak mau dianggap sebagai wanita yang tidak baik mempunyai hubungan khusus terlebih dengan seorang duda.
"Oalah, coba kamu jujur dari dulu, kakak pasti dukung kamu dan gak duga-duga seperti yang digosipkan para karyawan. Kakak paham Shireen, kamu gak boleh tutupi lagi. Padahal baru mau kakak goda tuan Samuel yang tampan itu, haha."
__ADS_1
Bersambung ....
Jangan salahin umur Ay yang belum punya KTP dalam menilai cerita ini. Karena ini adalah imajinasi liar, bukan pengalaman. Pelan-pelan bacanya ya ....