Ibu ASI Untuk Bayi Om Duda

Ibu ASI Untuk Bayi Om Duda
Perjuangan Samuel


__ADS_3

Shireen melepaskan tangannya dari genggaman pria itu. Gadis ini menatap tajam kearah pria yang masih menjadi misteri, siapa sosok sebenarnya dia.


"Sebenarnya lu mau apa sih sama gue? Berantem di toilet? Hayoo, gue nggak pernah takut sama manusia!" sarkasnya, merasa dirinya begitu perkasa.


Tiba-tiba sosok pria itu, membuka kacamatanya, kemudian membuka topinya, menyugar rambut sebentar, lalu ia melepaskan maskernya.


Tampak sudah rupa pria itu. Dewa Yunani tercipta di depan mata Shireen, tetapi ia sangat takut melihatnya.


Shireen berusaha untuk keluar dari toilet, ia ingin melarikan diri dari pria ini. Namun naasnya, pria itu berhasil menangkap dan menggapainya hingga jatuh ke dalam pelukan.


"Kau bilang kau tak pernah takut dengan manusia. Kenapa kau menghindariku?" bisik sosok pria itu dengan sangat lirih di telinga Shireen.


"Om, lepasin aku!"


"Untuk kali ini aku tidak akan melepaskanmu lagi!" tegas Samuel. Tangannya memeluk paksa, dan menekan tubuh Shireen agar benar-benar menyatu dengan tubuhnya.


Saat itu Shireen merasakan kehangatan yang dulu pernah ia rasakan. Namun berbeda suasana dan rasanya saat ini.


"Aku mohon maafkan aku. Aku tidak bisa hidup dalam dibaluti dengan rasa bersalah." Samuel menangkup wajah Shireen yang sudah mengeluarkan banyak air mata.


Namun saat itu Shireen masih tercengang, seolah tak percaya dengan sosok yang dilihatnya saat ini. Bersusah payah ia menghindar selama 2 tahun, tetapi dengan sangat mudahnya hari ini dipertemukan kembali.


"Shireen sudah berusaha untuk menghindari Om selama 2 tahun ini, Shireen bersusah-payah untuk tidak melihat wajah Om lagi. Dan sekarang dengan gampangnya Om peluk aku! Om jahat!" raung Shireen, menangis menjerit di dalam toilet.


"Aku tahu kau masih sangat membenciku, tapi kumohon jangan menghindar. Berikan aku maaf," ucap Samuel mengusap-usap kepala Shireen, memeluknya, merengkuhnya dan menghangatkan tubuhnya dengan menenangkan perasaan hatinya.


"Om jahat, kenapa kita harus dipertemukan lagi? Aku benci lihat wajah Om, hikksss ...." Shireen berucap lirih, ia meredakan suara tangisnya.


"Kau bisa memukulku, kau juga bisa menyakitiku sepuasmu. Asal kau memberikan maaf untukku!"


Shireen tiba-tiba mendorong keras dada bidang pria itu. Dirinya menatap marah dengan mata yang begitu merah.


"Jangan harap mendapatkan maaf dari aku!" tegasnya. Kemudian Shireen langkah untuk keluar dari toilet


"Aku butuh maaf, karena aku mencintaimu!"


Shireen membalikkan badannya. Menatap remeh, dan menyeringai bibirnya.


"Bulshit!"


'Astaga, bisa-bisanya aku mencintai orang yang sudah sangat membenciku,' batin Samuel.


***


Kesokan harinya


Samuel kembali datang dengan menyamar menjadi seorang yang misterius.


"Di mana barista perempuan yang bernama Shireen?" tanya Samuel kepada Sheila.


"Hari ini dia izin tidak masuk kerja. Memangnya Anda ini siapanya? Apa ada keperluan sesuatu bisa yang saya sampaikan nanti?" balas Sheila.

__ADS_1


"Tidak! Aku ingin dilayani dengannya saja," balas Samuel.


"Maaf, di sini barista ada 3. Selain Shireen dan saya, ada juga barista lelaki, namanya Gian. Jika tidak ingin saya layani, Anda bisa meminta untuk dilayani dengannya," ucap Sheila.


"Aku hanya ingin dia," ucap Samuel kekeh.


"Ya sudah silahkan Anda keluar!"


Tanpa berkata sepatah kata lagi, Samuel meninggalkan cafe ini dan rasa kekecewaannya.


Sedangkan Shireen sudah memunculkan sosok dirinya yang sedari tadi bersembunyi di bawah meja.


"Huh, makasih ya Kak!" ucap Shireen.


"Iya sama-sama. Tapi sebenarnya kamu itu ada urusan apa sih sama orang itu? Dia kelihatan misteri banget," balas Sheila.


"Hmm, dia orang jahat Kak yang selalu ngintilin aku."


"Oohhhh."


1 hari kemudian.


Lagi-lagi Samuel menanyakan Shireen di cafe ini. Namun lagi-lagi juga pria itu hanya mendapat kekecewaan dari hasilnya.


"Hari ini Shireen tidak ada karena dia pergi dengan Jasson, adik pemilik cafe ini. Katanya untuk berbelanja kebutuhan cafe," ucap Sheila memberikan alasan.


"Apa kau tau di mana tempat tinggal gadis itu? Atau Jasson yang membawanya?"


Satu dan dua hari hingga ke empat harinya. Perjuangan Samuel ingin menemui Shireen lagi-lagi gagal. Dia tak dapat menemukan sosok gadis itu.


Ia seperti menelan pil pahit, yang harus masuk ke dalam tenggorokan dengan paksa. Tak mendapat Maaf dari Shireen, bahkan untuk bertemu sangat sulit.


***


Malam hari.


Kini terlihat sosok gadis kecil berperut buncit, tengah menarik-narik celana boxer Daddy-nya yang kala itu sedang sibuk dengan laptopnya.


"Daddy ...."


Azel berucap manja, kakinya ia mainkan seolah ada sesuatu yang ingin ia pinta.


"Ada apa?"


"Mau cokat ...."


"Tidak, untuk malam ini," balas Samuel tanpa melihat ke arah anaknya.


Pipi Azel seketika mengembung. Pipinya yang bulat, membuat bibir gadis itu manyun.


"Gigi akak gak bolong-bolong, Daddy ...."

__ADS_1


"Tidak!"


Akhirnya Azel pun pergi meninggalkannya dengan wajah yang ditekuk, dan terus menunduk.


Entah kenapa, semua rasa kesal di hatinya ia lampiaskan dengan orang-orang yang mendekatinya. Mungkin saat ini anak perempuannya itu, tengah merajuk.


"Oh astaga, ada apa denganku ...."


Samuel menghela napas, lalu ia mengusap wajahnya gusar.


Ia pun beranjak dari tempat duduknya, melangkah menghampiri Azel yang sedang merengut menumpu wajahnya dengan kedua tangan.


Samuel berjongkok, menatap putrinya dengan lembut. "Princess ...."


Seketika Azel langsung menggeser posisinya menghadap ke arah lain. Pipi bulat gadis kecil itu masih terlihat mengembung.


"Daddy 'kan sudah bilang, jangan terlalu banyak makan coklat Baby ...," rayu Samuel mengusap kepala Azel.


"Tapi Azel gak bolong-bolong giginya lagi!" cetus Azel.


"Mending main sama adik, dan coklat untuk hari esok." Samuel menunjuk ke arah bocah yang begitu asik bermain ponsel.


Azel menggeleng kuat, ia masih setia mengembungkan pipinya. Akhirnya Samuel pun menghela napas pasrah. Menuruti permintaan anaknya, adalah salah satu cara minta maaf darinya.


"Baiklah. Daddy izinkan untuk memakan coklat, nanti kita suruh pelayan untuk membelinya. Tapi, janji mau memaafkan Daddy!"


"Oke Azel kasih maaf. Tapi, Azel ikut pelayan ya Daddy? " Seketika anak itu menjadi sangat bersemangat.


"No! Buat apa? Hmm, atau jangan-jangan selain ingin makan coklat, kau juga ingin jalan-jalan?" Azel menyengir dengan menunjukkan gigi putih kecilnya.


"Baiklah, kita pergi bersama. Biar Daddy dan kamu yang beli."


"Adik ikut?"


"Tawarkan Sayang ...."


Azel menghampiri adiknya. Dengan sangat tiba-tiba, ia membuang ponsel adiknya ke lantai hingga terjatuh.


"Akak!" marah Azriel.


"Tidak boleh telalu banyak main ponsel Adik! Kata Daddy nanti lusak mata!" omel Azel kepada adiknya. Apakah dia sudah menjadi peran kakak yang baik? Oh, tentunya saja!


Samuel justru tersenyum melihat tingkah anak perempuannya itu. Ia, bangga karena Azel tumbuh menjadi kakak yang perduli dengan adiknya.


Ponsel mahal tidak terlalu berharga. Bahkan benda itu bisa dibeli tanpa dipinta.


"Mau ikut beli cokat?"


"Daddy kata nanti gigi bolong-bolong. Jelek kayak Kakak!" cetus Azriel.


"Selahmu, tapi nanti aku ketemu mama. Kamu, gak bisa digendong!"

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2