
Shireen tersenyum di depan pintu apartemennya, sedangkan Samuel menatapnya dengan penuh damba.
"Bagaimana malam ini? Apa cukup memuaskanmu untuk menjadi alasan bahwa kita harus segera menikah?!"
"Hmm, cukup hangat keluarga Om. Untuk pernikahan, terserah Om saja," ucap Shireen seakan sudah merasa lelah dan mengantuk.
Cup.
"Aku cinta padamu. Selamat Malam," ucap Samuel memberikan kiss sekilas di bibir gadisnya.
"Shireen cinta juga sama Om."
***
Hari yang cerah. Tepat di mana hari ini hari kelahiran dua anak kembar Samuel. Tak terasa, Azel dan Azriel sudah menginjak usia keempat tahun.
Semua orang rumah terlihat sedang sibuk mempersiapkan acara pesta ulang tahun yang besar. Malam nanti, Azel dan Azriel akan menjadi ratu dan pangeran yang terhormat.
Sedangkan Samuel hari ini sibuk memilihkan gaun cantik yang cocok untuk kekasihnya. "Hmm, tubuhmu memang selalu cocok dengan berbagai macam gaun apapun," puji Samuel.
Pria itu sedang mengamati Shireen yang tengah mencoba-coba gaun yang dibelikan oleh Samuel.
"Terlalu terbuka, Shireen gak suka!"
"Tidak! Aku yang suka kau pakai ini!"
"Om ayolah. Bagaimana dengan pandangan orang nanti? Bisa disangka, calon Mommy Azel dan Azriel adalah seorang jal*ng!" balas Shireen menekan kata-kata terakhirnya.
"Iyah juga. Kau memang seperti wanita penghibur," celetuk Samuel.
Shireen berdesis, "Isshh!"
"Calon penghibur malamku."
Shireen memasang wajah bodohnya, dengan meraba-raba pipi yang tarasa panas. Kemudian Dia mengibas-ngibaskan tangannya dengan salah tingkah.
***
Malam hari.
Sudah banyak lampu kerlap-kerlip terpasang memenuhi kemegahan acara malam ini. Tampak tamu undangan mulai berdatangan dengan gandengan tangan, anak, istri dan suami.
Semua tamu yang hadir banyak dari kalangan atas, pembinis dan rekan-rekan kerja. Tetangga komplek pun semua turut hadir. Kebanyakan dari mereka yang sudah berkeluarga, karena yang sebenarnya diundang adalah anaknya.
Sedangkan kotak-kotak hadiah, sudah terkumpul banyak di sebuah meja khusus. Berbagai kado-kado yang berisi barang-barang mewah, pastinya.
Kini terlihat Azriel sangat bergembira dengan mengenakan gaun pangeran ala-ala kerajaan, begitupun dengan Azel yang mengenakan gaun cinderellanya. Mereka tampak sangat lucu, cantik dan tampan.
Konsep pesta ini memang didekorasi khusus berwarna baby blue, sesuai keinginan Azel yang sangat suka dengan animasi cinderella.
"Oh baby, kau sangat cantik dan tampan," puji Samuel mengecupi mereka.
"Hihi, Mama di mana? Azel mau Mama cantiw kayak Azel."
"Dad, aku 'kan pangelan, jadi Mama yang jadi ratu buat aku!"
"No! Mama akan jadi ratu buat Daddy, kau bersama kakak saja!" cetus Samuel.
__ADS_1
"Bosen ... Kakak mulu!"
"Azel maunya juga sama Kakak Dicel! Gak mau sama adik!" pungkas Azel merajuk.
"Ya sudah, Daddy mau menjemput Mama. Kalian, bersama Omah ya, untuk menyambut tamu."
Kedua anak kembar itu menurut, lalu menghampiri kerumunan para tamu di depan panggung mini di sana.
***
Samuel sudah sampai di apartemen, bahkan saat ini ia sudah berdiri tegak di depan pintu. Saat pintu apartemen itu terbuka, tampak sosok bidadari keluar dari dalamnya.
Mata Samuel seakan sulit berkedip. Pandangannya menyusuri dari bawah kaki sampai ujung kepala, sosok gadis itu. Samuel terpaku di tempat, dirinya terpesona dengan senyum yang terbentuk di bibir berpoles lipbam kelimis itu. Tampak manis dan mengkilat, bagaikan buah apel yang baru di petik langsung dari pohonnya. Rambut gadis itu, tampak rapi dengan dijepit di sebelah kiri.
"Hmm, apa dandanan Shireen terlalu mencolok ya?" lirihnya dengan menunduk menggenggam tas mininya dengan kedua tangan.
"Sejak kapan kau bisa berdandan?" ucap Samuel melipat kedua tangannya.
"Hmm, Shireen cari di internet tutorial make up," balas Shireen malu-malu.
"Aku tidak suka, kau boleh berdandan hanya untukku!"
"Oh, berarti aku hapus nih? Biar muka aku pucet, kayak mayat hidup!" ketus Shireen.
Melihat wajah cemberutnya, Samuel semakin gemas. Baginya, di saat Shireen menekuk wajah, kadar kecantikan gadis itu semakin bertambah.
"Ayo, anakku sudah menunggu calon Mommynya." Samuel mengulurkan tangan. Dengan senang hati, Shireen menyambutnya.
Sebelum melenggang pergi, Samuel membisikkan sesuatu di telinga Shireen, "Jangan tersenyum kepada siapapun terkecuali aku dan keluargaku. Aku, tidak ingin kecantikanmu dilihat orang lain, selain untukku!"
Shireen menahan senyumnya. "Baru jadi pacar aja udah posesif, gimana kalo udah jadi suami. Ah, gua yakin pasti pake jas ujan tiap mau keluar," gumamnya mengumpat merasa jengah.
"Eh!"
***
Shireen datang dengan sambutan hangat dari keluarga Samuel, terutama sang ayah calon mertuanya. Begitupun dengan Azel dan Azriel. Dua anak kembar itu, heboh memamerkan pakaian yang dikenakannya malam ini. Berlomba mencari perhatian, agar dipuji sang Mama.
"Gaun Azel lebih bagus!" ketus Azel tak mau kalah.
"Aku lebih bagus, lihat! Ini Daddy belinya jauh!" ucap Azriel kekeh.
"Jeyek!" cemoh Azel.
"Akak, tidak bagus gaunnya!"
"Sudah, kalian terlihat cantik dan tampan. Gaun Azel bagus, dan kostum adik juga bagus," ucap Shireen.
"Ayo Baby ... acara potong kuenya sudah mau mulai!"
Azel dan Azriel saling menggandeng menuju panggung acara. Terdapat kue besar bertingkat-tingkat dengan balutan warna biru muda.
Semua orang berkerumun melingkar. Sudah banyak yang bertepuk tangan. Beberapa orang sangat greget melihat kelucuan anak kembar Samuel karena begitu menggemaskan. Banyak juga, yang takjub dengan sosok keluarga Raymond. Semua keluarga Samuel sudah berbaris, termasuk Shireen yang tak sama sekali dibiarkan untuk lepas dari genggaman Samuel.
Para tamu undangan mulai bertepuk tangan, memeriahkan acara malam ini.
"Happy birthday to you ... happy birthday to you, happy birthday, happy birthday ... happy birthday to you ....!!"
__ADS_1
"Selamat ulang tahun, Azel dan Azriel ....!!"
Prok prok ...
Suara tepuk tangan bergemuruh, di mana para tamu undangan merayakan pesta dengan lagu selamat ulang tahun untuk Azel dan Azriel. Kedua anak kembar itupun tampak bahagia sekali. Tepukan tangan di tangan kecilnya, mampu membuat semua orang gemas ingin menculik anak itu.
"Oke kita mulai dengan pemotongan kuenya ya ...," ucap Lisa membantu mengarahkan tangan Azel, begitupun dengan Lia yang juga mengarahkan tangan Azriel untuk memotong kue besar itu.
Lagi-lagi suara tepuk tangan bergemuruh, kala Azel dan Azriel sudah berhasil memotong kue mereka.
"Oke, suapan pertama kalian untuk siapa?" tanya Lia.
"Mama!" serempak mereka.
"Aku Mama!" rebut Azel.
"Adik, Kakak mengalah!" Azriel tak terima.
"Oh, jadi tidak ada yang mau memberikan suapan pertama untuk Daddy?!" sahut Samuel seolah marah.
"Oke deh, aku yang suapi Daddy ...." Akhirnya Azel mengalah dengan wajah cemberutnya. Semua orang tertawa gemas melihatnya.
'Haha lucu sekali mereka.'
'Boleh tidak aku culik?'
'Menggemaskan!'
'Nanti setelah aku pulang dari pesta, aku mau pasuki mereka ke dalam tasku!'
Ya, seperti itulah ucapan-ucapan para tamu yang hadir. Melihat tingkah mereka yang menggemaskan, membuat mereka greget.
Azel, Azriel menuju ke arah Shireen dan Samuel dengan tangan mereka yang membawa satu piring potongan kue. Mereka mulai menyuapi kue itu ke mulut calon Mommy dan kepada Daddynya. Setelah itu, dua anak kembar itu pun dihujami beribu kecupan.
"Terima kasih, Sayang ...," ucap Shireen.
"Cama-cama Mama ...."
"Love you all, my baby!" ucap Samuel.
"Love you too, Daddy!"
Tamu yang hadir merasa iri ingin berada di posisi Shireen saat itu. Seperti keluarga kecil yang hangat dan bahagia. Masa depan yang idam-idamkan bukan?
Terlebih sosok Shireen yang cantik malam ini, mereka merasa iri dengannya karena sudah menjadi orang yang akrab dengan anak kembar Samuel.
'Pacar Tuan Samuel sangat cantik. Aku yakin mereka akan segera menikah,' gumam seseorang bergosip.
Sementara semua keluarga Samuel tersenyum. Kini bergantian dua anak kembar itu menyuapi mereka. Setelah itu, tiba-tiba Yuri sang Mami Samuel mengucapkan bahwa ia ingin menyampaikan sesuatu. Semua orang pun terdiam dan mulai mendengar pengumumannya.
"Sebelumnya saya ucapkan terima kasih atas, turut hadirnya para tamu undangan di acara pesta ulang tahun cucu saya. Saya juga ingin mengumumkan bahwa siapa sang Ibu Azel dan Azriel. Mungkin, tidak terlalu penting. Namun, bagi saya ini memberikan tahu siapa sosok ibu mereka. Saya yakin kalian hanya mengenal Samuel sebagai ayahnya. Maka dari itu saya ingin memperkenalkan ...."
Ucapan Yuri menganggantung. Sebelumnya ia menatap ke arah Shireen. 'Kok gue jadi deg-degan gini, ah malu banget dikenalin ke publik,' batin Shireen.
Namun, pandangan wanita itu beralih dan mencari keberadaan seseorang. Seketika senyumnya mengembang jelas.
"Leona, kemarilah Nak!"
__ADS_1
Bersambung ....
Ay mohon jangan mutilasi Ay, emang alurnya seperti ini 😓 Oke komen yang banyak nanti aku up lagi, jangan lupa like. Gak usah kasih bunga b*ngke, tapi kalo ada gak apa-apa mwuehehe ....