
‘Astaga kenapa rasanya bisa seenak ini?’
Dalam hati Azel terus memuji, sementara mulutnya tak mau mengakui. Namun, bukan berarti Agha tidak bisa tahu perasaan Azel akan hasil buatannya itu.
“Bagaimana? Apa kau kurang dengan masakanku yang super lezat ini?” ucapnya dengan penuh kebanggaan.
“Tidak, makanan ini biasa saja!”
Agha menahan senyumnya setelah mendengar pernyataan itu. “Baiklah, tapi sekarang sudah ‘kan?”
Azel mengangguk malas, lagi-lagi itu membuat seorang Aghafa menunjukkan full senyumnya. Setelah habis tanpa tersisa, Agha beranjak membawa piring kosong itu untuk dikembalikan ke dapur, berniat untuk membersihkannya juga.
Selama pindah rumah, Azel memang tidak pernah menyewakan pembantu, baginya tinggal berdua saja tidak terlalu repot. Ibu anak satu itu pun, menghandle dua pekerjaan sekaligus. Ya, yakni di rumah dan di kantor.
Sampai-sampai Agha sendiri terheran. Sebenarnya Azel itu wanita biasa atau Scarlett Witch, perempuan yang menjadi tokoh pahlawan super. Dia mengendalikan dua pekerjaan tanpa asisten. Lagi-lagi karena hal itulah yang selalu membuatnya selalu kagum.
“Agha tunggu!”
“Kenapa?”
Agha terpaksa menghentikan langkahnya tatkala wanita itu memanggil, bahkan baru saja ia sampai di ambang pintu dan langsung menoleh.
“Bajuku kenapa bisa berubah? Tadi aku tidak pakai baju seperti ini.” Azel bertanya dengan tampang polosnya.
“Aku yang menggantikan tadi.”
Sontak mata Azel terbuka lebar, ia menatap tajam ke arah pria itu. Sudah tentu paham Agha, ia pun menjelaskan dengan ucapan, “Aku hanya mengganti pakaian luarmu saja. Lampu pun aku matikan. Jujur aku juga tidak melihat apa-apa, jadi jangan mengira aku macam-macam!”
“Kau tidak bohong?”
“Terserah kau ....”
Agha melanjutkan langkahnya. Saat itulah Azel mulai berpikir, ya jika dirinya tak tahu diuntung. ‘Sebenarnya Agha terlalu baik untukku. Dalam posisi sulitku seperti ini, dia yang bukan siapa-siapa hadir menemaniku. Sementara kekasihku sendiri ... Astaga, kenapa bisa-bisanya aku selalu berburuk sangka terhadapnya.’
Hingga beberapa menit kemudian, Agha kembali memasuki kamar.
“Tidurlah ... esok kita lanjut lagi mencari Abel, aku akan menemanimu di sini,” titahnya.
Azel menyaksikan pria itu ingin merebahkan tubuhnya di sofa, sontak ia langsung menegur, “Jangan tidur di sana!”
“Lantas?”
Azel menggeser posisinya, memberi ruang untuk tempat pria itu. Ia menepuk pelan kasur, “Tidurlah di sini!”
“Yakin?”
Azel mengangguk polos, dan itu diberi senyuman oleh Agha. Bukan berarti tanda persetujuan darinya, pria itu justru mengabaikan dan melanjutkan pripare untuk tidur.
__ADS_1
“Akan berbahaya jika aku tidur bersamamu,” balasnya.
“Tapi aku butuh sandaran, pikiranku butuh ketenangan. Apa aku tidak boleh meminjam punggungmu untuk malam ini?”
Mendengar ucapan Azel seketika mengurungkan niat Agha yang kala itu ingin menyelimuti tubuhnya. Melihat dari mimik di wajah dia, tampak terlihat keseriusan.
Akhirnya Agha tergerak menghampiri. Pria itu masuk ke dalam selimut, lalu dengan sangat erat ia merengkuh tubuh Azel.
“Janji tidur?”
“Iya!”
“Hilangkan dulu rasa cemasmu, kita istirahat, bukan berarti hanya ada hari ini saja. Ingat, masih banyak kesempatan kita untuk mencari Abel bersama-sama. Berdoalah semoga ada kabar baik esok,” ujar Agha sebelum akhirnya ia memejamkan mata.
Azel yang tersembunyi di balik dadanya, hanya bisa mengiyakan saja. Senyaman itu dia dalam pelukan, sampai kemelut di pikiran dan hatinya berangsur-angsur menghilang.
Sampai di pagi hari.
Azel sudah terbangun lebih dulu, bahkan ia sudah tampak siap.
“Agha bangunlah. Kita cari Abel sekarang!”
Agha belum bisa membuka matanya, tetapi beberapa kali pria itu menggeliat hanya untuk mengubah posisi saja.
“Agha cepatlah bangun ....”
“Iya Azel, sebentar lagi. Kau sangat cerewet seperti istri!”
“Kau dapat info dari mana?” Agha langsung terbangun dengan semangat, walau sedikit sulit untuk melebarkan mata. Namun, ia begitu excited setelah mendengar informasi perihal anaknya.
“Kepala sekolah.”
“Baiklah, ayo kita ke lokasi!”
Pria itu terburu-buru bangkit dari tempat tidurnya, bahkan ia sudah sangat siap dengan memegang kunci mobil.
“Kau mau kemana?” tanya Azel masih terlihat santai.
“Yaa, mencari anak kita Azel, untuk apalagi?”
“Iya tahu, tapi dengan kondisi seperti itu? Kau bahkan belum mandi!”
Seketika Agha menyadari sesuatu. Dirinya terlupa jika ia baru saja bangun dari mimpi, yaa sudah jelas kusut. Namun, percayalah siapapun yang melihatnya tidak tampak sekali seperti orang bangun tidur. Pria itu tetap tampan dalam kondisi apapun.
“Baiklah aku mandi dulu!”
Azel menggeleng heran dengan tersenyum. Perempuan itu pun beranjak untuk membuatkan sarapan. Karena hari ini ada sosok orang lain di dalam rumahnya, wanita itu justru menjadikannya sebagai peran seorang istri.
__ADS_1
***
Setelah usai sarapan tadi pagi, kini mereka melanjutkan mencari keberadaan Abel. Sedikit kemungkinan Abel bisa ditemukan, tetapi itu hanya sedikit karena jejak-jejaknya tampak tidak jelas.
Kini mereka masih di dalam hutan.
Polisi pun tak bekerja sendirian, banyak tim SAR yang ikut mencari. Bukan hanya itu saja, anak buah Agha pun sudah tersebar di seluruh penjuru hutan ditambah dengan orang-orang kiriman dari sang kekasih Azel, yaitu Xander.
Namun, begitu luasnya hutan di pegunungan ini sangat mempersulit pencarian. Alhasil, proses mencari ini kemungkinan akan sangat lama.
Sementara Azel sudah tak kering-kering air matanya. Selama pencarian perempuan itu tidak bisa tenang, lagi dan lagi harus mengikutsertakan air matanya.
“Agha, ini sudah tiga hari Abel tidak makan hikksss ....”
“Azel tenanglah, jika kau seperti ini terus hanya membuat kekhawatiran semua orang jadi berlebih. Kita cari kembali ya!”
“Tuan!”
Saat mereka sudah ingin kembali berjalan, tiba-tiba ada seseorang datang memanggil dan itu ternyata sang asisten Agha.
“Gafin kau menyusul?”
“Ya Tuan, saya ingin ikut mencari!”
“Ah baiklah kita cari sama-sama. Kau lebih cerdik, semoga bisa cepat tanggap untuk mencari jejak Abel,” balas Agha.
“Kebetulan Tuan, saya menemukan botol ini? Saya rasa ini milik nona manis.” Gafin menyodorkan sebuah botol mini yang bentuknya begitu lucu.
Azel yang mengenali benda itu pun langsung menyahut, “Ya benar ini milik anakku. Di mana kau menemukannya?”
“Di arah sana!” Gafin menunjuk ke arah barat, itu berarti jejak keberadaan Abel dari arah sana.
“Mari kita cari ke sana, tidak perlu berpencar!”
“Baik Tuan!”
Agha segera menggenggam kuat tangan Azel, lalu mereka sama-sama menyusuri jalan yang ditunjuk oleh Gafin. Setelah begitu banyaknya lika-liku selama menyusuri, kini mereka justru dipertemukan dengan jalan raya. Itu berarti mereka sudah keluar dari hutan.
“Kita sudah keluar hutan,” gumam Azel. Gafin masih terlihat celingak-celinguk menatap area sekitar, sementara Agha sedang menatap nanar jalan itu.
“Argghhh ....”
Tiba-tiba pria itu merasa sangat pusing, pandangannya memburam sampai pria itu tak menyeimbangi tubuhnya.
“Agha kau kenapa?”
“Tuan ada apa ...?”
__ADS_1
Agha berpegangan kuat dengan tubuh Azel, hingga pria itu tak sampai jatuh. “Tidak, aku tidak apa-apa. Aku hanya merasa pusing tiba-tiba,” ucapnya.
‘Entah kenapa aku merasa tak asing dengan jalanan ini,' batinnya.