
“Selain itu saya akan melakukan pemeriksaan neurologis (fungsi sistem saraf). Untuk memastikan diagnosis, saya juga merekomendasikan serangkaian pemeriksaan penunjang.
Seperti, tes kognitif untuk memeriksa kemampuan berpikir dan mengingat. Tes darah, untuk mendeteksi infeksi pada otak. MRI atau CT scan, untuk melihat adanya kerusakan, perdarahan, dan tumor otak. Elektroensefalogram (EEG), untuk mendeteksi aktivitas listrik pada otak. Pengobatan Amnesia. Pengobatan amnesia bertujuan untuk memperbaiki gangguan daya ingat dan menangani penyebab yang mendasari amnesia.”
“Sepertinya yang diperlukan oleh Tuan saya, hanya tes kognitif untuk memeriksa kemampuan berpikir dan mengingatnya Dok,” usul Gafin.
Di luar dan di saat berdua mereka memang layaknya seorang teman, tetapi jika di antara keduanya ada orang lain terlebih Agha ini termasuk pasiennya, maka Gafin tetap bersikap profesional.
“Baiklah, saran saya. Bawalah dia ke tempat yang mampu memberikan sinyal untuk mengingat kembali. Seperti kejadian beberapa tahun silam, misalnya. Di mana letak terlupanya ingatan itu, bisa saja hal-hal tidak diketahui bisa memicu kembalinya ingatan yang hilang,” saran Reno.
“Terima kasih atas pencerahannya. Aku mengerti sekarang. Aku harus mengingat tempat dan kejadian apa saja di masa laluku. Berikan resep suplemen vitamin itu Dok, agarku bisa mengonsumsinya secara rutin,” ucap Agha.
“Ya, saya akan berikan nanti. Jika ada sesuatu gejala yang dirasakan saat mengingat sesuatu. Bisa datang kembali untuk pemeriksaan.”
“Baiklah.”
***
Sepulang dari rumah sakit, Agha kembali mengunjungi rumah sakit yang di mana tempat Abel dirawat.
“Bagaimana? Apa sudah ada perubahan?” tanyanya. Sudah bisa ditebak dari raut wajah perempuan itu. Agaknya masih sama saja.
“Belum ada,” balasnya lirih.
Agha menghampiri, memeluk perempuan itu guna memenangkan hatinya. Begitu setianya Azel menunggu sang putri, sampai ia tak pulang sama sekali untuk beristirahat lebih tenang di rumah.
“Pulanglah dulu. Aku yang akan berganti untuk berjaga.” Spontan Azel menggeleng, ia menepis tangan Agha yang masih memeluknya. Ia sangat tidak suka ada seseorang yang datang hanya untuk membujuknya agar ingin pulang.
“Sudahlah, aku masih ingin menunggu anakku sadar!”
“Keras kepala!” umpat Agha, dan itu langsung ditempar dengan tatapan tajam oleh Azel.
__ADS_1
Agha beralih menatap nanar Abel. Gadisnya yang sangat ia rindukan untuk tersenyum lagi, tampak begitu lemah.
Selang kecil yang mengulur, tempat di mana jalannya darah di sebuah kantung yang tampak merah itu, seakan menjadi bodyguard untuknya. Mengalir sampai seakan waktu begitu lama.
“Bangunlah, Ayah sangat merindukan senyummu,” gumamnya dengan mengusap kepala gadis yang terbaring lemah itu.
Azel yang sangat cetek air mata, langsung menjatuhkan buliran beningnya. Ia tak kuasa menahan rindu, akan kesadaran anaknya.
“Anak ini terlalu jahat Agha, dia selalu membuat hati kita resah. Jika dia bangun nanti, aku ingin menghukumnya hikksss ....”
Lagi-lagi Agha hanya bisa menguatkan dengan memeluknya. Sangat paham bagaimana di posisi wanita ini. Agha pun merasa iba.
***
Dua hari berlalu, Gafin hari ini sangat memaksa untuk meminta waktu kepada sang majikan agar mengikutinya ke sesuatu tempat.
“Tuan, sempatkan sedikit saja waktu untuk ikut saya ke tempat itu,” pintanya.
Ya, karena daya mengingat butuh energi yang tinggi. Ia tidak ingin kehabisan banyak ATP untuk hal yang nantinya tidak berguna. Namun siapa sangka, dibalik itu
“Hanya kesempatan ini Tuan. Tidak akan mengambil banyak waktu, saya hanya memastikan jika tempat itu ada hubungannya dengan kejadian kecelakaan yang di alami Tuan, atau tidak.”
Agha lagi-lagi menghela napasnya. Namun, pada akhirnya pria itu melepaskan semua pekerjaannya. Alhasil, senyum sumringah pun terbit di bibir Gafin.
Kini mereka sudah berada di tempat kejadian yang sama, yang di mana lokasi saat Abel ditemukan.
Beruntung karena Gafin tahu jalan pintas menuju ke sana, tanpa menyusuri hutan. Dari tanjakan yang menjulang di atas sana, tiba-tiba Agha meminta untuk menghentikan laju mobilnya.
“Ada apa Tuan? Apa sudah ada sedikit memory yang Anda ingat?” tanyanya.
“Sebentar!”
__ADS_1
Agha menatap intens tanjakan itu, tiba-tiba kepalanya berdenyut. Matanya terpejam terpaksa, kepingan bayang-bayang mulai bermunculan layaknya kaset rusak yang tampak kabur, dan buram.
Namun, Agha dapat mengingat jelas sesuatu. Seketika kembali lagi ia melihat tanjakan itu, dan ya bayangan itu begitu jelas terbentuk di pikirannya.
“Gafin aku mengingat sesuatu, di sana tempat aku di tembak. Suara peluru itu sangat jelas terdengar di telingaku,” ucapnya.
Gafin menarik bibirnya membentuk senyuman, ia begitu senang sebab perlahan-lahan ingatan tuannya itu mulai kembali, hanya saja pria ini agaknya sedikit kesulitan dalam mengingat sesuatu.
“Tuan, apa yang Anda lihat dari tempat ini? Apakah sudah mulai mengingat sesuatu?”
“Ya, aku melihat ada seorang yang menembakku dari mobil. Wajahnya masih tak jelas, aku tidak tahu dia siapa.”
“Ada lagi Tuan?”
“Hmm ... coba bawa aku ke tempat Abel ditemukan kemarin. Di sana aku juga merasakan hal yang aneh.”
Gafin langsung ke luar dari mobil, dan di susul bersama oleh Agha. Mereka menghampiri jurang yang tak jauh di sana, yang di mana mereka lewati kemarin.
Agha menatap jurang itu seperti buram-buram, tampak ada bayangan lagi yang ingin datang. “Gafin aku pernah jatuh di sini, dan ....” Tiba-tiba pria itu memegang punggungnya, lalu berkata, “Punggungku yang tertembak begitu ngilu, saat aku terjun bersama motorku.”
“Motor?”
“Ya, aku jatuh bersamaan dengan motorku sport miliku, dan itu dalam suasana malam yang begitu gelap.”
‘Ini sudah sangat jelas, terjadi serangan kepada Tuan pada malam itu. Sayang sekali dia masih belum mengingat siapa orang yang menembaknya,' batin Gafin.
“Apa ada yang Tuan rasakan aneh lagi di tempat ini, sebelum kita pulang?”
“Batu besar. Ya, aku ingin ke tempat itu. Ayo!” Dengan semangat Agha menuruni jurang itu secara perlahan, beberapa kali dia ingin melorot, tapi karena kekuatan tangannya ia bisa mengendalikan. Mereka juga tak luput dari pegangan beberapa kayu dan pepohonan.
Sampai di tempat yang sama saat kemarin, Agha bersama asistennya telah sampai di titik terendahnya permukaan gunung.
__ADS_1
Lagi-lagi bayangan memasuki otak Agha. Ia berpikir dan mengingat lebih keras lagi. “Dalam kondisi punggungku yang terluka aku menyusuri jalan ini. Tapi, aku merasakan sakit yang amat sangat, saat aku sampai di ....”