Ibu ASI Untuk Bayi Om Duda

Ibu ASI Untuk Bayi Om Duda
S2. Overthinking


__ADS_3

Merasa penasaran, Ina pun bergegas memasuki toko dengan masih menggendong Abel. Tak lupa pula, ada dua bodyguard yang selalu menemaninya.


Gadis itu berjalan mengikuti dua orang yang berlainan jenis di sana. Ia merasa yakin jika itu adalah suaminya dengan perempuan lain.


Tiba-tiba Abel meminta untuk diturunkan. Gadis kecil itu tidak sengaja menemukan mainan yang menjadi incarannya.


"Ante ini!"


Ina mengambil mainan itu, tiba-tiba ia terkejut dengan harganya. "Astaga hanya sekecil ini, harganya sama dengan aku membeli motor," gumamnya.


Lebih mengejutkan lagi, Abel memilih lima mainan yang berbeda. Masing-masing mempunyai harganya sendiri. Ia menghitung harga jumlah lima mainan itu, dengan jarinya. "Astaga, lima mainan ini bisa membeli sawah di kampungku." Lagi-lagi ia bergumam heran.


Ya, toko mainan ini bukan toko biasa. Hanya orang-orang tertentu yang mampu mendatanginya. Toko ini memilki berjuta-juta produk mainan terbaru, dari produk yang banyak terjual sampai yang terbatas atau limited edition.


"Langsung beli saja Nona. Nona Azel tidak pernah memberatkan apapun jika itu keinginan anaknya." Tiba-tiba bodyguard menyimak semua ucapannya, sampai salah satunya menegur.


"Lagi pula tidak ada hakku untuk melarang," balas Ina jengah.


Seketika Ina teringat sesuatu, ia melihat seluruh penjuru toko dan ternyata orang yang sangat ia kenal tadi sudah tidak ada. 'Aku kehilangan jejak. Hmm, mungkin aku salah lihat. Mas Azriel belum pulang, dia masih di luar kota,' batinnya.


Ina berjongkok, lalu ia menanyakan kepada Abel, "Mana lagi yang mau dibeli?"


"Udah!" Abel tampak berbinar dengan mainan barunya sampai gadis itu berlari menuju kasir. Gadis kecil sudah tampak hafal dengan toko ini, ya karena tempat ini adalah langganannya untuk membeli mainan.


"Hai Nona Abel." Sampai pegawai kasir pun mengenalnya.


"Alo Ante!"


'Orang-orang sudah mengenal Abel, pantas saja dia merasa sangat ingin membeli di toko ini,' batin Ina.


***


Saat keluar toko dengan membondong beberapa mainan, tiba-tiba Ina diperlihatkan kembali seseorang yang sangat mirip dengan suaminya. Namun, kali ini benar-benar sangat jelas.


Gadis itu melihat suaminya sedang menggandeng mesra perempuan yang sangat seksi di sana, dan yang membuat ia yakin, yaitu saat tidak sengaja pria itu menoleh ke arah Ina. Tetapi, pria itu tidak dapat melihatnya.


'Ternyata benar, Mas Azriel.'


Ina merasa hatinya nyeri melihat kemesraan mereka, entah kenapa rasanya amat menyesakkan. Baru saja ia merasa bahagia mendengar suaminya akan pulang, tiba-tiba dijatuhkan dengan adegan itu.


'Apa yang dikatakan kak Azel itu memberi bukti. Ya, semua terbukti bahwa ucapannya hanya sebuah angin. Lagipun aku sadar, aku bukan gadis berkelas yang cocok dengannya. Aku hanya gadis kampung yang tak sengaja naik pangkat menjadi istri seorang CEO,' batin Ina.


***


Saat Ina kembali, gadis itu tampak tidak sumringah seperti biasa. Shireen pun dapat melihat menantunya sedang dalam masalah.

__ADS_1


"Apakah ada masalah Sayang? Coba cerita," ucap Shireen.


Ina memaksakan senyum. "Ah, tidak Buk. Ina baik-baik saja. Hmm, Ina izin ke kamar yah."


"Ya sudah, istirahatlah!"


Ina berjalan menuju kamarnya. Ia memijat pelipisnya karena merasa pusing. Pikiran gadis itu menjadi kacau, terlebih otaknya seakan menopang beban.


Gadis itu meringkukkan tubuh di atas sofa. Mengingat hal tadi, hatinya kembali perih. 'Padahal jika apa yang dikatakan kak Azel itu benar, aku akan belajar mencintainya dari saat ini. Namun, sepertinya cinta tidak pantas tumbuh di hatiku untuknya,' batinnya terus meracau.


Tanpa terasa gadis itu menitikkan air mata, tiba-tiba ia tersadar. Menyeka air matanya dengan sangat kasar, lalu mengipasi wajahnya seolah untuk menghentikan air mata itu.


"Oh, ayolah Ina. Ingat kata Nenek, walaupun kita perempuan kita tidak boleh lemah yang hanya bisa menangis!" Ia menguatkan batinnya.


Ia duduk bersandar, tiba-tiba pintu terbuka luas. Dirinya terkejut, karena menghadap ke seorang pria yang membuat hatinya menangis.


'Mas Azriel ....'


Ina berusaha untuk biasa saja. Namun, ia melihat suaminya itu tersenyum amat lebar, secerah matahari pagi. Tetapi, Ina tetap memasang wajah datarnya dan lebih berfokus dengan ponselnya.


'Wajahnya teduh sekali. Tidak sopan, aku baru saja pulang tapi disambut dengan wajahnya yang seperti itu!'


"Apa tidak ada penyambutan untukku?"


"Aku harus apa?"


Azriel mengamati wajahnya, ia dapat melihat mata merah yang sangat cantik itu, bahkan bulu mata lentik istrinya masih basah sehingga terlihat terpisah-pisah.


"Kau kenapa?" Azriel menarik dagu istrinya. Sementara Ina seakan ingin menangis kembali. Saat ini wajah tampan itu sangat dekat dengan wajahnya.


"Aku tidak apa-apa," balasnya acuh.


"Kau menangis?"


"Tidak!"


Cup.


Azriel mengecup keningnya. "Keluarlah, aku ingin mengenalkanmu dengan ...."


"Calon istri keduamu? Aku sudah tahu, jadi kapan kalian akan menikah?" sela Ina terdengar biasa-biasa saja. Percayalah semaksimal mungkin ia berusaha untuk menetralkan rasa sakit hatinya.


Azriel yang tak mengerti, hanya mengerutkan keningnya. "Apa yang kau bicarakan ini, aku hanya ...."


"Tidak perlu dijelaskan, aku mengerti. Gadis itu pasti wanita bule, kamu mau mengenalkanya denganku 'kan?"

__ADS_1


Pikiran cerdik Azriel langsung cepat tanggap menafsirkan ucapan itu. Ia tersenyum, dalam hati sangat merasa senang. 'Rupanya ada kesalahpahaman di sini,' batinnya.


Cup!


Kali ini Azriel memberikan kecupan singkat di bibirnya. Ina terkejut, tetapi ia tidak bisa mengelak karena sudah terlanjur.


"Kau salah paham. Dia sepupuku, namanya Ainsley. Anak dari paman Daniel Kakaknya Daddy. Kau lihat aku dengannya dimana tadi?" jelasnya dengan bertanya.


'Astaga, apa aku salah paham? Ini sangat memalukan,' gumam Ina dalam hati. Ia pun hanya bisa terdiam.


"Toko mainan."


"Pantas saja, tadi aku mampir membeli mainan dengannya untuk Abel. Ternyata kau juga ada di sana. Jadi, ini sebabnya kau menangis? Apa kau merasa cemburu?" Azriel menahan senyumnya.


Ina membuang pandangannya dengan acuh. "Tidak!"


"Kau merasa cemburu, berarti kau sudah mulai mencintaiku?"


"Tidak!"


"Aku senang!"


"Astaga, tapi ak--"


Ya ucapan itu terjeda sebab sebuah ciuman hangat mendadak terjadi. Ina awalnya menolak, tetapi karena Azriel begitu lembut ia terbuai. Hatinya ingin memberontak, tapi tubuhnya seolah berkata lain.


Azriel mulai mengiringinya untuk membalas, mereka pun bertautan dengan sangat erotis. Scene ini pasti membuat hati orang berdesir melihatnya.


"Huh ... aku mencintaimu!"


Ina terdiam, mengambil napas banyak-banyak. "Aku akan mulai membuka hati untukmu," balasnya.


"Terima kasih."


Ya itulah Azriel, dia memang bukan tipe pria romantis seperti pria lain. Baginya, mengungkapkan kata singkat itu sudah puas, yang terpenting jelas.


Kemudian, Azriel menarik kembali tengkuk leher Ina. Lagi-lagi mereka membuat adegan yang sangat erotis. Tampak keduanya saling berciuman mesra, dengan Azriel yang terus mendekap istrinya guna memperdalam pagutannya.


"Mulai malam ini kau tidak boleh lagi tidur di atas sofa. Ranjang itu, sudah milik kita berdua," ucap Azriel.


"Tapi, aku belum siap menjadi istrimu seutuhnya."


"Aku siap menunggu, sampai kau benar-benar siap."


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2