
"Om!"
Tanpa Shireen sadari ternyata Samuel sudah pulang. Sekarang pria itu menunjukkan wujudnya di depan pintu kamar mandi, hingga membuat Shireen terkejut melihat kehadirannya.
"Daddy!" teriak mereka. Azriel menghampiri sang Daddy dengan membawa sebuah gayung. Cowok kecil itu, menyiram Daddy-nya dengan begitu polos.
Azel ikut turun dari bathup, ia mengikuti adiknya. Dengan telanjang bulat kedua anak kembar itu menjahili Daddy-nya. Shireen pun menganga. Ia melihat baju formal duda itu basah saat ini.
"Astaga, anak nakal!" sergah Samuel. Namun ucapannya itu tidak didefinisikan marah.
"Hehe, Mama basah Daddy basah ...," ucap Azel.
"Jadi kita mandi baleng ...." sambung Azriel.
Karena sudah terlanjur basah kuyup, Samuel ikut mandi bersama dengan mereka. Ia menaikkan kedua anak kembarnya yang saat ini begitu senang, ke dalam bathup yang berukuran besar.
Samuel tersenyum jahil dengan membuka kemejanya, saat itu juga Shireen menutup mata menggunakan kedua tangannya.
'Issh, apa-apaan sih!' batinnya kesal.
"Eehh Om!"
Tiba-tiba tangan gadis itu ditarik masuk ke dalam bathup bersamanya dan anak-anak. Shireen sempat meronta, tetapi ia sudah terlanjur jatuh ke dalam bak besar itu.
"Kita mandi bareng!"
"Hahaha, Mama mandi juga ...."
Mereka bersorak kegirangan saat melihat Shireen sudah masuk bersama mereka. Sekarang empat bebek di sana, sudah sama-sama basah.
Shireen menekuk wajahnya, ia menatap kesal Samuel. Sedangkan pria itu tersenyum puas. Namun, lagi-lagi ia tak dapat menahan tawanya saat perut Azel yang buncit disabuni dengan gadis kecil itu sendiri.
"Astaga, bukan seperti itu Sayang mandinya. Sini Mama yang sabuni!" ucap Shireen sembari tertawa.
Azel menghampiri Shireen, lalu ia menyabuninya. Sedangkan Samuel memandikan anak lelakinya. Lihatlah saat ini, mereka terlihat seperti sepasang suami-istri yang sedang memandikan anaknya. Dan, sepanjang itu tak ada tawa mereka yang terhenti.
"Oke, karena sudah bersih kalian naik yah!" ucap Shireen menyudahi acara mandi bersamanya.
"Yahhhh ...." Seketika anak perempuan dan lelaki itu, langsung melenguh panjang. Seakan tidak mau menyudahinya.
Shireen sudah menyiapkan handuk kecil untuk mereka. Satu persatu Samuel juga menuruni mereka dari bathup, sedangkan Shireen melilitkan handuk di tubuh mungil anak kembar itu.
"Oke, di kamar ada Bik Inah, kalian minta pakaikan baju dengannya yah!"
"Baik Mama!"
Dengan sangat lucu, kedua bocah itu berjalan bagaikan pinguin karena lilitan handuk yang membuat mereka melangkah lambat.
__ADS_1
Sementara bayi Bagong yang berada di dalam bathup, masih betah memainkan busa sabun. Pria itu meraih tangan Shireen, "Mereka sudah selesai mandinya, kini giliran kau memandikanku!"
"Hah!" Shireen menganga. Gadis itu segera tersadar, dan berusaha melepaskan tangan Samuel. Berniat, untuk keluar dari dalam kamar mandi.
"Mandi sendiri, gak usah manja!" cetusnya.
Namun, sepertinya lagi-lagi gadis itu kalah kuat dengan pria itu. Pasalnya, Samuel menarik paksa, hingga tubuhnya benar-benar jatuh kembali ke dalam bak besar itu dan duduk di pangkuannya.
"Tidak boleh. Aku sangat lelah, kau harus memandikan bayimu ini!"
"Isshh, Om apaan sih! Om ... nanti ada yang lihat bagaimana?"
"Mau kau yang memandikanku, atau aku yang akan memandikanmu?" Perkataan Samuel yang terdengar mesum itu, membuat Shireen bergidik geli.
Saat ini posisi mereka saling berhadapan, dengan Shireen yang duduk di atas pahanya Samuel. Menurut Shireen ini begitu intim.
"Om, aku mohon aku takut Azel dan Azriel lihat kita!"
"Tidak akan!"
Berkali-kali Shireen mengumpat dalam hati, sumpah sarapah bahkan satu kebun binatang ia sebutkan dalam hatinya.
Namun tiba-tiba ia melenguh.
"Ughhh, Om ...."
"Om ini begitu intim. Tidak boleh!"
"Siapa yang melarang kita?"
"Tapi ingat, Om belum mendapatkan maaf dari aku!"
"Sudah kubilang, kau tidak berhak melarangku berjuang untuk mendapatkan cinta dan maaf darimu, dan ini adalah salah satu perjuanganku!" celetuk Samuel.
Shireen kesal, dan ingin sekali menjambak rambut pria ini. Namun ia ingin lebih memberi pelajaran dengan menggigit punggung berotot Samuel. Sialnya pria itu tidak merasa kesakitan.
"Ahh, sungguh nikmat gigitanmu!"
Saat ini Shireen sudah benar-benar sangat marah. Ia berusaha untuk melepaskan tangan pria mesum itu, dari pinggangnya.
Akhirnya gadis itu pun berhasil, dan sudah mampu keluar dari dalam bathup.
"Dasar mesum!"
***
Setelah mandi, Samuel tak sadar bahwa kedua anaknya sudah tertidur di atas sofa. Mereka tidur dengan saling berhadapan, sembari memegang kedua pipi mereka satu sama lain. Sungguh menggemaskan jika seseorang dapat melihatnya.
__ADS_1
Samuel yang kini tengah memindahkan kedua anaknya, berkali-kali menoleh ke arah pintu kamar mandi.
"Sudah satu jam lebih, tapi gadis itu belum keluar dari kamar mandi. Apakah dia menjadi batu es di sana?"
Setelah memindahkan mereka ke atas ranjang, Samuel berniat untuk menghampiri kamar mandi.
Tok tok tok ...
"Apa kau baik-baik saja di dalam?"
Sementara di dalam kamar mandi, Shireen tengah duduk gelisah di pinggir bathup dengan hanya mengenakan handuk pendek yang melilit tubuhnya.
"Arrghh, mau sampai kering keriput di sini juga gue gak bakal dapat baju. Terpaksa deh gue harus keluar, minta baju sama Om." Gadis itu melangkah membuka pintu, dan ternyata sudah ada sosok Samuel di depan pintu.
"Om!"
"Apa kau sedang bertapa di dalam kamar mandi?"
Shireen berusaha untuk menutupi bagian atas dadanya, dia menatap polos Samuel. "Hmm, baju aku basah ...."
Samuel mendengus jengah, "Padahal, jika kau keluar dan meminta kepadaku, kau tidak akan berdiam lama di dalam! Baiklah, biar aku pinta bik Inah untuk menyiapkannya."
Samuel melangkah keluar kamar, sedangkan Shireen memasang wajah cemberutnya. "Malu tau gak!" ketusnya mengumpat.
Sementara Samuel menghampiri Inah.
"Maaf Tuan, baju Nona Shireen yang dulu sudah tidak ada di kamar. Sudah habis kita sumbangi waktu itu, dan yang tersisa hanya pakaian dalam saja," ucap Inah.
"Ya sudah ambil baju Lia dan Lisa. Sepertinya ukuran baju mereka sama."
"Hmm, Nona Lia dan Lisa sedang menghadiri acara di kampusnya, kamar mereka terkunci Tuan. Mereka juga berpesan, tidak bisa izin dengan Tuan karena urusan yang mendadak," balas Inah.
Hanya dengusan napas kasar yang keluar. Ia segera pergi masuk ke dalam kamarnya kembali, dan melihat isi lemarinya. Namun sebelum itu ia menyempatkan untuk pergi ke dalam kamar yang dulu ditiduri oleh Shireen.
Setelah itu, Samuel kembali masuk ke dalam kamarnya. Ia mengambil satu kemeja putih panjang, dan salah satu celana pendek miliknya. Sesudahnya, ia beranjak masuk ke dalam kamar mandi.
Samuel menyerahkan pakaian itu. Entah kenapa ia bisa melihat wajah Shireen yang bersemu. Pasalnya, ia juga menyerahkan pakaian dalam yang sempat diambil dari kamar lama gadis itu tadi.
"Hanya ada itu. Kemeja dan celana boxerku. Semoga ngepas di badanmu. Baju kau sudah kusumbangi semua, kamar Lia dan Lisa pun terkunci, jadi aku tidak bisa memberikan pakaian wanita untukmu," ucap Samuel.
"Oke, gak apa-apa. Terima kasih," ucap Shireen malu-malu.
'Aduh harga diri gue kayak jatuh gitu,' batinnya.
"Ya sudah, Om keluar!"
"Kalau aku ingin di sini, dan menunggumu bagaimana?"
__ADS_1
Bersambung ...