Ibu ASI Untuk Bayi Om Duda

Ibu ASI Untuk Bayi Om Duda
Om Membahayakan!


__ADS_3

Kecup demi kecupan, ciuman itu menuntut. Mereka saling memagut menyusuri hangatnya mulut.


Berkali-kali Shireen menarik napas, mengambil oksigen yang sudah terkuras habis. Namun, dengan sangat tidak sabarnya Samuel menarik kembali ke dalam permainan erotisnya itu.


Sebelah tangan pria itu sibuk menahan pinggang Shireen, sedangkan sebelahnya bertengger gagah di tengkuk gadis itu. Perlahan-lahan Samuel membawa tubuh Shireen yang mengikuti pergerakan tubuhnya untuk tertidur di atas sofa. Shireen saat ini berada di atasnya.


Samuel mulai menyusuri setiap inci tubuh Shireen dengan sensual, hingga tangannya itu ia daratkan di buah dada gadisnya.


Mungkin hal ini pernah terjadi waktu Shireen mabuk dulu, bahkan gadis itu tak sadar akan hal perbuatannya. Namun, kali ini dengan mata yang terbuka, pikiran yang sadar, hati yang luas, tapi nafsu yang tak terkendali.


Menyadari hal ini adalah kesalahan, Shireen pun segera bangkit dari atas tubuh Samuel yang sedang asik mencumbuinya. Seolah tak mau melepaskan Shireen.


"Om harus pulang. Keberadaan Om membahayakan!"


Samuel menarik napas, lalu membuang dengan kasar. Inilah mengapa ia sangat menginginkan pernikahan terjadi di antara mereka. "Aku ingin menginap."


"Hah!"


"Apa tidak boleh. Kau lebih sering menginap di rumahku, bahkan kita pun selalu tidur bersama saat kau menginap."


Shireen merengek, "Om ... itu 'kan keadaannya berbeda. Aku mohon, ini sudah sangat malam. Bagaimana kalo di rumah Azel Azriel bangun? Lagian tega banget sih ninggalin anak!"


"Ada Inah yang menjaga. Jadi, tak ada halangan apapun untuk aku tidur di sini bersamamu," balas Samuel semakin mengeyel.


Mungkin mereka memang sering tidur bersama dalam satu ranjang. Namun, di tengah-tengah mereka ada dua anak kembar yang menghalang. Apa jadinya jika mereka tidur dengan satu ranjang dalam apartemen yang pernuh setan ini.


Tidak! Tidak! Shireen masih berakal sehat. Sangat tidak mungkin dua makhluk berlainan jenis tidur dalam satu atap.


"Om ini apartemen aku. Aku usir Om, pulang sekarang!" Mungkin cara halus sudah tidak mempan. Shireen pun memakai cara pengusiran dengan kasar. Namun, sialnya Samuel malah semakin menantang.


Pria itu malah merebahkan tubuhnya kembali. Terlihat menguap, sembari menopang tangan untuk menjadi sandaran kepalanya. Shireen menatap garang, lalu ia berdesis.


Cup.


Baru ingin mengeluarkan suara yang melengking, tiba-tiba Samuel berdiri dan dengan cekatan mengecup bibirnya sekilas.


"Aku pulang, good night," ucapnya. Setelah itu Shireen merasa lega, karena Samuel pergi keluar dari apartemen.


Pagi hari.


Sinar matahari menyapa pagi. Seorang gadis sedang berdandan dengan senang hati, dan tersenyum manis menghiasi bibir yang merah alami.


Entah kenapa Shireen tidak bisa melupakan setiap kejadian-kejadian manis dan hot yang ia lakukan dengan Samuel. Mungkin itu salah, tapi menagih untuk melakukan yang lebih. Mungkin memang sudah tepat, ia harus segera menikah dengan pria itu, sebelum peristiwa naas mengancamnya.


Diakui setan dalam pikirannya banyak, bisa saja sebuah kehormatan yang ia jaga terenggut akibat kekhilafan dari asutan setan. Terlebih, prianya itu sangat mesum.


Tok, tok, tok!

__ADS_1


Shireen yang mendengar suara ketukan di luar segera membuka pintu, tanpa merasa penasaran siapa yang berkunjung di pagi-pagi seperti ini.


Saat ia membuka. Gadis itu terlihat terkejut melihat kehadiran duda tampannya. Namun, Dia tidak sendiri melainkan ada dua anak yang ia tuntun sebelah kanan kirinya.


"Happy weekend."


"Mama!"


Shireen berjongkok lalu tersenyum senang. Ia merentangkan kedua tangannya menyambut pelukan anak kembar yang berada di hadapannya saat ini.


"Baby ...."


"Weekend ini, Mama, aku, Kakak dan Daddy akan piknik."


"Piknik apa? Azel tidak tau piknik, yang Azel tau piknik itu, cemas ...." sambar Azel dengan sangat lugu.


Samuel mendengus jengah mendengar ucapan polos dari anak gadisnya. "Itu, panik Baby."


Ya, memang otak Azel tak seencer otak adiknya. Namun, gadis itu sangat menggemaskan dengan tingkah polosnya. Sedangkan, adiknya lebih dominan dengan sikap cuek sedikit angkuh dan jago bahasa Inggrisnya. Ya, itu adalah sifat Samuel yang menurun pada anaknya.


"Kamu lucu, kok gak mirip Daddy kamu. Kamu, lebih mirip Mama," ucap Shireen seolah meledek Samuel. Yang ditatap pun hanya membalas pandangan dinginnya.


"Percaya diri," umpatnya.


"Memang sebelumnya kamu gak pernah diajak piknik, Sayang?" tanya Shireen. Gadis kecil itu menggeleng polos.


"Mau 'kan Mama?" tanya Azriel menatap memohon.


"Mau Sayang ...."


***


Di sebuah lapangan yang hanya di tumbuhi rerumputan kecil. Terdapat beberapa keluarga kecil tengah menikmati hari santai ini.


Pemandangan di sini begitu indah, dengan keluasan pandangannya. Shireen tersenyum, seumur-umur ia baru merasakan lagi piknik walaupun sederhana ini. Dulu, pernah ia bayangkan bagaimana ia bisa menikmati hari santai dengan sang kekasih. Mungkin, ini adalah suatu keterwujudan keinginannya.


"Indah banget, Om."


"Ini tempatku menyatakan cinta dengan Leona dulu."


Refleks Shireen menatap Samuel. Namun, pandangan pria itu tetap lurus ke depan. "Namun, sekarang tempatku mengajak kau menikah," lanjutnya.


Awalnya Shireen menatap serius, kini berganti menjadi cemberut. Gadis itu melayangkan tatapan sinisnya, tepat di mana Samuel juga memandanginya. "Mau, mengulang masa lalu?"


"Tidak, aku mau membangun masa depan denganmu. Sudahlah lupakan saja, lebih kita mulai bersantai menikmati weekend ini."


"Daddy, aku mau ke sana!" Azriel menunjuk sebuah taman anak-anak yang terdapat beberapa penjual balon, es cream, dan penjual mainan lainnya.

__ADS_1


"Azel juga mau ikut ...."


"Boleh, tapi jangan berbuat sesuatu yang Daddy larang!"


"Baik Daddy!"


Dengan riang dua anak kembar itu, berlari ke arah permainan yang ada di sana. Azriel menggandeng tangan kakaknya, berlari begitu cepat karena tidak sabaran. Sampai, Azel yang memiliki tubuh lebih gempal darinya merasa kewalahan, hingga terjatuh.


"Aduh!"


"Maafin adik." Azriel membantu kakaknya yang terjatuh untuk bangkit lagi.


Sementara Shireen merasa khawatir saat mengamati mereka. "Om Azel jatuh!"


"Biarkan. Mereka mereka tahu bagaimana berinteraksi," ucap Samuel menahan Shireen.


Sedangkan, Azel cemberut melihat adiknya. "Kamu lalinya kecepetan! Siku kakak syakit!" cetusnya. Ingin menangis, tapi saat ia menatap sang Daddy karena dirinya takut kena omel, tiba-tiba tidak jadi. Sebab, sang Daddy justru memberikan senyuman kepadanya yang seakan membangkitkan untuk menarik bibirnya ke atas.


Ya, di saat ia ataupun adiknya terluka sang Daddy-nya itu selalu memarahinya. Azel sangat takut, jika mendengar ucapan ketus dari Daddy-nya saat mengomel.


Gadis kecil itu, kembali digenggam adiknya. Kali ini mereka berjalan santai dengan saling bergandengan. "Pelan-pelan aja, capek belat tau badan!" celoteh Azel. Mungkin, jika orang melihat Azel seperti adiknya, karena gadis itu lebih kecil dari Azriel.


"Makan mulu!" celetuk Azriel.


Shireen akhirnya lega. Masih dalam pengawasannya, ternyata putra-putrinya yang dulu ia susui tumbuh sangat aktif.


"Pasti Om jarang kasih waktu sama mereka, sampai mereka belum pernah merasakan piknik," gumam Shireen.


"Ya, aku terlalu sibuk. Aku ingin setelah kita menikah, kita lebih sering membagi waktu dengan mereka," balas Samuel.


"Hmm, sudah pasti. Tapi, mereka lucu banget sih."


"Lebih lucu, kalau kita buat Sebelas anak kembar lagi," sahut Samuel.


Shireen menatap sebal, "Kemarin Lima, sekarang Sebelas. Besok berapa? 30? Punya anak kok di samain, sama peternakan!" cetus Shireen.


Bersmbung .....



INI AZEL



INI ADIKNYA, AZRIEL.


Semoga sesuai ekspektasi kalian yaa.

__ADS_1


__ADS_2