
Pernikahan telah usai beberapa saat lalu. Kini dua pasutri itu tengah berehat sejenak.
Azel sudah dibawa oleh sang paman, eyang dan omahnya. Mereka sudah kembali ke rumah masing-masing. Kini hanya ada Gafin, Agha dan Azel.
“Tuan, sepertinya Anda sudah waktunya untuk kembali ke rumah sakit,” ucap Gafin.
“Baiklah ... sebentar,” balas Agha. Pria itu menatap wajah istri yang tampak begitu lelah, lalu ia mengusap-usap pipinya dan berkata, “Maaf aku tidak bisa menemanimu tidur bersama malam ini,” ujar Agha sedikit merasa canggung.
Ya, hubungan mereka terpisah beberapa lama kemarin. Setiap bertemu pun hanya ada keasingan saja, terlebih dengan tidak sadarnya Agha beberapa hari kemarin. Tiba-tiba kini mereka dipertemukan dengan ikatan suci yang di mana hubungan yang seharusnya saling berkomunikasi.
Tentu saja canggung bukan? Terlebih pernikahan ini seperti mendadak. Wajar saja mereka masih terasa asing ataupun canggung, karena selama ini cinta mereka bagai tersembunyi dalam kelambu. Dirasakan tapi tak terlihat. Terlihat tapi rayang-rayang.
Sudah tidak bisa dideskripsikan lagi, yang jelas kisah cinta mereka bisa didefinisikan percintaan aneh dan langka.
“Tidak apa-apa, aku akan jenguk esok. Kau pulihkanlah kondisimu dulu,” balas Azel.
“Hmm tapi kita tidak melakukan itu?” ujar Agha sedikit pelan.
“Melakukan apa?” tanya Azel polos.
Gafin yang mengerti maksud dari tuannnya itu, diam-diam tersenyum. Entah kenapa mereka yang seperti itu, dia yang malu sendiri.
“Malam kedua,” bisik Agha tepat di telinga istrinya. Saat itu juga Gafin tersenyum full, karena ia dapat mendengarnya. Namun pria itu tetap cool dengan gayanya yang fokus bermain ponsel, padahal mata kemana telinga kemana.
Azel bersemu, ia baru paham sekarang. Namun kata ‘kedua’ itu membuat resah. Apa maksudnya?
“Kenapa kedua?”
“Kan sudah kita rasakan malam pertamanya. Jangan bilang kau lupa, karena hasil malam itu sangat jelas!”
Ya, Abel gadis itu hasilnya bukan?
Sungguh rasa malu Azel tidak bisa terileksasikan, terlebih mereka ada orang lain di antara mereka. Sangat tidak etis baginya, karena mau bagaimanapun Gafin adalah bagian penting dari suaminya.
“Sudahlah, jangan bicarakan itu dulu. Sekarang fokus saja pada kesembuhanmu ....” balasnya.
“Baiklah aku pulang sekarang. Hmm ... tapi tidak ada ciuman gitu? Layaknya suami istri?”
Konyol, sungguh jatuh sudah kekharismaan pria ini. Lihatlah dia terang-terangan menunjukkan kemesraan di depan asistennya itu.
Azel yang merasa malu langsung mengode lewat tatapan matanya yang bergerak-gerak ke sana, seolah memberitahu ada seseorang di antara mereka.
__ADS_1
“Hmm, Gafin ....”
“Ah ya Tuan ada apa?”
“Kau pasti paham, berbaliklah sebentar!”
Gafin yang begitu cepat tanggap langsung mengerti. Pria itu pun membalikkan posisinya dengan gumaman hati, ‘Astaga salah aku tadi seharusnya tidak ada di sini. Inilah jadinya jika aku masuk di era percintaan dua manusia yang baru puber,' batinnya.
Azel benar-benar tak habis pikir dengan suaminya itu, ia menepuk jidatnya. Namun senyum perempuan itu tak bisa pudar, karena tingkah lelakinya.
Cup!
Suara kecupan itu terdengar sampai telinga Gafin, bahkan sampai berkali-kali. Ya, pria itu langsung menyambar bibir istrinya. Mungkin semalaman ini ia tidak akan bisa tidur karena terus memikirkan perempuan cantik ini, terlebih sebab mereka yang belum bisa seranjang.
***
Keesokan paginya.
Azel terbangun dengan semangat pagi yang menggelora. Ia berniat sebelum ke kantor mengunjungi sang suami terlebih dahulu.
Kini anaknya mungkin sudah berada di sana. Ia pun menyiapkan makanan untuk sarapan mereka di rumah sakit nanti.
Tiba sudah di dalam ruangan.
“Morning Baby ....” bisik Azel mencuri kecupan dari arah belakang anaknya.
“Eh Mami, morning juga ....”
Lalu Azel mendekati telinga suaminya, dan ia berbisik, “Morning my husband.”
Agha tersenyum lebar. “Morning Sayang ....,” bisiknya juga. Seketika pipi Azel bersemu. Ah rasanya begini rasanya memiliki suami. Ia baru tahu apa itu keharmonisan. Ya memang hanya ada di sebuah keluarga yang lengkap.
Agha menutup mata anaknya dengan tangan. Kemudian, tangan sebelahnya ia gunakan untuk menggapai tengkuk sang istri setelah terjadi kejadian erotis itu.
“Kenapa sih Ayah kalau mau ciuman mata Abel ditutup mulu?”
Deg ...
Mereka bodoh, karena terlupa jika anaknya ini bukan lagi gadis kecil yang masih pegang-pegang batang permen. Abel sudah dewasa, hal semacam ini bukan hal langka yang ia ketahui.
“Apa sih Sayang ... tidak ada seperti itu. Masih kecil tidak boleh tahu urusan orang-orang dewasa!” cetus Azel saat dirinya mulai menyiapkan sarapan untuk mereka.
__ADS_1
“Halah Mami seperti berbicara dengan teman sekantor Mami. Ini Abel Mami anak Mami yang sudah dewasa, bukan lagi bocah kecil. Mami pasti malu, lihat deh Ayah pipi Mami merah ....”
“Hadehh anak-anak mengaku orang dewasa. Lihatlah, apa yang dewasa darimu. Tidak sepantasnya anak dewasa duduk di pangkuan ayahnya seperti ini!” cemooh Azel.
Perdebatan pun masih berlanjut, sebab Agha belum mengeluarkan suaranya. Pria itu masih asyik menyaksikan anak istri yang sedang beradu argumen itu.
“Kenapa? Namanya juga sama ayah sendiri. Mami iri karena tidak bisa dipangku kayak gini?”
Azel menatap tajam, lalu ia memanyunkan bibirnya. “Jika ayahmu sudah keluar nanti, Mami bisa sepuasnya!” celetuknya tanpa sadar.
“Sepuasnya apa?” goda Agha. Tatapan Azel langsung teralihkan, rasa malu pun menjalar.
“Eh-emm maksud ak—”
“HAHAHA Ngeblus ....” Abel pun mengejek kala maminya mulai kikuk.
Ceklek.
Tiba-tiba datang seseorang pria, bertubuh besar, berkulit putih dan begitu rapi.
“Xander ....”
“Wahhh sepertinya ada wajah baru pagi ini,” ujar pria itu.
“Ah, kau bisa saja ....” balas Agha.
“Hmm sebelumnya aku sempatkan berkunjung untuk pamit. Negara asing ini sekarang sudah menjadi negaraku juga, banyak hal yang aku dapat di kota ini. Mungkin aku pulang tidak jadi membawa seseorang, tapi aku berhasil memetik pengalaman,” ujar Xander.
“Mungkin banyak aku mengecewakan orang, menyakiti perasaan, atau bahkan merusak kebahagiaan. Namun, itu semua tidak sama aku niatkan dari hati,” balas Azel.
“Santai saja Azel, jalani semua. Kebahagiaanmu sudah lengkap, kini bergilir aku yang akan mencari kembali masa depanku. Baik-baik kalian di sini.”
Agha menyahut, “Harus dengan apa aku membalas kebaikanmu Xander?”
“Hanya dengan menjaga mereka sudah cukup Agha, jangan pernah kau kecewakan aku. Jika aku dengar salah satu di antara wanita-wanitaku ini menangis karenamu, siap kau berhadapan denganku lagi. Agha ... hanya kau yang kupercayai, beri mereka kebahagiaan.”
“Tentu saja, aku tidak akan pernah mengecewakanmu. Terima kasih ....” balas Agha, langsung mendapat peluk persahabatan dari Xander.
“Terima kasih Xander, kau berhak memiliki seseorang yang lebih baik dariku di luaran sana,” sambung Azel. Pria itupun beralih memeluknya. Tenang saja itu hanya tanda perpisahan mereka, dan Agha sudah mengerti itu.
“Jaga dirimu baik-baik. Untuk kau cepatlah sembuh agar calon keponakanku bisa cepat on the way!”
__ADS_1
Agha hanya tersenyum.
“Dan, kau Nona cantik. Aku tunggu kau beberapa tahun lagi untuk menjadi istriku. Setidaknya aku tidak bisa memiliki ibunya, masih ada anaknya ini,” ujarnya terkekeh. Sebelum akhirnya pria itu benar-benar pergi.