Ibu ASI Untuk Bayi Om Duda

Ibu ASI Untuk Bayi Om Duda
S2. Bocah Sialan


__ADS_3

Saat ini keluarga Tansoon sedang berkunjung. Ada Fania, dan juga ketiga anaknya. Keluarga yang berasal dari bule itu tampak sedang mengobrol dengan Samuel dan Shireen.


Memang setiap mereka berkunjung selalu di hari libur, sehingga bisa berkumpul bersama.


Ina datang menyediakan jamuan untuk mereka. Hari ini Azriel tidak cerewet, hingga perempuan itu mempunyai banyak waktu luang.


"Silahkan di minum Tuan, Nyonya dan Nona," ucapnya.


'Astaga siapa dia? Cantik sekali,' gumam dalam hati seseorang. Dia adalah Jansean, putra pertama Fania dan Tansoon. Pria tampan itu berumur sama seperti Aryan.


"Lo dapet darimana Reen pembantu cantik kayak gitu?" tanya Fania. Ibu-ibu yang terlihat masih muda tetap pada dirinya yang seperti dulu.


"Turun temurun dari pembantu," balas Shireen terkekeh.


'Cantik si, tapi masih cantikan aku. Kok bisa-bisanya dia ada di keluarga Raymond, terlihat masih muda lagi. Huh, apa Kak Aryan dan Kak Azriel tidak jatuh dengannya?'


Ya, yang berujar dalam hati itu adalah Fatia, putri kedua Fania. Dia yang sangat didambakan Aryan, tetapi sulit baginya karena Fatia gadis yang angkuh dan sombong. Usianya tak jauh beda dengan sang kakak yaitu Jansean.


Dan satu lagi bernama Rowlend, usianya seumuran Abel. Lihatlah, saat ini mereka pun terlihat sangat akur main bersama.


"Paman, Bibi, apa aku boleh masuk kamar Kak Azriel?" ucap seorang yaitu Jansean.


"Ya, silahkan Nak. Dia ada di dalam," ucap Samuel.


Jansean pun beranjak, ia ingin menghampiri Azriel. Namun, pria jahil itu tiba-tiba menoyor kepala Aryan yang terlihat memandangi Fatia dengan senyum-senyum.


"Jangan pandangi adikku terus!"


Aryan pun berdecak, "Sialan sekali kau!"


Tiba-tiba Fania teringat dengan anak Samuel satu itu. "Apa Azriel masih sama seperti dulu?"


"Ya, begitulah. Anak itu keras kepala, padahal kita pengen banget dia sembuh," balas Shireen.


"Aku ada kenalan seorang Dokter ahli neurologi. Sepertinya cocok untuk mengobati kelumpuhan Azriel," ucap Tansoon.


"Kau tahu bagaimana sifat anak satuku itu. Sulit untuk mencairkan hatinya. Azriel sudah tidak minat lagi untuk hidup normal," tutur Samuel.


"Membujuk, apa gunanya kata itu diciptakan!"


Samuel berdecak. Baginya, mereka tak pernah merasakan saja bagaimana sulitnya meluluhkan hati keras Azriel.


Di dalam kamar.


"Kak, bagaimana kabarmu?"


Azriel menoleh saat melihat kedatangannya. Ternyata, ada mahasiswa nakal yang dulu pernah magang di kantornya. Ya, Jansean pernah magang di kantornya waktu belum lama pria itu masuk universitas. Namun, karena sok pintarnya Jansean ingin magang di perusahaan selain milik sang ayah. Alhasil, karena ilmunya yang masih seumur jagung, ia hanya membuat kegaduhan saja di kantornya.

__ADS_1


"Tidak ada yang berubah!" jawab Azriel.


"Terlihat tidak ada semangat hidup. Masih jadi beban? Jika kau tahu, aku sudah mempunyai 5 gadis dan itu perawan semua. Dulu kau selalu bersaing, dan aku selalu kalah. Saat ini aku menang, karena sudah tidak laku lagi!" ucap asal Jansean. Di antara adik-adik dan kakaknya, Jansean adalah pria yang sangat berani dengan Azriel.


"Dasar bocah sialan," gumam Azriel. Ia tetap fokus membaca buku yang dipegangnya.


"Aku rindu membuat kesal di kantor, tapi sekarang kerjaanmu santai melulu."


"Jangan buat aku marah."


"Sengaja! Ada Daddy di luar, aku pasti dibela. Lagian mana mungkin pria sepertimu bisa melawanku kayak dulu lagi," ucap Jansean seolah menyindir.


Tiba-tiba Azriel melepaskan sendalnya, saat itu juga Jansean berjongkok mengangkat kedua tangan, lalu menyengir seperti rase. "Hehe ampun Kak!"


"Keluar, jika hanya ingin menghinaku!" seru Azriel.


"Aku tidak menghina, tapi aku hanya memancing Kakak saja. Satu keluarga sedih dengan keterpurukan Kakak. Melihat Kakak tidak berguna dan menjadi beban, aku kasihan. Ayolah Kak, kita usahakan untuk hidup normal lagi. Aku janji akan menjadi karyawan Kakak yang terhandal!"


"Aku tidak suka dikasihani!"


"Tapi keadaan Kakak ini membuat orang iba ...."


'Astaga anak ini benar-benar sialan!' gerutu dalam hati Azriel.


"Keluar dari kamarku!" Kali ini Azriel mengusirnya dengan serius.


Setelah itu Jansean segera keluar dari kamarnya, dari situlah ucapannya mulai dicerna oleh Azriel.


"Apa sebegitunya aku larut dalam hidup keterpurukan ini?" gumamnya bertanya kepada dirinya sendiri.


Kini bergantian Ina yang masuk ke dalam kamarnya. Gadis itu tampak membawa sebuah kotak obat di tangannya.


"Waktunya minum obat Tuan."


"Apakah tamu di luar sudah pergi?"  tanya Azriel.


"Sudah Tuan."


"Syukurlah."


"Tapi, sepertinya akan datang Dokter yang berkunjung."


Azriel terkejut. Hatinya bertanya, kenapa seorang yang berprofesi itu kini ingin datang. "Apa? Dokter?"


"Tadi, saya tidak sengaja mendengar pembicaraan mereka. Dokter ahli neurologi akan datang untuk memeriksa Tuan," jelas Ina.


Hanya decakan jengah yang keluar dari mulut Azriel. Muak sangat muak, dengan rencana baru mereka. 'Baiklah ikuti saja permainannya.'

__ADS_1


"Sudah siap Tuan?"


"Kau kira aku takut?!" sergah Azriel.


"Ah, tidak bukan itu maksud saya Tuan. Ya sudah, lebih baik cepat obatnya diminum."


Setelah menyaksikan Azriel meminum obatnya. Kini Ina masih berdiam di sana, sampai Azriel menatapnya dengan penuh selidik. "Kenapa masih di sini?"


"Saya akan menemani Tuan, sampai Dokter itu datang."


"Untuk apa?"


Tok


Tok ...


Ina yang paling semangat. Ya, ini adalah seseorang yang ia tunggu kehadirannya, ternyata datang juga. Dengan langkah yang semangat dan gerak yang cepat, gadis itu membuka pintu kamar.


"Silahkan masuk Tuan!"


Tampaklah seorang pria berjas putih, seumuran Samuel yang diiringi oleh Shireen dan juga suaminya.


"Selamat siang Tuan Azriel," sapa Dokter itu dengan ramah. Azriel hanya memasang wajah melasnya.


"Sayang, ini Dokter Harlond."


"Untuk apa datang ke sini?" tanya Azriel sinis.


"Sayang ... ayolah!"


"Langsung periksa saja Dok, anakku!"


Dokter yang sangat murah senyum itu langsung mendekati Azriel, ia memeriksa bagian kakinya, mengecek lalu menyentuh-nyentuhnya. Azriel tak menolak, ia hanya mengamati Dokter itu saja dengan tatapan remehnya.


'Apapun hasil aku yakin akan tetap sama,' batinnya.


"Bagaimana Dok?" tanya Samuel.


"Kelumpuhan bisa bersifat sementara ataupun permanen. Dari keduanya pada dasarnya bisa kembali pulih, namun untuk khusus permanen yang lebih lama. Baiklah, kelumpuhan Tuan Azriel masih bisa disembuhkan hanya saja membutuhkan waktu yang cukup lama."


"Dengan cara apa Dok?"


"Terapi khusus. Saya akan datang ke sini satu Minggu sekali. Namun, untuk terapinya harus rutin walaupun tanpa saya. Kemungkinan besar, otot-otot saraf kaki Tuan Azriel itu mulai berfungsi jika banyak pergerakan darinya. Selain itu, harus dibantu dengan cara lain juga. Sepertinya saya memerlukan satu orang untuk membantu."


"Saya siap Tuan!" sahut Ina.


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2