Ibu ASI Untuk Bayi Om Duda

Ibu ASI Untuk Bayi Om Duda
S2. Honeymoon


__ADS_3

Azriel tak main-main dengan ucapannya. Hari ini ia benar-benar berangkat ke kota Bali, untuk menikmati masa berduanya.


Awalnya Ina menolak keras. Namun, dorongan dari kedua mertuanya, membuatnya tak enak hati jika menolak lagi.


Namun, tanpa sepengetahuan mereka. Ainsley, Aryan dan Iren sedang mengikutinya. Mereka berniat untuk menyusul nanti sore.


Kini Azriel sudah diperbolehkan untuk membawa mobil sendiri. Pria itu tampak senyumannya tak terputus. Selama perjalanan, tangan Azriel pun tak terlepas dari tangan istrinya. Menggenggam sampai tangan keduanya merasa lembab.


"Kenapa harus ada honeymoon?"


"Agar kita bisa melakukan kegiatan santai berdua. Sekaligus memfreshkan pikiran. Ayolah, kita melakukan ini hanya selama satu Minggu saja," balas Azriel.


"Tapi kita 'kan bisa melakukannya di rumah!"


Mendengar itu tiba-tiba senyum jahil Azriel terulas. Ia menghentikan mobilnya, kebetulan di tempat yang sepi. Kemudian ia mengangkat dagu istrinya, lalu berkata, "Melakukan apa hmm? Bagaimana di sini saja? Kau siap?"


Ina tercekat, ternyata suaminya itu salah mengartikan ucapannya. "Emm, maksudku bu-bukan seperti itu. Aku mengatakan kita bisa mem--emmpph!"


Cup


Cup-ah


Saat Ina terbata-bata memberikan penjelasan, Azriel langsung menyambar bibirnya. Dua kali kecupan, berkali-kali *******.


Ina mengelap bibirnya yang basah, Azriel mengembalikan posisinya. "Jangan berisik jika tidak mau kuusik. Ikuti saja perjalanan kita."


Seketika Ina bungkam, membisukan mulutnya bahkan untuk bergerak pun dia seperti berpikir-pikir. Karena, ia tahu jika berulah apa konsekuensinya. Ya, bibirnya yang akan menjadi korban.


***


Setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh, kini mereka telah sampai mereka di sebuah pulau Dewata, pulau yang menyajikan keindahan bagi para penikmat pantai.


'Tempat apa ini? Kawasannya di penuhi dengan orang telanjang," gumam Ina.


"Norak sekali," sahut Azriel.


'Dengar saja lagi!'


Tiba-tiba Ina dikejutkan dengan pemandangan seseorang yang menghampiri mereka. Ya, dua orang perempuan bule dengan penampilan yang membuat Ina malu sendiri.


"Axcuse me sir. Are you a newcomer?"


"Yes," balas Azriel dengan cool, bahkan kacamata hitam pria itu belum dilepasnya. Memusatkan perhatian semua pengunjung pantai, akan ketampanannya.


"How about we go on a date tonight?" tawar wanita itu dengan menggoda.


Azriel membuka kacamatanya, dengan histeris dua perempuan itu tampak terpesona.


"So handsome!"


"Oh my god!"


Azriel yang melihat mereka sangat centil dengan gaya nyeleneh mereka merasa geli, terlebih dengan tubuh coklat mereka yang sangat terekspos di depan matanya. Sementara Ina hanya menyimak, karena ia tidak tahu apa yang sedang mereka bicarakan.


"I'm sorry because I already have a wife!"


Dua perempuan itu pun memasang wajah kesalnya, tanpa salah satu dari mereka kecewa dengan penolakan Azriel. Terlebih pria itu menunjukkan Ina kepada mereka. Akhirnya dua wanita bule itu pergi dengan rasa kecewa


"Menjijikkan. Datang-datang minta berkencan!" gumam Azriel menggerutu.

__ADS_1


"Siapa?"


"Orang aneh!"


"Oh."


"Kenapa, kau cemburu?"


"Tidak sama sekali!"


***


Terik matahari semakin mentereng, jam sudah menunjukkan siang. Kini dua pasang insan itu sudah berlabuh di sebuah hotel.


Setelah check-in hotel termahal, mereka akhirnya mengistirahatkan diri dengan tidur pulas. Ya, hotel Amankila, sebuah hotel bintang lima yang menyediakan fasilitas premium. Kini, terlihat mereka sangat lelah sampai tertidur pulas dengan saling mendekap di dalamnya.


Tiba di sore hari.


Mereka terbangun karena ada yang mengetuk pintu kamarnya, Azriel mengira itu waitress yang ingin menghantarkankan makanan untuknya.


"Biar aku yang buka!" Karena Ina masih mengumpulkan kesadarannya, Azriel pun bergerak melangkah untuk membuka pintu.


Dan, apa yang ia lihat?


"HALLO KAKAK!"


Ternyata dugaannya salah, ia justru diperlihatkan dengan senyum konyol dari kedua adik dan satu sepupunya.


"Kalian? Mau apa kalian mengikutiku?"


"Mau merecoki hihi," balas Ainsley dengan seenaknya menerobos masuk ke dalam kamar melewati celah ketiak Azriel.


"Tidak, tapi aku yang mengajak mereka," jawab asal pria itu.


"Kauu ....!"


"Tenang saja Kak, kita tidak akan menggangu. Aku sudah pesan kamar untuk kita bertiga, jadi Kakak akan tetap bisa tenang iya iya dengan ...."


Azriel mencoba untuk melepaskan sendal hotelnya. Aryan pun memutuskan ucapannya, dan ikut masuk dengan mereka.


"Astaga liburanku hancur!"


Hingga pada malam hari tiba.


Ina tampak siap dengan dengan pakaian tidurnya, sementara Azriel terlihat sangat rapi.


"Astaga apa aku akan mengajak perempuan berpiyama untuk kencan?"


"Kencan?"


"Ya, aku ingin mengajakmu ke sesuatu tempat!"


"Huhh seperti pasangan saja!" Mendengar itu Azriel mendekat, lalu ia menyodongkan mulutnya ke telinga Ina.


Lalu berbisik, "Memang kita bukan pasangan Sayang, hmm?" Azriel berbicara tepat di daun telinga Ina. Gadis itu merasa darahnya mendidih, tubuhnya kaku, dan hatinya seolah mencelos. Terlebih mendengar panggilan baru itu.


'Ya, aku pasanganmu tapi hatiku terasa tidak berpasangan,' batin Ina.


Azriel menelpon seseorang, dan ....

__ADS_1


Grebegg ... grebeggkk ...


Dua gadis cantik datang dengan berloncatan.


"Dandani istriku!"


"Siap Boss ...."


Ainsley tersenyum merekah ke arah Iren. "Ren ayo kita rombak!"


"Gass!"


"Astaga, istrinya seperti Lego dirombak!" gumam Azriel merasa capek sendiri dengan adik dan sepupunya.


Kemudian Ina ditarik ke dalam ruang ganti, yang di mana mereka akan meriasi wajahnya.


"OMOOO KAKAK SANGAT CANTIK!" teriak mereka setelah melihat hasil makeupnya.


Ina yang mendengar suara melengking itu, sampai menyeringis. Namun, mereka memberikan gaun yang membuatnya risih.



Bagi Ina, dia sangat jarang sekali mengenakan pakaian seperti itu. Bagian dadanya terlihat sangat terbuka, yang di mana mencetakkan belahan miliknya.


Tetapi, setelah berkaca di cermin ia tampak kagum, karena mereka meriasinya sangat bagus sampai ia tak menyangka bahwa itu dirinya.


"Hmm, ini terlalu terbuka!"


"Astaga Kakak ... jika kau bayangkan penampilanmu dengan wanita di pantai, apa kau merasa sama seperti mereka? Ini tidak seberapa, bahkan bagiku ini terlalu tertutup!"


"Menurut Iren sangat bagus, Iren yakin Kak Azriel pasti kelilipan lihat Kakak!"


"Hmm, tap--"


"Sudah ayo kita keluar!"


Mereka mendorong Ina agar gadis itu percaya diri berhadapan dengan suaminya.


"Kakak tadaaa ..., ini istrimu bukan?"


Azriel mengalihkan atensinya saat ia sibuk dengan ponsel, tiba-tiba ia menganga melihat penampilan sang istri. Benar kata Iren, pria itu akan kelilipan karena sama sekali tidak berkedip.


Sedangkan, saat itu Ina masih berusaha menaikkan kain bagian atas dadanya agar sedikit tertutup. Namun sayang, buah dada itu memang takdir menempel di tubuh indahnya.


Azriel berjalan mendekat. "Dia bukan istriku!"


Satu helaan napas terdengar dari mulut mereka. 'Mulai deh!' batin Ina.


"Aku kira akan ada pujian. Ah, Kak Azriel tidak peka!" sahut Ainsley.


"Wajar saja, kata temenku mata Kak Azriel itu seperti kotok bebek!"


"Ayam Ren, bukan bebek!"


"Orang Amerika ngerti-ngertian aja!"


"Iyalah, temenku di sana banyak yang berasal dari kampung, yang kuliah di Amerika lewat jalur beasiswa!"


Tak memperdulikan perdebatan mereka, Azriel tetap fokus dengan istrinya. "Kau sangat cantik!" bisiknya.

__ADS_1


Bersambung .....


__ADS_2