
Inah, Lia dan Lisa saat ini merasa lega karena Azel dan Azriel sudah tertidur berkat Shireen yang menidurkan mereka.
"Syukurlah mereka sudah tidur Nona, saya merasa lega. Tapi, bagaimana dengan keadaan tuan? Sudah pasti mereka akan menanyakan kembali keberadaan tuan, esok," ucap Inah.
"Bibik masuk ke kamar kakak yah, bilang ke Shireen. Kita bergantian menjaga kakak di rumah sakit. Suruh dia menginap saja," ujar Lisa.
"Baik Non."
Lia dan Lisa pun keluar, menuju rumah sakit untuk menjaga sang kakak.
***
Keesokan harinya.
Pagi-pagi sangat Shireen bangun, ia tak mau membangunkan dua anak kembar yang masih tidur. Setelahnya gadis itu buru-buru keluar dari kamar.
"Bik Inah. Tolong jaga Azel Azriel yah, Shireen mau kembali ke rumah sakit. Mungkin Lia dan Lisa harus ngampus hari ini, biar bergantian Shireen yang menjaga Om," ujar Shireen.
"Baik Non, hati-hati yah!"
"Iyah Bik, terima kasih."
Sebelum ke rumah sakit, Shireen menyempatkan untuk membersihkan dirinya terlebih dahulu di apartemen. Ia sudah tak memperdulikan lagi mata kuliah hari ini yang harus ia jalani, ia juga tak memikirkan pekerjaannya lagi. Yang jelas, seharian ini ia mau menjaga Samuel di rumah sakit.
Setelah tiba di rumah sakit.
"Lia Lisa, lebih baik kalian pulang dulu. Kalian harus kuliah, biar Om gue yang jaga."
"Tapi Reen, lo juga harus kuliah terus pekerjaan lo gimana? Biar kita aja yang bolos kuliah," balas Lisa.
"Kita masih mau nungguin kakak di sini Reen," timpal Lia.
"Nggak! Kalian harus kuliah. Biar gue aja ya yang jagain Om. Kalian gak boleh ninggalin kuliah kalian, kalo Om Samuel tau kalian juga pasti dimarahi udah ninggalin mata kuliah!" bantah Shireen.
"Tapi, gak apa-apa?"
"Kalian tenang aja."
"Oke, makasih Reen."
"Ini udah jadi keharusan buat gue."
Kedua gadis itu tersenyum kepada Shireen. Kemudian mereka pergi.
Kini hanya ada Shireen seorang yang menjaga Samuel. Ia berpikir Samuel akan sadar, ternyata pria itu masih betah terpejam.
__ADS_1
"Om, bangun dong. Masa Om harus kayak Shireen dulu, tidur gak bangun-bangun selama 5 bulan. Berat Om buat Shireen. Bangun ...."
Shireen mengerucutkan bibirnya, dengan mata menatap terus pria yang begitu tenang dalam tidurnya.
Shireen memainkan jari Samuel, gadis itu ingin sekali keajiban datang hari ini dan membukakan mata pria itu.
"Om, gak kasihan sama anak Om? Mereka nangis-nangis nanyain Om terus. Jadi bapak kok gak perdulian banget sih, anak nangis masih aja tidur!"
Ya, bilang saja saat ini gadis itu seperti orang gila. Bahkan ia tertawa tak jelas, padahal air mata tak berhenti keluar.
Shireen terus meracau melantur, bahkan mengoceh seperti orang tak waras. Namun ia juga tertawa, dan kemudian menangis sendiri. Rasa bersalahnya masih menggerogoti hati. Mungkin ia sadar, ini yang dirasakan Samuel dulu. Hidup dengan penuh rasa bersalah, dan membutuhkan sekali maaf.
Satu Minggu kemudian.
Sudah 8 hari Samuel tak kunjung sadar, pria itu masih memejamkan mata di atas brankar. Keseharian Shireen pun terus dibaluti rasa sedih. Aktivitasnya hanya menangis, berceloteh, dan bercerita saat menemani pria itu. Sungguh rasanya rindu mendengar perkataan mesum pria yang selalu menggodanya.
Gadis itu sangat berantakan, badannya tak terurus tanpa yang ia sadar tubuhnya semakin kurus. Kuliah pun ia tinggal, bahkan sampai pekerjaan. Mungkin setelah Samuel bangun, gadis itu akan menjadi gelandangan.
Ia sibuk dengan mengurusi orang-orang, karena selain Samuel yang selalu ia jaga dan ia rawat, ada anaknya juga yang harus ia urus. Syukur, Azel dan Azriel selalu mengerti jika Daddy-nya saat ini sedang bekerja jauh. Itu pun terpaksa bohong demi mereka tak sedih melihat keadaan sang Daddy yang sebenarnya.
Saat ini Shireen tengah menyaksikan sang dokter yang tengah mengecek keadaan Samuel. Sudah banyak pertanyaan yang ingin ia lontarkan untuk sang dokter.
"Dok, kenapa Om lama banget bangunnya?"
"Maaf Nona, kondisi pasien masih sangat melemah. Mungkin butuh waktu yang panjang untuk bangun dari masa komanya," ujar sang dokter menjawab.
"Saya permisi dulu. Mohon jaga ketenangan di ruangan ini," ujar sang dokter.
"Baik, Dok. Terima kasih."
Shireen kembali duduk, ia hanya mampu memandangi mata yang masih merapat itu. Memainkan jari-jari perkasa, sesekali menciumnya. "Om, kasihan Azel dan Azriel. Shireen mau kok tiap hari menginap tanpa dibayar, asal Om mau bangun dan peluk mereka lagi. Shireen rindu liat Om bercanda sama mereka."
Berulangkali Shireen menghembuskan napas beratnya. Kemudian ia beranjak dan mengelus kepala Samuel, ia juga memberikan kecupan di kening pria itu.
"Azel Azriel belum mandi, aku pulang ya Om. Besok aku ke sini lagi," pamitnya. Walaupun tak mendapat balasan, dan belum tentu didengar. Namun, Shireen merasa itu hal yang harus dilakukan.
Gadis itu pergi dan melangkahkan kaki untuk menuju mansion Samuel. Dan, setelah tiba ia langsung mendapati kedua anak kembar di sana tengah bermain gembira.
Dalam hatinya berkata, 'Syukurlah mereka tetap ceria.'
Gadis itu menghampiri beberapa anak kecil, yang tengah asik bermain di taman.
"Mama!"
"Anak Mama, mandi yuk Sayang. Udah sore."
__ADS_1
"Telnyata Azel Azlil punya Mama. Setahu aku kalian cuma punya Daddy," ucap bocah perempuan teman sebaya Azel.
"Iya dong, kita juga punya Mama!" cetus Azriel.
"Iyah, Mama aku juga cantiw!" sahut Azel.
"Iyah, Mama meleka cantik yaaa," ucap salah satu bocah lelaki tersenyum genit melihat wajah Shireen.
"Iyah Sayang, aku Mamanya mereka. Oke, karena udah sore kalian kembali ke rumah masing-masing yah!" ucap Shireen. Mereka pun menurut, sedangkan Shireen menuntun kedua bocah kembar itu.
"Mama kapan Daddy pulang?" tanya Azel.
"Azil lindu Daddy ...."
"Sabar ya cintah, Mama yakin besok Daddy akan pulang dan main lagi sama kalian."
Ya, seperti itulah keseharian Shireen saat ini. Ia mensibukkan diri menjadi peran seorang mama buat kedua anak kembar Samuel.
***
Kini sudah satu bulan Samuel koma. Masih belum ada tanda-tanda kesadaran darinya. Shireen pun sampai saat ini masih menjadi peneman dalam tidur panjangnya.
"Reen kita pulang yah," ucap Lisa.
"Iyah, kalian jangan lupa sarapan ya. Di rumah udah gue masakin sarapan buat kalian," balas Shireen.
"Makasih."
Mereka pergi, kini Shireen mengembangkan senyumnya menatap pria tampan yang pucet itu. Ya, mereka menjaga Samuel secara bergantian. Di waktu malam Shireen menjaga kedua anak kembar hingga pagi, dan di waktu pagi Shireen yang bergantian dengan Lia dan Lisa untuk menjaga Samuel.
"Morning Om. Aduh nih orang, masih tidur aja, kebo banget sih!" decaknya berbicara konyol.
Gadis itu mendudukkan kursi yang biasa digunakan untuk menjenguk. Menatap dan meraba tangan pria ini, hanya itulah yang bisa ia lakukan.
"Om, bangun dong. Om gak gerah apa gak mandi-mandi? Walaupun masih tetep wangi, tapi Om jorok tau gak!" celetuknya. Mungkin jika seseorang mendengar ucapan Shireen saat ini, akan tertawa karena tingkah konyolnya.
"Om udah satu bulan Shireen hitung tidur gak bangun-bangun. Oke deh, kalo Om bangun Shireen bakal maafin Om, mau juga kalo dimesumin sama Om lagi. Shireen juga mau nyatain, kalo Shireen cin--"
"Baiklah besok kita langsung menikah!"
"Hah!"
Bersambung ....
Aku terlalu sibuk merangkai kata dalam sebuah cerita, sampai lupa dengan kehidupan nyata. Dengan sadar mohon maaf bahwa esok aku tidak bisa update untuk para pembaca setia. Anjayy
__ADS_1
Salam manis dari Ay, buat emak-emak yang selalu bawel up dikomen. Lov you all, aku cinta kalian ...