Ibu ASI Untuk Bayi Om Duda

Ibu ASI Untuk Bayi Om Duda
S3. Tidur Bersama


__ADS_3

“Masuklah. Kita akan berteduh di sini beberapa saat, sampai hujan reda,” ucap Agha.


Pria itu segera membawa masuk putrinya, beserta dengan sang mami dari anak angkatnya.


Setelah mereka memasuki apartemen yang jarang sekali Agha singgahi ini, tetapi bukan berarti apartemen ini bersawang ataupun kumuh, tapi justru kerapihannya tetap terjaga.


Agha segera menidurkan putrinya di atas ranjang, lalu ia baluti dengan selimut tebal agar tetap membawanya pada kehangatan, sementara gadis itu sendiri sudah tertidur pulas.


Sedangkan Azel yang sempat terkena air hujan tadi, kini masih terlihat kedinginan bahkan perempuan itu mulai bersin-bersin.


Agha berinisiatif membuatkan teh jahe untuknya, sebelum itu ia memberikan handuk kecil lalu ia selembokkan di atas kepala perempuan ini. Mengetahui rambut Azel yang basah sebab air hujan tadi, ia takut akan lembab.


“Aku akan buat teh jahe, tunggulah,” pesan pria itu.


Agha mulai melangkahkan kakinya kembali menuju dapur. Saat itu Azel dapat melihat perhatian penuh darinya. Perempuan yang mempunyai satu anak itu pun, hanya bisa termenung dan menatap nanar punggung lelaki dewasa yang sedang membuatkan sesuatu itu.


Haaachiii


Hachih!


HUACHIHHH!


Srot srot srot ....


Agha menampakkan senyumnya, ia merasa gemas mendengar suara bersin yang terus-menerus itu. Terlebih saat dengan mudahnya perempuan itu menarik cairan yang berada di dalam hidungnya.


“Sepertinya kau flu,” ucapnya lalu menyodorkan teh jahe hangatnya.


“Hmm, kepalaku juga mulai pusing,” balas Azel.


“Yaa kau sendiri yang mencari penyakit itu. Coba kau dengarkan ucapanku tadi, mungkin takkan kau terkena hujan!” sindir Agha menyalahkan.


“Di mana-mana kau selalu menyalahkan. Aku penasaran seberapa benar hidupmu!” pungkas Azel, lalu menyeruput teh hangat itu.


Agha terkekeh, memang sepertinya ia sangat menyebalkan dari dulu di mata Azel. Mungkin, terasa berbeda cara berinteraksi keduanya setelah sepuluh tahun yang lalu saat terpisah, akan tetapi bagi Azel tetap sama tidak berubah prihal tingkah laku dan sikapnya.


“Kau mau apa?” Azel tiba-tiba terkejut dengan aksi Aghafa kala ia ingin menyentuh keningnya. Namun, Agha menunjukkan suatu benda padanya hingga terurungkan niat memarahinya.


“Hanya mengoles minyak angin. Tidak perlu terlalu percaya diri, jika aku ingin menciummu,” ledeknya.


Wajah kesal pun ditunjukkan oleh Azel, tetapi sepertinya pria ini akan lebih konyol. Dia terus memantau kondisi wajah pria yang saat ini hanya berjarak beberapa senti saja dengan wajahnya. Azel tahu apa yang akan dikatakan Agha selanjutnya.


“Lagipula aku juga sudah merasakannya dulu,” lanjutnya lagi-lagi dengan wajah tanpa ekspresi. Namun setelah itu, Agha salah tingkah sendiri, ia ragu-ragu tersenyum.


‘Tuh ‘kan!’


“Jangan diingat!”


“Iya aku tahu kau sudah menjadi milik orang. Tenang saja, aku bisa menjaga jodoh orang. Menurut psikolog, menjaga milik seseorang bisa menjadi milik kita!”


“Aku seorang kutubuku, sebelumnya aku tidak pernah baca membaca artikel seperti itu dari ilmu psikologis!”


“Bukumu belum di-update ....”


‘Astaga menyebalkan sekali!’


Azel memilih untuk diam, ia tidak mau ucapan yang semakin ngaur itu akan berlanjut ke jenjang yang lebih unfaedah.


“Sudah lebih tenang?” tanyanya, Azel pun mengangguk sembari ia menghela napas, setelah merasa plong. Ternyata, pijatan tangan pria ini mampu merileksasikan kepalanya.


Mungkin kalian banyak yang tak menyadari. Pada nyatanya banyak kesempatan yang diambil oleh pria ini, dari itu menatap puas wajah yang amat ia rindukan, dan bisa menyentuhnya lagi atau bahkan dapat menghirup wangi yang khas di tubuh Azel. Contohnya, memijat kepala perempuan itu tanpa disadari sang pemiliknya.


Karena sibuk berbicara, Azel tak engah jika ia sedang disentuh. Ya, dengan pria yang beberapa tahun silam telah menyatakan cinta, tapi kandas karena larangan, selalu mengambil kesempatan diam-diam.


"Hmm sudah lebih baik,” jawab Azel.


“Tidurlah bersama Abel, biar aku yang tidur di sini!”


Seketika Azel menatap kondisi ranjang. Astaga, lihat saja tuan putrinya itu sudah tertidur dengan posisi terlentang seperti paus mendarat, dan dengan mudahnya pria ini memerintahkannya untuk beralih ke sana.


“Lihatlah, anak itu jika sudah pulas seperti kerbau kekenyangan, sementara luas ranjangmu hanya seujung alisku. Mana bisa? Bahkan, sofa ini lebih besar ukurannya dengan ranjang itu!” protesnya mencerocos.


Agha ikut menoleh, ia terkekeh melihat tingkah Abel saat tertidur. Padahal ia sudah selimuti, tetapi gadis itu merombaknya sampai hanya kaki saja yang tertutup.


“Yasudah, Itu berarti aku harus tidur bersamamu,” usulnya asal.


“Eh, mana bisa. TIDAK!” Menolak, tetapi rona pipi seperti rasa menerima.


“Kau ‘kan bilang ukuran sofa ini lebih besar dari ranjangku, berarti muat untuk kita berdua.” Agha mulai mencodongkan wajahnya ke arah wajah Azel, refleks wanita itu memundurkan posisinya.


“Agha, kau ....”


Pria jahil itu tersenyum meledek, lalu ia menegakkan badannya, setelah itu apa yang Azel dapat? Ya, hanya melihat ekspresi konyolnya. Kala itu Agha tertawa lepas sampai mendongak, hingga menampakkan rahangnya yang kokoh.

__ADS_1


“Tenang saja, aku tidak suka memakan milik seseorang!”


Sangat dalam sekali arti ucapannya. Dapat Azel simpulkan, jika pria itu masih benar-benar menyimpan rasa kepadanya. Ia seperti merasa percaya diri terhadap praduganya, tetapi semuanya seolah tampak jelas. Namun, rasa bersalah berkemelut di hati, ia seperti tak menghargai Agha.


“Tidurlah, aku tidak akan mengganggumu. Biarku gelar selimut di sana!” Agha berjalan ke arah ruang tv, tetapi mereka masih satu ruangan hanya saja ruang tv itu tidak menyediakan sofa melainkan hanya karpet berbulu lembut saja.


Memang apartemen ini hanya sebuah singgahan sesaat. Banyak barang yang belum lengkap, akan tetapi ukuran ruangan ini begitu luas sampai terasa samun karena begitu polos.


Kini Azel menyaksikan sendiri persiapan Agha yang ingin tidur, ia juga memantau sampai pria itu benar-benar terpejam. Sedikit tidak enak hati, tapi ia juga cemas akan terjadi sesuatu hal jika dia dan dirinya tidur dalam satu tempat.


“Masabodolah, yang penting malam ini aku tidur nyenyak sambil mendengar suara rintikan hujan di luar,” gumamnya, sembari merebahkan tubuh.


Sampai di malam hari.


Hujan di luar semakin lebat, semakin terasa hawa dingin, sedangkan Agha tidur tanpa selimut. Ia sedikit menggigil karena hawa dingin yang mulai menyergap.


Sepertinya pergantian musim akan terjadi. Hujan malam ini sangat panjang, bahkan diperkirakan sampai esok. Pria itu mencoba untuk membuka mata, berdiri lalu melihat kondisi anak angkatnya, ternyata masih terlihat aman dan nyenyak. Sementara wanita yang tidur di atas sofa sana terlihat sangat pulas hingga tak menyadari bahwa posisinya mungkin sebentar lagi akan terjatuh.


“Dia mengatai anaknya, sedangkan dirinya sendiri sama. Kalian memang sangat gemas di mataku,” gumamnya dengan suara yang khas setelah bangun tidur.


Azel tampak menggeliat, ia ingin membenarkan posisinya tapi karena dalam kondisi di bawah alam sadar wanita itu justru ingin terjatuh, bahkan kepalanya sudah hampir menjuntai ke lantai.


“Astaga!”


Begitu cekatan, hingga tak sampai perempuan itu terjatuh. Agha menggelengkan kepalanya, melihat tingkah Azel ini lagi-lagi tak jauh berbeda dari anaknya.


Bahkan, karena begitu pulasnya Azel tak sama sekali terbangun. Mungkin, karena hujan malam ini begitu deras sehingga memberikan kenyamanan.


Namun, kini Agha harus bagaimana? Ia sedang menopang tubuh Azel, karena saat membenarkan posisi perempuan itu tadi, membuatnya menahan tubuh Azel dengan badannya sendiri.


Sampai akhirnya ia merubahnya menjadi seperti ini.



Note: Bayangkan saja seperti itu ya. Mohon jangan direport seperti gambar di S2. Hmm, masih wajarlah ya. Gk ada unsur pornografinya ‘kan?


Back to Story ...


Kesempatan bukan? Ini sangat jarang ia rasakan, mungkin akan menjadi sekali dalam hidupnya. Jadi, salahkah jika ia manfaatkan?


Bisa memeluk kembali tubuhnya adalah suatu yang ia rindukan, malam ini juga akan ia gunakan untuk bisa merasakan kehangatan bersamanya. Setidaknya rasa cinta yang tak terbalas, membuat kenangan tetap harus agar bisa membekas.


‘Masabodo untuk hari esok, yang terpenting bagiku malam ini bisa merasakan hal yang selalu kuinginkan,' gumamnya.


Di bawah hawa dinginnya hujan, tercipta kenyamanan hingga tak terasa pagi tiba di saat mereka masih berpelukan.


Abel membuka matanya, mengerjapkan pandangan sampai sadar sepenuhnya. Seketika mata gadis itu melotot. Gadis yang baru saja menguap itu, tiba-tiba membuka lebar mulut dan matanya.


“Aaa ... ini fenomena alam-eh langka maksudnya. Ihhh gemes deh, hihi harus di abadikan ini xixixi ....”


Abel segera mencari keberadaan benda pipihnya, setelah menemukan sudah, gadis itu segera mengabadikan momen yang sangat menyejukkan mata itu.


Cekrek.


‘Bodoh!’


Suara jepretan di ponselnya, mampu mengusik waktu tidur mereka berdua.


‘Aduh, kenapa harus ada suaranya sih. Dasar hp monyet!’ rutuk batinnya. Gadis itu hanya bisa menggigit jari, kala mereka tampak saling menggeliat.


“ASTAGA AGHA!”


Benar saja, Azel langsung mengeluarkan khodamnya, ia berteriak kencang tepat di telinga kanan pria itu.


‘Sial, aku telat bangun. Niatnya untuk menghindari amukannya dengan bangun lebih awal,' batin Agha.


“Kau selalu mengambil kesempatan jika bersamaku!” teriaknya menyalahkan.


“Astaga masih pagi suaramu nyaring sekali. Semalam aku tidak sengaja terbangun dan melihatmu hampir terjatuh dari sofa, jadi aku benarkan posisimu tapi kau sendiri yang menahanku sampai aku menahan badanmu juga, dan membuatku sulit bernapas, karena pelukanmu!” jelas Agha.


“Sepik, kau berbohong ‘kan?”


‘Memang iya.’


“Buat apa aku berbohong, aku hanya takut kau terjatuh jika bokongmu hilang bagaimana?” tegas Agha, langsung mendapat sebuah gebogan bantal dari Azel.


“Kancing kemejamu terbuka, kau pasti sudah melakukan sesuatu. Dasar pedofil!”


“Aku gerah semalam!”


“Tidak masuk akal Agha, ACmu manteng sementara di luar hujan. Aku tidak mau terjadi sesuatu nanti!”


“Astaga ini hanya kancing bajuku, kau sendiri bagaimana? Lihat kondisimu dan apa yang kau rasakan?” Pria ini benar-benar merasa terheran dengan pola pikir Azel yang akal dan pikirannya seperti tersumbat.

__ADS_1


‘Iya juga si, masih utuh dan aku baik-baik saja,' batin Azel mengamati pakaiannya.


Tiba-tiba perempuan itu merasa aneh, sedangkan Agha sudah menjauhkan posisinya. Setelah ia menoleh ke arah ranjang ia menganga, ada Abel yang sedang tersenyum seperti rase.


“Sudah bangun? Sejak kapan?” tanyanya masih melongo.


“Sebelum kalian bangun!”


“Astaga ....”


***


Setelah derasnya hujan semalam, kini terbitlah matahari yang amat cerah, secerah kehidupan di musim semi.


Seorang pria berjalan dengan khas wibawanya, menampilkan pesona sang penakluk bidang raksasa properti. Aghafa melewati deretan karyawan dan para pekerjanya dengan senyuman hangat, terlihat sekali kilatan bibir yang memesona.


“Pagi Pak!”


Sepanjang jalan seperti tak ada jeda bagi Agha mendengar sapaan itu. Ia pun dengan ramahnya membalas, “Pagi!”


‘Pantas matahari di luar cerah sekali, ternyata ada hati pak Agha yang setenang musim gugur.’


‘Hari ini mau ngopi sambil selonjoran juga gak akan ada yang dipecat.’


‘Mau dandan sedempul mungkin juga gak ada yang akan diresign.’


Pagi ini seakan hari yang langka, karena Agha mau memberikan senyum yang penuh untuk mereka. Bagi mereka, bos hangat kerja semangat.


Di dalam ruangan. Baru saja Agha mendudukkan bokongnya, tiba-tiba si benalu datang selalu dengan gaya nyentriknya.


“AGHA!”


‘Rasanya sulit untuk tentang sesaat saja,' batinnya jengah.


“TEGA SEKALI KAU, MENCANCEL PERTEMUAN KITA!!” teriaknya.


Aghafa terlihat menyeringis mendengar teriakan yang menggema itu. “Maafkan aku Elena, aku sibuk memanjakan anakku,” ucap Agha lembut. Ia tidak mau ada kebisingan di ruangannya.


“Anaknya atau ibunya!”


“Dua-duanya ....”


Elena membanting tubuhnya di atas sofa. Wajahnya masih terlihat suram, bagaimana cuaca semalam.


“Tega sekali kau, aku sudah rapi dan menyiapkan semuanya!”


“Elena maafkan aku, cinta tidak bisa dipaksakan. Aku dari dulu sampai saat ini hanya menganggapmu seperti adikku, tidak lebih. Aku mencintai orang lain Elen!”


“Aku tahu, tapi setidaknya kau jelaskan juga dengan Daddyku. Agha aku juga tidak ingin kau terus berharap dengan seseorang yang sudah menjadi milik orang lain. Aku akan membantumu untuk move on darinya. Sadarlah Agha, dia bukan takdirmu. Kau harus segera menikah,” cecar Elena.


Agha menghela napasnya, ia paham dan artinya ia harus melupakan Azel karena mau bagaimana pun wanita itu telah menjadi milik orang lain.


“Biarlah seperti ini dulu, takdir tuhan itu macam teka-teki, tiada yang tahu bagaimana endingnya nanti,” balasnya seakan pasrah. Pria itu mulai membuka laptop dan mengawali pekerjaannya.


“Baiklah jika kau menganggapku sebagai adikmu, maka aku akan belajar untuk melupakan perasaanku terhadapmu. Tapi, setiap adik pasti selalu ingin yang terbaik untuk kakaknya, karena itulah aku ingin kau segera cepat menikah walau bukan denganku!”


***


Di lain tempat.


Gafin sedang menjumpai kantor sang kakak ipar. Ya, pria bule di hadapannya itu adalah suami dari kakaknya. Sebelumnya Gafin sudah meminta izin terlebih dahulu dengan sang bos untuk datang lebih telat. Karena mendapat kepercayaan yang tinggi, alasan apapun itu tidak akan menjadi masalah untuk majikannya, asalkan tahu diri saja.


“Masih menjadi budak pengusaha itu?” ucap sang kakak ipar, seakan meledek.


“Aku bekerja, bukan dipaksa!” balas Gafin terlihat datar.


“Sudah kubilang, bekerja denganku akan lebih menguntungkan. Kau itu terlalu baik seperti kakakmu!”


“Aku sudah sangat dipercayai oleh Pak Abran, untuk menjaga amanah aku akan tetap menjalankannya.”


“Ya, ya yaa ... kau memang selalu seperti kakakmu. Oh ya hari ini aku kedatangan sahabat lamaku, kita akan membicarakan prihal wanita karena dia salah satu pemilik club terpopuler di kota ini. Akanku pastikan, dia orang yang tepat untuk mencarikan perempuan yang baik dan tentu berkelas untukmu!”


Gafin menarik napas panjang, ia sangat benci jika membicarakan prihal wanita, terlebih saat terbesit dari mereka atau keluarganya ingin membuat perjodohan untuknya.


“Ayolah Kak, aku sangat malas untuk hal itu!”


“Sebentar saja!”


Tiba-tiba ada suara ketukan pintu, pria bernama Darren itu pun sama-sama menoleh. Seketika senyum sang kakak ipar Gafin ini terbit, lalu berucap, “Ah, itu orangnya.”


“Masuklah brother!”


Kemudian muncullah sosok pria jangkung, wajahnya juga bule bahkan sangat kental terlihat. Gafin sedang mengamati setiap inci pahatan itu, seketika ia teringat sesuatu.

__ADS_1


‘Foto pak Azriel yang ditunjukkan paman Zex hari itu ... ah ya, aku ingat pria ini. Dia tampak sama seperti orang yang ada di foto itu, yaa orang yang merangkul bahu pak Azriel.’


__ADS_2