
Azel menatap sendu mobil yang mulai meninggalkan pekarangan rumahnya. Perempuan itu melihat dari jendela, menatap mereka dari kejauhan.
Resah hatinya sudah tak bisa diukur lagi, wanita itu merasa sangat sedih dengan semua kenyataan yang ada.
Ia melorot, dan terduduk lemas dengan tetesan air mata yang seolah tidak ada jeda untuk berjatuh. “Kenapa semuanya harus seperti ini? Tuhan kenapa kau hadirkan dia kembali, seseorang yang telah merenggut kehormatanku ternyata masih ada sementara hatiku tidak bisa menerima itu.”
Azel menangis pilu, kemelut di hatinya seolah tak menyangka nyangka. Dirinya berpikir, alasan pria yang menjadi peran utama dalam masa lalunya itu membawa Abel, pasti sebab ingin memberikan suatu pengakuan kepada putrinya, bahwa ia adalah Ayah yang selalu dipertanyakan dulu.
“Aku bisa menerima dia sebagai ayah Abel, tapi kehidupan di masa laluku tidak, hikksss ....” lagi-lagi dia hanya bisa merenung, dari sebuah kenyataan yang terungkap.
‘Dia tak pantas untuk menjadi seorang ayah, dia seorang hewan yang berwujud manusia. Sungguh aku masih sangat membenci Alex, tapi aku tidak bisa mengelak, jika dia memang benar ayah dari Abel,' batinnya.
***
Kini telah sampai Agha membawa putrinya untuk menginap di rumah. Ia merasa sekarang, mengurus gadis ini mempunyai hak bebas tidak seperti sebelumnya. Bertemu saja susah, tapi saat ini jika ia ingin bertemu hanya tinggal menjemput saja.
“Ayah ... kenapa mami seperti itu ya? Ada apa dengan mami?”
Agha menaikkan gadis kecilnya di atas meja, ia mulai menatap putrinya dengan tangan yang mengunci tubuh anak itu.
“Kau tahu siapa ayah yang selalu kau pertanyakan dulu? Kenapa mamimu tidak pernah memberitahu? Dan, mengapa status mamimu tidak jelas?”
Abel terdiam menunduk. Ia sedang mengingat apa saja masa lalu sang mami yang pernah diceritakan. Kemudian ia menjawab, “Abel tahu semua ceritanya. Tapi Abel tidak pernah tahu siapa ayah Abel, bagaimana bentuk wajah ayah Abel, karena sesuai yang mami ceritakan ayah sudah tiada,” jelas Azel.
Refleks Agha meneteskan air matanya, sampai jatuh ke telapak tangan anak itu. “Ada apa Ayah? Kenapa menangis?”
“Kau tahu jika akulah peran utama dalam cerita masa lalu mamimu? Ya aku ayahmu Abel, ayah sesungguhnya. Kau anakku ....” Semakin banyak air mata yang jatuh, semakin sesak dada pria itu.
“Mana bisa? Ayah Abel sudah tiada ... hikkss, mana mungkin orang yang anggap Abel anak ini, adalah ayah Abel?” Abel mulai menangis. Sejatinya seorang anak akan selalu berkaitan batin dengan orang tuanya, kini yang dirasakan oleh Abel saat melihat orang yang masih menurutnya sebagai ayah angkatnya itu menangis.
“Aku masih hidup, pamanmu telah menyimpan rahasia dibalik semua ini. Ayah yang amnesia pun tidak tahu apa-apa. Tapi, sebab ingatan itu kembali, ayah baru sadari bahwa gadis yang sangat ayah sayangi ini adalah putri ayah ....” ungkap Agha. Kemudian, ia pun lanjut bercerita tentang semua yang terjadi, dari itu masalah lalunya sampai kronologi kecelakaannya.
__ADS_1
Abel langsung menambah kencang suara tangisnya, ia tidak menyangka semua ini. Gadis yang ingin beranjak dewasa itu, seakan tidak bisa berkata apa-apa lagi, selain menangis sebagai tanda ketidaksangkaannya.
Abel menggapai leher orang yang sudah terbukti berstatus sebagai ayah kandungnya itu, lalu ia merengkuh dan menumpahkan buliran beningnya di sana.
“Kenapa Ayah jahat? Kenapa ayah keterlaluan sama Mami? Ayah sudah membuat mami menderita, Ayah jahat ....” Ia merutuki kesalahan sang ayah, ia juga memaki pria ini. Namun, pelukan hangat masih terengkuh.
“Maafkan ayah sayang ....”
Abel masih sesak mengetahui semua kebenarannya. Ia benar-benar tidak menyangka, jika ayah yang selalu ia tanya di mana keberadaannya, ternyata selama ini dekat dengannya.
“Tapi Abel tidak bisa benci Ayah, karena semua ini bukan sepenuhnya kesalahan Ayah. Abel masih sangat menyayangi Ayah!”
Agha lagi-lagi menjatuhkan air matanya, sebagai seorang ayah dia tidak enggan untuk menangis karena rasa terharunya terlebih identitas mereka seperti terungkap mendadak. Ketakutannya ternyata dibayar dengan rasa bahagia, tidak sesuai dengan apa yang ada di pikirannya, tapi ternyata kebahagiaan ia dapat.
Sebenarnya ia amat takut untuk membuat pengakuan, karena ia tahu Abel pasti akan membencinya. Namun, kenyataan tidak. Putrinya itu mau memaafkan kesalahannya di masa lalu dengan maminya.
“Terima kasih. Princess Ayah akan selalu Ayah ratukan!”
Perasaan dan ikatan batin di antara keduanya seolah menjawab kebenaran. Kini, semua sudah terungkap tinggal bagaimana saja mereka jalani.
‘Aku memang sangat bodoh, anakku sendiri pun tidak tahu jika sebenarnya selama ini dia berada di dekatku. Aku menyesali perbuatanku di masa lalu, tapi aku tidak menyesal telah menghadirkan Abel ke dunia.’
***
Cerah pagi hari menderang, menampilkan pesona alam yang sempurna. Tampak cantik gadis yang sedang tertidur tenang, membuat sang pemilik tersenyum senang.
“Sayang ... bangunlah, katanya mau jalan-jalan. Jadi tidak?”
“Jadi dong!”
Abel langsung berdiri tegak di atas ranjang, lalu dengan senang Agha menangkapnya untuk digendong sampai dapur.
__ADS_1
“Mari kita sarapan.”
Abel menatap sumringah, karena melihat begitu banyaknya makanan untuk sarapan paginya. Ia tidak tahu siapa yang mau masak ini semua, yang jelas ia tidak percaya jika itu masakan sang ayah. Namun ia tidak mempertanyakan semua itu.
“Ayah, Abel mau ke taman tempat kita pertama kali bertemu saja ya. Abel rindu makan es krim di sana!”
“Baiklah ... apa sih yang tidak untuk princess ayah.” Agha memberikan kecupannya, tepat di pipi yang berlegok lesung pipit gadis itu.
“Tapi batas waktumu di sini hanya sampai nanti malam, Ayah sudah janji untuk mengembalikanmu malam nanti,” sambungnya. Seketika membuat mood Abel menurun.
“Kenapa batas waktu main Abel sangat cepat? Abel masih betah di sini Ayah ....”
“Mengertilah sayang ... ini semua demi tidak menciptakan pertentangan dengan mamimu.”
“Baiklah ....”
***
Sesuai dengan janji, hari ini Agha menepatinya sebagai rasa ingin memanjakan anak. Pria itu ingin membayar semua waktu yang terlewat dengan Abel selama beberapa tahun.
Pria yang mempunyai satu anak itu, menatap bangku yang di mana tempat pertemuan pertama kalinya bersama sang anak.
Problem yang berawal dari prihal soal ayah terjadi di tempat ini, yang di mana Abel merenung karena tidak ada kehadiran sosok ayah baginya di kala ada hal yang penting di sekolah. Namun mereka kembali lagi, dengan status yang berbeda.
Ya, bermula bersandiwara menjadi ayah Abel, kini sudah sungguhan menjadi ayahnya yaitu orang tua kandung dari gadis ini.
“Duduk di sana Ayah!”
“Ayo!”
“Andai saja jika Mami mau, kita akan terlihat menjadi keluarga yang lengkap saat bersinggah di tempat ini,” ujar Abel setelah menduduki bangku panjang di taman.
__ADS_1