Ibu ASI Untuk Bayi Om Duda

Ibu ASI Untuk Bayi Om Duda
Menemani Mami Mertua


__ADS_3

Sepulang dari rumah sakit setelah menjenguk Fania. Lia terlihat menangis amat sesegukan di dalam pelukan Shireen.


"Reen, lo tau 'kan gimana rasanya?"


"Gue paham, sulit emang tapi mau gimana lagi? Udah terlanjur, bagusnya ketahuan biar lo tau sendiri gimana asli Jasson.


"Dia brengsek sama seperti Kakak!" balasnya sekaligus menyindir.


"Sekarang slek dong sama kakak?"


"Hmm."


"Menjijikkan, hanya karena pria brengsek itu kau rusak hubungan komunikasi dengan saudaramu," cibir Samuel.


"Kakak diam saja. Kakak juga dulu fu*k boy. Jadi, berkaca itu lebih baik!" balas Lia sewot.


"Tapi aku tak sebrengsek itu!"


"Sama-sama brengsek jangan so keras!" cemooh Shireen. Ia membela adik iparnya.


"Bener tuh. Emang ya Reen, mantan lo brengsek. Untung aja suami lo cuma mantan brengsek!" Shireen tertawa. Memang baru kali ini, adik iparnya itu lari kepelukannya saat dalam keadaan terpuruk. Siapa sangka dulu dia sangat membenci, tapi sekarang malah tepat pelari.


"Mau kau dan kakakmu itu bermain-main dengan pria mana pun sekarang, pada akhirnya kalian nanti akan dijodohkan!" sahut Samuel.


"Kata siapa?"


"Papi sudah buat rencana itu, bahkan jika aku ingin kalian menikah sekarang. Papi akan langsung buat dua resepsi sekaligus!"


Lia terlonjak, refleks bangun dari pelukan Shireen. Gadis itu menghampiri kakaknya.


"Kakak jangan dong. Kak Lisa aja yang dijodohin duluan, Lia gak mau. Lia mau cari sendiri calon suami Lia!"


"Semua keputusan ada di tanganku, Daniel dan Papi!"


"Kak ... Lia mohon!"


Samuel menghiraukan adiknya itu, ia justru menghampiri istrinya, kemudian bergelayut manja dengan tidur di pangkuan Shireen.


"Udahlah, jangan dengerin Kakak lo. Mending baikan sama Lisa, kalian kembar lhoo," ucap Shireen.


"Gak mau!"


Shireen dan Samuel hanya bisa menghela napasnya. Lia, merebahkan tubuhnya hingga rambutnya menjuntai ke lantai. Sesaat kemudian, gadis itu kembali menangis.


"Daddy Mommy!"


Tiba-tiba ada dua bocah kecil memasuki kamar dengan membawa botol susu masing-masing.


"Anak Mommy, sini Sayang!"


Azel langsung dipangku di paha sisi kanan Shireen, sementara Azriel menaiki perut Daddynya.


"Onty Lisha kenapa Mommy?" tanya Azel sambil menggigiti dotnya.


"Itu Onty Lia, Sayang ...."

__ADS_1


"Kenapa dia menangis Mommy?" tanya Azel polos.


"Onty lagi putus cinta. Coba kamu samperin dia!" Azel turun dari pangkuan Shireen.


Gadis mungil itu berbisik di telinga Lia, yang kala itu masih menangis, "Onty, layangan Azel kemarin putus. Tapi, Azel bisa sambungnya. Ayo dong, sambung lagi cinta Onty. Masa nangis, jeyek tau mukanya!" olok Azel.


Seketika Lia menghapus jejak air matanya, lalu menatap keponakannya itu. "Tahu apa kamu tentang cinta?"


"Tahu-tahu aku cinta kamu, hihi ...."


Seketika wajah Lia tercengang mendengar ucapan gadis polos itu. Begitupun dengan rasa terkejut Shireen dan Samuel yang mendengarnya.


"Astaga, Kak ... Reen! Dia siapa yang ngajarin?"


"Sayang, kau yang mengajari anakku?" tanya Samuel kepada istrinya.


"Nggak! Aku cuma bilang Lia lagi putus cinta," elak Shireen.


"Aku diajalin Om Dikcel. Kata dia, halus punya cinta, kayak cinta aku ke Mommy dan Daddy!" sahut Azel.


"Aaaa, pintel banget cih anak Mommy ...."


"Kata Om Dikcel, Azil juga halus pandai cinta sama semua wanita!"


"Astaga!"


"Diksel sesad Kak!" ucap Lia, setelahnya ia tertawa terbahak.


Ternyata keponakannya berada di balik kepintaran dua anak kembarnya itu. "Diksel, awas kau. Dia sudah menodai otak polos anakku!"


***


Keesokan harinya.


Setelah melayani kebutuhan suaminya sesaat ia pergi ke kantor, dan sehabis memandikan kedua anak tirinya. Kini Shireen tengah membantu para pembantu di dapur.


Skil memasak Shireen sekarang sudah tidak bisa diragukan lagi. Dia sangat jago memasak, bahkan Samuel tidak mau makan jika itu bukan masakan istrinya.


Bukan hanya Samuel, tetapi Papinya pun begitu kagum dengan kepintaran cara memasak Shireen.


"Bik kalau misalnya aku sama Mas Samuel pisah rumah, gimana menurut Bibik?" Entah ada angin dari mana, perempuan itu menanyakan pendapat kepada pembantunya. Ya, memang hanya pekerja di rumah ini yang bisa Shireen ajak komunikasi.


"Menurut Bibik itu lebih baik, karena tinggal di lingkungan pengganggu, itu pasti susah melewati hari-harinya. Apa Nona dan Tuan ada niat untuk pindah?" jawab Inah.


Shireen menghentikan kegiatan memotong sayurannya. "Nggak, Bik. Cuma aku yang ingin. Tapi, aku rasa Mas Samuel gak akan mau."


"Sepertinya sabar hanya bisa kita lakukan. Saya yakin Nona, keluarga kecil Nona akan terbentuk tanpa adanya pengganggu," balas Inah.


"Ya, semoga aja."


Tiba-tiba Yuri memasuki dapur dengan penampilan yang begitu rapih dan elegan.


"Inah, apa Leona sarapan tadi pagi?" tanyanya.


"Tidak Nyonya. Tadi Nona Leona pesan, hari ini dia sedang mendatangi salah satu brand fashion yang baru saja launching," jawab Inah.

__ADS_1


"Lalu Liyu? Kemana dia?"


"Nona Liyu sedang di kantor Tuan besar. Dia bersama suaminya, Nyonya."


"Astaga, mereka sangat sibuk dengan kegiatan masing-masing. Lalu, aku pergi ke salon dengan siapa?" gumam Yuri.


"Ada Nona Shireen, Nyonya. Mungkin dia bisa menemani," ucap Inah. Tatapan remeh seketika didapat Shireen dari ibu mertuanya itu.


"Aku bisa temani Mami jika mau," balas Shireen menunjukkan senyum ramahnya.


"Huh, lebih baik aku sendiri!" Ia berbalik badan dengan angkuh. Namun sesaat kemudian ia berhenti.


Lalu, hatinya berbicara, 'Mana mungkin Papi mengizinkanku pergi sendiri. Astaga, apa aku terpaksa harus ditemani perempuan itu?'


Ia kembali berbalik badan. "Baiklah, temani aku. Tapi, jangan merasa percaya diri jika aku sudah berbaik hati denganmu! Cepat siap-siap aku tidak mau membawa perempuan kumel!"


Perempuan angkuh itu kembali membalikan badannya. Sementara Shireen dan Inah tengah menahan senyumnya.


"Gengsi Bik," ucap Shireen terkekeh cekikikan. Inah hanya tertawa pelan.


"Yasudah, Shireen tinggal ya Bik. Tolong tengok Azel dan Azriel di kamar Diksel."


"Baik Nona. Semoga bisa mengambil hati Nyonya, saya berharap akan ada restu yang lengkap untuk Nona."


"Terima kasih Bik."


***


Setelah bersiap Shireen segera menghampiri sang Mami mertuanya. Lihatlah, saat ini ia sudah sangat cantik dengan penampilannya, bahkan dirinya lebih elegan dari penampilan mertuanya.


"Yaa, seenggaknya gue gak malu-maluin amatlah dibawa dia," gumamnya.


Tiba-tiba Shireen tercengang melihat Yuri yang tengah duduk di bangku kemudi sedang menunggunya.


"Mami gak pake supir atau bodyguard?"


"Untuk apa? Aku bisa menyetir, dan ada kau juga yang akan membantuku. Jadi, kita tak perlu bodyguard. Merepotkan!"


'Astaga, seharian jadi babu. Gak apa-apa, demi ibu mertua.' Ia, tetap memberikan senyuman walaupun itu terpaksa.


"Ayo cepat masuk!"


***


Sesampainya di salon.


Begitu senang Yuri melihat semua pegawai di sana. Rasanya ingin sekali cepat-cepat ia memanjakan seluruh tubuhnya dengan pedicure di salon kecantikan itu.


Ya, sebelah salon itu ada tempat khusus massage. Sebelum masuk salon Yuri menyempatkan diri untuk merileksasikan tubuhnya, sedangkan Shireen hanya menunggu. Ia sudah ditawarkan untuk melakukan massage itu juga, tapi ia menolak. Baginya, lebih baik panggil tukang pijat yang jelas lebih terjangkau harganya.


"Kali ini kau tidak boleh menolak untuk perawatan di salon. Jangan membuatku malu di depan teman sosialitaku!" gertak Yuri.


"Tapi Mami, perawatan di sana mahal."


"Kau memang orang kampung, tapi jangan kampungan juga!"

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2