
"Perjodohan?" Refleks semua orang bertanya.
Azriel merasa jengah dengan sikap Daddynya itu. "Aku baru saja pulih, bahkan tindakan jalanku saja belum benar. Ini sekarang apa lagi?" papar Azriel sangat jengah.
"Azriel usiamu sudah hampir tiga puluhan, seharusnya kau sudah berkepala tiga. Setiap orang pasti membutuhkan penerus, dan salah satu caranya harus menikah dan memiliki anak!"
"Aku bisa mencari wanita sendiri, Dad."
"Sampai kapan? Hidupmu saja hanya berdiam di dalam kamar. Jika kau mencari wanita, akan butuh bertahun-tahun lamanya. Jadi, mau ataupun tidak setuju Daddy akan putuskan kau harus menikah dengan perjodohan yang Daddy buat!" tegas Samuel.
Ina yang mendengar itu, sebenarnya ia sangat senang. Namun, jika Azriel menolak perjodohan itu ia akan sulit pulang.
'Semoga perjodohan itu berjalan lancar, dengan begitu ada sosok penggantiku untuk Tuan,' batin Ina.
***
Malam hari kemudian.
Saat ini Ina sedang menghadap majikannya. Ada Shireen dan juga Samuel.
"Tuan, Nyonya. Sepertinya tugas saya sudah selesai. Tuan Azriel sudah pulih, mungkin dia tidak membutuhkan saya lagi. Saya izin resign untuk kembali ke desa," ucap Ina.
Shireen menghampiri Ina, ia menggenggam kedua tangan gadis itu. "Terima kasih ya Nak. Aku tidak tahu berapa jumlah banyaknya jasamu dalam merawat putraku sampai dia pulih total."
"Sudah tugas saya Nyonya. Justru saya berterimakasih telah diterima dan disambut baik di keluarga ini," balas Ina.
"Mungkin Azriel masih membutuhkanmu Nak, jangan berhenti dulu. Tunggulah sampai Azriel menikah," sahut Samuel.
"Maaf Tuan, sepertinya saya akan lanjut pendidikan. Jadi, tidak sempat untuk itu."
"Baiklah, sebagai hadiahku karena kau berhasil membuat anakku sembuh. Aku akan biayai kau kuliah, jika kau ingin ke luar negeri aku akan kirim kau kuliah bersama dengan Aryan," ucap Samuel.
Ina merasa terharu, ia tersenyum bahagia. Namun terlihat sekali mata gadis itu mengembang, "Terima kasih Tuan. Hadiah itu sangat besar untuk saya."
"Jasamu lebih besar." Samuel tersenyum. Lalu ia bertanya, "Kapan kau akan kembali ke desa?"
"Mungkin satu Minggu lagi, Tuan."
"Baiklah, kita yang akan menghantarmu nanti, sekalian aku ingin bertemu dengan Bik Inah."
"Baik, Tuan."
Bergantian dengan Shireen. Perempuan itu tiba-tiba melepaskan dua cincin yang dikenakan di jari tengah dan jari manisnya.
"Aku sudah berjanji kepada Bik Inah, jika kau berhasil bertahan lama mengurus Azriel, aku akan memberikan hadiah kepadamu. Terimalah ini!"
Shireen menyematkan dua cincin berlian itu di jari manis kanan dan kiri Ina. Terlihat cantik tersemat di jari lentiknya itu. Percayalah, itu bukan hadiah sederhana melainkan istimewa. Dari harga satu cincin berlian itu saja bisa diprediksi, jumlahnya sama dengan membeli satu rumah.
"Nyonya saya tidak bisa menerima ini. Ini terlalu istimewa untuk saya. Tidak pantas untuk saya."
"Tidak! Kau pantas, bahkan lebih cantik untuk kau kenakan. Aku mohon terima!"
"Terima kasih Nyonya." Berakhir Shireen pun memeluk gadis itu.
Sementara dari balik pintu terlihat ada Azriel dalam pembicaraan mereka. Ternyata ia menguping dan mendengarkan semuanya.
"Ternyata ini alasannya kenapa dia begitu keras memberikan semangat untukku, membantu aku hingga aku sembuh. Dia hanya ingin imbalan yang lebih besar dari kedua orang tuaku," gumam Azriel.
'Bahkan dia menolak tawaranku waktu itu, dan ini sebabnya karena Daddy sudah lebih dulu memberikan jaminan itu untuknya. Wanita matre, penggila uang!' maki Azriel dalam hati.
"Aku akan memberikan pelajaran untuknya nanti!"
Azriel kembali ke kamarnya dengan amarahnya yang terpendam.
***
Ina sedang berjalan menuju kamar Azriel. Ia membawa susu hangat seperti biasa, sebelum Azriel tidur.
Setelah ia mengetuk pintu dan membukanya, gadis itu menangkap sosok Azriel yang terlihat sedang membuka bajunya.
"Hmm, Tuan ini susunya."
Setelah selesai Azriel melepaskan bajunya, ia menatap elang wajah Ina.
Prang ...
Cahhh ...
Tiba-tiba Azriel membuang gelas susu itu. Emosinya yang terpendam sedaritadi mungkin akan segera meledak. Melampiaskan dengan orang yang menciptakan emosinya.
"Tuan ...." Ina yang mendapat perlakuan itu merasa aneh dan bertanya-tanya.
"Jika aku tahu niatmu, aku tidak akan sembuh!" ucap Azriel geram.
"Tuan, saya tidak mengerti apa maksud kemarahan Tuan. Saya melakukan kesalahan apa?"
"Kau hanya ingin mendapat hadiah dari orang tuaku. Mengetahui jaminan besar hadiah itu, maka karena itulah kau menolak tawaranku. Kau membantuku hanya karena sebuah target. Aku benci gadis munafik sepertimu!" teriak Azriel dengan emosi yang meledak-ledak.
"Tu-tuan sa-saya sama sekali tidak berniat seperti itu!" Ina mulai gugup karena Azriel terus melangkah mendekat menghampirinya.
Tiba-tiba Ina didorong kuat hingga gadis itu terjatuh duduk di atas ranjang. Azriel kembali menghampiri lagi, lalu mencengkram kuat tengkuk lehernya.
"Akkhhh Tuan, sakit ... tolong lepaskan sa-saya ...." Ina seakan tercekat karena sesak napas akibat cengkraman itu.
"Aku benci perubahan, dan kini aku merasakan banyak perubahan setelah kau datang. Aku tidak mau ada perubahan lagi, dan itu artinya kau harus menetap selamanya di sini!"
"Ta-pi Tu-aaaaempph!"
Azriel memberikan serangan mendadak, ia menekap mulut Ina dengan kedua tangannya.
__ADS_1
"Aku benci kata-katamu!"
Ina menangis, kali ini ia benar-benar tersakiti. Baru pertama kali gadis itu mengeluarkan air matanya. Azriel pun melepaskan tangannya.
"Pergi kau dari sini!" usir Azriel.
Ina berlari keluar, lalu memasuki kamarnya. Ina menangis sesenggukan. "Kenapa Tuan Azriel selalu overthinking kepadaku, hikkss!"
Ina terduduk lemas menyenderkan punggungnya di pintu, ia mengusap air matanya dengan kasar. "Oke Ina, kau tidak boleh cengeng. Ingat apa yang selalu diajari Nenek. Walaupun kita wanita, kita tidak boleh lemah yang hanya bisa menangis," gumamnya. Lagi-lagi dia menyemangati dirinya sendiri.
'Aku rasa Tuan Azriel mendengar pembicaraanku dengan Tuan dan Nyonya tadi,' batin Ina.
Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu terdengar. "Ina buka pintu, aku minta maaf!"
Ina sangat hafal suara itu. Ia ingin membuka, tapi perlakuan Azriel tadi membuatnya trauma. Gadis itu terdiam masih terduduk, ia membiarkan suara ketukan pintu itu semakin keras terdengar.
"Aku mohon. Jika tidak, akanku dobrak pintu ini!"
Ina berdiri, perlahan gadis itu membuka pintunya.
Grepp ...
Azriel langsung memeluk tubuh Ina, ia menenggelamkan wajahnya di ceruk leher gadis itu. "Maafkan aku, karena sudah menyakitimu," ucapnya.
"Tidak apa-apa, Tuan. Jika Anda tahu, saya begitu excited untuk membantu Tuan karena sebuah amanah dari Nenek. Nenek sudah sangat menganggap Tuan sebagai anaknya, dan saya diminta untuk menggantikan posisinya. Membantu agar Tuan pulih adalah niat Nenek dari dulu, tapi karena usia dia tidak bisa," ungkap Ina.
"Saya akan mengembalikan cincin ini, dan tenang saja tawaran Tuan besar tidak akan saya terima. Setelah ini saya akan pulang. Tugas saya sudah selesai," lanjutnya.
Azriel menggenggam erat telapak tangan Ina, ia menggeleng mengisyaratkan bahwa Ina tidak boleh melakukan apa yang diucapkannya. "Jangan!"
Cup ...
Ini adalah first kiss, namun ia mendapatkan bukan dari seorang yang dicintai.
"Tuan ...."
"Kau sangat bodoh, tidak bisa menyimpulkan bahwa sikapku itu berarti tidak mau kau pergi!" Setelah berucap seperti itu, Azriel pergi meninggalkan Ina yang masih tercengang.
"Maksud Tuan?"
"Kau pikir sendiri!"
Bukannya berpikir Ina justru menyentuh bibirnya, ia seperti bermimpi sejenak. Sungguh aneh rasanya.
Barusan saja bibir seksi Azriel menyentuh bibir mungilnya. Namun, dengan santainya Azriel bersikap seperti biasa saja seolah tak sadar apa yang baru saja ia lakukan.
"Ciuman pertamaku," gumam Ina masih meraba-raba bibirnya. Walaupun hanya sejenak, tetapi begitu terasa bagi Ina.
'Maafkan Ina Nenek, tapi pria kesayanganmu itu yang telah merenggut sesuatu yang selalu aku jaga dari dulu,' batin Ina menunduk.
"Tidak mungkin Tuan menginginkanku untuk aku tetap bertahan di sini. Apa dia tidak mengingat bagaimana sikapnya waktu aku pertama kali memasuki kamarnya?" gumam Ina.
***
Pagi harinya.
Pagi ini Ina tidak masuk ke kamar Azriel. Ia masih canggung prihal kejadian semalam. Gadis itu sudah tidak memikirkan kemarahan apa lagi dari tuannya itu.
Sementara Azriel yang sedang bersiap untuk berangkat ke kantor, sedang menggerutui Ina. "Bisa-bisanya gadis itu tidak melayani kebutuhanku. Aku akan memberi perhitungan untuknya nanti!"
Ya, hari ini adalah hari Azriel masuk kantor lagi. Setelah bertahun-tahun ia tak muncul di dunia bisnis, kini ia akan hadir kembali.
Pria itu sudah siap dengan mengenakan kemeja hitam serta jas yang masih ia tenteng di lengannya.
Di meja makan semua orang terpaku melihat Azriel berjalan dengan gagah.
"Astaga Kakak tampan sekali," ucap Iren.
"Aku merindukan sosok Kakakku yang seperti ini," gumam Aryan.
"Adikku sangat tampan," ucap Azel.
"Aaa anak Mommy comeback," ujar Shireen.
"Ini baru putraku!"
'Tuan Azriel sangat tampan. Akhirnya dia bisa melayani dirinya sendiri tanpa aku,' batin Ina.
"Sudahlah, aku tidak mau sarapan dengan pujian kalian. Sungguh norak!" celetuk Azriel.
Tiba-tiba pandangannya mengarah ke Ina. Seketika gadis itu salah tingkah, karena ia tertangkap basah sedang memandanginya juga. Gadis itu pun memilih untuk melayani Abel yang sedang makan.
"Om ampan, Abel mau ium!" Bocah kecil itu menodongkan pipinya. Sementara Ina terus saja mengelep mulutnya, karena Abel makannya sangat belepotan.
"Kemarilah!"
Abel turun dari kursinya, gadis kecil itu berpindah duduk di samping Azriel. Dengan bertubi-tubi Azriel memberikan kecupan untuknya. "Maaci Om!"
"Semakin hari kau semakin gendut!" ucap Azriel menjepit kedua pipi Abel.
"Ina, layani saja Azriel biar anakku makan sendiri. Dia harus mandiri," tegur Azel.
"Baik Nona."
Perlahan Ina menghampiri Azriel. Ada rasa canggung untuknya berhadapan dengannya. Entahlah, semuanya seakan membuat Ina malu.
***
Tiba di kantor.
__ADS_1
Semua atensi orang teralihkan dengan kedatangan sosok Azriel yang dikawal beberapa bodyguard di belakangnya.
Azriel berjalan gagah dan lancar. Pandangannya tetap lurus walaupun menjadi pusat perhatian semua karyawan.
'Astaga Pak Azriel comeback!'
'Gila Pak Azriel, semakin tampan.'
'Sungguh aku tidak percaya setelah bertahun-tahun dia tidak keluar, kini muncul lagi dengan kharisma yang mematikan.'
'Ternyata kelumpuhannya sudah pulih. Dia bukan lagi pria cacat.'
'Produk keluarga Raymond memang tidak ada yang gagal.'
'Apa dia akan memimpin perusahaan ini lagi? Tapi, katanya dia sudah tidak seperti dulu lagi.'
'Aku yakin dengan Pak Azriel yang baru ini, stap-stap pemalas akan diblacklist!'
Semua pembicaraan itu tercipta dari para karyawan. Tak sedikit yang mengagumi ketampanan Azriel, banyak pula yang tak siap dengan kepribadian Azriel yang baru.
Sebelumnya Azel sudah membuat pengumuman jika perusahaan ini akan dikelola kembali dengan Azriel. Para karyawan juga tahu apa saja gosip tentang hidup Azriel.
Kini, Azriel sedang menghadap di depan laptop. Ia akan mengecek perkembangan perusahaannya selama dihandle saudari kembarnya.
"Cukup baik kakak mengelola perusahaan ini. Hmm, tapi aku penasaran dengan sosok pria yang pernah bekerjasama dengan perusahaan ini," gumam Azriel.
Tiba-tiba sang sekretaris wanita datang. Dia Anggi, wanita seksi yang diutus Samuel untuk menjadi sekretaris batu anaknya.
"Permisi Pak, ada yang berkunjung."
"Bawa masuk dia!"
Anggi menggiring seseorang tamu itu untuk masuk, dan tampaklah sosok pria paruh baya yang terlihat masih sangat gagah.
"Selamat pagi!"
"Pagi."
"Setahu saya pemimpin perusahaan ini seorang wanita," ucap pria paruh baya itu.
"Itu kakak saya. Selama sakit, dia yang menggantikan posisi saya," balas Azriel.
Pria paruh baya itu mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan dengan Azriel. "Perkenalkan saya Abran, dari Luis group."
"Salam kenal Pak Abran, saya Azriel saudara kembar Azel." Mata Azriel masih mengamati sosok pria itu. Dengan kharismanya Azriel menatap pria paruh baya itu dengan penuh selidik.
'Pantas sekali dia sangat mirip,' gumam dalam hati Abran.
"Baiklah, saya akan menyampaikan niat kedatangan saya di sini. Jadi, kenapa beberapa bulan lalu perusahaan Anda membatalkan kerjasama dengan perusahaan anak saya? Tepatnya di masa kepemimpinan Nona Azel," tutur Abran.
"Siapa nama anak Anda?"
"Aghafa Luis, dari Soya Group. Mewakili anak saya, dia sangat ingin bekerjasama kembali dengan perusahaan ini."
'Dia bukan ingin bekerjasama, tapi dia menginginkan kakakku!' batin Azriel.
"Kita adakan makan malam nanti, ajak anak Anda begitu juga saya akan mengajak kakak saya," balas Azriel.
"Baiklah. Saya permisi terima kasih atas waktunya. "
"Ya."
Pria paruh baya itu keluar dari ruangan Azriel. Sementara saat itu Azriel tersenyum.
"Tanpa aku cari, objek datang sendiri. Baiklah, aku akan buat pembuktian kali ini," gumamnya.
Saat melamun sebentar, tiba-tiba sekelebat bayangan wajah Ina datang dalam pikirannya. Azriel pun mengusap wajahnya. "Astaga, kenapa aku tidak fokus. Pikiranku terus saja terbayang dia!"
'Gadis itu benar-benar membuat aku seperti berada di kepribadian lain. Aku tidak biasanya memikirkan seseorang terlebih itu perempuan,' batinnya.
Tiba-tiba ia mengeluarkan ponsel. Lalu ia mengirim pesan.
'Antar makan siangku ke kantor, dan aku mau kau sendiri yang memasak. Jangan berangkat sendiri, minta hantarlah dengan supir. Tidak ada penolakan untuk Tuan muda!'
Setelah memberikan pesan itu, Azriel tersenyum.
Ina yang sedang bermain asik dengan Abel, tiba-tiba tersentak melihat pesan dari Tuannya.
"Astaga bagaimana ini?" Seketika gadis itu ketar-ketir.
"Ante napa?"
"Tidak apa-apa Sayang ... kamu lanjut main ya, Ante mau masak dulu."
"Oce!"
Ina segera bergegas menuju dapur. Seseorang yang pertama kali ia cari adalah Ella. Ya, orang itu yang bisa membantunya.
Saat yang kebetulan juga, ia melihat Ella berada di dalam dapur. "Mbak Ella, tolong aku!"
"Hey kenapa kau terlihat cemas? Ada apa? Minta tolong apa?"
"Tuan Azriel memintaku untuk menghantar makanan ke kantornya!"
"Kau ini, hanya diminta menghantar makanan seperti diancam pembunuhan saja!"
Bersambung ....
TADI GAK SEMPET UP, INI DOUBLE BAB YAAA
__ADS_1