Ibu ASI Untuk Bayi Om Duda

Ibu ASI Untuk Bayi Om Duda
Menghasut Tansoon


__ADS_3

Di kantor.


Tansoon masuk dengan gaya seperti biasa. So cool, dan terlihat angkuh.


"Ada apa Anda memanggil saya untuk datang ke sini?" ucapnya konyol.


Samuel menghela napasnya. "Ada yang ingin kubicarakan," ucap Samuel. Tansoon mengangkat sebelah alisnya, seolah siratan sebuah pertanyaan.


"Ada yang ingin kubeli darimu," lanjut Samuel.


"Apa? Harga diriku? Oh tidak, aku bukan pria murahan!" celetuk Tansoon.


Samuel merasa jijik dengan ucapan sahabatnya ini, berkali-kali ia berdecak kesal, "Cih, jijik!" cetusnya. "Aku ingin membeli caffe shopmu," sambungnya.


Mata Tansoon membulat sempurna, "What? Untuk apa? Aku tidak akan pernah mau menjual caffe shop itu!"


"Oh, ayolah Soon ... aku hanya menginginkan caffe biasa itu saja. Kau bisa membangun 5 cabang sekaligus, setelah aku membelinya," balas Samuel.


"No! Kau tidak tahu keistimewaan caffe itu. Caffe itu satu-satunya peninggalan ibuku. Pertama aku memulai usahaku dari caffe itu, bahkan aku bisa sampai saat ini, karena caffe itu. Jadi, jika kau mengira caffe shopku biasa, itu salah!"


"Dramatis sekali hidupmu!" cetus Samuel.


"Sebenarnya apa yang kau inginkan dari caffeku?"


"Kau tahu gadis bernama Shireen yang bekerja sebagai barista di sana? Dia gadis yang kucintai. Ya, dia yang sudah menjadi ibu ASI bayiku dua tahun silam," jelas Samuel.


Tansoon menatap remeh, kemudian pria itu terkekeh geli, "Diperbudak sekali cintamu!" cetusnya.


Tansoon merasa puas karena ucapan sahabatnya itu dibalikkan dengannya. Kini, Samuel hanya bisa menatap jengah.


"Jadi bisa tidak kau berikan caffemu itu? Aku akan beli dengan harga yang mahal, aku juga akan menukarnya dengan 3 club malam milikku. Kau tahu, Alea si gadis pemandu DJ di salah satu clubku yang masih perawan? Dapatkanlah secara gratis, karena dia lebih suka tantangan dibanding dengan uang," ucap Samuel.


Tansoon berpikir sejenak. Menurutnya tawaran dari Samuel itu sangat menggiurkan. Dulu, ia ingin sekali mendapatkan salah satu club malam Samuel yang sukses dikunjungi banyak para anak iblis di sana. Kini, ia sudah ditawarkan 3 sekaligus. Bukankah suatu peluang yang bagus? 'Tapi aku masih tidak rela jika caffeku itu jatuh ke tangan orang lain,' batinnya.


Nah, itulah problemnya.

__ADS_1


"Hmm ... gimana caraku mendapatkannya? Sedangkan, dia tak sama sekali mau disentuh dengan lelaki," katanya.


"Mudah! Dengan senang hati dia mau tidur, jika seseorang lelaki yang menjadi pemilik club itu. Dia sudah menawarkanku, tapi dengan syarat aku harus menjadi pacarnya. Tentu saja, aku tidak mau. Semua lelaki bisa bercinta, tanpa perasaan. Termasuk aku," balas Samuel.


"Dan, kau bisa menjadi pacar sampingannya. Ayolah, main-main saja dengannya, kapan lagi kau bisa mendapatkan seorang gadis perawan," lanjutnya terus menghasut Tansoon.


"Aku juga memang sangat menginginkan dia dari dulu. Dia itu seperti rubah kecil yang nakal. Menarik, bisa berubah sangat hot padahal wajahnya sangatlah polos," ucap Tansoon sembari mengkhayalkan postur tubuh sosok gadis yang diceritakan itu, menyatu dengan tubuhnya.


Julukan pria mesum seantero jagad raya, bisa dikatakan Tansoon ini orangnya.


"Baiklah aku mau. Aku serahkan caffe itu atas namamu, tapi jangan lupa kau harus mengataskan namaku di clubmu juga," balas Tansoon final.


Samuel mengulurkan tangannya, "Dil! Bahkan aku bisa memberikan uang sebagai alat pembayarannya, untuk club aku kasih bonus untukmu."


Tansoon membalasnya, dengan mengucapkan kata yang sama. "Dil!"


Seketika senyum Samuel terbit. 'Dengan menjadi pemilik caffe itu, aku bisa melakukan apa saja di sana. Bahkan, aku bisa lebih dekat denganmu,' batinnya.


***


Saat ini Shireen tak berhentinya tertawa, pasalnya sedari tadi anak lelaki tampan yang di pangkuannya itu terus saja memuji dalam bahasa Inggris. Terlebih bocah lelaki itu, mengelus-elus pipinya begitu nyaman.


"Heh, dari mana kau tahu soal pacar-pacar! Awas ya kalau sampai kau menuruni Daddymu!" sergah Lisa.


Ya, sepulang kuliah Shireen menyempatkan sedikit waktunya ke Playground Kids yang berada tak jauh dari tempat kerjanya.


Saat ini ia sedang bersama Lia dan Lisa, serta anak kembar itu. Di satu sisi ada Azriel yang menggemaskan Shireen yang ia sebut mama, sementara dia lain sisi Azel tengah asik dengan makanannya. Sampai-sampai Shireen semakin gemas karena melihat badannya yang bertambah bulat.


"Kakak cantik makan mulu ...," goda Shireen. Gadis kecil bertubuh gempal itu justru tersenyum, ia tak marah. Mungkin lain halnya jika itu yang mengatakan orang lain, termasuk Daddy-nya.


"Azel udah kenyang Mama. Ngantuk, mau bobo sama Mama." Gadis kecil itu merentangkan tangannya meminta dipangku juga. Shireen pun menuruti dan memangku mereka berdua di pahanya.


"Kerbau. Sudah kenyang, tidur!" celetuk Lia. Lagi-lagi itu membuat Shireen terkekeh.


"Hmm gue boleh tanya?"

__ADS_1


"Ya, lo mau tanya apa? Tentang Kak Sam? Gue siap jawab buat lo," balas Lisa.


"Iya, gak usah malu-malu," timpal Lia.


"Issh, nggak! Gue cuma mau tanya, apa Mami mereka udah pulang? Pernah denger dulu, kalo mantan istri Om mau balik."


Raut wajah Lia dan Lisa seketika murung. "Mungkin lo dengar ucapan gue dulu. Lagi-lagi gue minta maaf, tapi kak Leona itu cuma kasih harapan ke kita. Dia gak akan pernah mau pulang, bahkan menanyakan kabar anaknya aja gak pernah," balas Lisa.


"Harapan? Berarti, Om Sam masih cinta sama dia? Berharap rujuk. Ah, gue kira udah dari dulu mereka balikan," balas Shireen.


"Nggak, itu cuma harapan kita aja waktu dulu yang selalu berharap mereka balik lagi bersama. Tapi, sekarang kita cuma mau kebahagiaan kakak aja. Dan kita baru sadar bahwa kebahagiaan kakak ada di lo," ujar Lisa.


"Ya, mulai sekarang kita selalu berusaha untuk menyatukan lo lagi sama kakak," sahut Lia.


"Mana ada, gue masih muda. Usia kita terpaut jauh, bahkan untuk kesalahannya aja masih membekas di hati. Mungkin, butuh waktu lama buat gue bisa maafin dia," balas Shireen.


"Jadi lo malu gitu berpasangan sama duda yang udah dua anak?"


"Nggak! Bukan gitu ...."


"Gue yakin, sebelumnya lo udah ada perasaan sama kakak gue 'kan?! Gak jujur, gue suruh kak Sam perk*sa lo!" celetukĀ  Lia.


"Mau mulut kamu disekolahi sama kakak di Jerman?!" sarkas Lisa memarahi adiknya. Seketika dia menekap mulutnya.


"Maaf, tapi rasa perih hati gue selalu memberi sial buat lupain memori sama om Sam," balas Shireen. Tangan gadis itu tak hentinya, mengusap kepala dua anak kembar yang sudah tertidur dalam kenyaman pangkuannya.


***


Sheila tengah mengumpulkan semua karyawan. Ia mendapatkan informasi dari sang pemilik caffe.


"Oke, saya kumpulkan semua karyawan di sini, bertujuan untuk menyampaikan informasi yang saya dapat dari pak Tansoon," ucapnya.


Semua pun sudah siap mendengar, termasuk Shireen.


"Jadi, mulai besok caffe ini bukan lagi milik pak Tansoon. Ya, dia sudah mengatas namakan caffe ini dengan orang lain. Saya juga belum tahu siapa pemilik baru caffe shop ini, tapi saya diperintahkan untuk menyambut kedatangannya besok."

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2