
BERTEMU
Tepat di sore hari, Abel bersama dengan Xander tiba di bandara.
“Welcome to Indonesian ....” ucap Azel memeluk Xander.
“Apa kota ini akan menjadi kotaku nanti?”
“Yes!”
“Ah aku merasa tidak sabar untuk itu.” Xander pun mencium bibir Azel, tak merisaukan banyak pasang mata yang menyaksikan mereka. Bahkan, yang melihat scene mereka pun hanya bisa menyadari bahwa mereka sedang mengontrak, karena dunia sedang dikuasai oleh dua pasang insan ini.
Sementara di kantor, Agha sedang menikmati waktu senggang dengan mengamati wajah Abel yang sedang tertidur pulas di atas sofa ruangannya.
“Persis sekali seperti Azel. Gemas sekali anak ini.” Senyuman di bibir pun seakan tak bisa hilang. Seperti mendapat mainan baru, Agha lebih banyak memandangi wajah Abel karena itu bisa mengingatkan dirinya dari masalalunya dengan Azel.
“Agha Sayang .....”
Ah apa ia tidak boleh menikmati waktu lebih lama tanpa perempuan ini? Jika bukan karena ayah Elena, Agha sudah menendang bokong perempuan nyentrik ini.
Masih teringat bagaimana, Elbrio berkata dengannya. ‘Nak berjanjilah untuk menjaga anakku. Dia sudah terlihat dewasa tapi pola pikirnya masih seperti anak TK, tolong mewajarkan ya karena dia putriku satu-satunya.’
Perjanjian yang ia sesali itu sangat membuatnya ingin mengulangi kata persetujuan akan ucapan dari ayah Elena. Sebab ucapan itu, kini Agha selalu diganggu oleh makhluk ini.
Elena cantik itu, tapi tidak menarik. Menurutnya, perempuan dewasa adalah sosok idaman para pria.
“Elen ... Elen ... tolong jangan keluarkan suara terompetmu itu di kantorku!” tegur Agha merasa jengah.
“Ihh suaraku ini seperti bayi, kenapa kau bilang seperti terompet?" ketusnya, lalu perhatiannya teralih kepada sosok seorang yang sedang tidur, ia pun berucap, “Eh eh, ada gadis kecil ini lagi ....”
“Susssttt ... maka dari itulah kau diam, nanti anakku bisa terbangun karena suaramu!”
Elena semakin melunjak, bukannya mendengarkan cegahan Agha ia justru mendekati Abel. “Ihh kemarin kau bilang dia keponakanmu, tapi sekarang anak. Nikah saja tidak pernah, anak darimana?" Namun seketika, ia menyadari sesuatu, "Eh tapi kenapa wajah kalian sama?” lanjutnya.
“Sudah kubilang, dia anakku!”
“Dapat dari mana? Give away? Masa ada give away dapat anak. Iseng-iseng berhadiah dong!”
“Sudahlah menjauh darinya Elena, aku takut dia terbangun!” Elena semakin meresahkan. Kini lihatlah, perempuan itu sedang menguyel-uyel pipi tembam Abel, karena merasa gemas.
“Ahh lucu sekali pipinya seperti squisy!”
“Elena astaga!”
Agha dapat melihat wajah Abel yang mulai terusik, ia yakin gadis kecilnya itu akan terbangun sesaat lagi.
“Elena berhenti lakukan itu, anakku ter—”
“Om ....”
Abel menggeliat, tetapi mata gadis itu masih terlihat terpejam. Sementara Elena sudah ditarik oleh Agha agar menjauhi gadisnya. Elena pun hanya bisa memasang wajah cemberutnya.
“Katanya anak tapi manggilnya ‘om’!” gerutunya. “Eeh kok getarr. Agha apa sofamu ini kursi terapi?” Tiba-tiba Elena merasakan bokongnya bergetar.
“Tante handphone Abel diduduki!” tegur Abel dengan suara seraknya. Dengan masih mengucek mata, gadis itu berusaha bangkit dengan dibantu oleh Agha.
“Astaga Elen ....” Agha benar-benar tak habis pikir dengan tingkah laku Elena.
“Pantas bokongku seperti kesetrum, ternyata ada ponsel yang kududuki ...,” gumamnya seolah tak merasa bersalah.
Agha memijat pelipisnya, merasa sudah lelah untuk terus memperingati kebodohan Elena. Kini ia terfokus dengan anak angkatnya kembali.
“Om mami Abel yang telepon ....” Abel menyodorkan ponselnya dengan malas, dibarengi dengan wajah tak bersemangatnya, bahkan gadis itu terlihat kembali merebahkan tubuhnya.
“Angkat Sayang ....”
Abel hanya menggeleng, sembari melamun. “Abel ayolah, dewasa itu harus. Jangan pentingkan ego Sayang, mamimu akan tetap jadi mamimu!”
“Paling juga mau bilang. ‘Abel, mami terpaksa menunda kepulangan mami. Jangan marah ya sayang nanti mami belikan es krim’. Aku sangat hafal bagaimana mamiku,” ucap gadis itu menyerukan nada bicara maminya.
Sampai Elena pun ikut terkekeh, melihat Abel. “Dia berbakat dalam dunia akting,” sahutnya.
“Angkat, jangan sampai dia memanggil untuk yang ketiga kalinya!”
Tidak bisa membatah, Abel langsung menurut dan segera menyambungkan telepon itu.
Blup.
Akhirnya suara telepon itu pun terhenti untuk yang keempat kalinya. Abel benar-benar mengabaikan panggilan dari maminya.
“Abel ayah kecewa denganmu!” Layaknya seorang ayah yang sedang memarahi anaknya. Pada kenyataannya Agha lah yang begitu excited dalam hal itu. Percayalah, itu adalah hal selalu ditunggu-tunggu olehnya. Bisa mendengar suara Azel, baginya suatu kebahagiaan yang sulit untuk menghentikan senyum. Namun, itu semua dihancurkan dengan realita.
__ADS_1
Abel hanya menunduk, lalu mengucapkan kata, “Maaf Ayah ....”
“Astaga patuh sekali anak ini? Aku seperti melihat anak dan ayah sesungguhnya,” gumam Elena.
Abel mencoba untuk menelpon balik sang mami. Namun, sebelum itu ia menemukan pesan dari maminya.
‘Abel mami sudah di bandara, ada yang mami mau kenalkan denganmu. Jemput mami, Nak. Minta hantar lah dengan supirmu.’
Ya, itu pesan yang ia baca dari sang mami. Ternyata, ia salah. Ini adalah bukti cinta dan rasa sayang maminya. Seketika rasa bersalah menyelimuti hati gadis seumur tanggungan itu.
Namun, tak bisa ia pungkiri jika hal ini membuatnya bahagia. Ya, karena ia berkesempatan untuk mengenali ayah angkatnya itu kepada sang mami.
“Ayah mami ada di bandara. Ayo jemput mami, Ayah!”
Sontak Agha tersenyum. Merasakan kebahagiaan yang tiadatara, bahkan hal ini jauh dari ekspetasinya. Ya, lebih indah dari rencana dan khayalannya.
“Come on Baby!” Nada semangatnya pun terdengar. Ia segera menuntun Abel, lagi-lagi dengan rasa semangatnya.
‘Aku tidak menyangka jika akan secepat ini,' batinnya.
“Kalian mau kemana?” Tiba-tiba langkah mereka terhenti. Ya, mereka terlupa jika mereka tidak hanya berdua, melainkan ada satu makhluk lain di antara mereka juga.
“Aku ingin menghantarnya ke bandara. Bisa kau handle ruanganku sebentar?”
“Tidak mau! Aku ingin ikut kalian juga!”
“Tidak bisa Elen ....”
“Ayah, gak apa-apa kok Tante ini ikut,” sahut Abel.
“Aaa anak manis baik sekali kau. Baiklah, aku ikut kalian yah?”
Abel tersenyum, lalu membalasnya, “Boleh kok Tante.”
‘Astaga pertemuanku pasti akan dirusaknya. Tapi, tidak apa-apa sekaligus aku akan tunjukkan padanya siapa perempuan yang aku sukai dari dulu. Mungkin dengan begitu, aku tidak akan lagi diganggu olehnya,' batin Agha.
***
Setelah menempuh waktu yang tidak terlalu cepat, kini mereka sudah tiba di bandara.
Samar-samar mata melihat, Abel mendapati sang mami keluar dari mobil. Seketika bibirnya membentuk senyuman, begitupula dengan Agha. Lihatlah, terpancar jelas air wajah kerinduan yang ada di parasnya.
Namun, senyum pria itu perlahan mengendur. Sosok seorang pria tiba-tiba menggandeng mesra pinggang Azel, sesekali ia memberi kecupan di pelipis Azel. Mereka berjalan menghampiri layaknya dunia hanya milik mereka bersama.
Apa semua ini? Masih bertanya, dan jawaban akan terungkap segera.
“Sayang ....”
“Mami!”
“Maafkan mami ya Sayang ....” Azel mengecupi pipi putrinya dengan beribu kecupan. Sementara Azel salah fokus dengan pria yang terlihat terus tersenyum padanya.
“Abel udah gak marah kok sama Mami. Hmm, tapi Om ini siapa?”
Azel menatap kekasihnya dengan tersenyum, saat itulah Xander mengusap surai rambut Abel, lalu berucap, “Dia benar-benar mirip sekali denganmu, Sayang.”
“Abel ini Om Xander, dia kekasih mami dan ya kau akan segera mempunyai papi!” Azel begitu antusias memperkenalkan calon ayah untuk anaknya itu, sampai-sampai ia tak menyadari ada seseorang yang terluka mendengarnya.
Bahkan, saat ini perempuan itu belum menyadari keberadaan Agha yang sedang menatapnya dengan nanar.
‘Lagi-lagi aku dihancurkan dengan kenyataan, disakiti dengan keadaan dan dipatahkan oleh harapan,' batin Agha.
Sorot mata pria itu tak lepas dari wajah perempuan yang selama ini ia tunggu-tunggu.
“Agha kau tidak apa-apa?” Elena memastikan keadaan pria itu. Seketika Agha tersenyum amat manis, sampai rasanya Elena mabuk kepayang. Tetapi, percayalah itu hanya senyum palsu guna menutupi rasa perih di hatinya.
“Kita pulang sekarang!”
“Kau ini kenapa sebenarnya?” tanya Elena.
“Tidak apa-apa. Abel sudah bersama orangtuanya, mari kita pulang!”
“Ayah!”
Tiba-tiba suara Abel yang berlari menghampirinya menggema dan masih dengan sebutan itu. “Om, katanya mau kenal dengan Mami?”
Sementara dari tatapan mata Azel terlihat jelas siratan keterkejutannya. Namun, entah kenapa pandangannya berubah nanar.
‘Takdir seperti sedang mempermainkanku. Sudah berkali-kali aku berusaha untuk tidak melihatnya lagi, beberapa tahun yang cukup lama, aku kira bisa memisahkan kita dengan permanen. Nyatanya, kala ini aku sudah dipertemukannya lagi, dan menatap wajah itu lagi. Tanpa aku duga anakku bisa dipertemukannya, bahkan aku mendengar sendiri dia memanggilnya ayah,' batin Azel.
“Sayang ....” tegur Xander membuyarkan lamunan Azel. Untuk memastikan kekasihnya itu baik-baik saja, Xander mengeratkan pelukan di bahunya.
__ADS_1
“Iya Mas?”
“Lelaki itu siapa? Kenapa anakmu bisa memanggilnya ayah?” tanya Xander.
“Aku juga tidak tahu Mas, sepertinya anakku tidak sengaja menemukan orang asing untuk menjadi ayahnya. Wajar Mas, sedari kecil anakku ‘kan tidak pernah merasakan kasih sayang ayahnya,” balas Azel. Detik ini, Azel tidak berani untuk jujur tentang siapa seorang pria yang disebut ayah oleh anaknya.
Sedangkan, Abel berusaha untuk membawa Agha agar mendekati maminya. “Om ayo kenalan sama Mami Abel!”
Azel dan Xander menghampiri. Terlihat jelas raut amarah di wajah Azel, ia bisa melihat anaknya itu lebih respek dengan pria itu, dibanding dengan calon suaminya.
“Abel mami tidak pernah mengajarimu untuk memanggil itu kesembarang orang!” sarkasnya.
“Mami ini Ayah. Ayah angkat Abel, dia yang membantu Abel mengambil raport waktu itu. Sekarang dia jadi ayah Abel Mami ....” ucap Abel dengan polos khas dari dirinya.
“Pak Agha, pemilik Sonya Group? Benar ‘kan?” Tiba-tiba Agha mengernyitkan keningnya.
“Benar. Apakah sebelumnya kita sudah pernah bertemu?” tanya Agha membalasnya.
“Astaga apa kau lupa? Kita pernah bekerjasama. Aku Xander Harvegy, pemilik Harvey Group.” Agha tersenyum merekah, bukan menyambut tangan lagi Agha langsung memeluknya dengan satu bahu.
“How are you?” tanya Agha tersenyum.
“I fine!”
“Sorry, Pak Xander kontrak kerjasama itu sudah lama putus, jadi aku tidak mengingatnya lagi,” ucap Agha.
“Kau itu terlalu arogant Gha, bahkan sampai saat ini saja aku belum bisa melupakan kebaikanmu terutama paman Abran,” balas Xander. Agha hanya tersenyum, lagi-lagi itu untuk menutupi rasa degup jantungnya yang berpacu lebih cepat karena terus mendapat tatapan dari Azel.
“Sayang tenanglah, Abel memang pantas bertemu orang baik sepertinya,” lanjut Xander. Kemudian, ia pun memperkenalkan, “Jadi Pak Agha ini seorang pengusaha sukses yang dulu dia dan ayahnya menolongku di saat perusahaanku terancam bangkrut.”
‘Aku lebih tahu darimu, bahkan dia orang yang mengusik ketenangan hidupku. Sepertinya akan ada permainan topeng di sini. Baiklah Azel, aku ikuti permainan ini,' batin Agha.
Ia bisa melihat wajah Azel yang seolah tak mengenal siapa dirinya. Sangat menyakitkan, tapi bukan Agha jika tidak bisa menetralkan semua itu.
“Perkenalkan Nona, aku Agha. Ya, benar aku juga yang dimaksud oleh Abel. Orang yang telah membantunya menembus raport di sekolahnya kala itu,” ucap Agha tersenyum dengan menyodorkan telapak tangannya.
Azel menyambut, tapi ia bisa merasakan sensasi jabatan tangan itu. Terasa hangat, seperti masa lalunya dulu. “Azel,” ucapnya dengan singkat.
‘Aku tahu, karena nama itu selalu aku sebut dalam hatiku.’ Agha membatin dengan tersenyum palsu, sembari ia lepaskan tangan itu secara tidak rela.
“Baiklah Pak Xander, senang dalam pertemuan ini. Sepertinya Abel sudah mempunyai ayah baru lagi, setelah dia sebut saya dengan panggilan itu.” Pria itu terkekeh dengan sorot mata yang tetap terlihat nanar.
“Ah tidak apa-apa, kau pantas disebut itu karena jiwa pribadimu yang selalu menyukai anak kecil dari dulu,” balas Xander. Lagi-lagi dibalas kekehan oleh Agha.
“Baiklah Abel Om pamit ya. Ingat jangan mencoba belajar untuk pandai berbohong!” Agha mengusap kepala Abel. Sementara, gadis itu seperti tak ingin lepas dari pegangan tangannya.
“Tapi Abel masih mau ikut Ayah!”
“Abel!” Suara Azel terdengar begitu geram, dan Abel mengerti hingga ia mau tidak mau harus melepaskan tangan pria yang ia sebut ayah itu.
“Masih banyak waktu, lain hari kita akan berjumpa lagi!” Ucapan itu menjadi kata terakhir bagi Agha, karena ia tahu jika Abel dan dirinya mungkin akan lebih sulit untuk bertemu lagi.
Agha pun berbalik seusai memberikan senyuman, dengan mata yang terus tertuju kepada ibu Abel. Namun, genggam tangannya dengan Elena mulai terikat. Ya, pria itu berjalan dengan menggenggam tangan Elena.
‘Bisa kulihat sorot mata Agha. Sepertinya dia sedih karena anak angkatnya itu sudah menemukan orangtuanya,' batin Elena.
***
“Abel mami tidak suka kamu berbohong seperti ini, terrlebih kamu akrab dengan orang asing sama dia!”
Abel merengut, wajahnya ia tundukkan semerenung mungkin. Pertemuan yang ia impikan hancur karena tak sesuai ekspektasinya.
‘Bukan pertemuan ini yang Abel maksud Tuhan. Kenapa? Kenapa sampai ada orang lain di antara kita,' batinnya.
“Abel kamu dengar mami bicara tidak?!”
“Dia bukan orang jahat Mami, dan Abel terpaksa berbohong karena Abel butuh kebebasan. Maafkan Abel karena tidak jujur jika menginap di rumahnya, dan tidak jujur jika Abel tidak bersama Omah dan Eyang,” balas Abel.
Xander hanya memilih untuk mendengarkan dan melihat perdebatan antara ibu dan anak ini. Sebenarnya ia gemas melihat wajah marah kekasihnya, tetapi ia lebih suka mendengarkan suara lembut calon anaknya.
Sampai di lampu merah Azel terus menelisik wajah anaknya. Xander hanya bisa tersenyum melihat mereka.
“Mami tidak mau kamu terlalu dekat dengannya!”
“Tidak! Om itu baik, selalu sempatkan waktu buat Abel gak seperti Mami!”
“Aku jadi penonton perdebatan kalian rupanya? Sepertinya aku butuh popcorn di sini,” sahut Xander menyindir.
Seketika mereka sama-sama menoleh ke arah pria yang masih tetap fokus ke arah jalan itu.
“Maaf Mas, aku masih tidak habis pikir dengan tingkah anak ini selama tidak ada aku. Kira-kira kalau aku over sekolah ke luar negeri, dia bisa mandiri tidak yaa?” balas Azel memancing emosi anaknya.
__ADS_1