Ibu ASI Untuk Bayi Om Duda

Ibu ASI Untuk Bayi Om Duda
S3. Tamu Tidak Tahu Diri


__ADS_3

Agha pun mengekor dari belakang. Sepanjang ia melangkah menuju dapur, pria itu terus memandangi kemolekan tubuh Azel, sampai ia tidak memfokuskan jalannya.


“Seksi sekali dia,” gumamnya sangat pelan. Sementara mata pria itu tak luput dari bokong Azel yang tampak menyembul sempurna dari belakang.


“Aku dengar. Ingat jika kau berniat berbuat yang macam-macam, aku akan panggil adikku!”


‘Perasaan, aku sudah sangat pelan berbicara,' batin Agha.


“Selalu pikiranmu mengarah ke sana. Jika kau sebut aku pedofil itu salah, karena targetku tante-tante sepertimu, bukan anak kecil!” balas Agha santai.


Azel langsung menodongkan pisau ke arahnya dengan tampang galak. Bertepatan saat mereka telah sampai di dapur.


“Astaga jiwa psikopatnya keluar!” umpat Agha, berbarengan dengan ia yang ingin duduk di meja makan.


“Rumah Mommy dan Daddyku dekat, jangan sampai aku gantung kau di sana dan disaksikan langsung dengan adikku!”


Agha terkekeh. Lagi-lagi perempuan itu menjadikan adiknya sebagai jagoan, atau pahlawan senjatanya. Sebenarnya sedikit ia rutuki kebodohannya dulu, hanya karena sebuah ancaman dari adiknya itu ia minder dari Azel.


“Adikmu memang terlihat kejam, bahkan kuasa dia di mana-mana. Aku juga pernah dengar dari pamanku, dia menjadi ketua organisasi mafia. Tapi, bagiku Azriel itu hanya manusia biasa. Aku tidak takut, dia bukan tandinganku!” balas Agha meremeh.


“Ohh jadi kau meremehkan adikku yaaa!”


“Apa keistimewaannya?” tanya Agha memancing. Pria itu fokus mengupas buah, dan Azel di sana tengah sibuk menyiapkan bahan-bahan untuk membuatkannya makanan.


“Banyak sekali, dan aku selalu bangga dengan adikku. Jika kau merasa bukan tandingan, kenapa kau tidak pernah berhadapan dengannya?” jawab Azel di tengah-tengah kesibukannya.


“Mengalah bukan berarti kalah Azel, itu cara orang dewasa untuk menyelesaikan masalah. Begitupula dengannya, bukan berarti aku takut, akan tetapi aku tidak ingin menciptakan masalah.”


Seketika Azel terdiam, perempuan itu mengerti dan lebih memilih untuk fokus dengan kegiatannya saat ini.


“Jika aku mendatangi Azriel, apa aku boleh melamarmu? Ah kenapa harus dia, sementara restu seorang anak hakikatnya hanya ada pada orang tua.”


“Jangan main-main Agha, kau mendatangi orang tuaku, otomatis kau yang berurusan dengan adikku!”


“Lagi-lagi kau meremehkanku jika aku amat takut dengannya.”


“Sudahlah, aku hanya ingin kau baik-baik saja. Jangan menciptakan masalah, kau bilang seperti itu tadi ‘kan?”


“Baiklah ....”

__ADS_1


Azel menghantar satu buah piring berisikan omlite telur dengan irisan daun selada. Tampak begitu menggoda dari tampilannya. Ia sodorkan makanan itu untuk Agha, dan tentu saja membuat cacing di perutnya berdugem ria.


“Makanlah, aku kasihan dengan cacing di perutmu itu!”


Agha tersenyum senang, tanpa berkata lagi pria itu segera melahap makanannya. Sungguh bukan hanya dari tampilan saja, ternyata rasa khas masakan perempuan ini memang begitu beda. Dia begitu senang mendapat makanan selezat ini.


“Azel kau begitu pandai memasak. Boleh aku ke sini setiap hari untuk menumpang makan? Untuk biaya dapur aku akan sanggupi, bahkan kebutuhanmu dan Abel pun aku sanggup. Asal kau mau punya gelar baru, jadi istri Aghafa Luis!”


Tuk!


Azel menggetuk kepala Agha dengan batang pisau, dan itu rasanya menjalar seperti membelah otak. “Astaga, orang ini terlalu percaya diri. Heran, sipatmu itu tidak pernah hilang dari dulu. Melunjak!” cetusnya.


Agha hanya bisa meringis. “Galak!” umpatnya.


“Mau minum apa?” tawar Azel menulikan telinga dari umpatan Agha yang mulai menyebalkan.


“Apa saja, asal jangan minuman wortel yang seperti kemarin!”


Azel terdengar tertawa kecil, ucapan itu selalu diingatnya saat Abel sering mengatakannya juga.


“Kenapa kau sama seperti anakku. Selain itu apa lagi kesamaan kalian?”


Deg!


Lagi-lagi jantung Azel berdetak tidak wajar. Kenapa membahas hal seperti ini, sangat rentan bagi kesehatan jantungnya. Pasalnya, ia pun merasakan hal yang sama seperti yang diucapkan pria itu. Penyesalan terbesarnya hanya bertanya tentang kesamaan mereka.


“Mana ada, dia anakku. Kau hanya orang lain yang tak sengaja bertemu. Ingat itu!”


“Yaa, aku hanya bergurau. Serius sekali, lagipula aku tidak pernah melakukan itu padamu?”


“Itu apa?”


Tiba-tiba senyum miring tercetak di bibir Agha. Ia tahu, Azel bukan pura-pura polos, hanya saja kebodohan pertanyaannya itu menjerumuskannya.


Secepat itu Agha menarik tangan Azel, mendudukinya di atas paha, kemudian ia rengkuh pinggang perempuan itu.


“Mau kujelaskan secara detail, atau langsung ke prakteknya?”


“Ah, apa mak-maksudnya?” Seketika Azel menjadi bodoh, ia ternganga karena ketidakpahamannya. Dan ya, baru sampai di sini ia paham.

__ADS_1


“Kau memancing hasratku Azel. Ucapanmu selalu mengotori otakku!”


“Heh aku tidak bermaksud seperti itu. Agha tolong di rumah ini hanya ada kita, aku takut timbul kesalahpahaman!”


Seketika Agha tertawa lepas, ia sangat senang melihat wajah ketakutan dari Azel. Alhasil trik menggodanya ia sudahi.


“Azel ... Azel ... sudah punya anak gadis, tapi kepolosanmu melebihi Abel. Aku takut jika dibawa om-om di luar sana kau mau saja, terlebih ada rasuap es krimnya,” ledek pria itu.


“Sialan, memangnya aku anak kecil. Sudahlah, kau sudah kenyang sekarang tinggalkan rumahku. Aku ingin tidur!”


Agha menghela napasnya. Perutnya memang sudah kenyang, tapi kebersamaannya dengan perempuan ini seakan belum puas. Ia masih berpikir cara apa lagi untuk mengulur-ulur waktu.


‘Bagaimana caranya agar aku ulur waktu bersamanya? Perempuan ini sangat sensitif,' batin Agha.


“Ayolah Azel, ini masih terlihat sore belum terlalu malam. Aku ingin menonton TV, temani aku ya!”


“Astaga Agha, ini sudah sangat malam bagiku. Sebaiknya kau pulang sebelum aku berteriak maling!”


“Lakukanlah, kau pasti disangka wanita gila karena tidak mungkin wajah setampanku itu pencuri!”


“Ya, ampun sangat percaya diri sekali pria ini. Menyebalkan!”


Agha tidak ingin mendengar lagi ocehan wanita itu. Ia langsung menarik tangan sang tuan rumah, lalu dibawanya ke ruang tengah.


Azel mendengus, menyilang tangannya di dada. Sementara Agha sudah tampak duduk dengan santai di bawa karpet berbulu halus di sana.


“Duduklah Nona, anggap saja seperti rumah sendiri,” ujar Agha terdengar konyol.


“Tidak tahu diri!”


Aghafa menghiraukan umpatan demi umpatan yang terus terlontar dari mulut Azel. Memang tidak tahu diri, tapi percayalah ia hanya ingin menghabiskan waktu lebih lama lagi di sini. Hal konyol yang sebelumnya tak pernah ia lakukan pun, ia keluarkan dan itu hanya ia tunjukkan kepada perempuan ini saja.


“Di mana kharismamu?” tegur Azel ketus.


“Ada di kantor saja,” jawab laki-laki itu begitu santai, bahkan camilan yang tersedia di sana sudah di kuasai dengan dua tangannya.


“Apa ya tanggapan bawahanmu jika tahu aksi pemimpinnya seperti ini?”


Agha tidak menanggapi, ia justru fokus menatap layar di sana, sesekali pria itu tertawa kecil melihat acara tv yang menurutnya menghibur. Alhasil Azel yang terus berusaha untuk memancing agar pria ini mau pulang, ternyata tidak mempan. Ia merasa lelah sendiri.

__ADS_1


“Sungguh meresahkan laki-laki ini,” gumamnya. Akhirnya ia pun ikut duduk bersebelahan.


__ADS_2