Ibu ASI Untuk Bayi Om Duda

Ibu ASI Untuk Bayi Om Duda
Bercinta di Waktu Pagi Begitu Mengesankan


__ADS_3

Malam ini adalah malam pertama mereka menjadi sepasang suami istri. Tidak terbayangkan di pikiran Shireen. Jika dulu ia dan Samuel hanya tidur bersama seperti biasa saja. Kini berbeda dalam suasananya.


Namun, dengan begitu bukan berarti malam ini adalah penyatuan mereka. Apa? Pasti kalian berpikir jika dua pasang insan ini akan melakukan one night stand? Itu salah!


Malam panas? Pergumulan mesra? Cinta satu malam? Kenikmatan yang tiada tara? Atau, penyatuan mereka? Tidak, singkirkan pikiran itu dahulu. Ekspetasi kalian terlalu tinggi!


Karena, lihatlah saat ini Shireen sudah tertidur di atas kasur king size dengan begitu nyenyak. Posisinya begitu tidak ramah, telengkup dan gadis itu hanya mengenakan tanktop seperti biasa. Ingat, masih gadis yaaa!


"Buruk sekali malam pertamaku," gumam Samuel memandang tubuh gadisnya.


Bahkan, perempuan itu mengabaikan prianya yang sudah bersiap. Samuel tak egois, karena mau bagaimana pun Shireen meninggalkannya tidur pasti karena kelelahan.


Menyudahi mengumpatnya, Samuel pun mulai membenarkan posisi tidur istrinya. Dia ikut masuk ke dalam selimut, dan langsung memeluk sang istri dengan penuh kehangatan. Dan, pada akhirnya mereka tertidur dalam hangat pelukan malam ini.


Keesokan paginya.


Shireen membuka mata, seseorang yang pertama ia tatap adalah seorang yang dulu ia harapkan untuk selalu berada di sisinya. Tampak indah, paginya dihiasi dengan pemandangan yang manis-manis. Bahkan, tak perlu sarapan, karena sudah kenyang dengan memandang sang suami.


"Emang ya, beda kalo udah jadi suami. Kenapa gak dari kemarin-kemarin aja gue mau diajak nikah," gumamnya terkekeh. Tangan gadis itu tak bisa diam. Dengan kejahilannya, ia menoel-noel hidung mancung sang suami.


"Pengganggu nakal!" Shireen membola, ia melotot dan langsung masuk ke dalam selimut menenggelamkan kepalanya.


Dengan sigap Samuel menahannya agar tetap pada posisinya. "Om, aku lapar-erpmm!"


Samuel membekap mulut istrinya itu dengan sebuah morning kiss yang berkesan dan menuntut.


"Aku juga lapar, aku ingin sarapan memakanmu!" bisik Samuel sensual di telinga Shireen. Bagaikan ada semilir angin yang menggelitik dalam hatinya. Shireen sungguh kehilangan akal. Tentu saja ia paham, dan mengerti apa mau suaminya itu. Ah, apa ini sudah waktunya? Entahlah semua tampak menakutkan.


"Hmm, tapi--"


"Semalam tidak jadi, karena kau seperti kerbau yang kekenyangan. Jadi, apa salahnya jika sekarang?" ujar Samuel.


Belum sempat Shireen berkata lagi, Samuel sudah lebih dulu meraup bibirnya. Akhirnya mereka terhanyut dalam permainan itu.


Hingga, Shireen merasakan puncak hasratnya yang dipancing paksa oleh suaminya. Samuel mencumbu dengan begitu bringas, seperti buaya yang melihat bokong sapi.


Shireen yang melihat Samuel membuka kimono tidurnya, merasa tersipu. Di depan matanya, Samuel menunjukkan otot dan kegagahan jantannya, walaupun masih terbalut cd. Shireen membayangkan jika itu akan dirasakannya sekarang.


'What? Apa itu? Besar banget. Mana muat?' Ya, batin Shireen sudah stress sekarang.


Ia menutup kedua matanya. Namun, disibak kembali dengan suaminya. "Tidak usah malu, kau harus terbiasa nanti!" ucap Samuel dengan napas yang menggoda. Shireen hanya bisa memalingkan wajahnya. Pria itu kembali menidurkan dirinya di atas tubuh istrinya, dan menyalurkan lagi rasa panas badannya kepada sang istri.


Shireen membiarkan suaminya itu melakukan hal yang dia inginkan, seperti melucuti semua pakaiannya. Toh, semua sudah serba diperbolehkan. Lain, seperti dulu saat belum menikah. Ini adalah suatu kewajiban untuknya. Tidak ada hak, ia melarang. Lagipula gadis itu tak munafik, jujur jika Shireen sangat menikmati sentuhan lembut dari suaminya.

__ADS_1


"Eughh, Om sakit!"


"Maaf, tapi nanti perlahan akan hilang."


Air mata Shireen berhasil lolos saat Samuel menyatukannya. Ia menahan rasa sakit yang kian menyeruak dari dalam intimnya.


Namun, aneh atau memang seperti ini. Rasa itu perlahan hilang, dan tergantikan dengan rasa nikmat.


Terjadilah penyatuan mereka yang begitu berkesan. Shireen tak akan pernah lupa mengingat momen ini. Semua terjadi begitu saja, hingga tanpa sadar ia benar-benar menjadi milik Samuel seutuhnya.


"Terima kasih, Sayang. Love, you. Kau sudah menjadi milikku seutuhnya!" bisik Samuel.


Sedangkan Shireen masih mengatur-atur napasnya. Peluh cinta membasahi dahinya. Sedangkan, Samuel begitu senang paginya ini menyantap sang istri.


Oh, seperti inikah rasanya bercinta di pagi hari? Sungguh mengesankan bukan?


***


Sembari menunggu istrinya mandi yang lamanya seperti menunggu ayam jago bertelur, Samuel pun menyempatkan diri membuat sarapan untuk ia dan istrinya. Ia yakin, setelah pergumulan panas tadi pasti menimbulkan rasa lapar.


Samuel hanya menggoreng nasi dengan menggunakan bahan yang tersedia di dalam kulkas. Walaupun pekerjaannya begitu formal, yang terus menggeluti kertas-kertas dan pembicaraan dalam perkumpulan penting. Namun, Samuel juga bisa memasak. Yaa, menggoreng nasi, membuat omlet, dan merebus mie tidak susah baginya.


Beberapa menit setelah selesai.


Dengan inisiatifnya ia berjalan mendekati dan menghampiri. Menggendong tubuh istrinya, karena merasa jengah dengan keleletan caranya berjalan Dia.


"Om!" Seketika Shireen terkejut.


"Kau masih saja enggan untuk meminta bantuan!" cetus Samuel. Ia mendudukkan tubuh istrinya di atas meja makan. Lalu, menatap sang istri dengan damba.


"Apa masih terasa sakit, hmm?" tanyanya tepat di wajah mereka yang hanya terkikis beberapa jarak saja.


"Masih, cuma udah gak terlalu kok," balas Shireen.


"Maafkan aku!" balas sang suami mengecup punggung tangannya.


"Gak apa-apa, aku pasti bisa terbiasa nanti," kata sang istri.


"Ya sudah, kita sarapan sekarang. Setelah sarapan, aku ingin mengajakmu ke danau indah yang berada di sekitaran sini."


"Beneran?"


"Ya!"

__ADS_1


Dengan sangat gembiranya Shireen turun dari atas meja begitu semangat, melupakan sesuatu yang masih sangat sakit di bawah sana.


"Awhhh!"


"Sudah kubilang, jangan enggan untuk meminta bantuan!" Salahnya bukan? Ya, siapa yang menaikkan istrinya di atas meja jika bukan Dia? Shireen pun merengut saat dituntun oleh suaminya yang kian menyebalkan itu.


Mereka sarapan dengan sangat menikmati. "Ini buatan Om?"


"Ya. Kenapa? Apa rasanya tidak enak?"


"Tidak! Ini enak sekali!"


"Ya, terlebih saat kita memakannya setelah kelelahan."


Shireen bertanya, kelelahan? Ia tidak bisa konek dengan ucapan suaminya itu. "Tidak nyambung, dan sedikit melantur!"


"Perempuan yang tak cepat tanggap! Sebaiknya kau perbanyak minum susu, agar pintar seperti anakku!" celetuk suaminya.


"Yaa, namanya juga gadis bodoh. Eh, udah gak gadis lagi, lupa!"


"Syukur jika kau menyadar."


Ucapan enteng suaminya itu, sangat membuat kesal. Oh, kenapa tingkat menyebalkan pria itu makin bertambah?


"Besok, kita pulang. Kemarin kita sudah janji dengan anak kita!" ujar Samuel mengalihkan topik.


"Hmm, aku ikut aja. Tapi, apa mantan istri Om masih tinggal di rumah?" tanya Shireen.


"Kehadirannya tidak akan lama. Mungkin beberapa bulan lagi, dia akan kembali ke luar negeri. Jika kau merasa keberatan dengan kehadirannya, aku bisa mengusir dia."


"Jangan Om! Biarkan dia menghabiskan lebih banyak waktunya dengan anak kalian. Shireen gak keberatan kok."


Seulas senyum terbentuk di bibir Samuel. Dia berpikir, istri mana yang bisa menerima masa lalu sang suami hadir dalam keluarganya. Tapi, tidak dengan istrinya ini.


"Shireen cuma masih takut sama Mami."


Bersambung ....


Kemarin Ay, belum selesai bicaranya. Maksud Ay itu TAMAT dari penderitaan Sam saat dia ngebet ingin menikahi Shireen.


Jangan salahin Ay, salahin pikiran kalian yang salah tanggap (emot jutek)


Terima kasih ya, untuk para readers yang masih setia sampai saat ini🙏

__ADS_1


__ADS_2