
Shireen terus saja mendengus jengah. Ia menatap malas ke arah ranjang dengan tangan menopang dagu.
Saat ini gadis itu sedang menunggu bapak dan anak yang masih tertidur pulas, terbangun. Oh, apakah ini kesalahannya terlalu bangun pagi? Ahh, tapi dirinya sangat ingin bermain dengan kedua anak kembar itu. Sayangnya mereka masih terpulas dalam dekapan Daddy-nya.
"Mentang-mentang hari Minggu, mereka puas banget tidurnya. Emang hari weekend cuma buat tidur apa?!" gerutunya, lagi-lagi menghembuskan nafas bosan.
Rasanya ingin membangunkan mereka, tapi Shireen tak setega itu. Ia berpikir ini memang waktunya istirahat panjang, dengan menghabiskan waktu libur.
"Ummhh, Daddy Mama ...."
Tiba-tiba senyum Shireen mengembang. Telinganya mendengar suara Azel yang menggeliat memanggilnya. Untung saja gadis kecil itu tidak berteriak dan menangis saat bangun, jadi aman untuk yang masih tidur.
Shireen menghampiri ranjang, lalu memberi kode untuk tidak berisik dengan menempelkan jari di bibirnya. Saat gadis kecil itu ingin berteriak saat melihatnya.
"Susstt, Azel jangan berisik ya? Ayo sama Mama!" Shireen merentangkan kedua tangannya. Dengan gembira gadis bertubuh gempal itu menyambutnya dan berhasil hinggap di pelukannya.
"Kita ke kolam ya?" Dengan masih mengucek-ngucek mata, Azel mengangguk.
"Daddy sama adik masih bobo. Kita gak bangunin, Ma?"
"Tidak usah Sayang, biarkan mereka tidur dulu. Kita berdua aja, oke!"
"Okeee!"
Shireen membawa Azel ke kolam renang. Sepertinya pagi-pagi seperti ini sangat segar menghirup udara di sana.
Azel memberontak meminta diturunkan dari gendongan. Kemudian, gadis itu mengambil beberapa mainnya. Balon mini yang terisi air, Azel mengajak Shireen untuk mengisi balon-balon itu.
"Ayo Mama, tiup balonnya."
"Oke, sini Mama bantu tiup."
Shireen memangku Azel, sedangkan dirinya duduk di tepi kolam. Saat asik dengan keseruan mereka, tiba-tiba ada seseorang yang datang menghampiri mereka.
"Shireen."
Shireen menoleh, dan mendapati dua gadis kembar yang sedang menyangkil ransel besar di punggungnya.
"Lia, Lisa."
"Lo nginep ya semalem?" tanya Lia.
Shireen tersenyum. "Iyah, gue nurutin permintaan mereka aja."
"Bagus deh, seenggaknya ponakan gue dijaga ibunya," balas Lisa. Shireen hanya terkekeh membalasnya.
"Onty, 'kan habis ke hutan. Mana buaya yang Azel minta?!" sahut Azel masih sibuk dengan mainannya.
"Mau lihat buaya, lihat Daddy lu aja, sama!" cetus Lia. Shireen tertawa kecil menanggapi.
"Kalian habis kemah?"
"Iya, biasalah kegiatan kampus. Hmm, kita ke kamar ya, capek banget mau istirahat dulu," balas Lisa.
__ADS_1
"Oh, yaudah istirahat aja. Nanti kalo kalian mau makan, minta sama gue. Nanti gue masakin buat kalian," ucap Shireen.
"Thanks, gue juga kangen makan masakan lo," balas Lisa.
"Gue pengen dibuatin kopi aja, ala-ala barista hehe," timpal Lia.
"Oke, tenang. Gue jagonya buat kopi. Mau sekarang?"
"Hmm, no! Sekarang kita mau istirahat dulu. Lo jagain ponakan gue aja!"
Shireen mengangguk, lalu memberi senyuman untuk mereka. Kedua gadis itu pun melangkah pergi menuju kamar mereka. Shireen tak memudarkan senyumannya. Ia tak menyangka, sebesar itu perubahan mereka. Ia seperti bukan mengenal mereka, karena Lia dan Lisa adalah gadis yang iri dan dengki padanya. Sombong, angkuh, dan selalu menghina merendahkannya. Namun, nyatanya sekarang mereka begitu hangat dengannya.
Tiba-tiba Shireen menatap cemas Samuel yang menuju ke arahnya, dengan membawa Azriel yang menangis.
"Mama, hikksss!" Bocah laki-laki itu menangis dengan hidung dan bibir yang merah.
"Kamu kenapa Sayang?" Shireen mengambilnya dari gendongan Samuel, lalu menghapus jejak air matanya.
"Dia kaget pas bangun tak mendapatimu. Anakku mengira kau sudah pulang," kata Samuel. Terdengar suaranya yang serak.
Shireen menatap Azriel yang memeluk leher dengan erat, masih sesenggukan. "Mama gak kemana-mana kok, Azriel jangan nangis lagi ya, Sayang ...."
"Mama jangan tinggal Azil. I love Mama!"
"Iyah Sayang, love you too!"
"Kenapa tidak membangunkanku?" ucap Samuel.
"Om tidur terlalu pulas, sampai Azel bangun duluan Om gak keusik. Jadi, gak enak banguninnya," balas Shireen.
"Good morning my princess ...." Samuel menggendongnya, hingga gadis itu kesal karena semua mainannya terlepas dari tangannya. Namun, sesaat berganti dengan tawanya di kala Samuel memutar tubuhnya dan mengangkatnya ke atas. Berakhir dengan ciuman yang bertubi-tubi dari sang Daddy.
Shireen tersenyum. Pria itu begitu hangat dengan anaknya. 'Sungguh disayangkan untuk nona Leona. Dia melewati momen kebahagiaan keluarganya, padahal terasa lengkap jika mungkin ada kehadirannya di tengah-tengah mereka. Tapi, sayangnya justru gue yang menyaksikannya. Ah, serasa jadi istri nih duda,' batinnya.
Namun, sesaat kemudian ia tersadar. 'Issh, apaan sih Reen. Lo 'kan masih terluka. Pria ini belum mampu nyembuhin luka yang dibuat dia sendiri!'
"Hmm, swimming?"
"Yes, ayo kita belenang!" balas Azriel. Lelaki kecil itu sudah tidak menangis, kini ia bersemangat dan ingin berenang dengan sang Mama.
"Azel juga mau belenang!"
Shireen ragu-ragu menjawab. Entah mengapa rasanya begitu dingin untuk menceburkan diri ke dalam kolam. "Dingin," balasnya lirih.
"Nanti kupeluk, kau akan merasa hangat dalam air," balas Samuel. Shireen mengerucutkan bibirnya. Ini yang membuat ragu, ia takut jika kemesuman Samuel keluar saat berenang bersama.
Sementara saat ini Azel Azriel tengah bertengkar memperebutkan balon yang berbentuk bebek untuk mereka berenag.
"No, ini punya aku!"
"Huaaa Daddy!"
"Kakak kenapa?" tanya Samuel yang melihat Azel menangis.
__ADS_1
"Balon pink punya Azel dipakai adik!"
"Adik itu punya Kakak!"
"Azil suka warna ini, Kakak pakai punya adik aja!" balas Azriel tetap sibuk memakai pelampung mini itu.
"Kakak mengalah ya, pakai warna kuning. Lihatlah, ini lebih lucu," bujuk Samuel. Akhirnya Azel pun mau.
"Apakah seperti ini setiap Om menangani saat mereka bertengkar?" tanya Shireen.
"Ya, mereka selalu bertengkar untuk masalah sepele. Sudah biasa bagiku menangani seperti ini," balas Samuel.
Mereka menatap bahagia kedua anak kembar itu, yang mulai memasuki kolam. "Lucu, Om."
Samuel membuka bajunya, memperlihatkan otot-otot tubuhnya. Kemudian ia menggendong Shireen yang masih tersenyum melihat keseruan mereka. "Issh, Om!" kagetnya.
Samuel menceburkan dirinya bersama Shireen, hingga gadis itu gelagapan saat tenggelam. Nasib baiknya, ia masih ahli dalam berenang. Shireen pun menatap sebal Samuel, sedangkan pria itu tersenyum senang. Sementara kedua bocah kembar di sana tertawa cekikikan menyaksikannya.
"Kau begitu seksi," bisik Samuel di telinga Shireen.
Ya, tali tipis dan batok hitam di dalam kemeja Shireen begitu tercetak jelas bentuknya, di saat baju putih itu basah. Membuat, sesuatu dibawah sana tegang, dan meronta. Terlebih saat melihat ukuran dada Shireen yang tak merubah sama seperti dulu.
***
Sepulang kerja, Shireen bingung harus minta jemput dengan siapa. Ia ingin pulang sebelum ke caffe, untuk mengambil seragamnya yang tertinggal. Biasanya ia berjalan untuk ke caffe, dan langsung mengganti baju di sana. Namun, sialnya ia ceroboh dan meninggalkan seragam kerjanya.
Ia tak mau terlambat, terlebih manager baru di caffe sangat menyeramkan baginya. Galak, dan begitu tegas terhadap peraturan baru yang dibuatnya.
Kebetulan sekali Samuel menelponnya. Shireen pun mengangkat panggilan itu.
"Hallo Om!"
'Apa kau sudah pulang?'
"Udah Om, tapi Shireen gak bisa langsung ke caffe. Seragam Shireen ketinggalan di apartemen."
'Ya sudah biar kujemput kau!'
"Oke, tapi Om pasti masih di kantor. Apa tidak merepotkan?"
'Tidak, tenang saja.'
"Oke Om, makasih!"
Shireen bernapas lega, akhirnya ia terselamatkan dari amukan managernya. Jasson saat ini tengah ke luar negeri bersama sang kakak, jadi ia tak bisa meminta tolong padanya.
Beberapa menit kemudian. Shireen tampak gelisah. Hingga, bertambah lagi waktu yang terlewat, tapi Samuel tak kunjung datang.
"Dasar PHP! Bilang aja gak bisa jemput. Pria gila dengan sejuta omong kosong!" gerutu Shireen.
Tiba-tiba ia mendengar notifikasi dalam ponsel. Tertera nomor yang tak di kenal.
'Reen, gue Lia. Gue mau kasih tau, kalo Kak Sam kecelakaan, jadi gak bisa jemput lo.'
__ADS_1
Bersambung ....