
Setelah acara kejutan untuk Dika, kini semua orang sudah kembali ke tempat tidurnya mengistirahatkan diri masing-masing. Sementara Shireen masih berada di dapur, tengah menyiapkan makanan untuk suaminya.
Tiba-tiba sosok seorang perempuan menghampiri Shireen.
"Selamat malam Nona Shireen."
Tentu saja mendengar suara itu Shireen sedikit tersentak, ia beralih perhatian kepada perempuan yang sudah menjadi mantan suaminya itu.
"Ya, selamat malam juga Leona."
Leona berjalan menuju kulkas untuk mencari sesuatu yang bisa diminumnya. Ia mengambil sebuah minuman kaleng dingin, kemudian menenggaknya. Kembali lagi ia menghampiri Shireen lalu bertanya, "Apakah itu untuk Sam?"
"Ya, ini untuk suamiku," jawab Shireen.
"Sepertinya kau harus belajar lagi menjadi istri Samuel. Dulu dia tidak akan mau meminum susu di waktu malam, karena jika bangun pagi dia akan sakit perut. Apakah hal sepele itu saja kau tidak tahu?" papar Leona.
Shireen tersenyum, kemudian ia terkekeh, "Astaga Nona. Itu hanya berlaku waktu dulu di saat dia masih dengan Anda. Jika Anda tahu, semua tentang suamiku sudah banyak aku tahu, dan tentu saja tidak seperti dulu lagi. Sepertinya Anda yang harus melupakannya," balas Shireen.
"Apa buktinya? Aku yakin, Samuel pasti akan cepat diare karena memakan makanan yang kau siapkan. Kau belum tahu betul apa yang cocok untuk perutnya, bahkan aku rasa kau tak tahu apa kesukaan dan apa yang tidak disukainya." Leona mulai meninggikan suara, sedangkan Shireen tetap tersenyum.
"Reen, Kak Sam nungguin susunya tuh. Lama banget katanya!" Tiba-tiba Lia masuk dapur untuk mencari air hangat, setelah mendapatkannya dia kembali pergi. Ya, gadis itu sekarang memang jadi lebih betah di kamar kakaknya yang pastinya mengganggu waktu berdua Shireen dan Samuel. Jika bukan untuk curhat, untuk apalagi?
"Buktinya kamu sudah dengar sendiri. Apa perlu yang lain, yang lebih persuasif? Nona Leona, jika kamu masih menginginkan suamiku maka berjuanglah sampai mendapatkannya, setelah itu saya mundur. Tetapi jika sudah lelah, sebaiknya biarkan saya bahagia dengannya," tutur Shireen membalas.
"Entah kenapa sangat sulit untuk aku lakukan. Aku masih mencintai dia, karena memang awalnya dia milikku!"
"Baik. Jadi, semangat berjuang ya!"
Shireen bergerak mengangkat makanannya untuk segera pergi dari dapur yang mencekam ini. Namun, Leona justru menahan tangannya guna mencegah Shireen melangkah. Beruntung, makanan yang dipegangnya masih dalam keadaan utuh tidak tumpah berceceran.
"Setelah Sam kau ambil, apa kau masih ingin anakku dan mertuaku? Kau begitu serakah!" ucap perempuan itu sangat menekan.
"Mereka datang sendiri, saya tidak pernah merasa merenggut apapun dari Anda." Sehabis memberikan senyum manis terakhir, akhirnya Shireen pun pergi dari dapur.
Namun tiba-tiba Shireen berhenti melangkah, dan berucap tanpa menoleh ke arah, "Saya rasa sadar diri itu penting. Jika tahu kedudukan Anda di sini sebagai apa, tidak sepantasnya kata kata itu keluar untuk saya!" tandasnya. Shireen kembali melangkah.
Leona mengepalkan tangannya, ia merasa tidak puas untuk menyingkirkan Shireen. Justru, dirinya yang merasa disingkirkan.
"Kurang ajar bocah itu! Lihat beberapa bulan lagi, aku akan membayar kata-katamu itu. Shireen, kutandai namanya!" geram Leona dengan mengunci gigi serta tatapan mata elang yang tertuju ke arah depan.
Di kamar.
"Apa kau semedi dulu di dapur?" ketus Samuel. Pasalnya, pria itu memang sudah benar-benar lapar. Mungkin inilah definisi, jika manusia lapar akan menjadi singa.
__ADS_1
"Bawel banget sih. Pas lagi lapar kayak reog, nanti udah kenyang kayak orang bodoh!" gerutu Shireen.
Samuel segera menaruh laptopnya, ia lebih berfokus dengan istrinya yang akan menyuapinya makan. Namun, saat asik menyuapi makanan ke mulut suaminya, Lia datang dengan membawa pisang di tangan.
Jika bertanya, apakah gadis itu sudah berbaikan dengan saudara kembarnya? Maka jawabannya sudah. Tetapi, betah singgah di kamar kakaknya adalah suatu hal yang menjadi kebiasaan Lia saat ini.
"Huekk, huekk!!" Tiba-tiba Shireen mual. Namun ia tetap melanjutkan aktivitasnya itu.
"Kau kenapa?"
"Mual!" jawab Shireen singkat.
Dengan wajah polosnya, Lia justru memberikan beberapa pisang kepada Shireen dan Samuel. "Nih, buahnya!"
Refleks Shireen menggeser posisi dengan menekap hidungnya. "Aaaa, please jangan deketin. Mual!"
"Hah?" Samuel dan Lia tercengang. Ini adalah keanehan yang langka, yang menurut mereka baru saja dilihat.
"Reen, lo gak suka pisang?"
"Tidak biasanya kau tidak suka buah pisang."
"Kayak punya kamu Mas, aku gak suka!" kata Shireen dengan masih menutup hidungnya.
"Lia, please jauhi pisangnya!" pinta Shireen berteriak.
"Oke, oke!" Lia segera menyembunyikan pisangnya demi sang kakak ipar yang secara tiba-tiba phobia dengan buah berwarna kuning itu.
"Aneh!" ucap Samuel dan Lia berbarengan. Lia pun terheran-heran sembari menggelengkan kepala.
Shireen kembali melanjutkan kegiatan menyuapi suaminya. Ya, memang sekarang Samuel itu agak susah makan jika tidak disuapi oleh istrinya, bahkan sudah menjadi kebiasaan.
Hening beberapa saat. Namun, tiba-tiba ...
"Oh jadi punya Kak Sam mirip sama pisang ini? Gede juga ya ternyata, haha!" Shireen kembali mual, terlebih saat melihat wajah Lia yang begitu santai membuka pisang dan memakannya.
Samuel pun menatap tajam ke arah adiknya itu. "Lia!"
"Hahaha, maaf-maaf!"
"Uekkhh, uekkhh ...!" Alhasil Shireen pun sampai mengeluarkan air mata, menahan rasa mualnya.
Ya, Lia akan menjadi konyol jika sudah mengetahui kelemahan Shireen.
__ADS_1
***
Keesokan paginya.
Semua sudah kumpul di meja makan. Kini hanya menunggu Shireen dan Samuel. Memang, dua pasang suami istri itu orang yang paling lama jika dalam hal berberes.
Berberes untuk bersiap. Dari melayani Samuel, dan mengurus dua anak yang sudah mulai aktif. Semua orang rumah pun mewajarkan hal itu.
Terlihat Samuel dan Shireen serta dua anak mereka, tengah menuruni tangga. Dengan heboh, Azel dan Azriel berlari menghampiri Eyang dan Omahnya berlomba, hanya ingin mendapat sebuah morning kiss dari mereka.
"Cucu Eyang tersayang ...." ucap Dika mengecup mereka satu persatu.
"Aaaah, Omah telat mencium kalian. Eyangmu menang hari ini!" ucap Yuri bergantian.
"Morning Kak Sam, Morning Kak Shireen ...." ucap Diksel, Lia dan Lisa secara bersamaan. Sebutan kakak itu, membuat Liyu jengah dengan keakraban mereka, terlebih ada anaknya juga yang menyebutnya.
Sedangkan, Lia dan Lisa? Percayalah kedua gadis itu memanggil dengan sebutan kakak hanya di depan keluarganya saja. Mungkin karena tidak terbiasa, jadi mereka lebih nyaman seperti biasa dengan panggilan nama.
'Aku muak dengan ini,' batin Liyu.
"Morning," balas Samuel.
"Pagi juga," balas Shireen dengan senyum khasnya.
Samuel merangkul pinggang istrinya untuk duduk bersama. Namun tiba-tiba Shireen menekap mulutnya. Dengan terburu-buru perempuan itu beranjak dari tempat duduknya, kemudian ia berlari menuju ke kamar mandi.
"Shireen kenapa?" tanya Dika.
Samuel pun langsung ingin menghampirinya. Namun, Lia berkata dengan menahan senyumnya, "Ohh ... pantes aja, ada buah pisang di sini ...."
"Pisang? Kenapa?" tanya Dika terheran. Sementara yang lain, hanya menyimak.
"Aku juga tidak tahu, tiba-tiba istriku mual jika melihat buah itu," jelas Samuel.
"Sebenarnya ada apa dengan istrimu?" tanya Yuri.
"Sepertinya, kau harus panggil Dokter. Bisa jadi itu, gejala kehamilan."
"Hamil?" semuanya bertanya dengan serempak.
"Astaga, kenapa aku tidak kepikiran sampai situ?" gumam Samuel.
Bersambung ....
__ADS_1
Yuk isi komentar dulu, review sesuai perasaan kalian, saat baca cerita ini ....