Ibu ASI Untuk Bayi Om Duda

Ibu ASI Untuk Bayi Om Duda
S3. Menikahlah dengan Mami, Ayah!


__ADS_3

Ting nong ....


“Lanjutkan sarapanmu, biar mami yang membukanya!” Azel segera berlari dengan perasaan yang tak karuan, tetapi dirinya harus bersikap seperti biasa, seolah dunia ini asing di antara mereka.


Kini ia sudah menatap seorang pria dengan setelan kemeja, yang di mana jasnya diselempangkan di tangannya. Begitu berkharisma, dan ya harum bau dari parfum mahal tercium amat menyengat. Ternyata Azel baru sadari, jika pria ini dari dulu tidak pernah mengganti wangi parfumnya.


“Hmm pagi.”


“Aku ingin kau tidak berbicara yang aneh-aneh tentang kita dulu, di depan anakku nanti!” cetus Azel.


Agha membalas dengan sebuah senyuman yang menggoda, bibir Azel pun seolah ingin ikut tersenyum juga. Hal itu membuat perempuan anggun ini melengos menutup salah tingkahnya. “Masih pagi Nona, aku belum ada tenaga untuk berbicara banyak!”


“Oh ... berarti, jika sudah ada tenaga banyak, kau mau bicara yang aneh-aneh? Sebenarnya maumu apa?” tegas Azel.


“Tidak, bukan seperti itu ... astaga, aku baru sampai sudah diintrogasi,” balasnya tetap menampilkan senyum.


“Ya sudah masuklah!”


Akhirnya Agha pun mengekori Azel dari belakang. Lagi-lagi dengan wajah cerah dan senyuman merekahnya yang tak putus-putus.


“Morning Baby!”


“Pagi Ayah ....”


Abel menarik Agha untuk duduk bersampingan dengannya, kala itu Abel langsung diberi kecupan di dahinya.


‘Astaga aku tidak menyangka ini. Mereka seolah seperti ayah dan anak sungguhan. Tidak boleh dibiarkan, Agha ini terlalu pandai dalam mengambil hati. Jangan sampai anakku menjadi sangat luluh dengannya,' batin Azel terus memantau tingkah mereka.


“Ayah belum sarapan ‘kan? Ini semua masakan Mami lho Yah. Kita sarapan bersama ya!”


Agha menatap wajah Azel yang tampak begitu tak menyukai kehadirannya. Namun, bukan merasa tak enak hati, pria itu justru sangat ingin membuatnya kesal.


“Boleh dong, kebetulan ayah dari kemarin belum makan,” jawab Agha seadanya.


“Kenapa belum mati?” Refleks Azel menyahut. Posisi itu ia sedang menyiapkan jus.


“Ihh Mami!”


“Eh maksud mami gini lho Sayang ... kemarin anak kelinci mami tidak makan seharian, langsung mati.” Azel mengelak, lalu ia menggerutu pelan, “dan kenapa pria itu bisa tidak mati, tidak makan dari kemarin...?” geramnya.


Agha tersenyum, ia dapat mendengarnya. Sungguh Azel benar-benar terlihat tidak menyukai keberadaannya di sini.


‘Dari dulu membuatmu kesal adalah hal yang menyenangkan bagiku,' batin Agha.


“Ayah biar Abel sendoki ya? Harus makan yang banyak, karena mendengar ocehan mami itu butuh tenaga,” sindir Abel.


“Astaga sialan sekali.”


Azel menghampiri meja kembali setelah ia membuat minuman. Kini ia membawa satu teko mini berisikan jus wortel, siap untuk dituangkan ke dalam gelas. Yaa itu ia sediakan untuk Agha.


Namun, sesaat ia sudah menuangkan jus wortel itu, tiba-tiba Abel dan Agha serempak berdiri.


“MAMI!”


“AZEL!”


Serempak juga mereka berucap sembari menutup hidung. Azel pun tercengang dengan reaksi mereka. Baru ia sadari, jika anaknya itu memang tidak menyukai bau wortel. Namun, kenapa dengan Agha?


“Mami ‘kan tahu Abel tidak suka wortel. Mual ....” ucap Abel marah-marah.


“Mami tahu, tapi ini mami sediakan untuk Pak Agha,” balas Azel masih sedikit terheran.


“Maaf aku alergi dengan wortel, aku tidak suka dengan baunya,” ujar Agha.


“Hah?”


Mendadak Azel seperti orang bodoh, kini ia benar-benar tercengang dengan kesamaan dari mereka.


“Jauhi Mami!”


“Iya iyah!” Azel mengambil kembali jus kesukaannya itu. Lalu, ia berkata sembari berjalan, “Kalian itu aneh jus wortel itu sehat, banyak vitaminnya bahkan wanginya saja sangat sedap!”


“Berbeda Mami, itu karena kesukaan Mami ....”


“Kenapa selera kalian sama, sementara aku sebagai ibunya banyak perbedaan di antara kita. Aneh!” Perempuan itu kembali gabung ke meja. Kini sudah tidak ada lagi minuman itu. Keadaan pun normal kembali.


“Karena anakmu anakku juga.”


Seketika mata elang Azel keluar, ia berikan tatapan yang mengerikan itu untuk Agha, sementara pria itu sedang tersenyum dan tertawa bersama dengan Abel.


Deg!

__ADS_1


Tatapan menyalang itu terhenti, berubah menjadi nanar. Dentuman cepat di jantung Azel seakan tidak normal. Denyut nadinya menjadi nyeri, desiran darah pun mengalir menjalari tubuh.


‘Ya Tuhan kenapa aku melihat wajah mereka sangat serupa. Tidak mungkin suatu hal yang kutakutkan, menjadi sebuah fakta,' batinnya.


“Anak angkat maksudnya,” koreksi Agha seolah meledek. Lalu ia kembali terkekeh.


Tercetak jelas, lesung pipi di antara keduanya terlihat. Bahkan, lengkungan dan bentuk bibir Abel dengan Agha sangatlah sama.


***


Setelah menumpang sarapan di rumah Azel dengan senang karena perut kenyang, Agha pun menghantar Abel bahkan ia juga yang menjemputnya nanti.


Namun, setelah ia kembali ke kantor semuanya berubah menjadi suram.


Dengarlah ini ....


“Agha Sayang ..., nanti malam kita ada pertemuan antar keluarga lho, katanya mau ngebahas pernikahan kita. Aduh ... gak sabar deh!” ucapnya terdengar bermelodi nyeleneh.


“Sayang ... kau siap 'kan?”


“Hmm.”


“Sayang kau senang ‘kan?”


“Hmm.”


“Aghafa Luis ....”


“Hmm.”


“AGHA!”


Ya, inilah yang membuat suram di dalam kehidupan Agha. Kenapa ia bisa disangkutkan beban pengganggu wanita ini. Seumur-umur ia tidak pernah melakukan kesalahan fatal, sampai harus dipertemukan makhluk aneh ini baginya.


“Elena tolong, aku sudah pusing dengan pekerjaan ini ditambah harus mendengar kicauan mulutmu itu!” geram Agha merasa sangat jengah.


“Kicauan-kicauan ... memangnya aku burung. Kau saja, kenapa tidak ada respons selain ‘hmm’!”


“Aku sibuk, sebaiknya kau harus pergi!”


“Tidak mau Sayang ....” Perempuan itu menghampiri dengan manja, lalu bergelayut seperti ulat bulu cabai. Amat tertekannya Agha. Sangat terlihat dari ekspresinya.


“Ah ya, kau saja tahu. Memang cerdas kau babu!” sambar Elena.


“Maaf Nona, saya bukan babu. Tolong jangan panggil saya dengan sebutan itu!” balas Gafin tetap menampilkan senyumnya.


“Terserah, kau ‘kan memang babu. Kalau orang yang disuruh-suruh itu namanya apa?”


“Asisten, bukan berarti babu!” Kali ini Gafin sedikit tegas. Sementara, Agha benar-benar sangat kesal saat ini. Ia tertekan dengan Elena yang seperti materai sepuluh ribuan. Menempel seperti lem kertas.


“Terserah kau, yang disuruh-suruh itu tetap babu namanya. Lagipula mau-mauan diperintah!”


Sudah ingin keluar kata selanjutnya untuk membalas, tapi Agha seperti memberi intrupsi agar mengiyakan saja. Alhasil hati yang bicara, ‘Jika bisa kumakan, sudah kutelan bulat-bulat wanita ini,' gerutu batinnya.


“Sudahlah. Aku ingin membelikan sesuatu untuk anakku. Kau urus dia, dan untuk pertemuan yang direncanakan itu segera batalkan. Aku tidak ada waktu!” Agha menepis tangan Elena yang terus menggelayutinya, lalu ia berjalan seperti khasnya yang selalu gagah dan berkharisma melawati mereka begitu saja.


“Tapi Tuan, ingat ini baru jam berapa? Sepertinya nona manismu masih belajar,” imbuh Gafin.


“Bukan hanya anaknya, karena aku juga akan mendekati ibunya. Jadi, aku mau menyempatkan waktu untuknya terlebih dahulu.” Tampak jelas senyum segar dari pria itu, Gafin pun hanya membalas dengan sebuah hormat kecil dibarengi dengan kedipan matanya. Pertanda ia setuju.


“Agha tega sekali kau!” teriak Elena seperti merengek.


Baru ingin mengejar, tiba-tiba tangan perempuan itu sudah lebih dulu dicekal hingga mengurungkannya. “Lepaskan, berani sekali kau menyentuh kulitku!”


Elena mengibas-ibas, seolah ada debu di bekas cekalan tangan Gafin. Lalu, ia menatap kesal kala pria itu berjalan slow mengelilingi posisinya.


“Elena ... Elena ... sebenarnya kau itu wanita cantik. Jika dilihat dari segi fisik dan penampilan, kau itu sangat berkelas bahkan nyaris sempurna. Tapi ... tingkahmu itu yang minus, siapapun pria pasti tidak akan tertarik. Tetap saja kau tetap terlihat jelek di mata pria manapun, termasuk aku dan Tuan Agha!”


Ujaran yang terdengar seperti sebuah penilaian itu, membuat Elena melotot. Pasalnya ia merasa seperti disanjung, tapi dijatuhkan kembali.


“Heyy tidak ada hak kau berbicara seperti itu. Siapa kau? Babu berlagak boss!” cemoohnya.


Gafin menarik napas dengan jengah, ia memutuskan untuk mengakhiri argumen yang tidak bermanfaat itu. Ia tahu akhirnya nanti, jika masih melayani wanita ini.


“Terserahmu saja, emasku akan terbuang banyak jika melayani pembicaraan dengan wanita ceriwis sepertimu!” Gafin berjalan menghindari makhluk itu, tetapi lagi-lagi sahutannya membuat ia terpaksa menghentikan langkahnya.


“Tapi Babu, sebenarnya Agha itu mau kemana? Aku merasa sangat diasingkan sekarang!” ucapnya kesal.


“Nona, apa kau tidak dengar jika dia ingin memberikan waktunya untuk sang ibu Abel? Ya, jika kau ingin tahu siapa perempuan yang sangat dicintain oleh Tuan Agha, maka kau harus menjauhinya segera mungkin. Karena, wanita satu-satunya yang selalu dicintai dari dulu hanyalah nona Azel, ibu dari putri angkatnya, yaitu nona Abel!” tegas Gafin setelah itupun ia benar-benar pergi.


Ucapan itu ternyata memberat pikiran Elena. Tiba-tiba terlintas bayangan beberapa hari lalu.

__ADS_1


“Jadi benar, penyebab Agha galau itu karena perempuan yang aku ketahui  ibunya bocah kecil itu. Ternyata kesedihan Agha terlihat, bahwa ia kecewa dengan perempuan yang dilihatnya sudah digandeng pria lain. Aduh kasihan sekali my love-loveku itu,” gumamnya.


***


Di sekolah.


“Ayah .....” Gadis itu berlari tergopoh-gopoh seakan sudah tidak sabar ingin menyambut sebuah pelukan dari seseorang yang sudah merentangkan tangannya.


Agha dapat melihat senyum cerah anaknya. Mood bagusnya itu di mana, saat ia melihat lengkungan bibir dari Abel. Percayalah, emosional pria ini seakan terkontrol dari banyaknya masalah.


‘Astaga tak pernah terdeskripsikan kebahagiaan seperti apa, jika gadis ini benar-benar menjadi putriku. Lelahku hanya perlu diobati dengan senyumnya saja,' batinnya.


“Sudah lama ya? Kenapa ayah cepat sekali jemputnya?” ucap Abel.


Cup.


Abel pun mendapat kecupan di pipi.


“Karena aku tidak sabar ingin bertemu denganmu,' jawabnya setelah memberikan kecupan di pipi bulat Abel.


Abel hanya tersenyum malu-malu menanggapi itu. “Andai kau bisa tinggal bersamaku setiap hari, pasti lelahku hanya terobati dengan senyummu,” ucap Agha begitu dramatis.


“Ayah ... nanti yah nunggu Mami jadi suami Ayah dulu!”


Deg.


Belum sepenuhnya ia mengambil hati anak ini, ternyata sudah banyak lampu hijau yang ia dapatkan.


Agha terkekeh kecil, lalu membenarkan poni Abel. “Aku hanya berperan sebagai ayah angkatmu, pria asing yang tidak sengaja bertemu, lalu nyaman dan kemudian menjadi keluarga. Abel ... mau bagaimana pun kau akan memiliki ayah yang menikahi mamimu nanti, aku akan tetap sama pada peranku, hanya menjadi ayah angkatmu,” ungkapnya.


“Tapi Ayah jika bisa memilih, Abel lebih setuju jika ayah benar-benar jadi papi Abel. Menikahlah dengan mami ....”


“Tidak akan bisa Sayang ... setujui saja pilihan mamimu. Selalu dekat dengan kau saja itu sudah cukup bagiku, tidak harus mendekati mamimu juga.” Pria itupun kembali terkekeh.


***


Di tempat lain.


Pertemuan antara asisten dengan paman dari Agha kini tampak terlihat. Niat hati ingin bertemu dengan sang keponakan, tapi sayang ia hanya bisa dipertemukan dengan asistennya.


Zexandra atau kerap kali disebut Zex si pria bertutur harta. Kenapa ia diberi julukan itu? Ya, karena pria paruh baya ini selalu mempunyai banyak cara untuk meningkatkan kekayaan. Dari itu dengan cara yang bagus, sekalipun secara tidak wajar.


Zex adik dari Abran yaitu ayah Agha. Karakter keduanya sangat bertolak belakang, karena keduanya bukanlah saudara kandung.


“Apa segitu sibuknya bosmu mengurus harta kakakku?” ucapnya sembari menyesap kopinya.


“Yaa seperti itulah Paman, kau ‘kan tahu bagaimana banyaknya aset yang ditinggalkan oleh bapak Abran,” balas Gafin ikut menyesap kopinya. Terlihat dari lengkungan bibinya yang tersembunyi dibalik cawan, ada seringaian kecil di sana.


Tatapan Zex meremeh, “Hmm dia itu sebenarnya tidak ada hak untuk itu. Akulah yang berhak, tapi sayang kakakku itu lebih mengatasnamakan anaknya dibanding aku!”


‘Sudah tua bukan memikirkan usia, selalu harta yang diutamakannya,' batin Gafin.


“Pantas-pantas saja Paman, dia ‘kan anaknya. Sementara Paman hanya seorang adik,” balasnya.


“Anak?” Dia bertanya, lalu pria paruh baya itu tertawa terbahak-bahak, “Hahaha anak dari mana? Istrinya mandul, sementara benihnya tidak normal. Anak muda jaman sekarang banyakan tidak tahunya,” kekehnya. Lalu ia menyalakan rokok dan mengepulkan asapnya, seketika ia menetralkan kembali suasana.


‘Aku bisa gali informasi tentang identitas Tuan dengan pria tua ini. Baiklah aku harus cermat-cermat dalam menanggapi ucapannya,' ucap hati Gafin.


“Paman bolehkah beritahu aku tentang semua maksud itu. Ya, aku adalah anak muda yang terlalu naif untuk memperbanyak pengalaman. Aku ingin banyak tahu, tapi dari mana aku harus mencari itu?” jawabnya.


Lagi-lagi Zex tersenyum meremeh. “Berapa lama kau menjadi asisten keponakanku?” tanyanya.


“Sekitar Lima tahunan. Belum lama sebelum Pak Abran tiada, aku diminta beliau untuk menggantikan Pak Derto yang ingin pensiun,” balas Gafin.


“Pantas saja, masih orang baru. Kau belum tahu siapa identitas Aghafa. Dia hanya seorang anak pungut yang beramesia permanen.”


Gafin menenggakkan punggungnya, ia mulai serius dan merasa ini adalah informasi baru. “Bisa lebih detil lagi Paman?” pintanya.


“Aghafa hanya anak asuh bertemu ketika sudah besar. Dia dipungut saat kakakku sedang dalam perjalanan di sebuah jurang dengan kondisinya yang begitu mengenaskan,” jelasnya.


Pria tua itu menyesap kopinya sedikit, lalu kembali melanjutkan ucapannya, “Jujur, kakakku itu ingin dia menjadi penerus kedudukannya. Sementara, dia tidak memiliki seorang anak di usianya yang sudah menua. Pantaslah Aghafa itu menjadi pria kaya raya saat ini, karena itu semua hanya sebuah harta turun temurun. Mungkin jika dia tidak menjadi anak kakakku, sudah kupastikan hartanya jatuh ke tanganku sebagai pewarisnya.”


'Pria tua ini benar-benar sangat gila harta,' batin Gafin.


“Tapi Paman, kejadian apalagi sebelum tuan Agha bisa sampai diadopsi?”


"Kronologinya seperti ini, dia jatuh dari jurang dengan luka tembak di lengannya, selain itu ada benturan keras di kapalanya juga, dan itulah yang menyebabkannya amnesia sampai dia tak ingat siapa jati diri dia yang sebenarnya. Aku sangat yakin, jika Agha itu blasteran yang memiliki orang tua di luar negeri.”


'Pantas, tuan Agha memang memiliki wajah yang asing. Sepertinya sulit untuk memecahkan teka-teki tentang kepribadian yang sebenarnya dari tuan ini.'


“Tapi ada satu fakta tentang keponakan itu, yang sampai saat ini belum ada siapapun yang mengetahuinya kecuali aku dan ....”

__ADS_1


__ADS_2