Ibu ASI Untuk Bayi Om Duda

Ibu ASI Untuk Bayi Om Duda
S3. Abel Hilang


__ADS_3

Azel baru saja diberi kabar oleh pihak sekolah. Hatinya seperti terhantam beribu batu, bahwa anaknya hilang sudah seharian.


“Xander hikkss anakku hilang, bisa kau membantuku? Keluargku sedang di luar negeri sementara aku tidak bisa ada yang bisa membantu, hanya kau, hikksss ....”


[Astaga, kau tenangkan diri dulu Sayang ... atur kesabaranmu, biar kukirim orang-orangku dari sana untuk mencari Abel]


“Bagaimana denganmu? Apa kau tidak bisa ke sini untuk menemaniku mencari?”


[Maaf Azel, papahku sedang sakit. Semoga kau mengerti, aku tidak bisa ke sana. Bukan berarti aku tidak perduli dengan anakmu, tapi kondisi papahku lebih membutuhkan di sini. Aku kirim semua anak buahku di sana untuk membantu mencari]


Setelah mendapat jawaban dari sang kekasih, Azel terduduk lemas, ia memejam dengan air mata yang berjatuhan menahan isak tangisnya.


“Baiklah.” Azel tetap terdengar tenang, bahkan sampai ia menggigit jarinya untuk menahan suara.


Blup.


Telepon pun terputus.


Azel benar-benar nyesak saat ini. Terpaksa ia harus memberitahu kedua orangtuanya. Walaupun sebenarnya sangat berat, tetapi ia tidak punya pilihan lain.


Sudah hampir ingin memberitahu, tiba-tiba sosok pria datang mengejutkan.


“Azel kau di mana!”


Azel seperti mendapat cahaya, ia berdiri dengan tertatih lalu berteriak, “AGHA ....” Karena memang keberadaan Azel di dapur saat ini, ia tak mengetahui kedatangan pria itu.


“Agha tolong anakku, hikkss!” Agha berhasil menangkap tubuh Azel yang sudah sangat lemah.


“Tenangkan dirimu dulu Azel, nanti kita cari sama-sama!”


“Aku ingin mencari sekarang, aku mohon bantu aku!”


Agha membawa Azel ke pelukan, berusaha untuk menenangkan kekhawatiran perempuan itu. “Tenanglah dulu, jangan terburu-buru. Aku sudah lapor polisi, dan beberapa anak buahku sedang mencari,” ucapnya.


Tiba-tiba Azel memberontak, semakin tertahan semakin menjerit perempuan itu.

__ADS_1


“SEMUA SAMA SAJA, TIDAK BISA MENGERTI PERASAANKU. ANAKKU HILANG, TAPI KAU HANYA MENYERAHKAN TUGAS ITU DENGAN ORANG LAIN, DI MANA RASA PEDULIMU!” Azel berteriak begitu lantang.


Sudah ingin nekat untuk pergi mencari, tetapi Agha sudah lebih dulu cekatan mencekal tangannya, bahkan pria itu berhasil menggendongnya.


“Jangan gegabah!”


Azel memukul-mukul keras dadanya, tetapi tak berasa bagi Agha. Pria itu justru mencari letak kamar. Setelah menemukan, ia mengunci rapat-rapat pintunya. Lalu, ia rebahkan perempuan itu.


“Bukan tidak perduli, tetapi daerah di sana sangat berbahaya. Tidak perlu gegabah, kita cari nanti setelah kau baikan!”


“Agha aku baik-baik saja, tidak perlu mengkhawatirkanku. Seharusnya yang kau khawatirkan keadaan anakku saat ini. Aku mohon, bantu aku mencarinya sekarang .... hikksss ....”


Begitu terisaknya Azel, sampai suara perempuan itu melirih. Permohonan yang tak bisa ditolak itu, membuat Agha tergerak. Tetapi, ia juga cemas dengan kondisi perempuan itu yang memang sangat lemah kini.


“Baiklah, ikut aku sekarang. Kita cari sama-sama!”


***


Sebelum mendatangi lokasi, Azel sudah lebih dulu dikabarkan bahwa semua siswa-siswi yang lain sudah kembali ke tempat tinggalnya masing-masing. Ia pun dimintai untuk mengunjungi sekolah terlebih dahulu.


Azel segera menghampiri kepala sekolah, dan beberapa penjaga di sana. Kini ia pun sudah menghadap mereka.


“Maaf Buk atas kelalaian kami, tapi kronologi Azel hilang tidak ada yang mengetahui sebelumnya, bahkan semua teman-temannya memang sedang berkumpul bersama. Kemungkinan Abel hilang karena tersesat sendiri. Kami akan tetap bertanggungjawab untuk mencarinya. Mohon bersabar dan mengerti,” ucap sang kepala sekolah.


“Baiklah, aku mohon temukan anakku hikkss ....”


Agha tak hentinya memeluk, agar ketenangan untuk Azel tetap terjaga, wanita ini seakan sudah frustasi. Kehilangan seorang bukanlah hal kecil. Berlian yang jatuh saja akan disayangkan, apalagi jika bisa hilang. Serugi-ruginya perasaan orangtua adalah, kehilangan sang buah hatinya.


“Tim kami sedang mencari, mohon untuk bersabar. Kami yakin Abel hilang tidak jauh dari lokasi,” ujar kepala sekolah itu lagi.


Agha menyahut, “Baik Pak terima kasih. Kami harap kejadian ini tidak terjadi lagi, dan tolong perketat kembali keamanan dalam kegiatan semacam ini, agar tidak ada korban selanjutnya,” ujar Agha.


“Baik Pak!”


Agha dan Azel pun memilih untuk pergi dari sini. Ia memutuskan untuk ikut mencari Abel.

__ADS_1


Sampai malam tiba.


Lokasi tempat di mana acara perkemahan itu terjadi, sudah mereka kelilingi, bahkan di tengah hutan malam-malam seperti ini Azel seakan tidak putus asa untuk tetap mencari.


“Abel kamu di mana Sayang, ini Mami Nak ....!!” Azel terus berteriak berulang kali dengan kata-kata ya sama. Sudah terdengar serak suara perempuan itu, sementara kondisi dan penampilannya saat ini benar-benar sudah terlihat berantakan.


“Azel sudah, kita lanjut besok ya. Kau sudah sangat lelah, kita pulang sekarang!”


“Aku masih semangat Agha, aku belum lelah sampai anakku ditemukan!” Terdengar gemetar suara perempuan itu, serasa ingin menangis tapi tak bisa ia keluarkan.


“Sudahlah, pentingkan kesehatanmu dulu. Biar mereka yang bertanggungjawab untuk mencari Abel,” bujuk Agha.


Akhirnya Azel tumbang juga, ia begitu lemas terlebih seharian tadi mereka belum menyempatkan diri untuk mengisi perut. Karena kesibukan ini, mereka melupakan kesehatan masing-masing.


Azel terduduk lemas, dengan diiringi lirihan tangisnya. Sedangkan mulut wanita itu tak berhentinya menyebut nama sang anak. Agha pun tak tega, ia menggendong Azel untuk beralih pulang ke rumah untuk beristirahat.


“Agha di mana anakku hikkss ....” Suara Azel benar-benar sudah terdengar lirih, sampai sesaat kemudian perempuan itu sudah tidak sadarkan diri.


Agha segera membawa masuk ke dalam mobil, lalu pria itu langsung menuju ke tempat kediaman Azel.


Sampai mereka tiba, Agha terburu-buru membawa Azel masuk kamar. Setelahnya, ia segera menelpon sang dokter pribadi.


Sebelum dan sembari menunggu dokter datang, Agha yang tidak bisa melihat kondisi kumuh Azel, ia berinisiatif untuk menggantikan baju. Jika kalian mengira bahwa pria ini sedang mencari-cari kesempatan, maka hal itu tidak dibenarkan. Untuk kali ini yang terbesit di pikirannya, hanya kepentingan Azel.


“Astaga bagaimana ini?”


Agha terlihat bimbang untuk melakukan hal itu, dirinya hanya takut Azel tersadar sesaat ia sedang menggantikan pakaiannya. Siapapun pasti tahu bagaimana Azel, sudah tentu pria itu habis dicambuk olehnya. Terlebih ini tanpa sepengetahuan, kemungkinan akan menimbulkan kesalahpahaman.


Kemudian ia pun memutuskan untuk mengambil air hangat di sebuah wadah, lalu ia taruh kain kecil guna untuk membersihkan tubuh Azel, terlebih dahulu.


Di hutan belantara yang sangat semak, banyak sekali ranting-ranting yang terselampir tajam, membuat Azel kotor atau bahkan melukainya, dan itu Agha tidak bisa biarkan untuknya tidur dalam kondisi seperti ini.


Saat sudah memegang kancing baju teratas Azel, tiba-tiba Agha menghentikan kegiatannya. Ia terlupa akan sesuatu.


“Astaga lampu, aku harus memastikan lampu!”

__ADS_1


__ADS_2