Ibu ASI Untuk Bayi Om Duda

Ibu ASI Untuk Bayi Om Duda
S3. Abel Tak Kunjung Sadar


__ADS_3

“Bisakah kau jauhi dia, dan jangan pertemukan lagi dengan putrimu?”


Ucapan tegas dari Azriel mampu menciutkan nyali Azel. Namun, ia menyadari sikap adiknya itu sangat membuat pertentangan.


“Azriel kenapa kau sangat menentang aku dan putriku? Apa hanya karena wajah Agha kau samakan dengan pria bajingan itu? Dia sudah mengakui jika bahwa dirinya berbeda dan dia tidak tahu apa-apa. Kau pun sudah tahu asal keluarganya. Hilangkan rasa kebencianmu Azriel, mau bagaimanapun dia tetap orang yang berbeda!” tegas Azel menekan kata terakhirnya.


Azriel seketika terdiam.


Tiba-tiba suara seseorang berkata terdengar, “Itu karena dia tidak ingin kau tahu Nona, bahwa putrimu adalah anak kandung majikanku!”


“Siapa kau?!” tanya Azriel saat Gafin tiba-tiba menyahut. Ya, ternyata pria itu telah mendengar semua pembicaraan mereka.


“Gafin apa yang kau katakan itu?” tegur Azel.


“Tuan Azriel yang terhormat, jika ingin tahu siapa saya. Buatlah perjanjian untuk kita bertemu. Aku mengetahui semuanya, jika Anda merasa penasaran siapa saya. Temuilah di tempat club yang pernah Anda jual dengan sahabat Anda!”


Gafin cukup banyak membuat tanda tanya di benak pria itu. Sialnya pemuda yang amat cerdik itu langsung meninggalkan mereka, hingga tak ada ucapan lagi melainkan tergantungnya pertanyaan ia.


“Siapa dia?”


“Asisten Agha!”


‘Pemuda itu sepertinya bukan orang sembarang. Baiklah dia ingin bermain-main denganku. Ini akan seru jika dia ikut mati bersama dengan tuannya,' batin Azriel.


***


Malam hari.


Azel masih setia menjaga, ia belum mau sama sekali beranjak dari tempat tidurnya. Keluarganya pun sudah ingin berpamitan untuk pulang, kini tinggallah dia sendiri.


Namun, sebelumnya Shireen sang Mommy berpesan, “Jangan terlalu capek ya Sayang ... istirahatlah sejenak di rumah. Nanti kau bisa kembali lagi.”


“Baik Mommy.”


“Tenangkan pikiranmu, Abel akan baik-baik saja!”


“Iya Dad. Terima kasih karena kalian mau menemani.”


Azriel, dan Ina beserta anaknya hanya bisa memberi senyuman untuk rasa menyemangati perempuan itu. Kemudian, mereka pun meninggalkan.


Azel menghela napasnya, lalu menatap intens sang putri yang masih terbaring lemah di atas brankar sana. Berharap, gadisnya itu mau membuka mata dan tersenyum kepadanya.


Namun, lagi-lagi hanya menjadi harapan. Sungguh penyesalan terbesarnya, hanya bisa ia rutuki.

__ADS_1


Sampai beberapa saat rasa kantuknya menyerang, memberatkan mata seolah ingin sekali terpejam. Azel melayap beberapa saat. Tetapi perempuan itu kembali membuka matanya sayu itu dengan dibarengi helaan napas.


“Belum juga bangun. Anak ini tidurnya lama sekali, setidaknya bangun untuk memberi kabar baik. Ah anak ini begitu menyebalkan dari biasanya,” gerutu perempuan itu berceloteh sendiri.


Sampai beberapa saat kemudian, datang seorang pria dengan membawa kantung plastik yang cukup banyak di tangannya.


“Agha ....” Entah seperti respect yang spontan, Azel menunjukkan kebahagiaannya saat pria itu datang.


“Bagaimana dengan keadaan Abel?” tanya Agha setelah memberikan kecupan hangat di keningnya.


“Belum ada perubahan,” jawab Azel. Seketika Agha menatap ketenangan wajah Abel dengan ditutupi berbagai alat infus.


‘Nasib baik dia datang tepat saat mereka sudah balik tadi,' batin Azel.


“Aku tahu kebiasaanmu. Kau selalu melupakan waktu makan. Kebetulan, aku juga belum makan. Kita makan bersama,” ajak Agha langsung mempersiapkan makanan bawaannya.


“Tapi Agha, aku tidak ingin makan. Kau saja. Aku tidak nafsu!” tolak Azel.


Agha merapatkan posisinya, lalu menarik pinggang wanita itu untuk semakin mendekat. “Jika aku sudah suapi kau pasti ketagihan!”


Azel melengos tatkala Agha sudah siap melayangkan suapan pertamanya, hingga pria itu menurunkan tangannya. “Azel jika kau terlalu berlarut sedih seperti ini, itu menambahkan beban semua orang. Jika nanti Abel sadar, dan justru kau yang menggantikannya bagaimana? Makan itu penting, jangan sampai telat!”


Ya, pria itu mengulangi ucapan dokter kemarin. Di lain sisi Azel justru tidak terima mendengar kata beban yang terlontar. “Maksudmu aku beban gitu?”


Agha menganggukkan kepalanya spontan, sampai membentuk wajah tidak senang dari air muka wanita itu. “Ya sudah pergilah, aku tidak butuh bantuanmu. Tidak ada yang memintamu untuk menemaniku!” sergahnya.


Seketika Azel melemah. Ia mengingat kembali ucapannya tadi. Kata yang terucap, ‘Aku tidak membutuhkanmu’ tanpa sadar ia melupakan bahwa darah yang mengalir di selang infus itu putrinya, adalah darahnya. Tiada bantuan sebesar itu yang dilakukan secara sukarela, oleh orang yang tidak memiliki hubungan sebelumnya.


“Maafkan aku Agha. Bukan maksud aku melupakan kebaikanmu, tapi percayalah kau pasti bagaimana posisiku saat ini,” jelas Azel lirih.


“Aku paham, aku sangat mengerti bukan hanya kau yang merasa di posisi itu, tapi ingatlah aku pun merasakannya. Pentingkan kesehatanmu juga,” ujar Agha menaikkan kembali suapan yang ada di tangannya.


“Buka mulutmu!” Akhirnya Azel menerima suapan itu. Agha pun tersenyum, ia juga menyuapkan makanan itu dengan sendok yang sama.


“Kenapa tidak diganti sendoknya?”


“Akan lebih nikmat jika makan dengan sendok bekas seseorang.”


“Astaga!”


***


Keesokan harinya. Gafin benar-benar membawa bossnya itu untuk mengunjungi rumah sakit tempat sang sahabat bekerja.

__ADS_1


Ya, mereka ingin menemui Reno untuk sekedar menanyakan seputar kesehatan daya ingat tuannya.


“Ren, ini bossku. Jelaskan bagaimana cara memulihkan ingatan!”


“Baiklah selamat pagi, Pak. Saya Reno. Di sini saya akan menjelaskan tentang seputar kesehatan daya ingat,” ucap Reno membuka pembicaraan. Agha pun langsung menyimak dengan keseriusannya.


“Amnesia disebabkan oleh kerusakan pada bagian sistem limbik yang ada di otak. Sistem limbik merupakan bagian yang berperan dalam mengatur ingatan dan emosi seseorang. Menurut info yang saya dapat dari Gafin, Bapak mengalami Amnesia retrograde,” jelas sang dokter.


Lalu ia melanjutkan, “Kondisi itu, siapapun si penderita tidak bisa mengingat informasi atau kejadian di masa lalu. Gangguan ini bisa dimulai dengan kehilangan ingatan yang baru terbentuk, kemudian berlanjut dengan kehilangan ingatan yang lebih lama, seperti ingatan masa kecil.”


“Apa itu termasuk permanen Dok? Aku ingin memulihkan kembali ingatanku. Apa itu bisa?” tanya Agha.


“Bisa saja, tentu harus melalui proses yang dilakukan, seperti terapi okupasi. Terapi ini bertujuan untuk membantu pasien mengenali informasi baru dan memanfaatkan ingatan yang masih ada. Sebelumnya saya mau tanya, apa ada sisa ingatan Anda di beberapa tahun silam?”


“Aku hanya ingat, setelah bangun koma ada seseorang yang tak kukenali menanyakan siapa namaku. Aku tidak tahu, tapi dia langsung menyebutkan namaku Aghafa semenjak itu aku juga menyebutnya ayah. Ternyata, aku bukan bagian dari keluarganya. Mendengar cerita, bahwa aku telah ditemukan dalam kondisi kecelakaan yang mengakibatkan koma berbulan-bulan.”


Dokter tampan bernama Reno itu seketika menatap Gafin, yang masih sibuk menyimak. Mereka pun saling menatap, lalu kembali lagi dilayangkan tatapan yang seolah sebuah pertanyaan itu, ke pada Agha.


“Ada lagi Pak? Apa sekarang mulai merasakan ingatan itu kembali? Jika diprediksi, ingatan Bapak hilang berawal dari kecelakaan itu.”


“Tidak. Tetapi semenjak aku mencari keberadaan anakku di hutan kemarin, akhir-akhir ini aku jadi merasa aneh karena banyak sekali bayang-bayangan buram yang tiba-tiba menghampiri pikiranku.”


‘Jangan-jangan hutan itu ada keterkaitannya dengan peristiwa yang dialami oleh tuan, sebelum Pak Abran menemukannya?’ batin Gafin.


Tiba-tiba datang ingatan Gafin, akan ucapan sang paman dari bossnya itu beberapa waktu kemarin. ‘Kronologinya seperti ini, dia jatuh dari jurang dengan luka tembak di lengannya, selain itu ada benturan keras di kapalanya juga, dan itulah yang menyebabkannya amnesia sampai dia tak ingat siapa jati diri dia yang sebenarnya. Aku sangat yakin, jika Agha itu blasteran yang memiliki orang tua di luar negeri.’


‘Astaga apa jurang yang dimaksud ucapan paman waktu itu adalah jurang yang sama dengan kejadian Abel? Ini benar-benar sangat kebetulan. Aku yakin kronologi Tuan di temukan itu ada di sebuah batu yang sama,' ucap batin Gafin menerka-nerka.


“Tuan apa Anda merasakan hal yang aneh juga di batu besar itu?” tanya Gafin.


“Ya Gaf, bukan hanya itu, jalan yang bertanjak itupun aku tak merasa asing, padahal sebelumnya aku tidak pernah sama sekali lewat sana,” ungkap Agha.


Gafin seperti mendapat satu cahaya jalan keluar untuk menjawab rasa penasarannya, akan masa lalu sang tuan. ‘Esok akanku bawa Tuan untuk mengunjungi tempat itu lagi,' batin Gafin.


“Lanjutlah Dok!”


“Baik. Selain terapi okupasi, ada cara lain juga. Seperti obat-obatan, yaitu sering mengonsumsi suplemen vitamin untuk mencegah kerusakan sistem saraf yang lebih parah.


Penggunaan alat bantu


Penggunaan alat bantu, seperti smartphone, telepon, dan agenda elektronik, juga akan membantu pasien mengingat aktivitas sehari-hari.


Selain itu, buku catatan dan foto-foto, seperti foto tempat atau foto seseorang, juga dapat digunakan pasien untuk mengingat kejadian atau orang sekitarnya,” jelas dokter itu sangat rinci.

__ADS_1


‘Ya, salah satunya tuan harus ingat siapa saja yang berada di dalam kejadian itu,' ucap hati Gafin. Lagi-lagi berceloteh seolah ikut mengintegrasi informasi yang ia dapat.


Note: Sumber Info seputar Amnesia dari google, yang dikutip dari Ala Dokter. Maaf jika ada yang salah.


__ADS_2