Ibu ASI Untuk Bayi Om Duda

Ibu ASI Untuk Bayi Om Duda
S3. Meratukan Abel


__ADS_3

Malam hari.


Azel sedang menunggu kepulangan sang putri, tapi tak kunjung kembali. Agaknya gadis itu merasa nyaman di rumah sang ayah. Wanita ini pun mulai cemas, karena ia takut jika hak asuh penuh jatuh pada ayah dari anaknya itu.


Tiba-tiba ada seseorang yang berkunjung, ia mengira jika itu anaknya tapi kenyataannya bukan. Itu sang adik yang berkunjung.


“Azriel ...”


“Apa dia datang ke sini?” tanyanya penuh selidik.


“Kemarin, aku masih kasih batas waktu sampai malam ini. Dia mengajak Abel menginap, aku tidak bisa melarang,” jelas Azel.


Azriel duduk di samping sang kakak. Pria tahu yang dirasakan kesedihan kakaknya, tampak terlihat dari wajah wanita itu. Namun, apa gunanya seorang adik jika tidak memberikan sebuah kehangatan hati. Bukankah itu yang dinamakan seiras? Tidak hanya wajah tapi juga harus perasaan batin.


Azriel menarik kakaknya untuk bersandar di dadanya. Ia memberikan ladang yang luas untuk sang kakak meluapkan rasa kesedihannya.


“Biarlah, kita lihat saja bagaimana perjuangannya membahagiakan Abel. Anggap saja dia sedang membayar waktu yang sudah terlewat,” ujarnya.


Azel sudah terdengar terisak di bawah sandaran sang adik, sementara Azriel sangat paham bagaimana perasaan kakaknya.


“Aku belum siap jika nanti dia mengambil hak penuh, untuk mengurus Abel, hikksss ...” ucap Azel.


“Tidak akan dia dapatkan itu, bahkan bergelar sebagai ayah saja dia tidak pantas!”


“Azriel kenapa dia masih ada? Kenapa kau merahasiakan semua ini? Aku yakin kau tahu sudah lama.”


“Ya, aku memang sudah tahu kebenaran dari Pak Abran sebelum beliau tiada. Aku tidak ingin Abel bertemu dengannya, tapi ketakutan justru benar terjadi. Mau bagaimanapun memang dia tetap ayahnya, tapi perbuatan dia sungguh belum bisa kuterima,” balas Azriel.


Azel kembali resah, sebenarnya ketakutannya hanya pada pria itu saat ini. “Aku ingin pergi jauh dengan membawa Abel, dengan begitu dia tidak bisa bertemu lagi. Aku terus ketakutan jika anakku benar-benar luluh, dan mau menetap dengannya,” paparnya.


“Untuk apa? Sebentar lagi kau akan menikah. Orang tua Xander dengan keluarga kita sudah buat perjanjian untuk berdiskusi soal pertunangan dan pernikahanmu. Aku yakin setelah ada orang baru yang menjadi ayah, Abel perlahan akan lebih luluh dengan calon suamimu. Dengan begitupula dia mundur, asal saja kau jangan mencoba-coba untuk jatuh cinta lagi kepadanya.”


Deg.

__ADS_1


Ucapan di akhir itu seperti sebuah sengatan listrik, entah kenapa ia merasa tidak bisa saat Azriel mengucapkan kalimat itu.


‘Ada apa denganku? Tidak mungkin aku mencintainya? Cepat sekali aku berpindah hati hanya karena perhatian penuh dari lelaki itu. Ya, Tuhan hindarilah rasa ini, aku tidak ingin menentang kenyataan yang kubuat sendiri. Ya, Xander akan tetap menjadi pendampingku,' batin Azel seperti meracau sendiri.


Sementara di tempat kediaman Agha.


Terlihat seorang gadis tengah asik dengan gadgetnya, sedangkan sosok pria yang memangkunya begitu tampak sedang mengamatinya.


“Berhenti main gamenya kita pulang sekarang!”


“Ah Ayah, masih betah. Besok aja, nanti Abel yang bilang sama mami!”


“Abel ayolah, tadi kau sudah janji dengan ayah. Pulang jika sudah waktunya!”


Abel merebahkan tubuhnya, seketika perasaan malas menggerayangi. Ia sudah sangat nyaman berada di rumah ayahnya ini. Namun, lagi-lagi harus terima kenyataan bahwa dirinya mempunyai orang tua yang berbeda kasta dan tempat kediaman.


“Sudah cukup bermanja-manja hari ini. Esok kau mulai sekolah kembali.”


“Ayah kenapa gak nikah sama mami?”


“Pertanyaan itu, tidak selayaknya diucapkan oleh gadis berusia sepertimu,” elak Agha.


Abel tiba-tiba berdiri menghadap sang ayah, memegang pundaknya, menatap iris matanya. Seketika Agha seperti terhipnotis dengan ayunya pandangan anaknya itu, seakan membuat dirinya luluh.


“Menikahlah Ayah, agar keluarga kita lengkap. Buat apa membuktikan semuanya? Jika pada akhirnya akan tetap sama. Abel mau Ayah yang menggandeng tangan mami nanti, bukan om Xander,” ujar Abel. Gadis itu seolah tampak dewasa terdengar.


Tatapan Agha terlihat begitu nanar, pikirannya mencerna ucapan anak gadisnya itu.


“Mengetahui kamu adalah anakku saja sudah amat senang, bagi ayah memilikimu bukan berarti memiliki mamimu juga.”


“Tapi Abel ingin ayah bersatu, bukan malah terpisah seperti ini? Abel sayang kalian, tapi Abel tidak bisa memilih salah satu di antara kalian.” Suara Abel mulai terdengar gemetar, gadis itu ingin menangis seperti seorang anak yang meminta sesuatu dengan orangtuanya, tapi berusaha ia tahan karena ia tak ingin permohonan itu menjadi paksaan nantinya.


“Jujur Sayang, ayah memang begitu mencintai mamimu. Sampai detik ini perasaan dari sepuluh tahun silam masih tetap sama. Mengetahui mamimu sudah milik orang ayah, tidak bisa apa-apa terlebih orang itu tidak dicintai. Terimalah calon ayah barumu, hargai dia sebagai orang yang mencintaimu. Akan tetapi, jangan pernah kau lupa diri dengan ayah,” tutur Agha sembari mengelus surai rambut anaknya.

__ADS_1


“Tidak, tidak akan pernah!”


Cup.


Kecupan manis mendarat tepat di kedua pipi gadis itu. Setelahnya Abel pun akhirnya mau diajak pulang.


Kini telah sampai mereka di depan gerbang. Agha tidak menepikan mobilnya di depan rumah Azel, ia masih segan untuk bertatap mata dengan perempuan itu.


“Sampai sini ya?”


“Kenapa? Takut ketemu mami yaaa?” ledek Abel.


“Tidak, hmm tapi ....”


“Abel mengerti. Yasudah, ayah baik-baik ya. Abel sayang Ayah!”


Setelah memberikan kecupan banyak di sekitar wajah Abel, Agha langsung berpamitan pulang. Namun sebelum itu, ia berpesan terlebih dahulu, “Jaga mamimu, jangan buat dia kesal. Ayah akan bertemu saat kau berada di sekolah saja, untuk menjemput di sini ayah tidak bisa.”


Abel berhormat layaknya seorang jenderal, ia juga berkata dengan lantang, ‘Siap!’ seketika mood ayahnya itu menjadi sangat baik. Sampai-sampai pria itu tidak bisa menurunkan bibirnya.


Sekarang Agha tahu apa arti bahagia sederhana seorang ayah. Ya, menyempatkan waktu walau sedikit untuk anak, tapi menciptakan sebuah momen. Bukan hal yang sulit, tapi keadaan yang memperumit.


***


Di dalam rumah Abel tiba. Ia melihat maminya sedang tertidur di atas sofa. Tak sampai hati ia untuk membangunkan, tapi mungkin ia membiarkan maminya tidur di tempat ini.


“Mami ....”


Refleks Azel membuka matanya, “Kau sudah pulang. Di mana ayahmu?”


‘Aneh. Ayah takut bertemu mami, sementara mami justru mempertanyakannya,' batin Abel.


‘Astaga kenapa aku malah bertanya keberadaannya. Bodoh!’ rutuk batin Azel.

__ADS_1


“Mami ngigo yaaa?”


__ADS_2