Ibu ASI Untuk Bayi Om Duda

Ibu ASI Untuk Bayi Om Duda
S2. Perkembangan yang Sangat Bagus


__ADS_3

"Masih proses Tuan, mungkin masih akan ada tahapan lagi untuk sembuh. Rutin saja jalani terapi ini," balas Ina.


"Coba bantu aku, aku ingin belajar melangkah sendiri!"


Ina memegang kuat telapak tangan Azriel, ia membantu pria itu untuk berdiri. Namun tiba-tiba ia kembali terduduk, karena Azriel tidak mampu menahan bobot tubuhnya sendiri.


"Masih terasa lemas ...."


"Sabar dulu Tuan, setelah ini kita kembali berlatih lagi di dalam!"


***


Di kantor.


Azel kedatangan seorang tamu di ruangannya. Ya, itu adalah Agha yang memang dirinya diundang untuk bertemu.


"Selamat siang Nona," sapa Agha memberikan senyum yang itu membuat Azel melengos menatapnya.


"Ya, siang Pak Agha. Duduklah!"


"Terima kasih."


"Langsung saja aku tidak mau berlama-lama." Azel mengucapkan kalimat tanpa menatap pria yang berada di hadapannya. "Saya ingin membatalkan kerjasama kita. Maaf, saya batalkan semua proyek yang akan dibangun nanti," ucap Azel.


Tentu saja menjadi suatu keterkejutan untuk Agha. "Kenapa?"


"Saya tidak bisa menjelaskan alasannya kenapa. Sebaiknya cari perusahaan lain saja. Kita anggap kerjasama ini selesai, dan terima kasih. Anda bisa keluar sekarang!"


Mendengar itu Agha merasa tidak terima, ia memegang pergelangan tangan Azel dengan kuat. "Apa ini karena hal pribadi?"


"Hmm, Pak ini di dalam kantor sebaiknya kita harus profesional!" Azel berusaha untuk tidak menatap wajah itu, tetapi sepertinya sangat sulit. Lagi-lagi Azel menurunkan harga dirinya dengan meneteskan air mata di hadapan pria itu.


"Sebegitu bencinya kau melihat wajahku. Seharusnya masalah seperti itu tidak kau campuri dengan pekerjaan!" tegas Agha semakin kuat mencengkram tangan Azel.


"Lepaskan tanganku, sakit!"


"Pekerjaan itu tidak penting, tapi kau tidak bisa menghargaiku. Aku hanya ingin selalu bersamamu, dengan kesibukan kita berdua dalam bekerjasama ini aku bisa melihatmu!"


"Maafkan aku Agha, aku hanya menghandle perusahaan ini. Aku bukan pemiliknya, tolong mengertilah!"


"Siapa pemilik perusahaan ini?"


"Adikku, Azriel. Dia saudara kembarku," balas Azel. Seketika nama itu terngiang di kepala Agha. Namun, tiba-tiba pria itu merasakan sakit di kepalanya terasa sangat kuat.


"Akhhh, kepalaku pusing!"


"Agha, kau kenapa?" Azel mulai cemas.


"Biarkan aku berlama di sini dulu," pintanya. Azel menuntun pria itu untuk duduk di sofa.

__ADS_1


Azel mengambil air putih. "Minumlah!"


"Terima kasih. Maaf, aku memang sering seperti ini, tiba-tiba pusing dan sakit kepala," jelas Agha.


"Kenapa tidak ke Dokter?"


"Sudah, tapi hanya ayahku yang tahu aku seperti ini, kenapa. Nona Azel, apa kau yakin dengan keputusan itu? Tidakkah masalah ini terlalu pribadi?"


"Maaf, aku hanya menuruti kata adikku saja."


"Aku ingin bertemu dengan adikmu."


"Tidak perlu, aku tidak akan membiarkan dia marah dihadapanmu karena mengingat semua yang aku alami dengannya."


"Baiklah, tapi izinkan aku menjadi temanmu."


'Agha, berpisah denganmu mungkin itu alasan Azriel memutuskan bisnis bekerjasama ini, tapi kau malah memintaku untuk berteman,' batin Azel.


***


Satu Minggu telah berlalu kembali. Tak terasa Ina bekerja sudah satu bulan lebih. Perkembangan Azriel pun sudah terlihat dan sangat bagus.


"Ayo Tuan satu langkah lagi!"


"Yahh, aku berhasil!"


Azriel langsung menubruk badan Ina, karena badannya belum terlalu bisa menahan. Namun, saat itu Ina selalu sigap menangkap lalu memeluk tubuh Azriel untuk menahan keseimbangannya.


"Sayang sekali aku tidak ada di momen itu," balas Shireen.


"Ya, waktu itu 'kan kau berpisah denganku dan kita dipertemukan lagi saat mereka sudah besar," balas Samuel.


"Sudah jangan mengingat masa lalu, kasian authornya jadi mikir tentang flashback kita!"


"Sudah tugas dia!"


Note: Maaf gak profesional 🙏😭


***


Minggu selanjutnya.


Hari ini kedatangan dokter Harlond. Ya, dia berkunjung seperti biasa, untuk mengecek perkembangan Azriel.


"Sangat bagus, tinggal tahap akhir dan saya tidak menyangka akan secepat ini proses penyembuhannya. Apa sebelumnya Tuan Azriel sudah pernah melakukan operasi?" tanya dokter itu.


Shireen menjawab, "Setelah kecelakaan itu, Azriel langsung ditangani rumah sakit dan dia koma beberapa bulan. Setelah sadar kita mendengar dia lumpuh. Kata Dokter, dia akan segera dioperasi tapi semenjak itu Azriel masih tidak bisa berjalan," jelasnya.


"Bahkan Dokter itu bilang lumpuhku permanen," sahut Azriel.

__ADS_1


"Sebenarnya tidak. Saraf dan otot-otot kaki akan berfungsi kembali, setelah melakukan operasi. Namun, masih lumpuh dan tidak bisa menggerakkan kaki mungkin memang wajar terjadi di masa pemulihan pasca operasi. Secara bertahap Tuan akan semestinya bisa kembali menggerakkan tubuh dalam beberapa minggu hingga beberapa bulan kemudian asalkan disiplin menjalani pengobatan, fisioterapi, dan terapi lainnya."


"Pantas saja, karena setelah operasi kau 'kan hanya mengurung diri di dalam kamar sampai tak terasa 4 tahun kau lumpuh!" cetus Samuel.


'Terus saja menyalahkanku!' gerutu Azriel dalam hati.


"Jadi bagaimana? Apakah dalam waktu cepat anakku bisa sembuh?" tanya Samuel.


"Ya, tentu saja. Seperti yang saya katakan. Tetap rutin minum obat, berlatih berjalan. Kemungkinan tidak akan lama lagi Tuan Azriel akan bisa berjalan normal."


'Yeaahhh akhirnya aku akan pulang dengan kebahagiaan. Nenek lihatlah anak asuh tua ini sudah bisa berjalan. Misiku akan selesai setelah melihat dia bertindak dengan gagah!' batin Ina.


"Syukurlah ...," ucap mereka bersamaan.


"Saya ingin melihat Tuan Azriel berdiri. Jika memang bisa merasakan kaki kembali, Tuan pasti bisa bergerak untuk melangkah!"


Saat ini Ina diminta untuk diam. Ia tidak akan membantu Azriel, karena pria itu ingin menunjukkan perkembangannya.


Sementara dalam hati Ina cemas jika Azriel akan terjatuh sebab tidak bisa menjaga keseimbangannya.


Azriel mulai menepakkan kakinya ke lantai dengan perlahan, dan ya pria itu berhasil berdiri dengan tegak. Dokter Harlond pun memberikan senyumannya.


"Coba melangkah!"


Perlahan Azriel menindak, walaupun masih terhunyung tapi ia mampu berjalan beberapa langkah. Hingga pada akhirnya mereka sama-sama menyaksikan Azriel berjalan secara lancar.


"Lihat Daddy Mommy. Kakiku sembuh!" ucap Azriel merasa senang. Ina tersenyum bersamaan dengan Samuel, sedangkan Shireen merasa terharu karena rasa bahagianya.


"Aku terharu." Perempuan itu memeluk suaminya lalu berucap lagi, "Mommy senang Sayang!"


Azriel tak berhenti untuk melangkah, kian lama langkahnya semakin ia percepat. Padahal, gerakan kakinya masih tidak beraturan dan saat ia ingin jatuh Ina pun refleks berteriak.


"Tuan ...!"


Gadis itu berlari, dan dengan sangat sigap berhasil menanggapi tubuh Azriel. Pemandangan yang mereka lihat saat ini, ialah posisi Ina yang memeluk badan Azriel.


"Hati-hati Tuan."


"Bantu aku berjalan ke kursi!" Ina pun memapah Azriel berjalan lagi.


"Gadis itu sangat cekatan," gumam dokter Harlond.


"Dia pengasuhnya Dok," sahut Shireen.


"Sangat gesit!"


"Ya, mungkin jika tidak ada gadis itu anakku tidak akan secepat ini pulih," ucap Samuel.


Bersambung ....

__ADS_1


Bentar lagi mau tamat lho ....


Masih belum ada yang komen:(


__ADS_2