
Di dalam kantor, Azriel masih menunggu Ina datang. Pasalnya ini sudah siang, jam istirahatnya sudah terlewat tetapi Ina sangat terlambat menghantar makan siangnya.
"Dia benar-benar gadis lola!" gerutunya.
Anggi datang memasuki ruangannya. Tiba-tiba wanita seksi itu berdiri di hadapan Azriel, lalu membusungkan dada besarnya ke arah Azriel. "Pak, apakah Bapak tidak ingin makan siang? Saya bisa membelikannya di kantin," ucapnya.
Beruntungnya Azriel acuh, tanpa ia sadari wanita itu sedang menunjukkan keseksian dan pesonanya.
"Tidak perlu. Lebih baik kau jaga di luar, jika ada perempuan yang datang dengan membawakan makanan, langsung hantar ke ruanganku," pesan Azriel.
"Perempuan siapa Pak?"
"Pembantuku!"
"Baiklah."
Anggi pun keluar dari ruangannya. Hingga beberapa menit setelah kepergiannya kini datang seorang perempuan.
Ya, seseorang yang sangat ditunggu-tunggu oleh Azriel. Melihat itu Azriel tersenyum, tetapi ia segera menetralkan wajahnya sedatar mungkin saat Ina mulai memasuki ruangannya.
"Lama sekali!"
"Maaf Tuan, tadi saya memasak dulu!"
Azriel menatap Anggi yang masih berdiri di belakang Ina. Ya, karena perempuan itu yang membawa Ina masuk.
"Anggi kau bisa keluar!"
"Baik Pak."
'Siapa perempuan itu? Sepertinya ada scandal spesial dengan pak Azriel. Aku sungguh heran dengan CEO ini, dia sama sekali tidak melirikku padahal aku sudah memberikan perhatian dan menunjukkan pesona, tapi justru dia lebih tertarik dengan perempuan modelan seperti ini,' batin Anggi. Sebelum sesaat dia pergi.
"Aku 'kan sudah lebih dulu memberitahumu sebelum jam makan siangku!" omel Azriel.
"Maaf Tuan, tapi tadi sa--"
"Sudahlah, sekarang aku minta kau suapi aku!"
'Astaga Tuan Azriel. Huh ... sikapnya ini lho, kenapa dia sangat berbeda dari yang lain,' batin Ina.
"Baik Tuan."
Mereka duduk di sebuah sofa, sementara Ina segera menyiapkan makanan yang ia bawa. Pandangan Azriel tak berhenti dari wajah Ina, ia menatap gadis itu seperti orang yang sedang mengintrogasi.
'Rambutnya yang tergerai seperti ini sangat terlihat cantik, tapi semua orang pasti melihat kecantikannya juga. Aku tak mau dia dipandang orang-orang!'
"Ikat rambutmu!"
__ADS_1
"Kenapa Tuan?"
"Aku jengah, rambutmu sangat jelek!"
"Tapi leherku jadi terlihat, Tuan."
'Iya juga ya, lehernya lebih menggoda dipandang,' batin Azriel.
"Ya sudah gerai saja!"
'Sebenarnya ada apa dengan sikap Tuan Azriel? Ini sungguh membingungkan,' ucap hati Ina.
Ina mulai menyuapi makanan ke mulut Azriel. Selama itu Azriel tak lepas tatapannya dari wajah Ina. Terkadang tatapan mereka saling bertubruk, tetapi Ina memalingkan wajahnya karena ia merasa gugup.
Rona di pipi Ina mampu tembus dari pandangan Azriel. "Temaniku kerja seharian di kantor, setelah pekerjaanku selesai kau ikut aku!"
"Kemana Tuan?" tanya Ina.
"Nanti saja!"
"Baiklah."
'Keseharianku sudah terbiasa denganmu, entah kenapa aku jadi tidak terbiasa tanpamu sehari saja.'
Sudah menjelang larut malam. Namun, kini Azriel masih saja sibuk dengan pekerjaannya tanpa memperdulikan seseorang yang sedang menunggunya.
"Dia tertidur."
Azriel tak merasa tega, pria itu justru suka sekali melihat wajah Ina yang tampak kebosanan dan jenuh. Padahal, dia berkata ingin mengajak Ina ke sebuah tempat. Namun, kesibukan kantor tak mengizinkan. Perjanjiannya dengan pak Abran pun terpaksa ia batalkan, karena tugas di kantornya hari ini benar-benar menumpuk.
Ya, sudah beberapa hari Azel tak masuk kantor karena perempuan itu lebih fokus kepada putrinya saat ini, dan kini ia hanya meninggalkan tugas yang bejibun untuk Azriel.
"Besok sajalah," gumamnya. Ia pun merasa lelah.
Azriel menghampiri Ina, ia memandangi wajah Ina lagi sejenak. Tangannya pun gatal ingin menyentuh pipi halus Ina. Beberapa kali juga ia menyibak anak rambut yang menutupi wajah manisnya.
'Aku tak tahu apa yang aku rasakan dalam hati tentang gadis ini, yang jelas saat ini aku tidak ingin dia jauh dan pergi dariku,' batin Azriel.
Merasakan ada tangan seseorang yang menyentuh pipinya, Ina pun terbangun karena tak nyaman, terlebih tidur di sofa itu sangat menyakitkan badan.
"Tu-tuan. Maaf Tuan saya ketiduran!"
"Ya, kau saking pulasnya aku tidak jadi mengajakmu ke sesuatu tempat, hanya demi menunggu kau bangun! Liat, sofaku basah karena air liurku!"
Mendengar itu Ina segera menggosok bibirnya, tetapi tak ada sama sekali bekas air liur yang dimaksud oleh tuannya itu. Apakah ia dibohongi?
'Masa sih aku sebegitu pulasnya?'
__ADS_1
Azriel tersenyum jahil, karena membuat Ina tersipu malu. "Ayo kita pulang!"
Azriel berdiri, Ina segera bangkit dari sofa setelah itu ia mengekor dari belakang Azriel. Gadis itu tak henti mengerucutkan bibirnya.
'Ini sangat menyebalkan!'
"Bibirmu jelek sekali seperti itu," tegur Azriel tetap berjalan dengan pandangan ke depan. Ternyata waktu Ina menggerutu dalam hati dengan menunduk sembari mencebikkan bibirnya, kala itu Azriel mencuri pandang ke arah wajahnya.
Seketika Ina langsung mengigit bibir dalamnya hingga bibirnya bungkam tak terlihat.
***
Setelah tiba di mansion.
Saat Azriel ingin masuk kamar, tiba-tiba Ina ingin memisahkan diri darinya. Pria itu pun segera menegur, "Mau kemana kau?"
"Kamar, Tuan."
"Tidak sopan, aku membutuhkanmu. Pulang kerja aku harus dilayani!"
"Oh, baik Tuan. Maaf."
Ina kembali mengikuti Azriel. Ia menyiapkan kebutuhan Azriel seperti biasa. Mungkin, esok sebelum tuannya itu pulang, air hangat dan pakaian ganti harus sudah siap.
'Nenek kenapa hari Minggu lama sekali, Ina ingin segera pulang,' batin Ina.
Menunggu Azriel keluar dari kamar, Ina menyempatkan membuat makanan untuk Azriel. Setelahnya ia kembali, dan langsung ditemukan dengan tuannya itu yang baru saja selesai membersihkan diri. Ia hanya mengenakan handuk yang melilit di pinggangnya saja.
"Makan malamnya sudah siap Tuan, saya taruh di meja ini," ucap Ina.
"Ya taruh saja. Kau kemarilah, keringkan rambutku!" pinta Azriel.
Ina menurut, ia menghampiri Azriel yang sudah duduk di depan cermin. Ina memegang handuk kecil. Gadis itu mengeringkan rambut tuannya dengan sangat telaten.
"Sudah Tuan!"
Azriel memegang pergelangan tangan Ina, kemudian dengan sangat tiba-tiba pria itu menariknya. Jatuhlah pengasuh cantik itu di atas pahanya. Ina terkejut dengan perlakuan Azriel yang seperti itu.
"Tuan ken--"
"Sussttt diamlah! Menurut saja tanpa bertolak, sungguh sulit bagimu hmm?" potong Azriel.
Ina langsung menunduk, pasalnya ia sangat tak nyaman saat ini. Bayangkan saja dia sedang menduduki pedang pusaka yang dimana hanya bisa dimiliki seorang pria.
Melihat wajah Ina yang menunduk, Azriel berusaha mendongakkannya dengan menarik dagu gadis itu. Rona merah terlihat jelas di pipinya.
Serangan tiba-tiba selanjutnya Azriel menarik tengkuk leher Ina, ia langsung mendaratkan bibirnya di bibir ranum gadis itu.
__ADS_1
'Manis, ini sungguh manis. Aku candu dengan bibir mungilnya'
Bersambung ....