
Shireen menatap seseorang yang sangat ia rindukan, hatinya ingin berbicara jika ia harus meninggalkan tempat. Namun tubuh bereaksi mengelak. Tak dapat dipungkiri, jika benar-benar sangat merindukannya.
Gadis itu menatap sahabatnya dengan mata yang berkaca-kaca. "Jasson ...," cicitnya.
"Gimana kejutannya? Lo suka?" Shireen justru menggeleng dengan menitikkan air mata.
"Maaf ...." Kata itu berhasil lolos dari mulut Samuel, saat ini dirinya sudah berada di hadapan Shireen. Kala itu Shireen ingin menjauh dan pergi, tapi percayalah ia tak mampu karena keinginannya memeluk pria itu lebih besar dibanding dengan rasa egonya.
"Hikkss, Om jahat!" Akhirnya Shireen jatuh ke dalam dekapannya. Menyalurkan rasa rindu yang menggebu hingga berlabuh di dada bidangnya. Menumpahkan semua air mata yang terus bertetesan seiring tangisannya.
Jasson menjauh, pria itu ikut tersenyum bersama kakaknya Tansson.
"Maaf karena beberapa bulan ini aku tidak mengabarimu, maaf karena tidak menepati janjiku. Aku pergi keluar negeri untuk menghindari keinginan Mami. Sekarang, aku kembali dan ingin mengakatakan apakah kau mau menjadi istriku?"
Mendengar ucapan itu, Shireen mengusap air matanya dengan kasar. "Maaf Om, Shireen memang masih cinta sama Om tapi dunia gak mengizinkan kita bersama. Banyak yang menghalangi, dari itu restu orang tua Om dan perbedaan kita yang sangat jauh. Maaf, lebih baik kita masing-masing aja!"
Samuel tidak terima dengan ucapan itu, ia membingkai wajah Shireen lalu menatapnya dengan intens dan penuh arti. "Sekali lagi aku katakan, aku tidak akan pernah mau berpisah denganmu. Aku tidak peduli dengan restu, yang kuinginkan sekarang kau menjadi milikku!"
Shireen melepaskan tangan Samuel, menjauhinya lalu menatap nanar. "Nggak Om, bagaimana kita bisa menikah tanpa restu dari orang tua? Lagipula semua omongan Om itu selalu menjadi angin. Mungkin sekarang Om bilang cinta, tapi beberapa saat lagi Om pasti akan pergi! Begitu bukan?!"
"Ya sudah, lebih baik kalian memiliki anak sebelum menikah. Simpel bukan?" Tiba-tiba Tansoon menyahut.
"Jangan dengerin kakak gue. Dia gila! Gue gak mau itu terjadi, kalian berdua harus menikah secara resmi!" sahut Jasson.
"Kenapa? Apa kau masih mencintai Shireen. Kau bilang kau sudah melupakannya."
"Ck, aku memang sudah melupakannya. Tapi, aku gak mau Shireen dinodai!" tegas Jasson. Pria itu menghampiri Samuel dan Shireen, lalu berucap dengan lirih, "Reen dia pergi punya alasan, bukan ninggalin lo. Selain urusan pekerjaan, dia juga berusaha menghindar dari keinginan Maminya buat rencana rujuk sama mantan istrinya." Ya, yang dimaksud Dia, adalah Samuel. Jasson memang sangat enggan untuk akrab, terlebih mereka mempunyai sedikit dendam lucu yang hanya menjadi leluconan.
Shireen bisa mengerti itu. Namun, rasanya restu orang tua sangatlah berharga. "Aku melamarmu malam ini!" ucap Samuel penuh permohonan.
Shireen beralih menatap sahabatnya. "Terima! Gue izinin kok, apapun yang buat lo bahagia gua bakal dukung."
"Aku mau Om. Tapi, janji jangan tinggalkan Shireen lagi!" Lagi-lagi Shireen memeluk Samuel. Seketika seulas senyum manis terbentuk dari bibirnya.
__ADS_1
"Aku janji!" Samuel meminta jari manis Shireen, kemudian ia mengeluarkan sebuah cincin berlian dari Amerika. Jangan tanyakan harganya. Jual tanah atau bahkan jual rumah pun tak akan cukup untuk membeli berlian itu. Namun tidak dengan Samuel, baginya itu masih sangat kecil.
Samuel menyemartkan sebuah cincin indah itu di jari lentik Shireen. Mencium, lalu ia meraup bibir Shireen sedikit dan sekilas. Namun begitu mengesankan, "Sekarang kau resmi menjadi tunanganku!" Shireen tersenyum tersipu malu. Kemudian, mereka saling memeluk dengan bahagia.
Jasson tersenyum melihat itu, begitupun dengan Tansoon. "Thanks Jasson!" ucap Shireen.
"Gak usah bilang terima kasih atau baik. Gue tau!"
"Terlalu percaya diri," umpat Samuel. Entahlah, dari semenjak kejadian yang dibuat oleh bocah lelaki yang menurutnya ini sangat meresahkan di waktu beberapa tahun silam yang di mana membuat gadisnya itu menderita. Sampai kini ia sangat tidak suka dengan bocah itu.
"Gak tau terima kasih, udah gue bantuin juga!" ketus Jasson.
"Kau bilang tidak usah mengatakan terima kasih!"
"Sudah sampai kapan perdebatannya? Apa masih mau mendrama? Aku sudah sangat lapar, kasihan istriku!" Sahutan dari Tansoon seketika mencengangkan Shireen.
"Hah, istri?" gumamnya.
"Reen!" Mendengar panggilan itu Shireen terkejut. Suara yang menyebalkan. Namun, sangat familiar. Dirinya menatap seseorang perempuan berperut besar yang berada duduk di meja makan bersama Tansoon.
Shireen menganga melihat keadaan sahabatnya itu saat ini. "Fan, apa yang terjadi sama lo? Ini lo Fania sahabat gue?"
Fania langsung menubruk sahabatnya, memeluk dengan hangat. Sudah hampir tiga tahun mereka berpisah.
"Iya ini gue. Beda ya, iyalah gue 'kan lagi hamil jadi kelihatan gendut!" cetus Fania.
"Issh itu gue tau. Yang jadi masalah kenapa lo bisa kayak gini, hah?!" tanya Shireen menyolot.
"Itu Reen, lelaki sialan di sono yang buat gua kayak gini!" unjuk Fania kepada Tansoon yang sedang asik memakan hidangan di meja bersama dengan Samuel, dan Jasson.
"Kak Tansoon?" Fania mengangguk dengan mengusap perutnya.
"Gila! Terakhir gue liat kalian berdua kayak kucing sama anj*ng. Sekarang kalian ... argghh, kenapa lo bilangnya ke Amerika mau kuliah karena permintaan papah lo? Padahal malah bikin anak di sana!" dengus Shireen menyerocos.
__ADS_1
"Hehe, gak tau. Semua terjadi begitu aja. Pria sialan itu udah buat gue hamil kayak gini. Tapi, tenang kita udah nikah di sana kok. Walaupun nanti anak gue keluar, hasil pemerkosaan."
"Tapi lo tau 'kan rumor seorang Tansoon," bisik Shireen.
"Jangan menggosip tentang keburukanku. Aku tau aku cukup terkenal. Marilah, lebih baik kita makan bersama!" sahut Tansoon.
"Hissh, gak apa-apa deh seenggaknya gue punya calon keponakan," ujar Shireen mengusap perut Fania. Ibu hamil itu pun tersenyum dengan lagi-lagi saling memeluk.
"Ayo, kita mulai kebahagiaan. Jangan mikirin resikonya dulu, haha!"
"Stress!"
***
Setelah makan malam bersama dengan pertemuan mereka kembali. Samuel menghantar Shireen.
"Makasih Om!"
"Hmm, aku ingin menginap di sini jadi aku yang berterimakasih karena sudah di perbolehkan," balas Samuel menyelonong masuk ke dalam apartemennya. Shireen menganga membuka mulutnya tercengang seperti orang bodoh. Ah, memang dia bodoh bukan? Samuel tetaplah Samuel. Memang tidak ada yang berubah dari sikap prianya itu.
Baru ingin Samuel berkoar, tiba-tiba mulutnya dibekap dengan satu jari telunjuknya, "Sussst! Izinkan aku menghabiskan waktu bersamamu malam ini. Tidak perlu khawatir, aku masih tahu batasan," ucapnya mengecup tangan dengan tonjolan cincin indah di jari lentik gadisnya.
"Tapi Om baru pulang dari luar negeri. Seharusnya Om langsung ke mansion. Om gak rindu sama Azel Azriel?"
"Aku sangat rindu, tapi aku malas melihat ibunya karena aku tau dia tinggal di rumahku. Besok aku akan pulang bersamamu, aku yakin mereka juga merindukan Mamanya," ujar Samuel santai.
"Big no!" tegasnya, lalu melirih, "Shireen takut ...."
"Ada aku, kau tenang saja."
"Tapi, Mami Om sangat tidak suka dengan Shireen. Bahkan ...." Shireen menggantungkan ucapannya. Samuel mengangkat sebelah alisnya, meminta lanjutan dari ucapan Shireen itu.
"Dia aku minta menjauhi Om dan anak Om," lanjutnya.
__ADS_1
'Mami keterlaluan!' batin Samuel kesal.
Bersambung ....