Ibu ASI Untuk Bayi Om Duda

Ibu ASI Untuk Bayi Om Duda
S3. Gafin dan Abel


__ADS_3

Tiga Minggu telah berlalu.


Tak terasa tinggal menghitung beberapa hari lagi pernikahan Azel dan Xander akan diselenggarakan. Kini, perempuan yang sebentar lagi akan menjadi pengantin itu selalu menyibukkan diri dengan urusan kantor, begitu pula dengan sang kekasih yang berbeda negara di sana.


Bahkan, untuk saling kabar mengabari saja mereka tidak sempat. Namun di balik semua itu, mereka tetap sedang mempersiapkan hari spesialnya nanti.


Sementara Agha, pria itu juga sama Elena pun juga. Mereka benar-benar masing-masing sibuk sendiri. Elena yang sudah disematkan cincin oleh pria ini, jarang sekali bertemu. Alasan, wanita itu tengah mengelola usaha perbutikan yang sedang pesat-pesatnya.


Pertemuan Azel dan Agha pun terputus pada kejadian adu ucapan di dapur waktu itu. Selama tiga Minggu terlewat, mereka tidak lagi saling sapa bahkan untuk menunjukkan diri saja tidak sama sekali.


“Tuan pernikahan Anda hanya berjarak satu Minggu, dengan pernikahan nona Azel dan pak Xander. Sebelumnya, saya hanya memastikan perasaan Anda sudah benar-benar hilang kepada nona Azel?”


Seketika atensi Agha teralihkan. Ucapan dari asistennya itu lagi-lagi merasa bahwa ia ragu mencintai Elena.


“Kenapa? Kau pun merasa aku tidak tulus dengan Elena? Gaf, aku dan Azel sudah divonis sebagai orang yang tak pernah bisa bersama. Seberusaha mungkin aku belajar mencintai Elena, berjuang untuk melupakan dia,” balas Agha.


“Takdir Tuhan tidak ada yang tahu Tuan. Kita berkata seolah akan benar ke depannya seperti itu, tapi bisa jadi rencana-Nya berbeda. Tinggal menghitung hari, sebelum pernikahan terjadi tidak inginkah Anda menjelaskan semuanya kepada keluarga nona Azel?”


“Tidak Gaf. Bukan berarti aku takut dengan Azriel, tapi aku tidak ingin merusak kebahagiaan Azel, mau bagaimana pun dia yang tak pernah bisa mencintai. Lagipula jika aku mengaku di hadapan keluarganya, tidak akan membuat mereka untuk berhendak agar aku dan Azel harus bersama, jika aku mendapat sinyal baik dari mereka pun sama saja aku menghianati Xander yang begitu mencintai Azel.”


“Jangankan untuk itu, keakrabannya kita saja sudah terputus,” lanjutnya dengan acuh.


“Terputus? Bagaimana bisa? Bagaimana cara kalian agar terlihat baik-baik saja di depan nona Abel?” tanya Gafin.


“Aku tidak pernah mengunjungi rumahnya lagi. Jika ingin bertemu dengan anakku, yaaa hanya di sekolah saja.”


Agha masih sibuk dengan pena dan kertas-kertasnya, ia segera membereskan itu karena setelah ini ada meeting yang tidak bisa diwakilkan. Sementara Gafin yang masih ingin membahas seolah sudah ditutup.


“Baiklah sudahi berkata-kata bijak kita. Hari ini aku akan menghadiri rapat penting dengan klien yang akan membahas proyek baru. Kau tidak perlu ikut, jemput saja anakku karena aku tidak bisa.”


Ah menjemput? Jangankan menjemput, menjaga nona manis itu saja Gafin sanggup sampai seharian. Ini adalah kesempatannya, bertemu dengan Abel sangat sulit mungkin ini peluang untuknya.


“Baiklah Tuan, jika perlu sesuatu untuk hal lain segera menghubungiku.”


“Ya ....” balas Agha seraya menepuk dua kali punggung asistennya. Kemudian pria itu pun pergi.


***

__ADS_1


Sesuai dengan jam yang ditentukan untuk menjemput, kini Gafin melihat sosok gadis dengan seragam putih biru tengah menunggu.


Dengan senyum manisnya Gafin menghampiri. “Heyy Nona, sudah lama menunggukah?”


“Om asisten yang jemput? Ke mana ayah?” tanya Abel dengan tampang polosnya.


“Hari ini beliau sedang ada meeting Nona. Jadi, dia yang memintaku untuk menjemputmu,” balas Gafin.


“Baiklah ayo kita pulang!” Abel sudah menggenggam tangan pria. Gafin yang ingin menghabiskan waktu bersama, mencoba mencari alasan.


“Yakin pulang? Tidak ingin jalan-jalan atau sekedar bermain dulu?” tawarnya.


“Memangnya mau ke mana?” tanya Abel lagi-lagi membentuk eskpresi yang menggemaskan. Sungguh rasanya Gafin ingin menguyah wajah bulat gadis itu.


“Ada tempat yang cocok untukmu nanti, tapi sebaiknya Nona mengabari Ibu Azel terlebih dahulu agar dia tidak cemas.”


“Gampang ... bisa diatur nanti!”


Gafin tersenyum lebar, Abel pun senang karena selain ayahnya yang selalu bisa membuatnya bahagia ada orang lain yang berperan sama.


***


Ke, sebuah pasar yang sedang hits di era komunitas para anak jaman sekarang atau milenial. Tempat ini menyediakan banyak wahana permainan, dan beraneka jajanan.


Bahkan tempat ini seperti sebuah karnaval, yang didominasi dengan warna-warna dari lampu ataupun ruko para pedagang yang tersedia.


“Wahhh ... tempat ini seperti pasar malam yang biasa dikunjungi Abel sama mami dan ayah jika malam. Tapi, di sini tersedia untuk siang juga bahkan lebih ramai. Aahhh ... sukak, di sini terhias dengan warna rainbow.”


Abel begitu takjub. Kesibukan pria itu ternyata tidak mengkuperkan pengetahuan tentang destinasi tempat bersenang-senang.


“Tempat ini kombinasi dengan para pedagang kecil, pengusaha sampingan. Di sebelah sana juga ada mall, jika ada sesuatu yang ingin dibeli katakanlah!”


“Abel mau jajan abang-abang itu aja. Tapi nanti naik carousel di sana yaaa!”


“Pilih saja yang kau mau, aku akan mengikuti!”


Abel bersorak gembira. Gafin yang memang sangat hafal bagaimana cara menyenangkan remaja sepertinya, merasa tak salah membawa Abel ke tempat ini.

__ADS_1


Bahkan karena sangat merasa bahagianya, gadis itu sampai menggapai leher Gafin untuk bisa dikecup pipinya.


Cup!


“Buat Om yang sangat baik, maaciwww!” Setelah memberikan kiss kecil itu, Azel langsung berlarian begitu saja tanpa bertanggungjawab dalam ekspresi kaku seseorang yang dikecupnya.


Sampai petang hari.


“Nona, sepertinya waktu bermain kita sudah cukup sampai di sini. Sudah ingin malam, sebaiknya kita pulang agar orang rumah tidak cemas.”


Abel mendesah. Ah, rasanya dia sangat enggan meninggalkan tempat ini, begitu banyak memberikan kebahagiaan. Namun tiba-tiba ia rasa bahagia itu seolah dihentikan.


“Om ... Abel masih mau main di sini ... banyak wahana yang belum Abel coba!” rengeknya.


“Sudahlah Nona, lain waktu aku akan jemput kau untuk datang ke tempat ini lagi, dan itu aku temani sampai kau puas,” bujuk Gafin.


“Baiklah ....”


Abel terdiam, sedang tangan Gafin saat itu menggenggamnya. Abel tak berjalan pria itu menariknya, sampai dia bertanya, “Ayo. Kenapa?”


“Gendong Om, dari tadi Abel capek nih jalan terus ....” pintanya.


Gafin tersenyum, dengan rasa senang hati ia berjongkok dengan mencodongkan punggungnya. Abel pun langsung menemplokkan tubuhnya di punggung itu.


“Come on ....”


***


Abel dihantar pulang pada saat langit sudah menggelap. Gafin ingin menjelaskan jika ia bertemu dengan sang ibu Abel, jika anaknya telah ia bawa.


Namun, lihatlah anak itu justru tertidur di dalam mobil. Mungkin karena kelelahan sebab keaktifannya di tempat tadi.


“Nona bangunlah ....”


Gafin merasa tak tega. Ia mengusap pipi bulat gadis itu, tampak nyenyak tidurnya.


“Kasihan sekali,” gumamnya masih mengelus pipinya.

__ADS_1


‘Kenapa aku tertarik dengan gadis ini ya? Bagiku gadis ini lebih menggoda dari seksinya body nona Elena. Astaga, apakah aku sudah menjadi pedofil?’


__ADS_2