Ibu ASI Untuk Bayi Om Duda

Ibu ASI Untuk Bayi Om Duda
Persidangan Liyu


__ADS_3

Di rumah.


Tampak Lia dan Lisa sedang dalam perjalanan pulang. Mereka meninggalkan Shireen, karena memang itu permintaan ia sendiri. Perempuan itu ingin menjaga suaminya sampai sadar.


Kini Lia dan Lisa sudah sampai di mansion. Ternyata, semua orang sedang berkumpul menyaksikan tubuh Liyu yang sedang berpakaian terbuka. Perempuan itu terlihat menunduk dengan rasa malunya.


"Apa yang terjadi?" tanya Dika. Aura saat ini begitu mencekam.


"Saya tidak tahu apa permasalahan yang sebenarnya, tapi saya melihat ada keributan di bar dan saya baru sadar bahwa kegaduhan itu disebabkan oleh Nona Liyu dan Nona Lisa. Saat ini Tuan Sam sedang berada di rumah sakit, karena sebab kejadian yang saya saksikan dengan banyak orang tadi, Nona Liyu telah memukul Tuan Sam hingga terluka cukup parah," jelas Rico.


"Astaga!" refleks Yuri membekap mulutnya, rasa cemas pun melanda


"Papi, Mami dan Mas Daniel dengarkan penjelasan aku dulu. Aku mohon maafkan aku, aku tidak sengaja memukul Sam dengan botol itu, karena niatku ...."


"KARENA NIAT LO ITU MAU BUNUH GUE PAKE BOTOL MINUMAN TADI 'KAN?!!" teriak Lisa. Seketika Liyu hanya bisa menunduk dengan suara tangisannya.


"Papi, Kak Sam ngelindungi aku dari kejahatan perempuan itu!" lanjutnya mengadu.


"Tapi aku lakukan itu karena aku disiksa oleh Lisa. Aku hanya mencoba untuk melawan dan melindungi diri, tapi justru tidak tepat sasaran hikss!" bantah Liyu masih terisak.


"Niat lo emang udah jahat dari awal!"


"Lisa bicara baik-baik dengannya, dia kakak iparmu!" sahut Daniel menegur.


"Maafin Lisa Kak. Lisa cuma mau Kakak tahu bagaimana asli istri Kakak itu. Dia jal*ng yang masih mengincar adik Kakak sendiri. Ya, istri Kakak sedang berselingkuh dengan Kak Sam. Dan, bayangkan di saat aksi bejad itu Shireen melihat. Kakak juga bisa bayangkan bagaimana perasaan Kakak melihat aksi istri murahan Kakak itu!"


"Lisa!" Bentak Daniel. Adiknya mengucapkan dengan tegas di akhir kalimatnya. Tentu saja ada rasa tidak terima di hatinya.


"Adikmu benar Daniel. Seharusnya kau yang lebih tahu bagaimana sifat istrimu!"


"Seharusnya Papi juga menyalahkan anak tersayang Papi itu. Kenapa hanya istriku? Sedangkan, mereka berdua yang melakukannya, tidak hanya Liyu saja. Lebih pantas Samuel yang Papi salahkan. Apa dia tidak berpikir jika wanita itu istri kakaknya?!" tandas Daniel.


"Kak Sam dalam kondisi mabuk, dan Kak Liyu yang menggoda. Tapi, kita semua memang paham kalo Kak Liyu itu sangat menginginkan Kak Sam. Sebaiknya Kakak berpikir lagi untuk melanjutkan hubungan dengan istri Kakak itu!" sahut Lia.


'Maafin Lia Kak, tapi ini demi Kakak agar tahu bagaimana wujud asli istri Kakak itu. Sungguh Lia lebih sayang Kak Daniel dari segala apapun,' batin Lia. Rasanya tidak enak hati saat memojokkan istri kakaknya itu. Namun mau bagaimana pun bagi kejujuran, kakak iparnya itu salah dan sangat keterlaluan.

__ADS_1


"Baiklah mengatasnamakan istriku, aku minta maaf. Esok aku akan pulang ke Amerika dengannya. Aku harap tidak ada yang menindaklanjuti permasalahan ini," ucap Daniel. Ia segera menuntun istrinya itu untuk masuk kamar.


Di samping Yuri ada Leona yang terus saja menahan senyum kebahagiaannya. 'Ohhooo ... perempuan itu lebih memilih bermain kotor. Sungguh menjijikkan, tapi aku bersyukur dengan adanya kejadian ini. Dengan begitu, sainganku jadi berkurang,' batinnya. Ia tak mampu menahan senyum rasa bahagia. Akhirnya bibir itu pun tertarik membentuk sebuah seringaian manis.


"Bagaimana dengan keadaan Kakakmu sekarang?" tanya Dika.


"Dan, bagaimana dengan keadaan Shireen? Dia sedang hamil, aku cemas beban pikirannya beresiko untuk kandungannya!" ucap Yuri dengan tampak wajahnya yang begitu khawatir.


Senyum yang terbit di bibir Leona, kini telah hilang. 'Kenapa perempuan tua itu mulai ada simpati dengannya? Ini kecemasan terbesarku. Secara tidak langsung Liyu telah menyerah, tapi menyingkirkan perempuan itu sangatlah sulit. Jalan apa yang lebih efektif agar Shireen cepat terbuang?'


"Kak Sam di rumah sakit, dia sudah ditangani Dokter. Dan, istrinya masih di sana untuk menemani," jawab Lisa.


"Papi dan Mami mau kesana, apa kau mau ikut kembali lagi kesana?"


"Lisa besok saja menyusul!"


"Lia juga!"


"Baiklah, apa kau juga mau ikut Leo?"


***


Di dalam kamar.


"Bukan berarti aku memihak kepadamu. Jika masih mencintai adikku, untuk apa kau mau mempertahankan rumah tangga ini? Apa aku hanya senjata?" ucap Daniel.


Liyu terus memeluk tubuh suaminya dari arah belakang. Perempuan itu menyesal dan merasa sangat malu.


"Mas maafkan aku. Penjelasan itu belum selesai. Adikmu telah mempermalukan aku di hadapan semua orang, dan apa yang dia perbuat itu keterlaluan bagiku sampai aku nekat ingin memukulnya dengan botol. Aku hanya berusaha untuk melindungi diri dari perbuatannya!" jelas Liyu.


"Dan sebab itu dia lakukan hanya demi membela perasaanku. Mungkin jika aku juga melihatnya, aku akan melakukan hal yang sama. Liyu adikku memang lebih menggoda daripada aku, tapi di luaran sana juga masih banyak yang lebih baik dan berharga diri untuk menjadi istriku!"


"Mas, aku mohon maafkan aku. Aku hanya terbawa nafsu, aku masih mencintaimu hikksss!" Liyu menjatuhkan dirinya, ia bersimbah di kaki suaminya, lalu ia memohon kembali, "Aku mohon pertahankan rumah tangga kita, aku janji aku akan menjadi lebih baik lagi!"


"Bangunlah!" Daniel mengangkat bahu istrinya dengan lembut. "Aku tahu kau tidak hanya terbawa nafsu, tapi kau lebih terobsesi dengannya. Kau tahu bagaimana rasanya berbagi, atau terbagikan? Tubuhmu itu hanya untuk aku, selainnya orang lain tidak berhak. Namun justru kau sendiri yang menyerahkan." Seketika Liyu mengeraskan suara tangisnya.

__ADS_1


"Mungkin jika aku tidak memikirkan masa depan Diksel yang masih membutuhkan ibunya, aku tidak akan mempertahankanmu lagi," ujarnya. Setelah sesaat kemudian pria itu memeluk tubuh istrinya.


Kali ini Liyu begitu malu dengan dirinya sendiri, dan orang lain terutama. Termasuk suaminya ini.


"Terima kasih Mas, aku janji akan menjadi lebih baik lagi. Aku janji!"


"Bersiaplah untuk esok, kita akan pulang!"


"Hmm, apa aku boleh meminta maaf kepada Shireen dan juga Samuel sebelum kita pergi besok?"


"Ya."


***


Keesokan paginya. Di rumah sakit.


Pukul 06:51 AM


Saat Shireen membuka mata, kini pandangan pertama yang dilihatnya adalah sang suami yang tampak tersenyum pilu dengan balutan perban di kepalanya. Ya, pria itu yang telah menggoreskan luka di hatinya. Bukan hanya sekali ataupun dua kali, tetapi Shireen sering rasakan dari dulu.


Mengingat kejadian malam, sekuat hati ia menahan buliran bening yang ada di kelopak matanya.


"Maafkan aku." Hanya dua kata itu yang keluar dari mulut suaminya. Shireen membungkam mulutnya, ia belum ingin mengeluarkan suaranya atau kata-kata, karena saat ini mati-matian ia berusaha untuk menahan air mata.


Seketika suasana menjadi sangat canggung, hening dan begitu membingungkan. Namun tiba-tiba seorang wanita berseragam putih datang menghantar makanan. "Saya menghantar makanan untuk pasien, silahkan di makan dan habiskan!"


"Baik, terima kasih Sus!" Setelah perawat itu kembali pergi. Shireen mengambil makanan yang dikasihinya. Ia menyiapkan untuk menyuapi Samuel.


"Makan!"


Samuel menahan tangan istrinya sebelum memberikan suapan. "Aku sulit untuk menelan makanan, jika seseorang yang menyuapiku saja tidak memberikanku maaf," ucapnya.


Tess


Tes ...

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2