
Gaun bagian atas Shireen berhasil di lucuti Samuel. Sementara, dirinya masih menjerit atas perlakuan pria itu.
Samuel sibuk memagut bibir Shireen sedang kasar, sedangkan tangannya dibiarkan diam. Menjalar, dengan menggerayangi seluruh tubuh Shireen.
Melihat air mata Shireen yang terus menitik, Samuel merasa perbuatannya itu keterlaluan, dan ini adalah suatu kesalahan.
'Astaga apa yang aku lakukan ini. Aku menyakitinya. Ini salah!' batinnya.
Samuel bangkit dari atas tindihannya, lalu ia menatap gadisnya dengan rasa bersalah.
Shireen segera menutupi bagian atas tubuhnya dengan selimut, ia menatap Samuel dengan ketakutan. Di saat pria itu ingin mendekatinya, refleks dirinya memundur dengan tangan yang menyilang dada.
"Om kasar, jangan dekati aku, hikkss!"
"Shireen, maafkan aku. Aku terbawa emosi," ucap Samuel lembut. Pria itu berusaha memeluk gadisnya, walaupun selalu mendapat penolakan darinya.
***
Sementara di mansion.
Semua tamu sudah bubar, tersisa pernak-pernik dari acara ini. Saat ini semua orang sedang berkumpul melepas penat setelah acara yang cukup melelahkan tadi.
"Mami. Azel dan Azriel sudah tidur. Mereka sudah berhenti menangis, setelah aku menidurkannya."
Yuri tersenyum kepada mantan menantunya itu. "Terima kasih ya Leo, akhirnya cucuku bisa tidur. Kau menginap 'kan di sini?"
"Tidak Mami, aku menginap di hotel," balas Leona perempuan cantik yang begitu anggun.
"Lho, kenapa Sayang ...? Kau bisa tidur di mana saja, jelas di sini tanpa sewa dan tentunya nyaman," balas Yuri.
"Tidak Mami. Hmm, Mami pasti mengerti. Besok aku ke sini, untuk mengunjungi anakku."
"Baiklah, hati-hati!"
"Terima kasih."
__ADS_1
Leona menatap lembut dengan senyum ragu-ragu ke arah semua orang yang menontonnya saat ini. Kemudian, wanita itu pun melenggang pergi. Setelah itu, Yuri ikut bergabung dengan mereka. Tampak santai seolah tak terjadi apa-apa.
"Kau sadar atas perbuatanmu?" Akhirnya pertanyaan itu dilontarkan oleh suaminya. Dika menatap sang istri santai, tapi sangat mencekam.
"Memang aku berbuat apa?" ucap Yuri seolah tak mengerti.
"Tidak seharusnya Mami melakukan hal seperti tadi!" Tiba-tiba seseorang pria datang dan langsung menyahut.
"Sam ...," sambut Yuri lembut.
"Mami tahu bagaimana perasaan gadisku? Apa maksudnya Mami mengumumkan bahwa aku ingin rujuk dengan perempuan itu?!" bentak Samuel.
"Sam, gadis itu terlalu biasa untukmu! Leona lebih berkelas, dan dia yang pantas ada dalam keluarga ini. Lagipula, Leona yang sudah mengandung anakmu!" tegas Yuri.
Samuel terkekeh, lalu tersenyum remeh. "Anakku hanya menumpang di rahimnya! Shireen ibu yang sesungguhnya bagi anakku. Apa seorang perempuan layak di bilang Ibu, namun tak memberikan ASI? Jahat bukan, meninggalkan seorang bayi yang sedang membutuhkan air susunya? Mami pikir itu!"
Samuel melangkah pergi ke kamarnya. Entahlah, malam ini semuanya terasa hancur. Frustrasi? Pasti! Pusing? Tidak usah ditanya! Mungkin meredam semua itu hanya dengan melihat wajah tenang anaknya tertidur di dalam kamar.
"Ingat Samuel, sampai kapanpun. Mami tidak akan pernah merestui kau menikah dengan gadis itu!"
"Kenapa tidak dari awal saja kau katakan, bahwa kau tidak merestui mereka? Perbuatanmu itu sangat menyakitkan perasaannya. Mau bagaimana pun gadis itu yang sudah membuat cucu kita bertahan hidup!" tandas Dika.
"Lia kecewa sama Mami. Mami gak tau bagaimana perjuangan kakak mempertahankan anaknya. Mami juga gak tau bagaimana jasa Shireen menyusui Azel Azriel. Dengan sangat mudahnya, Mami membawa perempuan itu. Mami sadar, Mami membuka luka lama kakak!" kata Lia sesegukan. Kemudian Lisa sang kakak menenangkannya.
"Kita kecewa sama Mami." Mereka pergi ke kamarnya. Saat ini hanya Daniel dan istrinya.
Yuri sebagai orang yang tersangka salah, merasa kesal. Namun ia sedih karena tak ada yang membela dirinya.
"Apa aku salah? Aku hanya ingin kebahagiaan untuk anak dan cucuku!" geramnya. Tetapi, sesat kemudian Dia menangis
"Niat Mami tidak salah, yang salah adalah perbuatan Mami. Wajar mereka seperti itu, karena Sam adikku pasti masih terluka atas apa yang dilakukan oleh mantan istrinya. Biarkan dia bahagia dengan pilihannya sendiri. Tugas kita hanya mendukung dan mendoakan selalu yang terbaik," ujar Daniel memeluk Maminya.
"Tapi Mami ingin pasangan Samuel sederajat dengan keluarga kita. Kau tahu, bagaimana terpandangnya kelurga ini. Tidak akan pantas jika seseorang yang biasa masuk. Terlebih, gadis itu masih kecil, belum terlalu dewasa. Mami yakin dia tidak akan bisa merawat anaknya Samuel. Lihatlah Leona, dia jauh lebih baik dan pastinya sangat terpandang daripada gadis itu." Yuri terus mengeluarkan air matanya.
"Mami hanya mementingkan status. Ingat Mami, keluarga kita tidak akan jatuh, hanya karena Samuel menikahi seorang gadis biasa."
__ADS_1
"Mami tidak salah Mas. Karena mau bagaimana pun status keluarga adalah suatu pertahanan buat kita. Namun, Mami juga memikirkan bagaimana ketegaan Leona meninggalkan Sam dan anaknya. Aku merasa di antara mereka tidak ada yang lebih baik," ujar Liyu.
'Kecuali aku, hihihi. Karena, dengan permasalahan ini Samuel tidak akan bisa di miliki siapapun. Sehingga, peluangku mengambil hatinya semakin banyak,' lanjutnya dalam hati.
***
Keesokan harinya.
Shireen masuk cafe dengan wajah tidak bersemangat. Sheila yang melihat itu pun langsung bertanya, "Kenapa? Bukankah malam tadi adalah malam kebahagiaanmu?"
Shireen seketika ambruk dalam pelukannya, melampiaskan rasa sedih hatinya yang teriris-iris dengan menumpah air mata dalam dekapan perempuan itu.
"Apa yang terjadi?"
Shireen menceritakan semuanya. Ia sangat terbuka dengan Sheila, ya hanya perempuan itu yang sangat mengerti situasi hatinya, perasaan dan semua yang terjadi pada dirinya.
Setelah menceritakan, Shireen diberi air putih oleh Sheila, guna untuk menenangkannya. "Hikkss, takdir jahat Kak! Memang seharusnya aku gak dipertemukan lagi sama lelaki itu!"
"Sussst, jangan berbicara seperti itu! Shireen kakak ngerti apa yang kamu rasakan. Mungkin seseorang yang sudah mengatur takdirnya sendiri untuk bersamamu itu bukanlah, jodoh. Karena manusia ini hanya bisa menduga dan merencanakan, yang pastinya hanya Tuhan yang lebih berhak menentukan."
"Aku yakin ini sebuah permainan. Aku mau akhiri semua ini, Kak. Lebih baik meninggalkan, sebelum aku terlanjur jatuh lebih dalam lagi. Aku sadar, aku ini hanya serpihan kaca yang tak berguna lagi untuk bercermin, hikksss!"
Sheila sangat amat merasa sedih, hati seorang perempuan pasti mengerti apa yang dirasakan sesamanya. "Shireen, Tuhan memang yang menentukan, tapi kamu bisa merayunya. Berdoalah, rayulah. Aku memang bukan perempuan suci yang tidak punya salah, tapi terkadang aku bersandar dan hanya pencipta yang bisa mengerti aku. Takdirmu pun pasti akan dirubah seiring kegigihanmu berusaha."
"Shireen cape Kak ...."
Tiba-tiba seseorang datang dalam perbincangan mereka.
"Hmm aku baru tahu jika kau bekerja di cafe milik anakku. Apa ini salah satu incaranmu mengambil hati anakku sampai dia begitu terobsesi menikahimu? Shireen, aku bisa memberikanmu lebih dari sebuah aset Sam yang kecil ini. Tapi, asal kau mau meninggalkan anakku dan pergi jauh darinya!"
Jleb!
Sheila merasa panas mendengar ucapan seorang wanita paruh baya yang seakan menghina sahabatnya itu.
Bersambung ....
__ADS_1