
Setelah menggoda Shireen, akhirnya Samuel membiarkan gadis itu untuk mengganti pakaiannya. Mungkin setelah keluar, gadis itu akan memasang wajah masamnya.
Namun pada kenyataannya tidak. Saat gadis itu keluar dari ruang ganti, ekspresi wajah gadis itu berbeda. Memasang wajah bodoh, dan menatap polos pria yang berada di sofa sedang menunggunya. Ia merasa tidak nyaman dengan pakaian yang dikenakannya.
Berbeda dengan pandangan Samuel. Ia terpaku melihat tubuh Shireen yang begitu seksi mengenakan kemeja putih miliknya. Walaupun terlihat kebesaran dan menenggelamkan badannya, tetapi tubuh gadis itu terlihat lucu, terlebih dengan ukuran badannya yang pendek. Samuel juga terpesona melihat paha mulus yang tak tertutup, karena celana boxernya begitu pendek, bahkan tenggelam dengan kemejanya.
"Om, aku mau pulang aja," ucapnya lirih.
"Kenapa?"
"Mereka 'kan sudah tidur, jadi tak perlu aku menginap juga."
"Bagaimana jika setelah mereka bangun, lalu mencarimu?"
"Hmm, tapi aku ...."
Samuel menarik pinggang gadis itu, dan mengajak ia untuk duduk di sampingnya. "Apa waktumu begitu mahal hmm? Hanya satu hari satu malam untuk menghabiskan bersama anakku, kau begitu pelit! Oke baiklah, akan kubayar waktumu selama itu, berapa?"
Shireen menatap garang. "Bukan seperti itu!" sarkasnya.
"Lalu? Kau merasa risih karena ada aku? Ingat, dulu kita pernah tidur bersama!"
"Om ... please deh, aku cuma mau melupakan semua, dan berusaha buat gak luluh lagi sama Om!" jujurnya.
"Tapi aku tetap berusaha untuk membuatmu luluh!"
"Terserah, kalo mampu!" cetusnya melipat kedua tangannya, dengan membuang muka.
"Hmmm, Mama!"
Tiba-tiba Azriel terbangun. Shireen sigap menghampiri dan menidurkannya kembali. Akhir pun bocah lelaki itu, memejamkan mata lagi dengan mendusel di dada Shireen. Seketika Shireen seakan merasakan saat di mana selalu mendapat pelukan anak ini lagi. Ia mengingat kembali bagaimana kedua anak ini mengemutnya dengan bibir mereka yang mungil.
Entah kenapa mata Shireen ikut berat. Rasanya tidur di ranjang empuk ini membuat rasa tubuhnya yang pegal-pegal karena terlalu lama duduk di dalam kamar mandi, seolah hilang. Ia seperti mendarat di atas awan-awan lembut, akhirnya gadis itu pun benar-benar memejamkan matanya.
Samuel yang melihat tak ada lagi pergerakan dari gadis itu. Mulai beranjakan diri untuk ikut merebahkan tubuhnya di sana.
Ia menyelimuti dirinya dan tubuh Shireen serta kedua anaknya yang di dekap oleh gadisnya. Ah, ralat belum menjadi gadisnya, baru hanya harapan.
"Good Night!"
Samuel mendekap Shireen yang membelakanginya, sedangkan ia menyembunyikan wajahnya di leher Shireen dengan tangan yang begitu erat dan nyaman merengkuh tubuh gadis itu.
Apakah sebegitu nyamannya memeluk seseorang yang dicintai? Tak bisa dipungkiri, bahwa mengambil waktu Shireen itu sangat sulit. Hanya dengan kesempatan ini, ia sudah sangat bersyukur dapat merasakan kehangatan tubuhnya.
__ADS_1
Akhirnya mereka pun tertidur dalam satu selimut yang sama.
Tengah malam.
"Eummhh ...."
Shireen merasakan badannya menghangat, ia seperti terjepit. Karena merasa sedikit gerah, dan lagi ada sesuatu yang tak tertahan dari dalam tubuhnya membuat ia menggeliat seperti ulet bulu.
'Issh, Om kesempatan banget sih,' batinnya.
Ia berusaha untuk tidak berontak, karena ada dua anak kecil yang sedang tidur mendekapnya. Jika mereka bangun, pasti semua orang rumah ikut bangun. Tanpa sadar, ternyata Samuel membuka matanya juga. Pria itu merasakan geliatan gelisah dari gadis yang sedang ia peluk.
"Kenapa? Kau seperti ulet bulu, tidak bisa diam," ujar Samuel.
Shireen tersentak, dan langsung memberikan tatapan tajam kepada Samuel. "Om, aku gerah!"
"Aku akan tambahkan suhu AC-nya," balas Samuel, tanpa mau mengubah posisinya. Lagi-lagi Shireen menggeliat dalam selimut.
"Aku pingin pipis. Awas, aku gak tahan!"
Samuel pun mau membuka pelukannya, dan membiarkan Shireen beranjak dari ranjang. Gadis itu berlari terburu-buru dengan terus memegang bagian intimnya.
Dengan mata yang sayu-sayu, Samuel tersenyum melihat Shireen. Kemudian ia ikut beranjak, karena ia juga ingin membuang cairan yang tertahan dalam tubuhnya.
Saat yang kebetulan Shireen sudah keluar dengan napas leganya. Dia menatap Samuel dengan mengernyit. Ia berpikir Samuel ini membuntutinya. "Om, mau apa?"
Sudah malu dengan hati yang menduga-duga, kini ditambah dengan perkataan pria itu. Shireen merasa panas di pipinya saat ini.
Ia segera merebahkan tubuhnya kembali. Beberapa saat setelah Samuel selesai dari kamar mandi, Shireen berpura-pura memejamkan matanya.
Namun, Samuel tidak tidur kembali, terlihat pria itu menuju pintu untuk keluar. Shireen yang penasaran pun bertanya, "Om mau kemana?"
"Membuat makanan, aku tau jam segini kau pasti lapar," balasnya.
Memang benar. Ya, saat ini Shireen rasakan lapar perutnya, terlebih ia belum sempat makan semalam karena kelelahan dan langsung tidur. Tetapi, tunggu! Apa semalam perutnya yang berbunyi mampu di dengar oleh Samuel? Ah, jika itu benar, Shireen sangat merasa malu.
"Hmm, aku ikut!"
"Marilah!"
Kedua orang itu pun melangkah menuju dapur. Setelah tiba, Shireen mulai mengecek isi kulkas dan bahan yang ada di dapur. Ternyata masih banyak yang tersedia.
"Om mau makan apa? Biar aku yang masak," tawar Shireen.
__ADS_1
"Apa saja."
"Oke, Shireen buat pasta aja."
Shireen mulai memasak dengan makanan yang ingin dibuatnya. Sedangkan Samuel menunggu di meja dapur. Pria itu hanya menonton Shireen yang sedang memasak itu, bahkan pandangannya sama sekali tak terlepas dari gadis itu.
'Dia hanya memakai baju kebesaran saja, sudah membuatku bergairah. Bagaimana jika dia menjadi istriku, dan memakai lingerie tipis, pasti tubuhnya begitu mungil,' gumam dalam hatinya.
Samuel merasa hasratnya keluar melihat paha mulus Shireen, terlebih kemeja putih itu menerawang penglihatannya saat tali bra hitam yang dikenakan gadis itu menembus terlihat.
'Astaga, kenapa aku jadi seperti ini? Oh ****, apakah aku sudah tertular virus Tansoon?' batinnya menyadar.
"Selesai!"
Shireen membawa satu piring yang berisi pasta. "Kenapa sendoknya ada dua?" tanya Samuel.
"Kan satunya buat Om ...."
"Tapi aku tidak mau makan sendiri!"
Shireen sudah tau apa makna dari kata itu. Ya, artinya dia harus menyuapi pria yang berada di hadapannya ini. 'Manja banget,' batinnya.
Dengan telaten Shireen menyuapi makanan ke mulut Samuel, lalu bergantian memasukkan ke mulutnya juga dengan satu sendok yang sama.
"Bagaimana hubunganmu dengan adik Tansoon?"
"Buat apa Om mau tau?"
"Aku hanya ingin tahu saja."
"Aku sama Jasson bersahabat baik."
"Tidak lebih?"
"Nggak!"
"Kalau aku minta kau jauhi dia, bagaimana?"
Perbincangan ini, seketika membuat Shireen menghentikan suapannya. "Gak ada hak Om! Asal Om tau, aku berjuang hidup sendiri selama dua tahun ini, karena dia. Jasson yang membuat aku bertahan hidup. Gak akan aku tinggalin dia!"
"Kau bisa tinggal bersamaku lagi. Hanya menjadi istri, dan ibu buat anakku!"
"Maaf, Om. Memaafkan saja, Shireen masih berpikir panjang. Apalagi untuk menikah dengan Om. Aku gak mau kejadian yang sudah-sudah terjadi kembali!"
__ADS_1
Bersambung ...
Hey kau, ya kau pembaca diam-diam yang hanya menyimak tanpa mau me-like dan komen. Sungguh tega, aku ingin sekali melihat dirimu.