
Tap!
Gelap sudah, tak ada lagi cahaya. Di rasa sudah aman, Agha segera membuka baju Azel, ia juga membersihkan tubuhnya. Hanya sekedar alas-alas saja menggunakan kain basah.
Walaupun kasak-kusuk dalam kegelapan, Agha tahu mana saja yang harus ia lakukan untuk membersihkan Azel. Bagian-bagian sensitif darinya pun ia biarkan, yang terpenting baginya Azel terkena air.
Begitulah Agha jika prihal kebersihan paling diutamakan, terlebih itu untuk kesehatan. Agha memang pria yang disiplin dari segala hal. Perempuan mana yang menolak? Hanya saja pria itu terlalu gila dengan perasaan di masa lalu yang tak terbalaskan.
Tap!
Lampu pun kembali dihidupkan, tampak Azel sudah lebih baik dari sebelumnya, ia terlihat lebih segar walau mata perempuan itu belum terbuka. Namun bukan berarti mengurangi rasa cemasnya, pasalnya perempuan ini belum sama sekali kena makanan, sementara dia sendiri masih belum sadar.
Dokter tak kunjung datang, menambah rasa kekhawatiran Agha. Sedangkan Azel harus segera diperiksa, karena banyak tenaga dan pikirannya yang terkuras banyak, Agha tahu jika itu akan mengganggu kesehatannya nanti.
Namun, setelah ditunggu-tunggu dokter pribadi yang diteleponnya tadi, ternyata baru saja tiba.
“Maaf Tuan Agha, saya agak telat. Ada sedikit kendala di jalan tadi,” ucap seorang pria muda yang berprofesi sebagai dokter itu.
“Baik, tidak apa-apa. Tolong periksa kondisi dia!”
Dokter itu segera melaksanakan tugasnya. Ia melakukan pekerjaannya masih dalam pantauan Agha. Sebenarnya sedikit tidak rela dokter itu menyentuh tubuh Azel, terlebih ia seorang pria dan masih muda. Namun karena sikap profesionalnya tetap ada, Agha membiarkan. Lagipula ini hanya memeriksa.
Setelah beberapa saat. Akhirnya dokter itu telah usai mengecek keadaan Azel, Agha pun bertanya seputar kesehatannya, “Bagaimana?”
“Sebenarnya ibu hanya drop Tuan, mungkin karena aktivitas yang banyak dilakukannya membuat dia lelah. Akan tetapi, kesalahannya kenapa bisa sampai perutnya kosong? Itulah yang menyebabkan dia kehabisan tenaga,” jelas dokter itu.
“Ya, memang seharian tadi dia tidak makan,” balas Agha.
“Makan itu penting Tuan, jangan sampai telat karena tenaga terisi dari asupan. Nanti saya kasih resep obatnya. Setelah dia sadar, mohon segera beri dia makanan.”
“Baik terima kasih.”
__ADS_1
“Baiklah saya pamit, semoga lekas membaik keadaannya,” ucap dokter lalu ia pergi meninggalkan rumah.
Agha menatap wajah Azel yang masih terlelap, ia beralih untuk duduk di sampingnya. Pria itu terus memandangi wajah Azel, berharap wanita itu mau membuka mata.
Terlalu posesif memang, bahkan saat ini ia seperti menjaga orang yang sedang koma. Namun itulah Agha, sikap keperduliannya jauh lebih tinggi dari rasa cintanya. Namun bukankah rasa cinta yang menimbulkan sikap itu? Entahlah.
“Lama sekali bangunnya, dia pingsan atau mat--”
“Heumm ....”
Tiba-tiba Azel melenguh, perempuan itu tampak berusaha membuka matanya. Sontak mata Agha terbuka lebar, ia segera membantu Azel untuk bangkit dari tidurnya.
“Agha ...?”
“Susst ... jangan banyak bicara dulu. Minumlah!” Ia menyodorkan segelas air putih, dan itu langsung ditanggapi oleh Azel.
“Agha kau masih di sini?” Terdengar suara Azel begitu lirih, seolah ia sedang di puncak selemah-lemahnya fisik.
“Bagaimana anakku? Dia pasti kedinginan saat ini. Agha, ini sudah sangat malam kau bisa bayangkan bagaimana kondisi di alam luar sana? Aku mohon bantu aku cari Abel lagi ....” Lagi-lagi Azel kembali menangis. Pikirannya masih terbayang-bayang kondisi sang anak saat ini.
Agha pun seakan sudah lelah untuk menenangkan wanita yang keras kepala itu. Ia hanya bisa memeluk tanpa membalas ucapannya.
“Agha aku mohon ....” Masih di dalam pelukannya.
“Tidak ....”
“Kau jahat, buat apa kau menganggap anakku sebagai anakmu juga, jika kau sendiri tidak menunjukkan sikapmu sebagai seorang ayah!”
Agha menangkup wajah Azel, lalu ia tatap lekat-lekat manik mata yang berwarna hazel itu. “Maafkan aku, tapi sikap kekhawatiranmu tidak membuat Abel akan ditemukan. Percuma saja Azel, itu akan merusak kesehatanmu. Jika aku tidak perduli, untuk apa aku menemanimu saat ini dan untuk apa aku rela mengorbankan waktu untuk mencari Abel? Aku cemas, tapi kita bisa apa? Masih ada hari esok, kenapa harus dipaksakan sekarang? Ingat yang khawatir bukan cuma kau, tapi kita semua!”
Setelah memberikan tamparan berupa ucapan, akhirnya Azel terdiam. Lagi dan lagi ia hanya bisa menangis dengan menyebut-nyebut nama anaknya.
__ADS_1
“Kau belum makan. Tunggulah di sini, akan kubuatkan makanan untukmu!”
Agha melepaskan rengkuhannya, begitupula dengan Azel yang membiarkan dia pergi. Sampai beberapa detik kemudian, Azel tidak tahu apa yang dilakukan Agha di luar, perempuan itu sibuk merilekskan pikirannya yang dilanda rasa cemas.
Hingga beberapa menit setelah lamanya Agha keluar dari kamar, kini pria itu datang kembali dengan membawa sepiring makanan.
“Aku tidak tahu bagaimana rasanya, walaupun tampak berantakan tapi cobalah dulu agar perutmu terisi sedikit makanan,” ujar Agha bersiap untuk menyuapi Azel.
“Agha anakku sudah hilang seharian, jika dihitung dengan hari ini sudah dua hari ia tersesat, itu berarti dia tidak makan selama dua hari. Aku tidak bisa makan saat ini, sementara anakku kelaparan di sana.” Kembali lagi Azel menitikkan air mata, lagi-lagi mengharuskan Agha untuk menarik napas dengan rasa sabar.
“Doakan saja, Abel masih dijaga. Kini yang butuh makan itu kau, jadi makanlah dulu!”
Azel menggeleng dengan tatapan yang masih menghunus ke depan, seolah menggambarkan kekosongan pikirannya. “Ayolah Azel. Kau mau kusuapi dari tangan, atau dari mulutku langsung?”
Sontak Azel menatap, ia menghapus kasar air matanya kemudian menggeleng kembali dengan kuat. “Tapi, masakanmu tidak enak ....”
Agha yang hendak menyuapi lagi-lagi terurungkan sampai ia berucap, “Kau belum tahu rasanya bagaimana, jangan menyimpulkan lebih dulu karena bentuknya. Kau pingsannya terlalu lama, jadi tidak sempat order food!”
Azel membuang muka, itu tanda jawaban jika dia benar-benar menolak. Namun, rasa lapar tidak bisa membohongi. Suara perut perempuan itu terdengar tampak merdu, sehingga menyakini Agha untuk memaksakannya lebih lagi untuknya mau makan.
“Cacingmu sedang melakukan unjuk rasa di dalam sana. Mau di makan atau aku kasih untuk kucing Abel saja?”
Jika menuruti ego saja, Azel akan kelaparan sendiri. Alhasil ia mengambil alih piring itu. Namun, Agha tidak langsung memberikannya melainkan ia sendiri yang ingin menyuapi.
“Biarku suapi!”
Azel pun mau membuka mulutnya. Ragu-ragu ia mengunyah karena takut kecewa akan rasanya. Supaya tidak ingin makanan itu keluar lagi sebab tidak bisa diterima oleh perutnya, ia menguyahnya dengan pelan.
Namun tak sesuai prasangkanya. Makanan yang baru saja turun ke tenggorokannya meluncur mulus masuk ke dalam perut. Entah karena kondisi lapar atau butuh asupan, yang jelas makanan itu terasa enak.
“Aku tahu rasanya enak, hanya saja bentuknya yang meragukan,” ujar Agha.
__ADS_1