Ibu ASI Untuk Bayi Om Duda

Ibu ASI Untuk Bayi Om Duda
Kedatangan Pemilik Baru Caffe


__ADS_3

Semua karyawan sudah bersiap untuk menyambut kedatangan pemilik baru caffe. Pada hari ini mereka menginginkan penyambutan seseorang pemilik baru ini, berkesan.


"Kira-kira siapa ya Kak, pemilik barunya?" ucap Shireen seolah tidak sabar menunggu kedatangannya.


Semua pengunjung tetap santai menikmati minuman dan lantunan lagu yang diramaikan oleh salah seorang pria yang bernyanyi mengisi caffe.


"Sudahlah, kita tunggu saja. Aku juga penasaran, tapi aku sedih karena Tansoon bukan lagi pemilik caffe ini. Mungkin aku tidak akan disewa lagi, karena dia sudah melupakanku," balas Sheila.


"What? Sewa?"


"Gak usah so polos, kakak yakin kamu ngerti," celetuk Sheila. Shireen hanya mampu mingkem.


'Gila jaman sekarang. Yang kayak gini bisa-bisanya santai banget gak malu lagi jujur,' batinnya heran.


Tiba-tiba Sheila terburu-buru berlari ke arah pintu masuk. Ia sudah melihat mobil mewah milik Tansoon. Beberapa karyawan pun Sheila kumpulkan untuk menyambutnya, termasuk Shireen.


Kedudukan Sheila bukan hanya barista saja, ia juga dipercaya Tansoon menjadi seorang manager. Namun, Tansoon tak mengkhususkan kedudukannya, ia tetap menjadi pelayan bar seperti karyawan lainnya. Hanya saja, Sheila diperintah untuk memimpin caffe ini. Tentu honornya pun berbeda dari karyawan yang lain.


Semua orang melihat sosok pria yang berdiri tegap, berkacamata hitam, dan berwibawa. Yang siap melangkah untuk memasuki pintu masuk. Namun pria itu tidak sendiri. Ya, ada Tansoon yang mengikutinya, tetapi bukan hanya Tansoon juga. Di sana ada dua sosok anak kecil yang terlihat sama parasnya.


Shireen menganga, sebelumnya ia begitu terkejut. Namun, berusaha untuk profesional. 'Jangan bilang pemilik baru caffe ini, dia!' batinnya mulai resah.


"Selamat datang Tuan," ucap Sheila menyambutnya.


"Mama!"


Ini yang Shireen takutkan. Bahkan, saat ini gadis itu sudah terdiam membeku di saat ada sosok dua anak kecil menghampirinya dengan memanggilnya sebutan 'Mama'.


Sheila dan beberapa karyawan sudah menatap ke arahnya dengan penuh tanda tanya.


Gadis itu berjongkok, lalu menatap mereka berdua. "Sayang, anak Mama," lirihnya mengusap lembut kedua pipi mereka.


"Akhilnya kita ketemu Mama lagi," ucap Azel.


"I miss Mom," ucap Azriel memberi kecupan di pipi Shireen.


"My girls and my boy. Ayo ajak Mamamu untuk duduk bersama dengan Daddy," ucap Tansoon.


"Oke uncle!" serempak mereka.


Shireen pun langsung ditarik dua anak


kembar itu untuk duduk di sebuah meja yang tersedia khusus untuk mereka. Tansoon dan Samuel pun duduk bersama dengan anaknya di bangku yang sama.


"Kalian duduk di sini. Mama mau buat susu coklat hangat dulu, untuk kalian," ucap Shireen.

__ADS_1


"Oke Mama!" ucap mereka berbarengan.


Kini tinggal dirinya menawarkan sang pemilik baru caffe. Ia berkali-kali menarik napas menghilangkan rasa gugupnya. Ia merasa malu ditatap dengan senyum yang tertahan oleh kedua pria itu.


"Bagaimana dengan kejutannya Shireen?" ucap Tansoon menggoda.


Shireen hanya memberikan senyuman termanisnya, untuk membalas ucapan pria bule itu.


'Kaget, kaget banget sampe lupa napas,' batin Shireen refleks menjawab. Ya, hanya dalam hati.


"Hmm, baiklah selamat datang pemilik baru caffe, yaitu Tuan Samuel. Kami akan menyediakan menu minuman terbaik di sini untuk Anda," ucap Shireen berusaha untuk profesional.


"Tidak usah terlalu formal, aku yakin suatu saat kau yang akan menjadi nyonya caffe ini," ujar Tansoon lagi-lagi menggoda.


Tanpa mau mendengarkan godaan dari Tansoon lagi, Shireen segera pergi untuk membuatkan minuman untuk disediakan kepada mereka.


Seketika Samuel dan Tansoon tertawa kecil. Mereka merasa puas melihat wajah Shireen yang sangat gugup tadi. "Jika seperti ini, aku akan lebih dekat dengannya, karena kekuasaanku di sini," ucap Samuel.


"Aku yakin, perlahan gadis itu akan luluh denganmu. Hanya kau sendiri saja yang menyikapinya bagaimana. Mungkin butuh kesabaran dan perjuangan, karena aku melihat Shireen adalah gadis yang keras kepala yang mudah berganti-ganti mood," ucap Samuel.


"Aku punya tiga senjata."


"Apa? Jonimu?" ucap Tansoon melantur mesum.


"Bukan bodoh!" cetusnya. "Tapi, caffe ini dan kedua anakku. Cuma dengan caffe ini dan anakku, aku bisa mendekatinya," sambungnya.


"Kamu berhutang penjelasan sama kakak!" ucap Sheila. Shireen menatap Sheila, lalu ia memandang beberapa partner kerjanya.


"Reen, kamu udah punya anak?"


"Atau kamu itu istrinya pemilik baru caffe?"


"Kamu kayak udah kenal lama ya sama pemilik baru itu?"


Ya, itulah lontaran pertanyaan dari beberapa temannya.


"Dugaan kalian itu salah. Aku emang udah lama kenal dia kok. Namanya Pak Samuel, dia majikan aku waktu kerja di rumahnya dulu. Dan, karena pekerjaan aku jadi baby sitter anak kembar yang tadi, sampai sekarang aku masih dipanggil Mama," jelas Shireen menerangkan.


Mereka pun hanya ber-oh. Pertanyaan-pertanyaan di benak mereka pun hilang bersamaan dengan rasa penasarannya.


"Kakak kira anak kecil tadi, memang anak kamu, dan kamu itu istrinya Tuan Samuel," ujar Sheila.


"Mana mungkin, Kakak gak liat wajah mereka yang jauh beda sama aku," cetus Shireen.


'Duh, Kak. Sebenarnya pria itu yang waktu kemarin Kakak usir,' batin Shireen meringis.

__ADS_1


"Ya sudah, ayo kita sediakan buat mereka. Berikan pelayanan yang baik, ingat!"


"Baik Kak!"


Shireen dan Sheila, berjalan dan menghidangkan minuman serta makanan sebagai pendamping, untuk mereka.


"Silahkan mencicipi menu minumannya Tuan!" ucap Sheila.


"Ya, terima kasih," balas Samuel.


"Yeyy cokat susu, Azel sampai," ucap Azel kegirangan. Sebenarnya Sheila sangat gemas dengan kedua anak itu, ia ingin mencubit mereka. Namun, sepertinya itu tidak etis terlebih di depan ayahnya.


"Reen, kok mereka gemesin banget sii," bisik Sheila.


"Hmm, Mama duduk temani kita minum yaa, please ...," pinta Azriel.


"Hmm, gak bisa Mama harus kerja," balas Shireen.


"Gak apa-apa kamu layani di sini, biar pengunjung kakak yang layani," ucap Sheila.


"Kau harus di sini Shireen, karena kedatangan Samuel hanya untukmu," ujar Tansoon. Pria itu berdiri, lalu ia menggandeng Sheila.


"Ayo Sayang, kita biarkan mereka bersama. Kita berduaan saja," ajak Tansoon. Mereka pun pergi dengan saling bergandengan.


Shireen mendengus jengah, lalu menggerutu dalam hati, 'Mana sikap profesional? Issh, nyuruh doang, sedangkan dia malah gandengan. Mana ditinggalin sendiri di sini lagi. Argghh, lagi-lagi gue kejebak suasana kayak gini.'


"Duduk Mama, suapi Azel lagi yaa."


"Azriel juga mau!"


Shireen pun di tuntun untuk duduk bersama mereka. Seperti biasa, Shireen hanya memfokuskan dengan dua anak itu, tanpa mau menganggap keberadaan Samuel.


"Sejak kapan kalian menjadi manja seperti ini?" ucap Samuel.


"Sussst Daddy gak usah ikut campul ini ulusan anak kecit!" balas Azel.


"Daddy diam saja!" cetus Azriel menyahuti.


Shireen menahan tawanya. Ia menyadari, bahwa seorang Samuel yang angkuh, keras kepala, dan sombong bisa langsung terdiam hanya dengan perkataan anak kecil. Jelas, itu anaknya bukan anak orang lain.


"Jadi, kalian mau Mama atau Mami?"


"Mama!" serempak mereka lagi-lagi bersamaan.


"Oke baiklah, jika seperti itu lupakan Mami yang kalian inginkan. Dan, besok Daddy akan menikahi Mama!"

__ADS_1


Seketika Shireen menatap melotot Samuel.


Bersambung ....


__ADS_2