Ibu ASI Untuk Bayi Om Duda

Ibu ASI Untuk Bayi Om Duda
S2. Merasa Rindu


__ADS_3

Hari kedua.


Semenjak kepergian suaminya prihal kepentingan dinas di luar Negeri, kini entah kenapa Ina merasa kesepian, bahkan jika melihat kamar atau benda apapun itu ia teringat pada suaminya.


"Oh, ayolah Ina fokus ...." Setelah menyangkal pikirannya, ia pun kembali menyapuhi kamar.


'Pikiranku sudah gila, kenapa semuanya tampak teringat dia? Mas Azriel benar-benar merusak otakku!"


Saat ia melihat sofa, pandangannya selalu terbayang Azriel duduk di sana sembari merokok, sampai saat melihat ranjang kasurnya ia seperti merasakan tubuh kotak-kotak suaminya sedang tidur terlentang. Ya, karena semua itu memang kebiasaan Azriel.


Padahal baru dua hari. Apa ini kejadian nyata tentang pepatah, 'menjilat ludah sendiri'? Dia mengatakan akan membuang waktu jika merindukan seseorang. Tetapi, apakah ini yang dinamakan merindukan?


"Jujur saja, aku merasa sepi. Biasanya aku selalu mendengar ucapan nyelenehnya," ungkapnya bergumam.


Ina terduduk di sofa, ia menumpu wajahnya menggunakan batang sapu. "Baiklah aku jujur, jika merindukan tuan muda itu. Tanpa kejahilannya membuatku sepi di kamar sendiri seperti ini."


'Namun dengan begitu, bukan berarti aku menurunkan harga diriku untuk menelponnya. Tidak akan, tidak akan. Aku tidak mau mendengar suara tawanya yang konyol itu yang pada akhirnya dia akan mencemoohku,' batinnya.


***

__ADS_1


Tepat di hari keempat.


Hanya menunggu tiga hari lagi kepulangan Azriel. Namun Ina sudah tidak lagi merindukannya, ia tampak biasa saja sekarang.


Kini gadis itu sedang membereskan kamarnya. Namun, di tengah-tengah itu Abel datang dengan wajah mewek.


"Kenapa Sayang ....?" Ina langsung memangkunya.


"Ante, om Azil ulang kapan, hmm huhu ...." Gadis kecil itu tampak merindukan sosok adik dari ibunya, karena Abel memang tidak terbiasa jika tidak bertemu sehari saja dengan Azriel. Saat Azriel bekerja pun, waktu malam ataupun sebelum berangkat bekerja pria itu tetap menyempatkan waktu untuk bermain walaupun sangat terbatas.


"Hmm, besok om akan kembali. Sekarang Abel main sama tante dulu ya?"


Abel menyeka air matanya menggunakan jari mungilnya itu, kemudian ia pun mengangguk.


Ina membawa semua mainannya ke kamar agar bocah mungil itu anteng bermain. "Ainan Abey nyak lucak, Abey au inta Om," ujar gadis itu tidak jelas.


Ina yang mendengarnya hanya menggaruk kepalanya seperti orang bodoh. "Yaa, yaa hehehe ...."


'Tidak paham si, tapi mulut anak ini lucu banget. Kok bisa ya mas Azriel jadi perpustakaan berjalannya?' gumam hatinya.

__ADS_1


Namun tiba-tiba tersadar, lalu ia menggeleng-geleng sembari memukul kepalanya. "Lagi-lagi dia, lagi-lagi dia!" sungutnya.


"Ante napa?"


"Ah, tidak apa-apa q


Sayang ... lanjut main yah, Ante mau berberes dulu oke!" Abel membalasnya dengan menunjukkan ibu jari imut miliknya. Merasa gemas, Ina pun mengecupinya bertubi-tubi.


Setelah beberapa lama berkutat dengan kegiatannya yang sangat sibuk membereskan kamar, akhirnya Ina beristirahat.


Saat kembali melihat kondisi ranjang, tiba-tiba ia tersenyum dengan menggeleng kepala. Ya, ia mendapati pemandangan yang sangat menggemaskan. Abel terlihat tidur dengan posisi meringkuk sembari memakai bandana mainannya.


"Gemul sekali badannya, jika dia anak kucing sudah kulahap dengan gemas!" gumamnya. Gadis itu menggendongnya untuk ia pangku. Ina pun duduk di atas sofa sembari mengecek ponselnya.


Gadis itu memicingkan mata saat melihat ada notif panggilan dari suaminya, seketika gadis itu tergelak.


"Banyak sekali panggilan darinya. Terbukti, jika dia yang merindukanku," gumamnya merasa percaya diri. Tiba-tiba Abel menggeliat di dadanya, sampai ia mengecil suaranya karena takut gadis itu terbangun.


Drttt drrrrttt ....

__ADS_1


"Astaga, bagaimana ini dia menelpon kembali!"


Bersambung ...


__ADS_2