Ibu ASI Untuk Bayi Om Duda

Ibu ASI Untuk Bayi Om Duda
S2. Azriel Sakit


__ADS_3

Terlihat semua orang sedang bersantai di ruang tengah dengan kesibukan mereka masing-masing.


Tampak Iren dan Aryan sedang sibuk dengan gadget mereka, sementara Azel asik menonton TV dan anaknya asik bermain sendiri. Sedangkan, Shireen dan Samuel terlihat sibuk dengan laptop mereka.


Azriel datang bergabung, ia menatap keluarganya dengan jengah. "Berkumpul, tapi dunianya sendiri-sendiri," decaknya.


Ia pun memilih menghampiri keponakan tersayangnya itu. "Om Ante ana?"


"Ada di dalam kamar. Om mau ikut main, boleh?" Pria itu langsung memangku Abel dan mengikuti apa yang dimainkannya.


"Abey mau anggil Ante ulu Om!"


"Dia sudah tidur Sayang ... besok saja," balas Azriel. Gadis kecil itupun hanya merengut kecewa.


"Tumben sekali dia tidur cepat, biasanya istrimu ikut gabung ke sini," ujar Shireen.


"Masa-masa pembuahan Mom, memang cepat lelah," sahut Azel menggoda adiknya.


"Kakak terlalu kuat memang," timpal Aryan seolah meledek.


"Huh ... jangan terlalu terobsesi dengan nafsu Sayang, kasihan menantu Mommy terlebih jika dia sudah hamil nanti," ucap Shireen.


"Kalian ini apaan si? Aku belum melakukan apa-apa dengannya, dan untuk yang mengira dia akan hamil itu tidak mungkin, karena aku hanya berbohong dengan ucapanku malam itu!" tegas Azriel, tetap santai tapi terdengar serius. Pria itu kembali fokus dengan keponakannya.


Seketika perhatian Samuel mengarah padanya.  "Maksudmu? Apa kau permainkan kita semua?"


"Aku tidak mempermainkan kalian, tapi aku terpaksa melakukan itu karena aku tidak mau Daddy jodohkan!"


"Azriel kau benar keterlaluan!"


"Maafkan aku Dad ... Aku melakukan itu hanya demi menghindari perjodohan Daddy, dan ya aku membuat pengakuan yang salah saat malam itu antara aku dan Ina," ungkap Azriel.


"Azriel ...." Tiba-tiba sang kakak berdiri melayangkan tatapan tajamnya.


"Kau mempermainkan wanita hanya demi urusanmu. Ternyata benar semua yang dia katakannya, bahwa gadis itu memang tidak melakukan apa-apa denganmu dan kau menjadikan dia sebagai alatnya. Bodohnya kita percaya dengan ucapanmu itu!" gertak Azel.


"Daddy kecewa padamu!"


"Dad, percayalah aku lebih mencintai Ina dibanding dengan gadis yang dipilih. Keseharianku dengannya, membuat aku menaruh perasaan. Aku tidak mau dia pergi ... jadi, terpaksa aku melakukan itu agar aku dinikahi dengannya karena dengan pernikahan, dia tidak akan pergi dariku." Ini adalah sebuah pernyataan dan ungkapan. Namun sayang sekali Ina tidak dapat menyaksikannya.


"Padahal, tanpa kau melakukan perbuatan yang membuat kita salah paham itu, Daddy akan senang hati menikahimu dengannya. Perjodohan itu tidak akan Daddy buat, jika kau sudah mempunyai wanita sendiri yang kau cintai," sahut Samuel.


"Sudahlah semuanya sudah terlanjur, yang jelas kita semua sudah tahu yang sebenarnya. Bahwa Ina adalah gadis yang selalu berkata jujur, dan sayangnya dia harus menikah dengan pria egois seperti anak Mommy itu!" ucap Shireen.


Azriel hanya memasang wajah datar seperti biasa, bahkan tanpa mereka duga pria itu tetap tertawa dengan keponakannya.


"Akhhh aku pusing dengan perilaku anakmu!" Samuel pun memilih untuk pergi.


"Oke berarti bukan anakmu ya ...!" teriak Shireen. "Pokoknya Mommy mau cucu dari Ina!" Setelah itu dia menyusul suaminya.


"Azriel, buat pengakuan dan nyatakan cintamu dengan gadis itu!"


"Tidak mau!"


"Kau bukan lelaki Azriel!" Azel mengambil anaknya, kemudian dia pun ikut mengurung diri menuju kamar. Namun, ia merampas Abel yang sedang dalam pangkuannya.


"Kak Azriel payah ....!" Iren ikut mencemooh.


"Kakak Jonimu aman? Bagaimana rasanya jadi suami tapi tak mendapat jatah?" ledek Aryan.


"Sialan!" geram Azriel. Aryan dengan Iren pun berlari kocar-kacir karena takut mendapat serangan dari kakaknya itu.


Kini tinggallah dia sendiri.


"Semuanya seakan memusuhiku, padahal dengan sukarela aku mau jujur." Wajah bodohnya terpampang seakan merasa hal itu sepele di matanya.


"Terus aku sekarang bagaimana? Padahal aku ingin kumpul arghhh ... jika ke kamar aku tidak akan kuat, gadis itu menolak langsung saat aku terang-terangan meminta hak," gerutunya.


"Baiklah tahan dirimu ... ingat, sekarang dia sudah menjadi istri. Hanya menunggu waktu saja."


***


Pagi hari.


Ina melihat suaminya itu masih terlelap dalam selimut. Mata indahnya melihat arah jarum jam yang terus berputar.


"Sudah jam segini, tidak biasanya dia telat bangun."


Rasa hati ingin membangunkan. Namun, egonya mengalahkan. Memang sampai saat ini Ina belum mau tidur seranjang dengan suaminya, terlebih setelah mendengar permintaan Azriel semalam. Trauma malam itu belum hilang, ia masih berwaspada.


"Jika seperti ini, dia akan telat ke kantor. Apa aku bangunkan saja?"


Ia teringat sesuatu, pasti semua orang sudah menunggu ia dan suaminya di meja makan. "Sebaiknya aku bangunkan saja."


Gadis itu berjalan menghampiri ranjang, ia mendekat lalu mencoba untuk menyentuh. Sangat perlahan, karena ia takut jika Azriel melakukan serangan mendadak seperti yang sudah-sudah.


Tiba-tiba ia merasa terkejut setelah menyentuh punggung suaminya, "Sshhh, panas!" gumamnya.


Ina menempelkan telapak tangannya di kening Azriel, dan ya yang ia rasakan suhu panas di tubuh suaminya sangat tinggi. "Dia demam."

__ADS_1


Ina beranjak dari kasur, gadis itu berjalan cepat menuju dapur. Namun tak sengaja Shireen melihatnya berjalan dengan terburu-buru, ia pun bertanya, "Ina kau tidak sarapan bersama? Di mana suamimu?"


"Hmm, Ibu Mas Azriel demam dia belum bangun," balas Ina.


"Anjai panggilannya berubah. Semalam kakak seger, ini pasti karena tidak dapat jatah!" celetuk Aryan.


"Husssh! Menyambung saja!" tegur Shireen. "Kompres saja dulu, nanti Ibu cek ke kamar!"


"Baik Buk."


"Aku tahu itu cuma sepik yang dirangkai buat cari perhatian. Anakmu 'kan tidak pandai soal percintaan," sahut Samuel.


"Sepertimu dulu!"


"Tidak!"


"Ingat tidak, kamu jadikan Azel dan Azriel untuk aku kembali ke kamu Mas?"


"Sayang ... sudahlah ...."


"Ekhem nyamuk!" sindir Aryan.


"Ehehe jadi pengen punya adik ...." sahut Iren.


"Mau?" tawar Samuel melirik Shireen untuk menggoda.


"Please jangan ... gak mau ...!" Tiba-tiba Aryan menjadi ketar-ketir. Karena, ia tahu bagaimana repotnya mempunyai adik.


"Jangan mengada-ngada, Mommy udah tutup. Lihat Daddymu saja sudah tua. Mana kuat?" Refleks semua tertawa, sampai Abel ikut-ikutan padahal dia tidak mengerti apa pembicaraan mereka.


"Ahahaaa ucu!"


"Dih, emang lu ngerti?" seloroh Iren.


***


Kembali ke kamar.


Kini Ina sudah membalut kening suaminya dengan sehelai kain basah. Tangannya sibuk menekan kompresan itu agar menyerap ke kulit suaminya yang terasa panas itu.


'Rasanya aku ingin membangunkannya saja, tapi aku canggung memanggil sebutan baru itu,' batin Ina.


Saat melihat Azriel membuka mata, ia segera menjauhkan diri. Azriel tampak memicingkan mata, ia menatap istrinya samar-samar karena belum terlihat jelas. Masih mengumpulkan kesadaran, tetapi ia menyadari ada kain basah di dahinya.


"Ini apa?" tanyanya.


"Badan kamu panas, jadi jangan dilepas. Itu untuk meredakan demam," jelas Ina.


Melihat suaminya yang begitu memohon, tak Sampai hati jika ia menolak. Namun jika Ina menerimanya, ia hanya takut jika malam itu akan terjadi kembali.


Rasa traumanya masih belum bisa ia sembuhkan, karena ingatan Itu masih membekas di hatinya.


"Kenapa jadi dingin sekali?"  Tiba-tiba Gadis itu melihat suaminya terlihat sangat menggigil. Ia merasa iba karena ia tahu Azriel butuh pelukannya.


Tanpa aba-aba lagi pun dia langsung masuk ke dalam selimut Azriel, mendekap kepalanya lalu dia sembunyikan di dada agar memberi kehangatan. Getaran tubuh Azriel begitu terasa, ternyata Azriel tidak main-main. 'Meriang, dia meriang,' batinnya.


"Berikan pelukan ini beberapa saat saja, setelah aku merasa hangat," lirih Azriel dengan bibir yang bergetar.


"Aku mau bilang Ibu, Mas harus diperiksa ke Dokter," balas Ina.


"Aku benci Dokter. Jangan panggil dia!"


'Astaga tanpa dokter kau tidak akan pernah bisa berjalan. Seumur-umur Aku tidak pernah membayangkan mempunyai suami aneh sepertinya,' batin Ina menggerutu.


"Tapi--"


"Menurut saja, kau hanya perlu memelukku tidak perlu repot apapun yang pada akhirnya tidak akan berguna!" sela Azriel.


Terdengar helaan napas dari Ina, akhirnya gadis itupun melakukan apa yang diminta oleh suaminya. Tanpa terasa beberapa saat, Azriel tampak tertidur kembali.


Ina merasakan napas Azriel yang hangat menerpa dadanya, kemudian ia membuka kompresan itu dan setelah ia menyentuh dahinya ia merasakan panas di tubuh suaminya sudah mereda.


Kali ini ia membiarkan dadanya menjadi sandaran untuk Azriel. Pria itu tampak pulas karena merasa sekujur badannya tidak enak. Tanpa terasa, Ina ikut memejamkan mata.


Posisi mereka terlihat saling memeluk saling memberikan kehangatan, dan kenyamanan.


Kini Azel dan Shireen tampak menyusul ke kamar Azriel. Namun, mendapati pandangan yang membuat tersenyum itu, mereka pun mengurungkan niatnya.


"Posisi tidurnya buat aku iri," gumam Azel jengah.


"Cari suami Sayang ... biar bisa seperti itu. Apa perlu Mommy bilang Daddy jika kamu saja yang dijodohkan?"


"Jangan macam-macam Mom, aku tidak mau dijodohkan!" sergah Azel.


Shireen tertawa, lalu mengusap kepala anak tirinya itu dengan lembut lalu berkata, "Memangnya tidak mau nambah anak lagi? Sayang ... kau itu masih muda, lupakan semuanya yang terjadi. Cari hal yang baru."


"Siapa yang mau dengan seorang perempuan yang tak jelas statusnya sepertiku? Mommy, mencari pria yang menerima seseorang berstatus sepertiku itu sulit, mungkin hidup yang sekarang adalah takdirku dan yang terpenting aku bisa merawat anakku dengan baik," tutur Azel.


"Jangan seperti itu, anak Mommy ini cantik siapapun pasti mau menerimamu, hanya saja kau itu tidak pandai bersosialisasi dengan pria jadi bagaimana mau dekat? Azel, adikmu sudah mempunyai istri, harapan Mommy kamu pun mempunyai suami. Lihat mereka seperti itu saja Mommy sangat bahagia, apalagi melihatmu pasanganmu menggendong Abel," ujar Shireen.

__ADS_1


Azel hanya menunduk. "Itu bukan suatu hal yang mudah Mom."


***


Ina terbangun, ia menatap suaminya masih terpulas. Setelah melihat jam sudah menunjukkan siang hari, ia terlonjak. 'Astaga, kenapa aku jadi ikut tertidur?'


Tiba-tiba sesuatu yang mengganjal perasaannya ia rasakan. Ia berpikir, dan ternyata ada sebuah tangan kekar dengan seenak dan sesantainya menangkup sebelah buah dadanya.


"Aa--emmppth" Gadis itu kaget, sempat berteriak tetapi ia menutup mulutnya karena tidak mau membangunkan sang suami.


'Dasar mesum!'


Dengan perlahan dan sangat hati-hati, Ina mencoba untuk menyingkirkan tangan itu. Namun naas sekali, suaminya justru menggeliat dan menekan dadanya.


Sementara mata pria itu masih terpejam, tetapi tangan nakalnya seolah sadar. Ina melebarkan matanya, dan Apa yang terjadi?


"AAAA ...!!" Akhirnya gadis itu tidak bisa menahan teriakannya.


Ina menghempaskan tangan Azriel yang nakal itu dengan kasar. Ya, sebab saat ingin Ia mengangkat tangan itu Azriel justru meremas dadanya. Alhasil, seperti itulah.


"Astaga, maaf aku tidak sadar!" Semenjak mendengar teriakan istrinya yang menggema itu, Azriel terbangun dan dengan sadar ia meminta maaf karena perbuatannya.


Namun percayalah, ia menyadari itu saat Ina berteriak dan ternyata memang dia melihat sendiri bahwa tangannya itu melakukan kesalahan. Jujur, Azriel memang tidak sengaja.


Sementara gadis itu terus saja menyilang dadanya dengan tangan. Ina pun berlari keluar untuk menghindari Azriel. Sedangkan suaminya itu terbangun karena terkejut, dan masih melongok.


"Pantas, kukira apa yang sangat kenyal itu, ternyata .... argghh astaga kenapa aku jadi seperti ini?" Ia mengacak-acak rambutnya, kemudian pria itu pun memilih untuk membersihkan diri.


'Walaupun aku sudah merasakan itu, tapi rasanya aku ingin lagi!" gerutu hatinya blak-blakan.


***


Setelah mandi Azriel merebahkan tubuhnya kembali. Merasa tidak enak badan, ia lebih memilih untuk berlibur hari ini. Entahlah bagaimana dengan urusan kantor, untuk bergerak saja sekujur tubuhnya terasa lemas.


"Uhuk, uhuk!"


Saat yang kebetulan mendengar suara batuk itu, Ina datang. Dengan sigap gadis itu segera menghampiri, lalu memberikan air putih. Masa bodo dengan kejadian tadi, yang ia rasakan saat ini hanya kekhawatiran.


"Aku akan bilang Ibu, sepertinya penyakitmu serius," ucap Ina.


"Tidak perlu!"


Huaccihh ....


Refleks Azriel langsung menyeka hidung sembari menguceknya. Ina mendekat lalu membantu suaminya itu untuk menarik lendir yang ada di dalam hidung Azriel, tanpa merasa jijik.


'Perasaan aku tidak pernah kehujanan,' batin Azriel.


"Flu, batuk dan demam. Sepertinya harus dibawa ke Dokter," gumam Ina.


"Sudah kukatakan, aku benci Dokter!"


"Tap--"


"Diam atau mau kucium?"


Seketika Ina langsung merapat bibirnya dengan mengigitnya dalam-dalam. Azriel menyeringai. 'Esok aku akan buat  ancaman itu agar dia diam dan tidak memaksa,' batinnya.


Ina beranjak berniat untuk keluar, tapi Azriel menahan tangannya. "Mau kemana? Kau sudah menjadi istriku, sudah seharusnya kau hanya memprioritaskan aku!"


Ina tampak jengah, ia memutar bola matanya dengan malas, "Membuatkan teh jahe agar tenggorokanmu hangat ...."


"Oh, baiklah."


'Ternyata perhatian gadis ini tidak pernah hilang dari dulu.'


Gadis itu beranjak. Namun bukannya ke dapur, ia justru menghampiri mertuanya yang sedang bermain bersama cucunya. Ada Azel juga di sana.


"Ibu, suamiku flu, batuk dan demam. Apa tidak seharusnya kita panggil Dokter?" imbuh Ina.


"Oalah, kenapa tidak bilang dari tadi Sayang. Bentar Ibu telepon Dokter Eza," balas Shireen.


"Ante endong!" Sementara Abel meminta Ina untuk menggendongnya. Dengan senang hati gadis itupun merenggangkan kedua tangan untuk menyambutnya.


Sembari menggendong, Ina berjalan menuju dapur.


"Sayang ... turun dulu yah, Ante mau buatkan teh jahe untuk Om Azriel."


"Abey uga au Ante!"


"Abel mau juga?"


Gadis kecil itu menggeleng polos. Ina yang melihatnya tersenyum, sebab keponakan suaminya itu sangat menggemaskan.


"Oke tunggu yaaa ...."


Namun, ia berpikir kembali. Apakah memanggil Dokter itu tidak akan menciptakan kemarahan suaminya?


'Masa bodolah yang penting dia bisa diperiksa,' batinnya.

__ADS_1


Bersambung.


Double bab *****lhooo***** ....


__ADS_2