
"Menyebalkan!"
Saat ini Ina sedang menggerutu dalam kamar mandi. Ia masih mengingat kejadian tadi, di mana dirinya dituduh modus tidur bersama dengan tuannya.
"Padahal 'kan semalam aku yang dipeluk, sampai aku tidak boleh napas! Sungguh menyebalkan!"
Gadis itu menggerutu karena Azriel yang menuduh lalu berakhir mencemooh dengan kata-katanya yang menyelekit.
Ina mandi dengan hati yang dongkol, sampai sabun berserakan ia tumpahkan untuk melampiaskan rasa kesalnya.
***
Setelah selesai mandi, Ina menyiapkan air hangat dan pakaian Azriel. Sementara, tuannya itu melanjutkan mimpinya.
Sembari menunggu Azriel bangun, Ina menyempatkan membuat sarapan untuknya. Melihat wajah cemberut Ina, Ella menghampiri berniat meledeknya.
"Hey, wajah manismu mana? Aku hanya melihat cuka di wajahmu!"
"Mbak, aku lagi kesal lho jangan ditambah!"
"Aku tahu, pasti karena Tuan Azriel 'kan?" tebak Ella. Ina hanya merengut.
"Capek yaaa, ngurus bayi besar? Sudah aku katakan, siapapun tidak akan ada yang kuat mengurus Tuan Azriel. Kata orang sih, dia itu sangat menyebalkan!"
"Benar sih, tapi bukan berarti aku nyerah ya Mbak!"
"Yaa, kau tetap saja kekeh. Aku lihat sampai mana batas kemampuanmu!"
Mengakhiri pembicaraan itu, Ina segera menghampiri kamar Azriel. Saat sudah sampai, ternyata Azriel sudah terbangun. Namun, tiba-tiba Ina melihat pemandangan yang sangat tidak mengenakkan. Tuannya itu sedang merokok, sembari bermain ponsel.
"Astaga!"
Ina berjalan cepat, dengan sigap ia merebut putung rokok yang sudah tinggal setengah dari mulut Azriel. Tidak hanya itu, Ina juga mengambil satu kotak rokok yang ada di atas nakas.
Entah ada keberanian darimana membuang benda yang menyandukan setiap pria itu, dengan sangat geram ia melempar benda itu ke jendela kamar dan terjunlah benda itu ke bawah.
Sementara Azriel menganga dengan aksi Ina seperti itu. Sesaat kemudian ia mengerang kesal, mengepalkan kedua tangannya dengan amarah yang bergejolak.
Saat Ina menghampiri dan ingin berkata sesuatu, tiba-tiba ia menarik tangan gadis itu hingga terjungkal dan menindih tubuhnya.
"Tu-aahh!"
Ina terkejut karena saat ini wajahnya hanya mengikis beberapa jarak dengan wajah Azriel, bahkan hampir nyaris mereka berci*man.
"Sopankah kau begitu, hmm?" Azriel mencengangkan kuat pinggang Ina, sedangkan Ina terus berusaha untuk terlepas dalam posisi sialan itu.
__ADS_1
"Tuan, maafkan saya, tolong lepaskan!"
Akhhh!
Azriel semakin menguatkan cengkraman pinggang Ina, sampai gadis itu mengaduh kesakitan.
"Jelaskan, apa maksudmu itu? Sudah bosan bekerja di rumahku hmm?"
"Maaf Tuan, tapi ingat perkataan Dokter kemarin. Saya tidak mau Tuan merokok, dan tolong ubah gaya hidup yang dimaksud Dokter itu!" ucap Ina sedikit tegas.
Azriel tidak mendengarkan ucapan yang terdengar seperti omelan dari Ina itu, ia fokus memandangi mulut kecil Ina yang bergerak lincah saat berbicara.
'Kenapa dalam situasi dan keadaan apapun gadis ini tetap terlihat sangat imut.'
"Tu-tuan ...." Tiba-tiba Ina tergugup, karena ia merasakan sesuatu yang sangat mengganjal di bawah sana. Dan, lucunya Azriel masih mengenakan pakaian dalamnya saja. Seperti kebiasaan pria itu saat tertidur.
'Nenek ini apa? Aaaa ... tolong Ina Tuhan,' ucap Ina dalam hati.
Azriel melepaskan cengkeramannya, ia mendorong gadis yang barada di atas tubuhnya itu dengan kasar. Ina pun segera bangkit dan membereskan seragamnya yang sedikit tersingkap.
"Maaf Tuan mulai saat ini saya akan lebih tegas lagi, karena ini sebuah perintah dari Nyonya dan Tuan besar," ucap Ina.
'Sudah kuduga,' batin Azriel.
Ina langsung mengundur dirinya. Sementara Azriel masih berpikir heran.
"Bisa-bisanya mereka begitu terobsesi membuat aku tersiksa seperti ini. Huhh ... aku benci perubahan!"
***
Satu Minggu telah berlalu.
Kini jadwal Azriel terapi. Shireen dan Samuel meminta ia untuk datang ke rumah sakit. Namun, mengetahui Azriel yang malas bersosialisasi dengan matahari jadi keluarga mewajarkannya. Bagi mereka, suatu keberuntungan karena anak satunya itu sudah tidak menolak untuk melakukan penyembuhan.
Kini dokter Harlond membawakan Azriel sebuah alat fisioterapi modern.
Ada Ina tentunya yang selalu menemani. Gadis itu paling semangat dalam hal seperti ini. Azriel segera dipasangkan dengan alat itu, kini dirinya berdiri tegak tapi bergantung. Kaki Azriel belum bisa menyentuh lantai dengan tepat, karena otot dan saraf di kedua kakinya belum berfungsi.
"Ayo Tuan semangat!" ucap Ina memberikan support untuk Azriel yang sedang berlatih menggerakkan kaki.
"Diamlah, aku semakin pusing mendengar suaramu!" Ina justru tersenyum. Betapa lucunya wajah Azriel saat dalam kondisi kesulitan seperti itu.
"Gunakan otot perut Tuan, dan mulailah menggerakkan kaki!" Aba-aba dari dokter itu membuat Azriel jengah.
__ADS_1
"Kau tidak merasakan bagaimana seperti aku. Semua kakiku tidak terasa apa-apa. Ini sulit!" bentak Azriel sudah merasa malas.
"Azriel!" bentak Samuel.
"Sayang ... berusahalah!" sahut Shireen.
"Daddy, sudah hentikan semua ini!" Azriel sudah benar-benar merasa jengah saat ini. Yang ia ingin rasakan saat ini, hanya tidur.
Tiba-tiba Ina maju ke depan, ia menggapai kedua tangan Azriel lalu berkata, "Saya bantu!"
"Wajarkan saja ya Dok, anak saya memang sangat temperamental!" ucap Shireen kepada dokter Harlond.
"Saya mengerti Nyonya."
Kini, Azriel menerima uluran tangan itu, ia berpegangan kuat agar alat itu berjalan sesuai tindakan kakinya. Namun lagi-lagi Azriel mengeluh karena kakinya benar-benar tidak berfungsi sebab tak merasa apa-apa.
"Sulit, kakiku masih tidak terasa apa-apa!"
"Tuan, ayolah. Anggap saja saya Nona Abel yang ingin Anda kejar saat dia berlari!"
'Gadis itu benar-benar berperan bagus buat Azriel,' gumam hati Shireen.
Sementara Samuel masih memperhatikan kemampuannya. "Malu dengan otot, lihat tubuhmu seperti pemain petinju. Tidak pantas mengeluh!" cemooh Samuel.
Azriel hanya melengos. Saat ini ia fokus apa yang dikatakan oleh Ina. Pria itu mulai menekan kuat pegangan tangannya agar kakinya bisa bergerak. Berkat bantuan Ina, Azriel pun mulai menapaki kakinya satu persatu.
Semakin Ina mundur, semakin maju langkah Azriel. Dokter Harlond pun tersenyum karena roda alat itu berputar.
"Yahh seperti itu, sangat bagus Tuan!"
Tanpa terasa Azriel sudah melangkah cukup banyak, walaupun tidak jauh. Namun, Azriel merasa sedikit terileksasi otot kakinya.
"Lumayan ada sedikit perkembangan. Ini baru tahap awal, selanjutnya saya minta lakukan itu setiap hari dan berolahraga seperti yang saya sarankan kemarin. Sekarang Tuan bisa beristirahat, nanti saya akan periksa kembali."
Akhirnya Azriel bisa bernapas lega. Pria itu dibantu oleh pengasuhnya untuk kembali duduk di kursi rodanya. Ina pun membawanya masuk ke dalam kamar.
Setelah tiba di kamar.
Ina menyediakan sebotol air dingin, dan kala itu Azriel langsung menenggaknya sampai habis. Ina mengambil handuk kecil, kemudian ia mengelapi keringat Azriel yang terus mengucur.
"Dulu waktu aku ngezym tidak secapek ini, bahkan sampai aku mengangkat sendiri alat zym itu tidak terasa apa-apa. Tapi, hanya seperti ini saja aku sangat lelah," ucap Azriel dengan napas yang tersengal-sengal.
"Itu karena tidak terbiasa Tuan."
Bersambung ....
__ADS_1