Ibu ASI Untuk Bayi Om Duda

Ibu ASI Untuk Bayi Om Duda
Pengantin Dadakan


__ADS_3

Samuel tak main-main dengan ucapannya. Pria itu benar-benar menepati kata-kata yang ia keluarkan dari mulutnya semalam.


'Tuan, gedung resepsi sudah siap, hanya menunggu pernikahan dimulai saja. Para rekan kerja pun sudah saya undang sesuai keinginan Tuan.'


Samuel menatap ponselnya dengan senyum, lalu ia membalas pesan dari asistennya itu, 'Baik terima kasih.'


Pria yang sudah gagah mengenakan tukedo hitam dengan dasi panjang yang melekat di lehernya itu, tampak tersenyum bahagia dengan hati yang penuh letupan bunga. Ia menatap dirinya yang paripurna di depan cermin, lalu bergumam, "Hari ini juga akan aku buat kau menjadi milikku seutuhnya. Nantikan itu gadis bodoh!"


Setelah menyeringai sendiri di depan cermin. Samuel beranjak melangkahkan kakinya keluar dari kamar. Menggiring langkahnya menuju ke kamar sang Mami.


"Sam ..."


Samuel bukan hanya mendapati Yuri, tetapi di sana juga ada Leona.


"Karena kalian tidak ikut pembicaraan semalam, kini aku beritahu bahwa hari ini aku akan menikah dengan gadis yang semalam yang aku bawa ke sini juga," ujar Samuel melipat tangannya.


Refleks Yuri menumpahkan air yang ingin ia kasih kepada Leona. "Kau pasti bercanda 'kan Nak?!"


"Tidak! Aku benar-benar akan menikah hari ini. Jika kalian tidak bersiap atau tidak ingin hadir, silahkan. Aku tidak memaksakan pernikahanku harus ada kedatangan kalian," balas Samuel santai.


"Bagaimana kau bisa menikah dengan tanpa adanya restu Mami?! Oh, ini mungkin asutan dari gadis itukan? Samuel berpikir jernihlah, dia hanya memanfaatkan kekuasaanmu saja!" bentak Yuri.


"Tidak Mami, maafkan aku. Ini semua sudah menjadi pilihanku. Anakku bahagia dengannya, aku pun sangat mencintainya. Maaf, karena aku menikah tanpa Mami mengasihi aku restu."


"Terkutuk kau Sam. Aku ini ibumu, kau berani membangkang wanita yang sudah melahirkanmu ke dunia! Ingat Sam, mau sampai kapanpun Mami tidak akan memberikan restu untukmu dengan gadis itu! Mami hanya ingin kau menikah dengan wanita pilihan Mami!"


"Maaf, Sam harus mementingkan kebahagiaan putra-putri Sam, dibanding dengan harus menuruti permintaan Mami." Samuel berjalan keluar dari kamar. Saat itulah, Yuri sang Mami langsung terduduk lemas. Ia tidak pernah membayangkan ini sebelumnya. Samuel anaknya sudah buta dengan cinta, sampai tak mau menurut padanya lagi.


"Tapi Sam, aku di sini masih mencintaimu. Aku bisa memberikan kebahagiaan untuk anak kita. Apa sebegitu bencinya kau kepadaku? Sam, masa lalu yang aku lakukan memang begitu jahat, tapi mau bagaimanapun jika tidak ada aku maka putra-putri kita tidak akan terlahir ke dunia!" Sahutan dari mantan istrinya itu, mampu membuat Samuel menghentikan langkahnya.


Pria itu berbalik, lalu menatap Leona yang sudah sesegukan. Perempuan itu berlari dan langsung menubruk tubuh mantan suaminya begitu erat memeluk.


"Maafkan aku Sam, aku menyesal. Sekarang semua sudah kudapat, karir dan prestasi tinggi. Tapi, kebahagiaanku hilang sesaat aku meninggalkan kau dan anak kita. Aku ingin memulai dari awal seperti dulu lagi."


Samuel menjauhkan bahu Leona, ia menatap dingin, "Tidak semudah itu Leona. Maaf, rasaku padamu sudah mati semenjak kau lebih memilih pergi sedangkan saat itu anakku tengah membutuhkan air susu ibunya. Wajar, anakku lebih resfek kepada wanita yang kucintai dibanding denganmu. Karena, dia sosok ibu yang sesungguhnya. Perempuan yang bukan siapa-siapa memberikan ASI. Kau di mana saat itu? Bukankah itu pilihanmu? Maka nikmatilah hasilnya sekarang."


"Sam, mereka anakku juga hikkss!"

__ADS_1


"Jika kau mengaku ibunya, tidak seharusnya kau pergi saat dibutuhkannya!" Samuel menepis lembut tangan Leona. Kemudian pria itu benar-benar keluar dari kamar ini.


"Sam!"


"Sam, aku masih mencintaimu maafkan aku hikkss!" Leona terduduk lemas dengan deraian air mata yang terus berjatuhan. Yuri datang untuk menguatkannya.


"Mami, aku tidak akan biarkan gadis itu melahirkan anak dari benih Sam!"


"Maafkan Mami sayang, Mami tidak bisa berbuat apa-apa."


***


Sedangkan di apartemen.


Suara ketukan pintu membuat gadis yang sedang berada di atas ranjang berdecak. Ia menggaruk kepalanya dengan mata masih terpejam.


"Siapa sih? Masih pagi woi! Ngantuk ....!"


Semakin lama suara ketukan itu semakin keras, hingga mengharuskan gadis itu untuk bergerak membukanya. Dengan daster ala-ala anak rumahan dan rambut kusut, ia membuka pintu kamar apartemennya. Tidak ada air liur yang berkerak, tidak ada juga belek di mata. Jika ada pun, akan tetap terlihat cantik. Ya, itulah definisi orang cantik mah aman.


"Morning ... ya umpan, bisa-bisanya lo baru bangun jam segini. Niat gak sih jadi pengantin!" celetuk Lisa.


"Oh, maaf kebalik."


"Kalian mau ngapain?" tanya Shireen dengan tangan yang sibuk menggaruk paha dan kepalanya, seperti orang bodoh. Sesekali perempuan itu menguap karena rasa kantuknya masi melanda.


"Reen, lo mau nikah hari ini! Masa baru bangun. Pokoknya lo harus mandi, habis itu kita riasin!"


"Hah, nikah? Siapa?"


"Lo Shireen. Udah ayo!" Mereka berdua menerobos masuk ke dalam apartemen. Menyeret Shireen untuk segera mandi dan bersiap.


Beberapa menit kemudian.


Shireen dipaksa duduk di depan meja riasnya. Lalu, kedua gadis kembar calon adik iparnya itu mulai mengeluarkan alat-alat make-up  dari dalam koper yang mereka bawa tadi.


"Eh eh, tunggu! Ini beneran gak sih? Gue mau jadi pengantin dadakan? Emang kalian berdua bisa ngerias?" ucap Shireen mencegah mereka untuk memoles wajahnya.

__ADS_1


"Reen, lo tau sifat kakak gue 'kan? Dia itu orangnya gak pernah main-main, sekali udah diucap pasti di jalani. Apalagi itu menyangkut keinginannya. Kak Sam itu pria yang nekat!" jelas Lisa.


"Jadi gue beneran jadi pengantin?" tanya Shireen memastikan dengan wajah terkejutnya.


"Iyah, dan sekarang kedatangan lo lagi ditunggu. Kita juga ke sini karena perintah kak Sam. Untuk make-up tenang, kita kuliah ambil jurusan tata rias, jadi gak usah diragukan lagi hasilnya nanti," balas Lia.


Akhirnya Shireen mau diriasi, walaupun dirinya masih tidak percaya dengan apa yang sebenarnya terjadi.


Satu jam kemudian.


Oh astaga, Shireen rasanya sangat pegal dibalik sini putar sana, miring kiri miring kanan. Ya, diriasi rasanya membosankan hingga berkali-kali mendengus jengah dirinya.


"Selesai ...."


Akhirnya Shireen merasa lega. Matanya sudah boleh terbuka, sedangkan mulutnya yang sedari tadi disuruh mingkem kini boleh bergerak.


"Wahh, ini gue?" tanya Shireen menatap wajahnya dari pantulan cermin.


"Cantik 'kan? Iyalah, kita gitu loh!" ucap Lia berbangga.


"Udah ayo, dikit lagi acaranya mau dimulai!" ucap Lisa tergesa-gesa.


"Hmm, sebenarnya kalian main-main gak sih? Gue masih gak percaya!"


"Kalo lo gak percaya, makanya ayo kita langsung buktikan!" balas Lisa.


Shireen menunduk lesu. "Gimana sama restu Mami kalian?" tanyanya sendu.


"Gak usah hiraukan Mami. Ingat kata Papi gue, perlahan dia pasti bakal nerima lo. Dulu waktu kak Leona juga gitu. Dia awalnya gak setuju, tapi pas tau kak Leona orang kaya Mami ngerestuin," terang Lia.


"Tapi, gue 'kan bukan orang kaya. Apa sampai gue jadi model berkelas dulu, baru disetujui?" balas Shireen.


"Nggak harus kekayaan, lo bisa pake cara lain. Ambil hati Mami, buat Mami nyaman, karena sebenarnya Mami itu punya hati yang lembut, saking aja kalo gak dituruti permintaannya, dia pasti bakal keras kepala," kata Lisa.


Shireen memilin gaun pengantinnya yang sudah terbalut indah di tubuh mungilnya. "Hmm, tapi gimana bisa ambil hati Mami kalian?"


"Dicongkel Reen!" ketus Lisa kesal.

__ADS_1


Bersambung ...


__ADS_2