Ibu ASI Untuk Bayi Om Duda

Ibu ASI Untuk Bayi Om Duda
S2. Gara-Gara Suara Guntur


__ADS_3

Mendengar pengajuan dari Ina, Shireen dan Samuel tersenyum, sementara Azriel melengoskan wajahnya dengan jengah.


'Pantas saja dia begitu semangat,' batinnya.


"Baiklah, saya akan menjelaskan terapi yang ringan. Tuan Azriel harus merubah gaya hidup, contohnya seperti berhenti merokok, sering melakukan olahraga dsb. Jadi yang dimaksud dengan sering berolahraga itu, seperti kegiatan di luar rumah. Walaupun dalam kondisi tidak bisa berjalan, Tuan Azriel tetap bisa melakukan aktivitas fisik, seperti mengayuh kursi roda sendiri dan lakukan berkeliling di sekitar rumah, contohnya."


'Astaga dia tidak suka perubahan,' ucap dalam hati Ina terkekeh.


"Aku tidak bisa!"


"Bisa, kau saja yang malas!" cemooh Samuel.


"Baik, yang kedua mengonsumsi obat-obatan. Tentunya obat yang aman dan sesuai resep Dokter. Makan pun harus seimbang dengan yang bergizi. Terapi khusus tetap dengan alat rumah sakit, selain itu kita juga bisa melakukan operasi untuk mempercepat proses penyembuhan."


"Apapun itu, lakukan saja Dok asal anakku bisa berjalan kembali," ucap Shireen.


"Baik, kita mulai Minggu depan."


***


Malam hari.


Ina sedang mengabari sang Nenek. Gadis itu terus saja tersenyum dan tertawa bercerita kepada Neneknya. Padahal, di desa sana Inah berpikir bahwa cucunya itu akan merasa tak nyaman.


"Pokoknya Nenek tenang aja ya. Nanti Ina akan kabari berita baik lagi. Hari Ina senang banget ... udah dulu ya Nek, Ina sayang Nenek dahh ...."


Walaupun sudah memutuskan panggilannya. Namun gadis itu belum memutuskan senyumannya.


Tetapi tiba-tiba entah kenapa suasana menjadi sangat dingin, terdengar gemuruh angin dari luar sampai hordeng kamarnya bergoyang. Ina mengusap lengannya, lalu ia menutup semua jendela.


"Sepertinya akan turun hujan, malam ini. Aku belum mengganti selimut Tuan, dia pasti kedinginan."


Ia menatap remote desktop yang biasa ia gunakan untuk penghubung panggilannya. Namun, Ina tahu di saat jam segini Azriel sedang sibuk dengan tugas kantor dari kakaknya.


"Lebih baik aku hampiri saja, daripada dia kedinginan malam ini," gumamnya segera bergegas menuju kamar Azriel.


Di dalam kamar.


Ternyata Azriel sudah ada di atas ranjang. Ina terheran, siapa yang membantunya. Pantas saja lelaki tampan itu tak memencet remotenya.


"Siapa yang membantu Tuan?"


"Mommyku."


"Oh. Hmm, ini saya mau mengganti selimut Tuan sepertinya akan turun hujan. Saya takut Tuan kedinginan," ucap Ina.


"Ambilkan di lemariku paling atas!"


Ina bergerak menuju almari besar, sampai di sana ia terbingung karena posisi selimut itu berada di paling atas, sedangkan tinggi badannya saja tak sampai sana.


"Gunakan meja itu, kau naiki!" sahut Azriel.

__ADS_1


"Pendek sekali gadis itu," umpatnya.


Setelah Ina berhasil mengambil selimut super tebal itu, Ina segera memberikannya kepada Azriel. Namun di tengah niatnya ....


BLEGARRR ...!


"NENEK!"


Azriel yang sedang bermain ponsel pun tersentak. Sudah terkejut dengan suara guntur, ditambah dengan suara Ina yang mengagetkan.


"Astaga dia takut dengan suara guntur," gumam Azriel. Pria itu merasa tergilitik melihat Ina yang sedang berjongkok dengan selimut yang menutupi seluruh tubuhnya.


Sementara di dalam selimut itu, Ina terus saja merapalkan doa-doa dan menyebut kata nenek.


"Bangunlah, itu hanya guntur!" Melihat posisi Ina, Azriel merasa lucu karena menurutnya terlihat seperti jamur.


"Maaf Tuan, saya sangat takut dengan suara itu!" balas Ina tetap pada posisinya.


"Ya, tapi selimut yang kau pakai itu selimutku!"


Ina tersadar. "Oh ya. Maaf Tuan!"


Dengan perlahan ia bangkit, lalu menghampiri Azriel. Namun dengan tiba-tiba suara itu terdengar lagi, refleks Ina kembali berteriak dan respek Azriel menariknya hingga pengasuhnya itu terjebak dalam dekapannya.


"Astaga Tuan, kenapa suara gunturnya semakin kencang!"


"Diamlah, sepertinya hujan malam ini sangat lebat."


Ina masih dalam dekapan Azriel, ia tak sanggup untuk berdiri lagi karena kilat diluar sangat memantul dari kaca jendela.


'Memang ya nasib sekali tinggal di rumah transparan, sampai kilat pun serasa berada di dalam,' batin Ina.


BLEGARRR ...!!


Suara guntur yang diikuti dengan pantulan kilat itu sangat terdengar dan terlihat jelas. Hujan di luar pun semakin deras, sampai pelukan Ina ikut mengencang.


Dengan satu tangan Azriel memasangkan selimut tebal itu. Entah ada apa di dalam otaknya, pria itu tidak merasa keberatan sekali ada seseorang yang memeluknya selain Abel, bahkan Azriel ikut menyelimuti tubuh Ina sampai mereka menggulum tubuh dalam satu selimut.


"Tuan saya ingin kembali ke kamar, tapi saya takut tiba-tiba petir menyambar!" gumam Ina gelisah


"Tunggu di sini sampai hujan berhenti!"


"Tapi ...."


"Aku tidak memaksa, tetapi jika kau gosong nanti aku tidak akan tanggung jawab!"


Mendengar itu, tanpa sadar Ina memanyunkan bibirnya. Azriel yang melihat itu tercengang.  'Astaga persis sekali seperti Abel. Kenapa wajah gadis ini sangat menggemaskan,' batin Azriel.


"Hmm, tidak apa-apa Tuan saya akan kembali ke kamar." Ina takut jika Azriel merasa risih dengan keberadaannya dalam posisi itu.


Ia pun segera bangkit. Namun lagi-lagi semesta seperti sedang menyatukan mereka.

__ADS_1


Crrettt ....


BLEGARRR ....!!


"NENEK, NENEK, NENEK ....!"


Berawal dari kilat yang berbentuk seperti urat, setelah itu didatangkan dengan suara guntur yang lebih menggema.


Baru satu kaki Ina turun dari ranjang, gadis itu langsung naik kembali. Akhirnya ia pasrah, dan mungkin akan memilih tempat ternyaman. Ya, hanya dalam dekapan.


"Kepala batu!" ketus Azriel.


"Hmm, sepertinya saya akan menunggu di sini untuk beberapa menit lagi," gumam Ina.


Dengan tiba-tiba Azriel menarik Ina untuk masuk ke dalam pelukannya. Pria itu mendekap Ina bagaimana bantal guling. Dalam situasi itu Ina benar-benar tercengang.


"Hmm, Tuan ...."


"Diamlah, aku butuh kehangatan malam ini. Aku sangat merasa dingin," ucapnya.


Mendengar rintihan Azriel, Ina merasa sangat dibutuhkan olehnya. Maka dari itu ia tidak bisa menolak. Lagipula, ini sebuah simbiosis mutualisme bukan? Sama-sama saling menguntungkan.


Tanpa terasa mereka tertidur dalam dekapan dan selimut yang sama.


Hingga pagi hari sudah menjelang.


Ina terbangun, ia merasa sesak napas karena rengkuhan Azriel begitu erat. Ia bergeliat untuk membebaskan diri.


"Sebentar lagi!"


Ina yang awalnya terpaku kini tersenyum, Azriel berkata masih dalam keadaan mata terpejam.


'Saat tidur seperti ini, kadar ketampanan Tuan semakin bertambah,' batin Ina.


Namun ia sadar kembali atas pikirannya itu. 'Ya ampun Ina. Ingat, profesional!'


Kini Azriel mulai membuka matanya. Mata pria itu tampak kaget melihat kehadiran Ina.


"Kenapa kau bisa berada di kasurku?"


"Hah?"


'Apa semalam Tuan sedang dalam kondisi mabuk?'


"Tu-tuan maaf, tapi apa And--"


"Beraninya kau tidur bersamaku. Jika kau hamil, dan menyalahkanku apa itu rencanamu? Aku tidak melakukan apa-apa!"


"Astaga Tuan!"


'Dalam sekejap dia berubah menjadi pria amnesia.'

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2