
Agha tersenyum sembari membelai kepala anak itu. "Dia bukan istriku, dia tetangga sebelah yang butuh sesuatu," jelasnya.
Abel pun tak ambil pusing, ia langsung mengiyakan. Namun, kini ia baru tersadar betapa megahnya kamar yang ia singgahi ini.
"Rumah Om besar banget, sama seperti rumah Eyang Abel. Om tinggal dengan siapa di sini?"
"Benarkah rumahku besar? Aku hanya tinggal sendiri di sini. Semuanya peninggalan ayah dan ibuku," balas Agha.
"Ayah dan ibu Om kemana? Apakah Om juga belum punya istri?" Pertanyaan itu membuat wajah Agha mananar.
"Ayah dan ibuku sudah tiada. Sampai saat ini aku belum memiliki istri ataupun anak. Aku sedang menunggu seseorang yang sangat sulit untuk kugapai maka dari itulah aku belum ingin menikah."
'Dan itu mamimu Bel. Andai Azel bisa kumiliki, mungkin sampai saat ini kau menjadi putri tersayangku, akanku terima walaupun asalmu bukan dari darah dagingku,' batin Agha.
Ya, Abran sang ayah beberapa tahun silam telah meninggal dunia karena termakan usia, dan kepergiannya tak berjarak jauh dengan kepulangan sang istri. Kini Agha menjadi pewaris tunggal dari keluarga Luis.
Namun, kepergiaannya banyak memberikan tanda tanya bagi Agha. Ya, ia ingin mengetahui siapa jati dirinya yang sesungguhnya. Tetapi, semua terlupa begitu saja walaupun jika teringat Agha sangat ingin mengorek kembali.
"Jadi Om hanya sendiri di sini?"
"Ya, aku seorang putra tunggal. Tidak ada yang kumiliki saat ini terkecuali semua ini dari peninggalan ayahku," jelas Agha.
"Bagaimana jika kau kuangkat jadi anakku? Aku sangat merasa kesepian." Ajukan itu membuat senyum Abel terbit dengan sangat cerah.
"Tentu saja Om, Abel juga butuh ayah. Mau 'kan Abel panggil ayah?"
Rasa bahagia itu seketika didapat oleh Agha, sementara ucapan Abel membuat senyuman terhias menggambarkan rasa senangnya. Ia langsung mengecup anak kecil itu, lalu berujar, "Panggil aku ayah. Mulai saat ini kau menjadi putriku, ya putri tercantikku!"
"Makasih Om-eh Ayah!"
Mereka pun sama-sama tertawa, lalu hanyut dengan keharmonisan yang mereka buat. Abel seakan mendapatkan sosok ayah secara mendadak.
***
Di pagi hari.
Sebelum berangkat ke kantor, Agha mampir ke sekolah anak angkatnya terlebih dahulu. Mungkin beberapa hari ini perannya akan benar-benar menjadi ayah.
Di dalam mobil, saat ini Abel sedang asik bermain ponselnya, sementara Agha sibuk mengemudikan.
__ADS_1
“Masih sekolah jangan terlalu fokus dengan gadget,” ujar Agha menegur.
“Iya Ayah, Abel pegang hp hanya seperlunya aja kok,” balas Abel tersenyum. Agha pun tak kalah manis membalas senyumannya.
“Anak pintar ....” ucapnya sembari mengusap lembut kepala Abel. Mendengar Abel yang begitu jelas memanggilnya dengan sebutan ‘ayah’ entah kenapa di hati Agha seperti ada sebuah desiran. Sulit untuk dideskripsikan, nyatanya sekarang ia sudah terlanjur nyaman dengan anak remaja ini.
Drttt ... drrrtt .....
Tiba-tiba suara ponsel terdengar, menandakan sebuah panggilan. Abel tersenyum, dan mengangkat panggilan itu.
“Hallo Mami, aku lag—”
Tiba-tiba Agha memberikan sebuah kode untuk tidak memberi tahu keberadaannya, “Sussssst ....” Seketika Abel mengerti dan memutuskan ucapannya.
‘Hai anak Mami, kamu lagi apa tadi?’
‘Aku sengaja melakukan itu, agar pertemuan kita menjadi sebuah kejutan nanti. Rasanya mendengar suaramu itu, membuat aku kembali ke masa itu Azel,' batin Agha.
“Ehehe Abel lagi di jalan menuju ke sekolah Mami,” elak Abel berbohong. Agha pun tersenyum, karena anak ini cukup pintar mencari alasan.
‘Baiklah hati-hati ya sayang. Mami mau kasih tahu, jika kepulangan mami diundur mungkin Tiga hari lebih telat. Kamu tidak apa-apa’kan sama Eyang dan Omah dulu?’
Tutt ....
Abel memutuskan telepon itu sepihak, tanpa mau mendengarkan penjelasan sang mami. Bahkan wajah gadis itu sudah menggambarkan seperti awan yang ingin hujan
“Hey hey ... tidak boleh seperti itu dong Nona manis. Kau harus tetap menjadi pengertian untuk mamimu. Ingat kerasnya dia bekerja, percayalah itu hanya untukmu dan masa depanmu,” ujar Agha.
“Tapi Om, Abel juga butuh kasih sayang Mami, Abel mau diperhatikan setiap saat. Abel selalu kesepian ... sudah tidak ada sosok ayah, ditambah punya mami yang super sibuk!”
Agha melihat kecemberutan di wajah putri angkatnya itu, tetapi kecantikannya tak memudar melain menambah kegemasannya. Ia juga dapat melihat setetes air mata yang mulai berjatuhan.
“Jangan menangis ... apa kau tak menganggapku sebagai ayahmu sekarang?” Spontan Agha mengusap air matanya, setelah ia menepikan mobil di depan gerbang sekolah.
“Gak akan bertahan lama Om jadi ayahku, mungkin beberapa hari kita akan disibukkan dunia masing-masing. Seperti mami sekarang!”
“Tidak, aku tidak mudah melupakan seseorang seperti itu saja. Aku akan tetap menjadi ayahmu, sampai kapanpun itu!”
“Ya sudah, kalau begitu Om langsung nikahi mami Abel saja!”
__ADS_1
Deg.
Seperti desiran ombak yang menerpa jantung Agha. ‘Bukankah itu yang aku impikan dari dulu? Gadis kecil ini seperti mengikat hati denganku,' batinnya.
***
Di dalam ruangan seorang wanita sedang berberes barang dengan caranya yang gesit.
“Sayang ... kenapa kau pulang cepat sekali?” Tiba-tiba Azel merasakan tubuhnya direngkuh hangat oleh seseorang. Refleks ia menatap ke belakang.
“Mas, anakku di rumah sepertinya merajuk karena janjinya aku tidak akan pergi lama,” balas Abel. Perempuan itu mengubah posisinya menjadi berhadapan dengan seorang pria berwajah bule, berkulit putih itu.
“Bagaimana dengan dinner kita?”
“Next time. Gak apa-apa ‘kan Mas? Sorry baby, I will take your time.” Azel mengecup pipi Xander, lalu dibalas dengan sebuah kecupan bibir yang singkat tapi mampu menukar saliva satu sama lain.
“No problem, I will always wait for you. But, apa aku boleh ikut denganmu? Aku ingin bertemu dengan calon putriku.”
Xander Harvegy. Ya pengusaha muda yang saat ini sedang digadang-gadang sebagai penakluk hati wanita. Namun, siapa sangka pria bule itu rela buang muka dengan para wanita cantik yang berkarir di bidang apa saja, demi menjaga hatinya dengan seorang perempuan beranak satu ini.
Xander adalah kekasih Azel yang sudah lama menjalin hubungan. Namun, scandal mereka tertutup dari publik bahkan dengan putrinya. Mungkin saat ini Abel belum mengetahui bahwa ia akan mempunyai calon ayah.
“Bagaimana dengan pekerjaanmu?” tanya Azel.
“Semua pekerjaan bisa diurus mudah dengan tangan kananku, lagi pula kontrak kerjasama kita sudah beres, apa yang mau dikhawatirkan? Sayang ... aku ingin menikmati waktu berdua yang panjang bersamamu, dan anak kita.”
Memang berawal dari kerjasama sampai ada chemistry di antara mereka. Bisa dikatakan, cinta lokasi.
“Anakku!” sarkas Azel.
“Tidak boleh serakah, dia juga akan menjadi anakku!”
Bukan hanya dari segi kecantikan saja, Xander begitu terpukau dengan kegigihan Azel. Ia mengetahui masa lalu Azel, ia juga mengetahui status Azel. Namun, itu ia anggap seperti artikel yang biasa. Rumor semuanya tentang Azel pun ia ketahui sebelum menjalin hubungan.
Menerima dari segala kekurangan Azel bukanlah hal yang sulit, begitupun sebaliknya. Bahkan kata cinta saja tak terhitung seberapa banyak terucap.
“Baiklah, hari ini juga aku akan pulang. Aku merasa tidak sabar untuk memperkenalkan calon ayah anakku!” Abel memberikan senyumannya, yang tidak pernah membuat Xander bosan menatap.
“Aku lebih tidak sabar untuk menjadi sosok ayah yang sesungguhnya untuk putrtimu.”
__ADS_1