
“Apa kau termasuk tim hacker dunia? Bagaimana kau tahu semua tentang apa terjadi, antara aku dan ... bosmu?”
“Mudah saja Pak. Itu semua timbul karena rasa keingintahuan,” jawab Gafin masih santai.
Azriel menyandarkan punggungnya. Ia menatap penuh arti dari keseluruhan Gafin. Pria itu juga sempat terkekeh, lalu bertanya, “Apa untungnya untukmu melakukan semua itu?”
Pertanyaan itu terlontar masih sebuah remehan dari mulut Azriel. Gafin menanggapinya pun santai. “Seperti yang saya ucapkan, sekedar keingintahuan saja, untuk menjawab rasa penasaran saya jika tuanku ada keterkaitannya dengan keponakan Anda. Itu saja!”
Wajah Azriel berubah menampakkan keseriusannya. Ia menegakkan posisi duduknya, seketika senyum Gafin tercipta.
‘Aku berhasil membuatnya terpancing,' batinnya.
“Katakan siapa yang memberitahumu?”
“Katakan saja apa yang terjadi sebenarnya. Paman Zex sendiri yang mengatakan jika Bapak adalah pemegang rahasia identitas tuan Aghafa. Apakah identitas yang dimaksud itu adalah masa lalu antara tuan Agha dan nona Azel? Apakah tuan saya itu berstatus sebagai ayahnya nona Abel?”
‘Lagi-lagi pria tua itu. Sepertinya jika belum kumusnahkan dari bumi, dia belum bisa diam,' batin Azriel.
“Aku akui kau begitu cerdik Gafin. Kau mengetahui kebenarannya, walau hanya sedikit menebak. Kau masih muda, jangan terlalu banyak mengurus kehidupan seseorang. Aku hanya ingin kita sama-sama mengerti dalam setiap keadaan. Jadi, aku hanya minta kau jaga itu semua,” ujar Gafin seperti membuat kesepakatan.
“Belum saya simpulkan semuanya Pak, karena saya tidak tahu alur cerita Anda yang belum saya ketahui.”
“Kau begitu penasaran rupanya. Baiklah ..., jadi saat itu ....”
Flashback beberapa tahun silam.
“Aku akan menembaknya. Rasakan bagaimana kehancuran kakakku yang telah kau renggut kesuciannya!”
“Jangan gegabah Tuan, ini bisa membahayakan kita juga!” Sedangkan teman di sebelahnya memberikan aba-aba untuk tetap tenang dan bersabar.
Ya, kini di sebuah jalan yang sepi penduduk dan pengendara, terlihat seseorang berada di dalam mobil sedang menatap elang sebuah pengendara motor yang di mana ditaiki oleh seorang pria.
__ADS_1
Pria itu seakan menulikan telinganya, ia tak mau mendengarkan ucapan teman sebelahnya. Ia tetap menodongkan sebuah pistol itu ke arah sasarannya. Dalam kondisi ini dia masih menyetir dengan kecepatan tinggi. Ya, untuk mengejar dan menyeimbangi pengendara motor itu.
DORR!
Satu peluru lepas landas mendarat di punggung pria pengendara motor itu. Seorang pria di dalam mobil yang menembaknya tersenyum, karena senapannya tepat pada objek sehingga pria itu terjatuh ke sebuah jurang. Namun, tanpa ia sadari mobilnya telah berada di tepi jurang juga hingga oleng. Ia pun menyaksikan sendiri bagaimana dalamnya jurang di bawah sana.
**
“Kejadian itu saat kakakku mengandung anaknya berusia dua bulan. Aku menembaknya sebab rasa dendam, bahkan sampai saat ini aku masih membenci Alex,” jelas Azriel dengan mata yang tertuju ke depan seolah pemikirannya sedang kosong.
Gafin mulai merangkai sebuah pertanyaan, “Apa itu berarti tuan Agha dan nona Azel mempunyai scandal terlarang semasa SMAnya?”
“Tidak. Alex yang mencuri kehormatan kakakku karena dendamnya kepadaku. Pria itu brengsek, tidak ada bedanya dengan binatang!” cemooh Azriel membalas.
Gafin sudah benar-benar mengetahui semuanya. Ternyata identitas tuannya sudah terbongkar. Praduga, prasangka, terkaan, atau bahkan teka-teki yang ia tebak tidak salah semua menunjukkan kebenarannya.
“Semenjak itu juga aku lumpuh sampai usia keponakanku 4 tahun. Aku juga mendengar dia dinyatakan meninggal, tapi ternyata aku salah. Seseorang yang dinyatakan meninggal adalah temanku. Alex justru ditemukan oleh seseorang, dan diangkat menjadi putra keluarga Luis yaitu pak Abran.”
“Itu berarti takdir Pak, siapapun tidak akan ada yang bisa menentang terkecuali Tuhan. Bagaimana seorang ayah dan anak yang dipisahkan? Anda sudah mempunyai anak, saya rasa Anda cukup dewasa untuk mengerti,” ujar Gafin begitu gamblang.
“Kau tidak tahu bagaimana pahitnya hidup dalam kebisingan mulut orang, kau tidak pernah merasakan sakitnya mendapat hinaan, kau juga belum tahu bagaimana kehidupan hancur karena seseorang. Aku rasa kau cukup paham untukmu yang berotak jenius,” balas Azriel menekan, seperti mengembalikan ucapan Gafin.
“Saya paham sangat paham. Tolong pikirkan kembali Pak, Abel yang butuh seorang ayah dan tuan Agha yang mempunyai tanggungjawab untuknya!”
“Untuk apa? Agha memang ayah kandung Abel, tapi dia tidak berhak untuk mendapat gelar seorang ayah. Kakakku akan segera menikah, aku berharap tidak ada lagi pertentangan apalagi itu tercipta dari rencanamu!”
“KAU YANG TIDAK BERHAK UNTUK ITU AZRIEL!”
Tiba-tiba Agha datang dengan menggenggam tangan seseorang perempuan yang sedang menangis, yaitu Azel.
Pria itu berteriak sangat lantang, sampai semua penghuni kantor dapat mendengar.
__ADS_1
“Hikksss Azriel kenapa kau tutupi semua ini?”
“Kak ....”
“Aku kecewa denganmu!”
Ternyata kedatangan Agha dan Azel sudah terbilang lama, hanya saja mereka menunggu untuk menyimak semua pembicaraan yang diargumentasikan dari dua orang ini.
“Aku sudah mengingat semuanya Azriel. Aku Alex, ya aku sahabatmu dulu. Ternyata dibalik semua ini karena ulahmu!”
“Sudah mengingat? Baguslah, kau sadar dirimu siapa? Kau sadari perilakumu bagaimana? Kau pria jahat Alex, pergi dan menjauhlah dari kakakku!” tegas Azriel berintonasi tinggi di sebuah kalimat akhir-akhirnya.
“Maafkan untuk itu, tapi ingatanku kembali bukan berarti aku seperti dulu lagi. Aku tetap aku, Aghafa yang sekarang. Aku bukan lagi Alex yang dulu!”
Senyum Gafin terbentuk, seolah memberi apresiasi dari ucapan tuannnya itu. ‘Kau sangat tepat Tuan. Pria ini hanya dibutakan dengan dendam, yang pada aslinya dia sedang menjadi pribadi lain. Aku yakin, seorang Azriel Raymond bukan seperti ini orangnya,' batin Gafin.
Seketika Azriel meremeh, membentuk senyuman mengerikan. Kata yang begitu tandas ia ucapkan, “Kau tetaplah kau. Aku tidak mengenal Aghafa, aku hanya mengenal Alex yang bajingan!”
“Ya aku memang bajingan, aku menodai kakakmu karena dendam. Tapi, bisakah kau anggap itu sudah berlalu. Aku sudah sangat mencintai kakakmu!”
“Mencintai? Cih, rasa sakit hatiku belum terbalaskan. Kau menghancurkan kehidupan kakakmu. Perbuatanmu yang membuat penderitaan, seakan hal kecil bagimu. Sampai kapanpun, aku tidak akan pernah setuju kau kembali dengannya!”
Azel semakin menambah kencang tangisannya, perempuan terisak karena tidak menyangka dengan semua jalan takdirnya.
“Azriel bisakah kau anggap semua itu berlalu. Aku tidak ingin menguak masa lalu lagi. Biarkanlah, semua yang telah terjadi aku bisa terima, hikksss ....”
“Tapi aku tidak!”
“Aku yang merasakan semuanya Azriel!”
“Dan aku yang tidak menerima semuanya. Kau saudara kembarku, apa gunanya seorang adik lelaki jika diam saja di saat kakaknya hancur? Kau tahu jelas apa statusmu sekarang? Kau bisa terima cemoohan semua orang? Ingatlah, semua itu disebabkan dengan pria ini!”
__ADS_1