
“Mami ... nanti Abel adukan Mami ke Om Azriel kalau Mami udah gak mau urusi aku lagi!”
“Mengadu sana, Mami bisa adukan kembali tentang kebohonganmu!” Seketika Abel bungkam. Dia memang kesayangan pamannya, tetapi jika sudah menyangkut hal kebohongan Azriel sang paman sudah pasti murka.
Xander ingin sekali mengambil hati anak ini, tapi Abel seperti tak ada respek dengannya. “Sayang ... mulai saat ini kau akan mempunyai ayah yang sesungguhnya. Aku akan menjadi ayahmu, kau bisa memanggilku ayah semaumu, bahkan bermanja layaknya seorang anak dan ayah kau bebas lakukan itu padaku. Mengadulah denganku, memintalah apapun. Semampuku akan kuberikan!”
Xander menggapai tangan Abel. Sangat mudah sampai kini mereka terlihat bergandengan, karena posisi Abel saat itu sedang dipangku oleh maminya.
“Om benar-benar cinta ‘kan sama Mami?” tanya Abel, dan lontaran pertanyaan itu mendapat plototan dari Azel.
‘Astaga, anakku sepertinya sedang menyeleksi calon suamiku,' batinnya.
“Pertanyaan unik, tapi aku menjawab 'tidak' karena aku belum mendapat restu darimu,” balas Xander.
“Restu Abel tergantung restu Om Azriel, tapi kalau nanti sudah menikah dengan Mami. Om harus ajak Abel ke pasar malam, beri izin makan coklat, bolehin Abel tidur bareng cantle, dan antar Abel ke sekolah untuk memamerkan bahwa Abel sudah punya ayah baru!”
Xander yang mendengar segala permintaan itu, tak hentinya tersenyum. Gemas, sebab bocah itu terlihat menghitung permintaannya dengan jari-jari mungilnya.
“Bahkan aku bisa memberikan lebih dari itu!”
“Ihhh Mas, aku tidak mau ya kau terlalu memanjakan anakku nanti!”
“Jangan cemburu, aku lebih memanjakanmu nanti!”
Xander pun tersenyum, karena ia tahu jika kekasihnya itu memiliki rasa cemas berlebih apabila suatu saat ia lebih memperhatikan anaknya. Alhasil terlihat jelas wajah kesal dari Azel.
Sementara di dalam mobil yang lain. Tampak seseorang sedang melamun, padahal dia sedang memegang kemudinya.
“Ghaa, kau bisa menabrak nenek-nenek, nanti ganti ruginya ribet. Coba fokus, dan jangan melamun!” tegur Elena.
Saat itu juga Agha membuyarkan lamunannya, “Ah, iya maaf aku melamun.”
“Kenapa? Apa kau memikirkan anak angkatmu itu?”
“Ya, siapa yang tidak langsung jatuh hati pada gadis kecil itu, dia terlalu gemas untuk kulupakan,” balas Agha memaksakan senyum.
“Oh ayolah Agha, aku bahkan bisa memberikanmu lima anak sekaligus, dan tentunya lebih menggemaskan darinya!”
__ADS_1
“Aku tidak minat,” balas Agha asal. Seketika Elena mendatarkan ekspresinya.
‘Gimana sih buat Agha itu mencair, dia hangat hanya dengan seseorang yang disukainya saja. Sepertinya aku memang kurang beruntung soal percintaan. Pokoknya nanti minta Daddy untuk mencari kelas percintaan, aku mau belajar!’ batin perempuan itu.
‘Esok aku akan tetap menemui Abel, sekalipun aku tak mendapat izin dari ibunya,' batin Agha.
***
Malam hari. Tampak satu meja keluarga sedang berkumpul. Terlihat dari mereka, rata-rata memasang wajah ceria bahagia dan sumringahnya, akan tetap tidak dengan sosok gadis yang sedang memainkan makanannya.
“Makanan tidak boleh dimainin!” tegur sang paman. Ya, peran Azriel tetap sama, bagai ayah yang selalu ada untuk Abel.
“Abel gak nafsu makan ....”
Tiba-tiba sosok seorang wanita paruh baya menyahut, “Ada apa dengan cucu Omah? Masalah lagi ‘kah di sekolah?”
“Gak ada Omah ....”
Akhirnya semua orang pun terdiam, setelah mereka saling menatap dengan helaan napas. Mereka hanya bisa menyimpulkan jika anak itu sedang hilang mood. Entah ada masalah apa, tapi mereka tidak mau memberatkan itu.
Ya, karena tujuan makan malam ini adalah pertemuan pertama antara keluarga Raymond dengan Xander sang calon ayah sambung Abel.
Seketika semua mata tertuju kepada pria paruh baya yang masih tetap terlihat gagah itu.
“Dad ... jangan terburu-buru seperti itu, biarkan dulu mereka menikmati hubungannya,” sahut Shireen sang istri.
“Iya Dad, benar kata Mommy,” sambung Azel.
“Menurutku benar apa yang dikatakan Daddy, karena kakakku bisa mencintai pria itu sudah sangat baik. Karena hidupnya ‘kan selama ini seperti tidak normal,” sahut Azriel meledek.
Sang kakak langsung memasang wajah malasnya. Perkataan adiknya memang selalu merujuk pada keemosian. Namun, Azel seberusaha mungkin untuk tidak menunjukkan itu, karena ia harus menjaga image dan atitudenya di hadapan calon suaminya ini.
“Mas, kamu ini! Bercermin dong, kamu juga gitu ‘kan dulu!” Azriel pun seperti terkena tamparan keras dari perkataan sang istri yaitu Ina.
“Bahkan dia lebih buruk dariku, iya tidak?” lanjut Azel menyindir. Xander hanya tersenyum untuk melihat betapa harmonisnya yang terlihat dari keluarga Raymond ini.
“Saya hanya mengikuti bagaimana persetujuan calon putri saya saja. Karena mau bagaimanapun keputusan dia yang pegang,” sahutnya sembari menatap wajah Abel yang masih terlihat melow.
__ADS_1
“Abel hanya mengikuti rasa bahagia mami, jika mami bahagia dengan Om Xander, Abel pasti bahagia dan tentunya restu Abel juga ada!” balas Abel.
“Good Baby!” ucap Azriel menyahut.
Saat itu semua orang tersenyum, terlebih saat Xander dengan romantisnya mencium kening Azel dan Abel secara bergantian.
****
“Tuan ... pria itu jika dibandingkan dengan Anda, masih sama rata. Bahkan, Tuan lebih darinya.”
Agha memutar-mutar gelas cawannya. Alisnya terangkat membentuk sebuah pertanyaan yang persuasif, “Kau tidak berbohong ‘kan? Aku masih merasa tersaingi oleh pria itu!”
Gafin sang asisten, lagi-lagi menghela napasnya kala ia melihat bossnya itu menenggak whisky untuk yang ke beberapa kali.
“Berhentilah meminum Tuan, Anda sudah mabuk!”
“Ya, aku merasa dia tak jauh beda dariku. Tapi, aku benci dia menyentuh milikku Gaf!”
Gafin menarik gelas kecil yang digenggam oleh tuannya, lalu ia menjauhkan darinya. Asisten tampan itu mengetahui dan sangat hafal perasaan hancur tuannya.
“Apa masih kurang aku Gaf? Apa aku masih kurang menarik di matanya? Apa semua ini karena masalalu dia? Lantas kenapa membawaku yang tak tahu apa-apa!”
Agha menangkupkan wajahnya mengatup meja. Dalam kondisi pengaruh alkohol, pria itu meracau dan bertingkah seperti anak kecil yang ingin menangis. Di bawah alam kesadarannya, pria itu terus menunjukkan rasa sedihnya.
‘Saya akui Anda memang sangat ahli dalam bisnis, tapi untuk soal percintaan Anda tidak ada bakat Tuan,' batin Gafin.
Akhirnya asisten itu memilih untuk membawa pulang tuannya, dari club ini. Sudah cukup Agha melampiaskan rasa sedihnya dengan mabuk banyak, dan merokok puas. Hal ini wajar bagi Gafin, karena bossnya itu sesekali memang butuh hiburan.
***
Pagi hari ini Abel terlihat segar, Azel pun merasa senang karena mood baik anaknya kembali lagi.
“Morning Mami cantik ....”
“Morning Baby ....” Azel mengecupi pipi anaknya bertubi-tubi. Saat itu mereka baru ingin memulai sarapan bersama.
“Mi Abel senang banget, karena nanti sepulang sekolah ayah Abel mau jemput, dan kita mau jalan-jalan lagi. Boleh ‘kan Mi?” celetuk Abel, dan itu mampu menghentikan kegiatan Azel yang sedang mengolesi selai.
__ADS_1
Perempuan itu langsung menatap tajam anaknya, “Sudah berapa kali Mami bilang jauhi orang asing itu!”