
Gafin melihat kedatangan sang putri dari tuannya itu. Ya, gadis itu sudah meleleh dengan air mata, sementara Azel yang mengikutinya dari belakang tampak begitu cemas.
“Ayah ... kok jadi kayak Abel kemarin sih hikksss ... bangun!” Abel langsung mendekati ayahnya, gadis itu sedih saat melihat kondisi sang ayah.
“Kenapa bisa seperti ini?” tanya Azel.
“Semalam tuan nekat pulang dalam kondisi mabuk. Mungkin karena dalam pengaruh alkohol, tuan tidak mendengar ucapan saya. Dia meminta jemput, dan saya menanyakan keberadaannya, tapi karena tak sepenuhnya sadar dia salah mendengar, dan nekat pulang sendiri.” Gafin mulai menjelaskan.
“Mendengar laporan dari polisi, tuan kecelakaan karena bertabrakan dengan salah satu mobil, dan mobil tuan terbakar. Nasib baik dia sudah terpental, jadi selamat. Namun banyak luka dan cedera yang dialami sampai membuatnya koma,” lanjutnya.
“Astaga ... pernikahannya tidak berjarak jauh dengan pernikahanku. Benar sangat ceroboh dia,” balas Azel sedikit merutuki pria itu.
“Sepertinya pernikahan akan diundur, seusai pemulihan kondisi tuan," utus Gafin.
“Apa sudah kau kabari dari pihak keluarga Elena?” tanya Azel.
“Sudah Nona, mungkin beberapa saat lagi mereka akan datang berkunjung,” balas Gafin.
Abel masih menangisi ayahnya, sampai suara sesenggukannya mulai terdengar lemah. “Mami Abel gak mau sekolah, Abel mau temani ayah di sini ....”
“Sayang ... mami akan bergantian menemani ayahmu. Jadi, kau tetap sekolah. Sepulang nanti kau puas menjaga ayahmu,” ujar Azel membujuk.
Abel yang keras kepala seolah tidak ingin mendengar perkataan maminya itu. Sampai sang mami menariknya untuk berangkat ke sekolah, tak ia turuti. Anak itu tetap bersikukuh untuk menjaga ayahnya.
“Sayang ayolah, ada Om Gafin di sini,” bujuk Azel.
“Gak mau!”
“Abel ....”
“Gak mau Mami ... Mami saja yang pergi sana, Abel mau jaga Ayah hikksss ....” Azel langsung memegang dadanya, sepertinya menghadapi mood Abel dalam kondisi ini harus menggunakan kesabaran. Ia sangat paham, tak ada bedanya di kala posisi ia kemarin.
“Sebaiknya buat saja surat izin Nona, agar guru yang mengajarnya hari ini memberi pengertian dengan begitu Abel tetap diabsen. Biar dia berjaga dengan saya di sini,” usul Gafin.
__ADS_1
“Baiklah ... temani anakku ya.” Azel berdiri, lalu ia menatap sang anak yang masih sesenggukan memegangi tangan ayahnya, membelakanginya. Ia berniat untuk langsung pergi. Mungkin kesedihan anaknya tidak bisa diganggu, Azel sangat mengerti.
“Baiklah aku langsung ke kantor, tolong jika dibutuh sesuatu bantulah,” ujar Azel.
“Baik Nona.”
****
Saat tiba di kantor, Azel baru saja menduduki kursi. Ia memeriksa sejenak ponselnya, ternyata ada satu pesan masuk.
[Sayang, esok aku akan tiba ke Indonesia. Persiapan harus kita buat dari jauh-jauh hari. Jaga baik-baik kesehatanmu, salamkan aku dengan my princess]
Azel sedikit membentuk senyumnya, kemudian ia simpan kembali ponselnya. Bukannya acuh, akan tetapi ia bingung harus apa. Dirinya hanya bisa mengikuti saja.
Mungkin tanpa disadarinya, jika seseorang yang menyadari hal itu pasti ia terlihat tampak memudarkan keseriusannya. Pada nyatanya ia hanya bisa mengikuti saja, apapun niat dan persiapan mereka.
Pernikahannya akan digelar Empat hari lagi. Sementara otak dan pikirannya hanya tertuju pada Agha yang tengah terbaring di atas brankar sana, sementara kesedihan anaknya ada pada kondisi pria itu.
“Bagaimana aku bisa bahagia, jika anakku terus sedih dalam keadaannya. Aku seakan tidak bisa bersenang-senang dalam pernikahanku di atas kesedihan anakku,” gumamnya.
“Berikannya kesembuhan Tuhan, jika memang kebahagiaan anakku ada padanya,” doa Azel.
***
Di ruangan, Abel terlihat mengantuk dan Gafin tengah menontonnya.
Sedikit tersenyum saat dirinya menatap wajah itu. Dia tampak mengantuk, tapi terus berusaha untuk ditahan. Beberapa kali Abel angguk-anggukan karena tak kuasa menahan beban kepalanya, dan keberatan matanya.
‘Lucu sekali,' batinnya.
Padahal gadis itu sudah mengenakan seragam putih birunya. Tas selembok pun masih terselampir di punggungnya. Namun rela membentak sang mami yang membujuknya untuk sekolah, demi menjaga sang ayah.
Menangis selama itu, sampai mengantuk sendiri. “Dia gadis imut yang baik, yang selalu menyayangi ayahnya,” gumam Gafin.
__ADS_1
Ini sudah yang keberapa kalinya pria itu menyaksikan gadis ini tertidur pulas. Pasalnya rasa kantuknya itu membuat dia tak tahu tempat, bisa dikatakan di mana saja jadi.
Gafin mendekatinya, dirasa gadis itu sudah pulas ia memindahkannya di atas sofa. Pria itu menutup sedikit bagian kaki mulusnya yang terkesiap.
Gafin menatap kedua orang sedang menutup di tempat yang berbeda itu, dengan nanar dan dengan perasaan yang pilu.
“Tuan bangunlah, lihat perjuangan anak Anda yang terus menjaga. Dia tampak menjadi gadis yang baik, yang selalu merindukan sosok ayah di setiap saatnya,” lirihnya.
Sampai beberapa saat, Gafin ikut tertidur menjaga. Hari ini pria itu melepaskan semua tugas-tugasnya di kantor sang boss, ia meluangkan semua kesibukan beralih untuk menjaga majikannya. Ya, semata-mata hanya menunggu orang itu sadar dan bangun dari masa kritisnya.
Saat mereka sama-sama terbawa alam mimpi, tiba-tiba kepulasan Gafin terusik dengan adanya kehadiran seseorang baru saja datang.
“Nona Elena ....” Sesaat kemudian ia baru tersadar akan seseorang yang datang itu.
“Gafin kenapa sampai saat ini, hikkss ....”
“Maaf ini karena kelalaian saya juga Nona. Tuan kecelakaan saat pulang dalam kondisi mabuk semalam,” jelas Gafin.
Elena meneruskan tangisnya, lalu ia menatap tajam dengan banyaknya air mata yang menggenang, “Kau memang selalu lalai. Bagaimana bisa calon suami jadi seperti ini, hikksss ....” cecarnya.
Gafin tidak merasa marah, baginya ini memang sebab kesalahan juga. Pria itu hanya terdiam, dan berpikir.
“Agha bangun kau, jangan lari dari tanggungjawab. Kau pura-pura mati pasti karena tidak niat menikahiku ‘kan? Aku tahu kau tidak mencintaiku, setidaknya kau harus berjuang menggagalkan pernikahan mereka!” gerutu Elena masih terisak.
‘Maksud dia apa? Apa ada rencana nona Elena untuk menghancurkan acara pernikahan, dan itu siapa?’ batin Gafin.
Abel tiba-tiba terbangun dari sofa, karena terusik dengan suara bising Elena yang terus meraung menangis.
“Jangan salahin ayah aku dong. Ayah hanya koma, bukan pura-pura mati!” Abel yang tak terima ayahnya disalahkan, merasa kesal dengan perempuan itu.
“Sejak kapan kau di sini?” tanya Elena.
“Yang jelas sebelum Tante datang dengan keberisikkan!” ketus Abel.
__ADS_1
Tiba-tiba Elena melayangkan tatapan sendu, ke arah dua bola mata hazel Abel. “Kau sadar Abel, sikap mamimu? Ayahmu ini sudah terlalu banyak menderita karena dia. Mungkin dibalik rasa stress yang mengakibatkan semua ini terjadi, ada sebab terpuruknya rasa cinta dengan mamimu di dalamnya!”
“Kenapa jadi salahkan mami?”