
Sesuai dengan ucapan dan pesan, saat ini kedua orang tua Samuel tengah dalam perjalanan pulang. Menepati kata-katanya untuk pulang dan merayakan ulang tahun cucunya. Ya, hari ini adalah kepulangan Adika Raymond Zaksara, dan Yurita Farely, untuk mengunjungi rumah putra kedua mereka.
Samuel yang berada di kantor pun segera pergi untuk menjemput sang ibu dan ayahnya. Setelah mendapat pesan, 'Son jemput Mami dan Papimu di bandara. Kita segera landing, dan jangan lupa untuk membawa cucuku.'
Ya, mungkin sebelum menunju ke bandara Samuel pulang terlebih dahulu untuk mengajak anaknya.
***
Tiba sudah di bandara, Samuel mendapati kedua orang tuanya yang sudah stay dan menantinya.
"Oh, my Baby ... cucu kembarku yang beautiful and handsome."
Azriel dan Azel menatap bingung. Ia memandang sang Daddy seolah bertanya siapa seseorang yang sedang berhadapan dengan mereka itu. "Princess, pangeran Daddy. Dia Omah kalian, dan itu Eyang kalian. Peluklah!"
Dengan gembira kedua anak kembar itu memeluk Omahnya. Kenapa mereka bisa bingung? Ya, Dika dan Yuri sang Mami dan Papi Samuel tak pernah berkunjung sebelumnya. Mereka pernah pulang semenjak kelahiran dua anak kembar itu, setelahnya mereka kembali ke Amerika.
"Jadi kita juga punya Omah dan Eyang? Yeyy, telnyata kita bisa sepelti teman-teman Kakak!" ujar Azriel.
"Iyah, meleka temen-temen semua punya nenek kakek, telyata kita juga punya!"
Yuri dan Dika tersenyum gemas. Ia tak menyangka pertumbuhan cucunya begitu baik, pesat dan sangat pintar. Padahal, mereka merasa baru kemarin menggendong sewaktu mereka bayi.
"Oh, astaga. Bibit unggul anakku memang tidak pernah gagal. Kau sangat tampan seperti Eyangmu ini Nak," ucap Dika berbangga diri, dengan menggendong Azriel menjuntai ke atas. Azriel pun tertawa senang.
"Dia anakku Pih, mana mungkin mirip seperti Papi!" cetus Samuel.
"Tapi, Son memang benar. Bahkan Azel cantiknya menurun dari Mami, haha!" ucap Yuri menciumi Azel tanpa henti.
Samuel menghela napas jengah. "Memang, terlalu percaya diri itu tidak baik," umpatnya.
Tiba-tiba Samuel menangkap seseorang yang sangat dikenalinya dengan bawaan koper besar, tengah menghampiri ia.
"Kakak?"
"Ya, Son. Kakakmu juga pulang. Kita akan merayakan ulang tahun anakmu dengan kumpulnya keluarga kita," ucap Dika.
"Wah duda ini masih sendiri rupanya," ucap Daniel Raymond sang kakak Samuel. Lihatlah wajah mereka sangat mirip bahkan seperti pria kembar, walaupun mereka berbeda usia cukup jauh.
"Kak, bagaimana kabarmu?" ucap Samuel memeluk sang kakak.
"Aku baik. Apa kau masih menggunakan tangan atau alat club?" ucap Daniel meledek.
"Sialan!"
Kini pandangannya beralih ke arah seorang wanita seksi yang ia lihat dengan seorang lelaki remaja. "Hallo Sam, bagaimana kabarmu?" sapa Liyu. Ya, Liyulina Silsilia. Istri cantik Daniel.
__ADS_1
Daniel baru dikarunia satu orang anak lelaki. Usianya masih remaja 17 tahun, namanya Diksel Raymond sangat tampan tentunya. Ah sudah pasti keluarga Raymond ini spek dewa semua.
"Aku baik," jawab Samuel dingin.
"Oh, astaga Uncle. Kenapa anakmu ini sangat menggemaskan? Why, mereka juga tidak ada yang mirip sama sekali denganmu, haha!" ledek Diksel, dengan mengunyel-ngunyel pipi tembam Azel.
Semua tertawa mendengar celetukkan dari anak remaja itu. Sedangkan Samuel mendengus. "Kau sama menyebalkannya dengan Daddymu!"
***
Setibanya di rumah. Lia dan Lisa sangat terkejut dengan kepulangan orang tuanya.
"Papi Mami!"
"Sayang, dua gadis kembarku ...."
Mereka segera menghampiri orang tuanya. Memeluk, dan menyalurkan rasa rindu serta keharuan mereka.
"Kenapa Kakak gak bilang, Papi dan Mami pulang hari ini?" tanya Lisa.
"Mungkin akan menjadi kejutan," balas Yuri memeluk anaknya.
"Bagaimana dengan kuliahmu Sayang?" tanya Dika.
"Kok Kak Arkan gak pulang?"
"Kakakmu sedang sibuk dengan pekerjaannya. Dia tengah asik merintis usahanya di sana," balas Yuri.
"Oh, apakah Kakak satuku akan menjadi penggila kerja seperti Kak Sam?" ujar Lisa.
"Bisa jadi."
Dua gadis kembar itu, kini teralihkan pandangannya ke arah sang kakak pertamanya. "Kak Daniel!"
"Adik-adikku cantik, bagaimana dengan kabar kalian Sayang? Aku merindukan kalian."
"Baik, Kak. Kita juga sangat merindukan Kakak!" Mereka terisak dalam dekapan Daniel.
Sebenarnya sebelum mereka berkeluarga dulu, Lia dan Lisa hanya bisa dekat dengan kakak pertamanya itu. Mereka selalu patuh, dan menyayangi layaknya seorang ayah. Sedari kecil pun, mereka memang dirawat dengan Daniel. Sosok Daniel adalah peran penting bagi mereka.
"Kenapa harus kakak yang jauh sama kita?"
"Oh, jadi kalian sudah merasa tidak betah tinggal bersamaku?" sahut Samuel. Lalu ia mengumpat, "Drama sekali!"
"Jelas, Kak Daniel selalu kasih waktu banyak buat kita dulu, sedangkan Kak Sam lebih mementingkan pekerjaan!" cetus Lia.
__ADS_1
Samuel memasang wajah datarnya, sedangkan mereka tersenyum penuh haru. Pertemuan mereka bukan satu bulan atau dua bulan, tapi bertahun-tahun. Jadi, wajar melepas rindu seperti ini.
"Bibi, semakin gendut aja."
Lia dan Lisa menatap marah ponakannya itu. "Enteng sekali mulutmu, bocah!" cecar Lia.
"Aku berbicara fakta!"
"Sialan! Apa kau tidak merindukanku?" Lia dan Lisa menyerang keponakan nakalnya itu dengan pelukan.
"Tidak, aku lebih merindukan kekasihku di sana."
"Astaga, bocah ini pipis saja kau belum lurus. Sudah main cinta-cintaan."
Mereka pun terus berbincang, bercanda, saling bergurau. Samuel, pun merasa tersenyum melihat kumpulnya satu keluarga ini.
'Siap kau Baby Shireen. Malam ini akan aku kenalkan calon keluarga barumu," ucap dalam hati Samuel.
Malam hari.
Azriel dan Azel saat ini tidak terdengar suara lengkingan mereka. Biasanya saat ini mereka selalu bertengkar, atau ada saja masalah yang membuat mereka saling berteriak.
Ya, karena saat ini mereka terpisah. Dua anak kembar itu menjadi rebutan. Azel berada di kamar Daniel, sedangkan Azriel berada di kamar Omah dan Eyangnya.
Dua anak kembar itu masih banyak tanya-tanya, dengan mencari pengetahuan yang luas untuk pola berpikirnya. Ma'lum saja, mereka masih merasa asing karena kehadiran saudara-saudaranya yang sangatlah jauh, dan kali ini adalah pertemuan pertama mereka.
Sementara di dalam kamar, Samuel sedang memandang wajah tampan dan tubuhnya yang gagah. Pria itu tersenyum dengan sorot matanya yang tajam.
Tiba-tiba ia merasa punggung dan perutnya seperti direngkuh seseorang. "Kau sangat tampan adik ipar." Samuel dapat merasakan bagaimana lembutnya elusan tangan itu. Terlebih, tepat di bagian otot perutnya yang telanjang.
"Tidak sopan! Kau, masuk sembarang ke kamarku!" tegas Samuel menepis tangan wanita itu.
Samuel berbalik menghadap wanita yang sedang menggoda nafsu birahinya. "Apa kau merasa jijik denganku? Dulu, sebelum aku menikah dengan kakakmu. Kau sudah lebih dulu menjamah tubuhku," ucap Liyu dengan nada suara menggodanya.
"Ya, dapat disimpulkan kau tidak lebih dari seorang jal*ng."
Liyulina. Sang kakak ipar Samuel, wanita yang masih mendambakan sosok adik iparnya. Jika, boleh kalian tebak dia adalah mantan kekasih Samuel. Maka jawabannya benar. Dulu, Samuel pernah berhubungan dengannya, sebelum mengetahui bahwa ia pernah juga berhubungan dengan kakaknya.
"Aku memang sudah pernah bercinta denganmu, tapi aku kira kau suci ternyata kau sudah dipakai dengan kakakku sendiri."
Samuel mengira bahwa Liyu adalah gadis perawan yang hanya memiliki kekasih ia seorang. Namun, wanita itu serakah. Sebelum menyerahkan tubuhnya, ternyata Liyu sudah lebih dulu bercinta dengan kakaknya. Jadi, itulah maksud jika Samuel menjamah tubuhnya sebelum ia menikah dengan Daniel. Yang pada kenyataannya, Daniellah yang lebih dulu mengambil kesuciannya.
Semenjak itu kebenciannya terhadap wanita itu, tercipta.
Bersambung ...
__ADS_1