
"Kau berhak, ambillah salah satu di antara mereka." Ucapan Samuel langsung membuat Shireen menjatuhkan air matanya. Bagi di antara siapapun dari dua anak tirinya yang akan di ambil, Shireen merasa sangat tidak rela. Ya, dua bocah kembar itu tumbuh dalam asuhannya, mana mungkin begitu saja diambil oleh orang yang baru datang.
"Mas, aku mohon ...."
Samuel memberikan usapan hangat di punggung istrinya, seolah itu adalah penenang untuk hatinya.
"Namun, aku tidak mau ada kepaksaan. Jika di antara mereka tidak mau mengikutimu, maka kau yang harus mengerti. Karena aku tidak ingin anakku hidup dalam kesedihan, apalagi keterpaksaan yang akan menjadi penyiksaan untuknya," lanjut Samuel.
Leona langsung melangkah menuju ke ruang santai yang di mana Azel dan Azriel sedang bermain bersama.
Awal-awal Leona mencoba untuk membujuk. Ia mengusap kepala anaknya secara lembut.
"Anak Mami. Di rumah Mami, ada banyak sekali mainan, maukah kalian ikut Mami?" ucap Leona. Ia berusaha untuk membujuk keduanya.
"Mas, mereka dibujuk dua-duanya. Gimana kalo mereka benar mau?" Sementara Shireen terus gelisah, dengan menggumam doa tiada henti.
"Tenanglah, aku tahu siapa anak-anakku. Kita saksikan saja," balas Samuel.
"Sam, apa kau benar dengan keputusanmu itu?" tanya Dika. Samuel hanya memberikan anggukan kepada Papinya.
"Mami akan mengambulkan semua keinginan kalian. Kalian boleh makan apa saja!"
"Azel mau ikut! Azel mau cokat, boleh 'kan Mami?" Ucapan Azel yang begitu excited setelah mendengar kata mainan, dan makanan kesukaannya. Jelas, membuat Shireen menambah terisak. Sedangkan, Samuel masih tetap santai.
"Tentu saja Sayang, akan ada banyak sekali coklat!" Sontak saja membuat Maminya itu tersenyum. Senang, karena merasa telah berhasil membujuk.
"Azil gak mau, Azil mau sama Mommy aja!" Bocah lelaki itu berlari menghampiri Shireen, meminta untuk duduk di pangkuannya. Azriel tipe anak yang mudah paham dan cepat tanggap, ia sudah lebih sedikit memahami mana yang baik dan mana yang buruk menurutnya. Sementara kakaknya yang polos itu masih banyak sekali tanya karena daya pikirnya yang lambat.
"Adik gak ikut, Azel juga gak mau!"
"Sayang ... tapi di sini tidak ada coklat. Jika kau ikut Mami, hari ini juga Mami belikan banyak!" cegah Leona, saat Azel ingin melangkah. Namun justru ditepis oleh bocah perempuan itu.
"Tidak mau, Azel mau ikut adik dan Mommy!"
Senyum yang awalnya mengembang jelas, kini berubah menjadi pias. Sakit, sungguh sakit tentunya. Diacuhkan oleh anak yang dulu telah dijaga selama dalam kandungannya.
Samuel sudah pasti mengira. Ia sangat paham karakteristik dan kecerdasan Azriel. 'Sudah kukatakan, aku tau siapa anakku,' batinnya.
"Mereka tidak mau, berarti kau harus mengerti. Datanglah kapan kau mau, temui mereka sepuasnya. Aku tidak akan melarang," ucap Samuel.
"Baiklah. Jika aku tidak bisa membawa mereka, maka tidak akan ada larangan untuk aku menemuinya suatu waktu," balas Leona.
__ADS_1
"Tentu saja."
Shireen pun merasa sangat amat lega. Ia merengkuh kedua anak kembar tirinya itu dengan erat. Berpisah dari salah satu di antara mereka maupun keduanya, adalah hal yang tidak akan pernah Shireen bayangkan bagaimana kesedihannya.
'Tapi, aku pergi untuk menghancurkan, bukan membiarkan,' batin Leona.
***
Satu bulan setelah kepulangan Leona. Entahlah, Shireen merasa selama itu hidupnya berjalan sangat tenang bagaikan air yang mengalir. Tidak ada kata-kata ancaman ataupun pancingan lagi. Namun, melainkan terganti dengan ocehan dari Mami mertuanya yang sangat posesif.
Perhatian Yuri begitu penuh kepada Shireen, hanya saja dalam pengucapan dan perhatiannya selalu berbentuk omelan dan cemoohan. Shireen sudah terbiasa dengan itu, baginya apapun yang diucapkan oleh Yuri adalah bentuk kasih sayang dan keperduliannya.
Kini Shireen ingin turun untuk sarapan bersama, tapi tiba-tiba ...
"Apa-apaan kau ini?! Usia kandunganmu hanya menunggu beberapa Minggu lagi untuk melahirkan. Dengan seenaknya kau memakai high heels seperti itu. Cepat lepas, dan ganti dengan sendal!"
Shireen menghela napasnya. Tinggal satu tingkat lagi ia menurun anak tangga, tiba-tiba ocehan itu membuatnya harus kembali naik.
Setelah turun kembali dengan mengenakan sendal yang lebih ringan, akhirnya tidak ada lagi protes dari Yuri. Ia harus rela berpergian dengan sendal seperti itu, demi sang mertua yang posesif.
"Dokter Stavie tidak bisa ke sini, jadi kita konsul kandunganmu ke rumah sakitnya," ucap Yuri.
"Baik, Mami."
"Baiklah," balas Samuel.
'Mau protes tapi itu benar. Astaga, posesifnya Mami melebihi Mas Samuel,' gerutu Shireen dalam hati.
Ya, Yuri bisa didefinisikan mertua cerewet yang sesungguhnya.
Malam hari di dalam kamar.
"Bagaimana kondisi bayiku, Sayang?" tanya Samuel yang kala itu tengah duduk santai sembari menyicipi kopinya.
"Bayi aku juga!"
"Terserah! Jadi bagaimana?"
"Kata Dokter Stavie, janin aku baik sehat dan dia bilang, 'Semoga saja tidak melakukan operasi sesar' katanya."
"Ya, semoga saja. Jika kau lahir normal, kita akan memproduksi banyak anak. Dengan begitu tim sepak bolaku akan terbentuk." Seketika Shireen memutar bola matanya.
__ADS_1
"Bisa-bisa aku terus yang kena omelan Mami selama hamil!"
"Maafkan Mamiku, dia memang cerewet jika perihal seorang anak. Tapi, aku yakin itu untuk kebaikanmu."
"Ya, aku juga ngerti. Justru aku lebih suka dengan Mami yang sekarang. Semua ucapan Mami adalah kebaikan untukku dan calon bayi kita."
"Kau tahu?" Samuel menepuk pahanya, meminta istrinya itu duduk di sana untuk mendengarkan sebuah cerita yang akan ia bicarakan.
"Kenapa?" Shireen menuruti, ia menyembunyikan wajahnya di dada suaminya itu. Samuel pun mengusap-usap kepalanya.
"Waktu hamil pertama Mami keguguran sebab memakai high heels yang begitu tinggi, itu demi penampilannya agar terlihat bagus saat berpegian, tetapi akhirnya dia menyesal. Dan, kedua saat tri semester awal kehamilannya, Mami keguguran lagi karena jatuh dari tangga, lagi-lagi dia menyesal karena kecerobohannya," jelas Samuel.
Tentu saja Shireen terkejut. "Jadi, sebenarnya Mami itu anaknya banyak ya?"
"Ya, kakak-kakakku yang telah meninggal sebelum datang ke dunia. Jadi wajar saja Mami sangat posesif, karena dia ingin kau melakukan pencegahan sebelum akhirnya kau sendiri yang menyesal."
"Aku paham sekarang. Semua larangan untuk aku adalah pengalamannya waktu dulu."
Samuel mengusap perut istrinya penuh kelembutan. Berkali-kali ia mengecup kening Shireen. "Jaga anak kita, aku tidak ingin kau mengalami seperti yang Mami rasakan seperti dulu. Mendengar kerentanan kandunganmu, itu menjadi suatu kecemasanku," gumam pria itu.
"Mas tenang aja, selagi masih ada ayah bayi ini yang menjaga. Dia aman!"
"Namun bagaimana jika aku pergi?"
"Ada Omahnya!" Shireen menjawab tersenyum lebar.
"Baiklah-baiklah, aku mencintaimu," balas suaminya ikut tersenyum.
"Aku nggak hehe ...."
"Astaga, kau jahat sekali."
"Maksud aku nggak bisa dipungkiri kalau aku juga mencintai Mas lebih dari apapun!"
"Terima kasih!"
"Untuk?"
"Untuk kau yang selalu mau melayaniku di kamar mandi."
Akhhh!
__ADS_1
Ya, dari suasana yang romantis itu hilang sekejap karena ucapan Samuel yang sangat konyol bagi Shireen. Mungkin karena ia kesal, ibu hamil itu menggigit dada suaminya hingga ia memekik.
Bersambung .....