
10 tahun telah berlalu.
Kini terlihat seorang gadis SMP sedang duduk di bangku taman dengan memainkan rambutnya. Wajah gadis itu terlihat murung, dan tampak tak bersemangat.
"Heyy, gadis cantik kenapa sendirian?"
Tiba-tiba seorang pria berkharisma datang menyodorkan sebuah coklat berbentuk love kepada gadis manis itu.
"Bolos 'kah?" tanyanya lagi.
Gadis itu mengangguk dengan lesu, kemudian pria itu kembali bertanya, "Kenapa?"
"Hari ini penebusan raport, tapi orang tua Abel sama sekali tidak datang. Mami sibuk di kantor," ujar gadis itu. Ya gadis berumur 14 tahun itu adalah Abel.
"Lalu ayahmu?"
"Entah, Abel tidak tau di mana ayah," jelasnya.
Pria itu menekuk keningnya. Hatinya bertanya-tanya, bagaimana seorang anak tidak bisa mengenal sosok ayahnya?
'Ah, mungkin saja dia seorang yatim yang ditinggal ayahnya sejak lahir,' batinnya.
"Namaku Aghafa, panggil saja aku Om Agha. Di mana sekolahmu?" ucap Agha sembari mengusap surai rambut panjang Abel.
"Di SMP negeri Pelita Bangsa, dekat universitas di sana!" unjuk gadis itu ke arah sebuah gedung besar.
Agha tersenyum, lalu ia menuntun Abel. "Om mau ajak Abel kemana? Kata Mami Abel gak boleh ikut sembarang orang, apalagi baru dikenal."
"Gadis manis, aku ini orang baik-baik. Aku akan membantumu, sekarang kita ke sekolahmu ya!"
"Mau apa? Nanti Abel di marahi ibu guru ..."
"Kan ada aku, jadi kau tenang saja."
Abel pun tersenyum, ia berjalan mengikuti pria itu yang menggandengnya.
***
Di kantor.
"Rina apa hari ini adalah jadwal meeting? Jika bisa diwakilkan, aku minta kau mewakiliku ya? Hari ini aku ingin ke sekolah anakku," ucap Azel terlihat terburu-buru membereskan berkas-berkasnya.
"Maaf Buk, hari ini ada rapat penting yang akan membahas perancangan proyek baru. Sepertinya tidak bisa diwakilkan," ucap sang sekretaris.
"Tapi aku harus mendatangi sekolah anakku, hari ini ada penebusan raport di sekolah. Aku sudah berjanji dengannya, aku tidak ingin mengecewakan anakku."
Ya, pikiran Azel terus saja tertuju pada putrinya. Hari ini ia telah berjanji akan mendatangi sekolah sebagai perwakilan orang tua. Namun, dunia kerjanya seakan merenggut untuk mengingkari janji.
__ADS_1
"Otomatis klien akan memutuskan kerjasama dengan perusahaan kita. Menurut saya ini peluang besar untuk perkembangan bisnis, sayang sekali jika kita lewatkan. Lebih baik menyuruh seseorang untuk mewakilkan Ibu di sekolah, biar nanti saya yang carikan orang."
"Baiklah, atur semua jadwal. Aku akan minta tolong dengan adik iparku."
'Maafkan mami sayang.'
***
Di sekolah.
"Kamu kelas berapa? Di mana ruangannya?" tanya Agha.
"Kelas 7A Om, di sana ruangannya!" unjuk Abel. Namun, tiba-tiba ia melihat seorang wanita sedang berjalan ke arah mereka.
'Astaga Ibu Risma, aduh pasti Abel kena omel,' batin Abel.
"Ya ampun Abel, ibu cariin kamu. Sekarang orang tuamu mana? Semua teman-teman kamu sudah pulang, dan hanya tinggal kamu saja!"
Abel hanya menunduk dengan tatapan mata yang menunduk ke bawah. Gadis itu memang sangat takut dengan seorang guru muda yang cantik itu.
"Saya ayahnya, maaf karena telat datang. Apakah masih bisa?" sahut Agha.
Guru muda itu terpaku sejenak. 'Ternyata benar Abel masih mempunyai ayah, dia sangat mirip dengannya.' batin guru itu.
"Baiklah Pak tidak apa-apa, saya Risma wali kelas Abel. Mari ikut saya!"
Sementara terlihat Abel terus mengamati wajah pria itu. Ini adalah kali pertama ia didampingi oleh seorang yang terasa seperti sosok ayahnya, dalam pengambilan raport.
'Andai Om tampan ini benar jadi ayah Abel. Pasti Abel bisa memamerkan teman-teman, kalau Abel juga punya ayah. Tapi, sayang dia hanya orang lain yang tak sengaja bertemu,' batin Abel.
"Kenapa hadir baru kali ini Pak? Biasanya selain mami Abel, omah, om atau yang sering itu tantenya yang mewakilkan," ucap ibu Risma.
"Saya menjalani bisnis di luar kota, jadi yaa memang kurang sempat, tapi kali ini saya senang bisa hadir," balas Agha.
"Saya juga merasa senang, tapi kalau bisa selalu hadiri setiap pemanggilan wali murid, karena saya melihat dari Abel yang suka malu karena tidak bisa dihadiri oleh orang tuanya. Tadi saja dia bolos, karena ada yang bilang orang tua Abel tidak bisa hadir, dan ini bukan sekali atau dua kali."
"Maafin Abel ya Bu ...." sahut Abel menunduk.
"Lain kali tidak boleh seperti itu ya!" peringatnya, dan Abel hanya bisa memanggut dengan patuh.
"Maaf, kesibukan kami terkadang terlupa untuk mementingkan anak, tapi saya sudah menetap di sini, saya akan mewakilkan setiap acara apapun yang bersangkutan dengan orang tua murid," terang Agha.
Lihatlah pria itu, sangat pandai sekali berbicara. Dia bisa berkata layaknya semua itu nyata, tanpa terasa ini hanyalah sandiwara. Namun, dalam hati entah rasa darimana ia benar-benar merasakan seperti seorang ayah saat ini.
"Baiklah, syukur jika seperti itu. Semester pertama ini Abel mengalami penaikan, dari rangking tiga kini naik rangking kedua dari tujuh puluh siswa kelas 7A. Mohon ditingkatkan lagi belajarnya, Abel anak yang berprestasi."
"Syukurlah, terima kasih. Saya izin pamit, sekali lagi terima kasih!"
__ADS_1
"Ya, sama-sama."
"Terima kasih Ibu ...." sahut Abel.
"Iyah, belajar lagi yang rajin!"
"Baik Ibu."
Sebelum pergi Agha memberikan senyuman kepada guru muda itu, hingga pada akhirnya ia pergi dengan menggandeng Abel.
"Syukurlah, akhirnya ada sosok yang bisa mewakili Abel. Kesibukan memang melupakan segala hal, sampai anak pun tidak diengahkan," gumamnya.
***
Di taman yang sama tempat Abel singgah tadi.
"Om, Abel ucapkan terima kasih sebanyak-banyaknya. Nanti Abel mau cerita sama mami, kalau Abel bertemu Om tampan yang sangat mirip dengan Abel," celoteh Abel dengan celemotan karena coklat yang ia makan.
Aghafa tersenyum melihat kondisi Abel, walaupun usia anak ini sudah memasuki masa remaja tapi Aghafa melihat Abel seperti masih berumur balita.
Pria itu memangku tubuh kecil Abel, lalu membantu mengusap bekas coklat di bibir dan pipinya.
"Apa kau juga merasakan sepertiku? Entah kenapa aku merasa kita itu mirip," ujarnya.
"Iya Om, hidung kita sama!" balas Abel mencolek sedikit hidung mancung Aghafa.
"Bahkan, kita sama-sama mempunyai lesung pipi!" Aghafa tersenyum. Ya, memang benar Abel melihat ada legokan di pipi pria itu, dan sama yang seperti ia miliki.
"Om tampan, kalau mami tau pasti mami suka sama Om!"
"Siapa nama mamimu?"
"Mami Azel!"
"Azel?"
Abel mengangguk, setelah Aghafa menegaskan bahwa ia tidak salah mendengar nama itu yang disebutkan olehnya.
'Nama itu,' batinnya.
"Nanti Abel mau cerita sama mami!"
"Baiklah, salam juga buat mamimu ya. Semoga nanti kita bisa dipertemukan."
"Abel juga boleh 'kan ketemu sama Om lagi?" ucap Abel dengan kesibukannya yang asik mengorek-ngorek isi coklat itu.
"Tentu saja, aku sangat senang bisa mengenalmu."
__ADS_1
"Kalau jadi ayah gimana? Abel tidak punya ayah, Om mau 'kan jadi ayah Abel?"