Ibu ASI Untuk Bayi Om Duda

Ibu ASI Untuk Bayi Om Duda
S3. Kembali Pada Elena


__ADS_3

Agha mulai terpancing emosi, ia sedikit geram atas ucapan Azel yang terus merujuk pada masalah lalunya. Namun ia tidak bisa mengeluarkan rasa itu, mau bagaimana pun sadar diri akan kesalahannya selalu ia ingat.


“Baiklah aku minta maaf.”


“Maafmu tidak bisa membayar semua penderitaanku!”


Agha lagi-lagi menghela napasnya. Cukup payah menghadapi mood perempuan ini. Mengalah adalah salah satu caranya. “Bagaimana aku harus membayar itu?”


“Mudah, lepaskan aku sekarang dan mulai saat ini jauhi aku. Anggap saja kita tidak kenal. Untuk Abel kau akan tetap menjadi ayahnya. Temui dia kapanpun kau mau,” balas Azel. Untuk kali ini Agha terdiam, membiarkan dia pergi dengan banjiran air matanya.


Perkataan Azel yang begitu tegas mencemoohkannya, membuat pria itu minder. Ia tidak bisa lagi, mempertahankan seseorang yang sudah sangat membencinya.


“Baiklah, mulai saat ini aku akan melepaskanmu. Jika itu maumu, tidak akan lagi aku memandang ataupun melihatmu,” gumamnya.


Sampai di kantor.


Agha masuk ke ruangannya dengan sikap profesional, walau dihatinya sedang tidak baik-baik saja pria itu tetap seperti biasa. Ia mulai sadar, setiap masalah tidak harus melibatkan orang lain.


Hari ini sangat begitu kebetulan. Seseorang yang jarang sekali muncul, kini tiba-tiba menunjukkan wujudnya dengan khas dirinya yang nyentrik.


“Apa kabar saudaraku ...?” ucapnya nyeleneh.


“Kau ke mana saja?” tanya Agha pada Elena.


“Aku sibuk mencari jodoh. Kenapa, kau pasti merindukanku yaaa?” goda Elena.


“Hmm ya, aku merindukanmu. Elena apa aku bisa menarik ulang perkataanku waktu itu? Aku sudah tidak menganggapmu seperti saudara lagi, aku ingin lebih. Aku ingin kau men-mm ja-di wanitaku!”

__ADS_1


Pengakuan itu membuat Elena terkekeh. Ia baru tahu sekarang, jika Agha tetap sama. Ia juga sadar bahwa dirinya selalu menjadi bahan pelampiasan. Kemana saja kemarin-kemarin, di saat dirinya sudah hilang akan obsessinya tiba-tiba pria menyatakan perasaan.


“Aku sudah mendengar ceritamu dari si babu itu. Ternyata banyak kepribadian lain di dalam dirimu, dulu kau bernama Alex sekarang kau bergelar Luis. Aku tahu kau tetap menjadi Agha, tetapi mau bagaimana pun jati dirimu adalah Alex,” ujar Elena lagi-lagi ia terkekeh, “Agha ... Agha ... kau terlalu mempermainkan perasaan seseorang. Bukan hanya orang lain, tapi perasaan kau sendiri kau bohongi,” lanjutnya.


“Aku tidak menganggapmu pelampiasan Elen, tapi bagiku masa depanku memang sudah bertakdir bersamamu. Ya, aku sudah mulai membuka perasaanku Elen, aku ingin menikahi denganmu,” balas Agha.


“Walau tanpa cinta?”


“Elen, ayahku pernah berkata, ‘rasa cinta akan muncul seiring waktu yang menyatukan’. Untuk itu aku ingin membuka lembaran baru. Biarlah masa laluku telah usai, kini aku harus menentukan kedepannya bagaimana,” ujar Agha mulai meraih tangan perempuan itu.


“Tidak Agha. Aku tidak bisa menjalani hidup dengan kepalsuan. Kau menikahiku, sementara perasaanmu hanya untuk Azel. Aku seakan jadi tempat singgahan di saat kau dilanda keterpurukan prihal cinta.”


Agha tidak membenarkan itu, ia terus meyakinkan perasaan perempuan itu. Ia mendekat lalu membenamkan wajah Elena untuk berada di bawah pelukannya. “Aku akan belajar mencintai Elen. Kuberharap kau mau menerimaku kembali,” ujarnya.


Akhirnya Elena tenggelam dalam kehangatan pelukan pria itu, kemudian ia menjawab, “Baiklah ... aku juga yang akan mengajarimu nanti untuk melupakannya.”


***


Sementara di tempat lain, Azel yang sedang melamun di depan tumpukkan kertas yang begitu penting tiba-tiba mendapat sebuah pesan dari sang kekasih.


[Sayang esok I will come to Indonesian. Yes, aku akan bawa my family untuk melamarmu. Nantikan aku Sayang ...]


Azel hanya tampak tersenyum saja, ia tidak menunjukkan raut kebahagiaan dari wajahnya. “Aku akan menantikanmu,” gumamnya sembari ia membalas pesan itu dengan kata yang sama.


Senyum terpaksanya tidak bertahan lama, beberapa saat kemudian perempuan itu kembali berekspresi datar.


‘Apa perkataanku begitu sangat menyakitkan tadi? Astaga, aku benar-benar orang yang jahat. Masa lalu yang telah usai, kini aku campur adukkan dengan perasaan. Kebencianku tidak membuatku untung, justru aku jadi menyakitinya.’

__ADS_1


Ya, sedari tadi itulah permalasahan darinya, sampai-sampai wanita ini tak bisa menunjukkan excitednya kepada sang kekasih.


Batinnya terus berbicara, sementara hatinya mengeluh, dan otaknya berkerja keras. Memikirkan semua itu akan membuat pekerjaan terbengkalai, perempuan itu hanya bisa bengong, melamun dan berpikir yang menyia-nyiakan waktu.


“Maafkan aku Agha. Kini hatiku cemas, karena takut ada suatu penyesalan untukku nanti.”


***


4 hari telah berlalu.


Agha benar-benar tidak menunjukkan dirinya di hadapan Azel. Bertemu sang putri pun hanya di saat jam istirahat dan jika sempat sepulang sekolah saja, itupun hanya sekedar mengajak Abel bermain di taman.


“Kamu berangkat dengan siapa?”


“Sama sopirlah Mami, siapa lagi?” balas Abel seolah jengah.


“Hmm, yaaa mami hanya kira ayahmu menjemput. Kau ‘kan tidak mau jauh darinya,” balas Azel sedikit ketus.


“Tapi Mami sendiri yang seolah menjauhi Abel darinya. Sekarang Abel mengerti alasan ayah enggan menjemput Abel, itu pasti karena Mami yang buat semua ini. Mami katakan apa saja yang membuat ayah down? Ayah terlihat tidak bersemangat tiap harinya!”


‘Dasar pengadu,' cemooh dalam hatinya.


“Apa saja yang diadukannya tentang mami?” cetus Azel.


“Tidak ada, coba Mami sadari saja apa yang diri Mami lakukan itu membuat orang sakit hati atau tidak?”


Seketika Azel terdiam. Ia sadar, dan saat itulah Abel berangkat begitu saja tanpa berucap apa-apa lagi.

__ADS_1


__ADS_2