
Azel terbelalak, ia meminta Agha untuk segera menurunkan anaknya dari gendongan pria itu.
“Astaga. Cepat turunkan anakku!”
“Beritahu di mana kamar Abel?” elak Agha.
“Maaf Tuan, tapi apakah sopan seorang tamu yang asing masuk ke rumah dengan begitu saja? Mohon maaf rumahku bukan tempat sembarang orang!”
‘Aduh kok mami sensi banget sama ayah Agha? Apa masa lalu yang diceritakannya waktu aku kecil, tampak tidak menyenangkan?’ batin Abel.
Agha tidak memperdulikan ocehan yang akan keluar lagi dari mulut Azel, kini ia menerobos masuk begitu saja. Sebelum itu ia berbisik sesuatu kepada Abel, “Di mana kamarmu?”
Dengan gerakan cepat Abel pun menjawabnya dengan spontan. Setelah ditujukan di mana letak kamarnya, Agha langsung saja membawa gadis itu. Niatnya agar Abel cepat-cepat istirahat.
“Istirahatlah, jangan banyak beraktivitas dan jaga mood baikmu,” pesan Agha.
“Iya Ayah!”
Tiba-tiba Azel datang dengan raut wajah teduhnya, objek pertama yang ia tuju hanyalah kepada Agha.
Agha tidak ingin sesuatu terlihat dari sisi lain mereka, di hadapan anaknya. Ia pun segera menarik tangan Azel yang ingin mengeluarkan ledakan di mulutnya.
“Sopankah kau seperti itu?”
“Anakmu butuh istirahat, dan bisakah kau tidak menunjukkan sesuatu di antara kita? Aku tidak ingin Abel mengetahuinya!”
“Anakku itu cerdas, dia akan terus bertanya apapun yang ingin dia tahu. Jadi, jika dia tidak tahu apa-apa tentang kita itu mustahil!”
“Jadi maksudmu kau sudah menceritakan semuanya?” Azel mengangguk acuh. Hingga kala itu juga, Agha memejamkan matanya dengan helaan napasnya.
“Pantas saja ....”
“Kenapa?”
__ADS_1
Masih ingat dengan interogasi Abel tadi? Ya, mungkin dibalik semua itu ada sesuatu yang sudah diketahui oleh gadis kecil itu.
“Azel aku tidak ingin dia menjauhiku karena dia tahu jika aku dulu menyukai ibunya. Sementara, sebentar lagi dia akan mempunyai calon ayah. Sudah pasti aku akan dijauhinya, aku tidak ingin itu!”
Azel menepis tangan pria matang itu, karena dia sempat menggenggam telapaknya, “Agha bagiku itu bagus, justru aku tegaskan kepadamu untuk menjauhinya. Ingat kata-kata adikku dulu, jangan sampai ada pertentangan lagi. Aku ingin hidup tenang!”
“Apa aku ini pengganggu bagi kalian? Sebenarnya di mana letak kesalahanku sampai aku dibenci tanpa alasan? Aku hanya orang lain yang kalian anggap orang yang sama! Sadarlah aku bukan dia yang kau maksud itu, dan aku tetap aku. Orang yang berbeda!”
Agha mulai menggapai punggung tangan Azel kembali, benar-benar sangat lembut sampai ibu satu anak itu enggan untuk menepisnya. “Kau hilang tanpa kabar, sementara aku menunggu dan masih mengharapkanmu. Tetapi, pertemuan kita dari kesekian kalinya, ini yang paling menyakitkan. Tiba-tiba aku dipatahkan dengan kenyataan, saat melihatmu bersanding dengan pria lain, dan justru menganggapku seperti asing.”
“Maaf Agha, tapi ini semua takdir yang sudah digariskan Tuhan. Aku tidak bisa disatukan denganmu. Tembok kita terlalu besar untuk saling menggapai. Kehidupanku sekarang adalah kebahagiaanku, jadi pergi dan menjauhlah. Aku sudah senang dengan semua ini,” balas Azel. Perlahan wanita itu menarik tangannya.
“Aku akan belajar untuk itu Azel, walaupun sesungguhnya memang benar aku masih berharap denganmu, tapi aku bukan pria kejam yang mudah merenggut kebahagiaan seseorang. Berangsur nanti aku bisa melupakanmu, tapi hatiku sudah sangat nyaman dengan anakmu. Jika kau masih melarang aku menganggapnya sebagai anak, kau wanita egois yang pernah kukenal!”
“Selagi belum adanya hubungan yang sah antara aku dan kekasihku. Aku izinkan, tapi itu hanya bersifat sementara sebab nanti Abel akan mempunyai ayah yang sesungguhnya!”
Tatapan nanar pun tersirat dari wajah pria itu, sedangkan rasa tidak enak hati dirasakan oleh wanita ini.
‘Maaf Agha, aku hanya ingin melindungimu dari kejamnya perlakuan adikku kala nanti dia akan mengetahui hal ini,' batin Azel.
“Benar ‘kan mami dan ayah Agha itu punya scandal. Aku tidak percaya jika hanya bekerjasama menurut yang mami ceritakan. Pasti ada hal lain,” gumam Abel. Lalu, ia menutup lagi pintunya rapat-rapat.
Cukup puas ia menyaksikan obrolan private dari dua orang itu. Walau hati masih bertanya-tanya, akan tetapi banyak yang sudah ia simpulkan.
***
Di hari berikutnya. Ini sudah masuk hari kedua masa menstruasi Abel. Mengetahui anaknya yang sudah beranjak dewasa, Azel menjadi lebih selektif dalam menjaganya.
Bahkan aturan-aturan konyol mulai tercipta yang dibuat oleh maminya.
“Sayang anak mami, hari ini berangkat dengan Ante Ina ya. Pak Karto sedang cuti, jadi kamu bareng dengan adik Aries saja.”
Seketika Abel berhenti mengunyah, gadis itu menggeleng kuat pertanda dirinya sangat tidak setuju.
__ADS_1
“Gak mahu adiu Arieus reseh!” balasnya dengan mulut yang penuh-penuh.
“Habiskan dulu yang di mulut. Kamu bicara seperti orang kumur-kumur!” tegur sang mami. Dengan gerakan cepat Abel, segera mengunyah makanannya.
“Mami, Abel gak mau dengan adik Aries, dia reseh mami. Mending Abel jalan deh, daripada kena jahil dia lagi!”
“Kamu itu tidak ada akur-akurnya dengan sepupu. Suatu saat kalau dia asing, kamu akan merindukan sosoknya yang jahil seperti itu!”
‘Ah, itu .....’
Memory scene seketika siap berputar kembali. Azel mengingat di mana ia dijahili dengan Agha, yang menurutnya seperti buntut yang selalu mengekornya. Dia masih sangat ingat, syarat-syarat konyol pria itu. Sebab kebodohannya, ia mau saja menurut demi untuk menjauhinya. Namun, apa yang terjadi sekarang? Hanya ada rasa asing bukan? Tentu saja, 10 tahun berpisah bukan hal yang lumrah bagi seseorang untuk kembali seperti awal.
“Pokoknya gak mau!”
Azel menghela napasnya. Ia ingat hari ini masih di fase hormon menstruasi. Sudah pasti Abel akan berbeda dari hari biasanya.
“Baiklah, jadi kamu niat mau barangkat dengan siapa? Mami tidak bisa menghantar untuk hari ini Sayang ....”
“Ayah!”
Benar ‘kan ... pasti hanya itu. Sepertinya energinya terlalu kecil untuk bertengkar untuk anaknya.
“Hmm tap--”
“Ayah datang ke rumah Abel ya, jemput. Abel tidak ada yang bisa menghantar ke sekolah ....”
[On the way, Sayang ....]
Azel menganga, padahal ucapannya baru sampai tenggorokan belum ia keluar. Namun tak apalah, mood Abel yang tidak bagus takut membuatnya berubah.
“Sudah Mami hehe ....” Wajah Azel pun tampak datar, terlebih melihat ekspresi anaknya yang seolah suasana baik-baik saja.
Beberapa menit kemudian, terdengar suara mobil sedan menepi di pekarangan rumah. Senyum Abel pun terhias, sedangkan Azel tiba-tiba diserang rasa kegugupannya.
__ADS_1
‘Ishhh masih saja suka deg-deg seperti ini,' batinnya.