Ibu ASI Untuk Bayi Om Duda

Ibu ASI Untuk Bayi Om Duda
S2. Pulih


__ADS_3

Satu bulan kemudian.


Ina sedang mengawasi Azriel yang sedang berjalan santai di taman. Lihatlah, aktivitas pria itu tak luput dari olahraga.


Perjuangan Azriel tak sia-sia, pria itu telah melewati masa sulitnya. Kini, kehidupannya seakan kembali normal lagi. Azriel sudah bisa berjalan dan melakukan sesuatu tanpa bantuan. Namun, ia masih sering merasa kesemutan dengan tiba-tiba dan terkadang lemas di bagian kakinya.


Namun, pria itu sudah nyatakan sembuh walaupun belum sepenuhnya.


"Hati-hati Tuan!" Ina berteriak kepada Azriel yang masih berjalan-jalan melatih otot kakinya agar semakin kencang.


"Ina kemarilah!" panggil Azriel.


Ina menghampiri tuannya, lalu ia menatap aktivitas Azriel yang terlihat sedang memetik bunga-bunga cantik di taman sana.


Azriel mengambil satu bunga kecil. Kemudian, ia mendekati Ina. Pria itu menarik tengkuk Ina, lalu menyibak rambut gadis itu.


Ina yang diperlukan seperti merasa aneh, dan canggung. "Tu-tuan."


"Diamlah!"


Azriel menyelipkan bunga kecil itu di telinga Ina. Tangan Azriel pun belum beranjak dari tengkuk lehernya. "Jika ada Abel, aku pasti sudah memasangkan bunga ini untuknya," gumam pria itu.


"Hmm, terima kasih Tuan."


"Aku belum memujimu cantik!"


Seketika pipi Ina bersemu. Namun, Azriel tiba-tiba mengajaknya untuk duduk menghadap tanaman bunga-bunga cantik itu. "Aku sangat suka sekali dengan tanaman bunga. Jika kau tahu, ini semua aku yang tanam dulu. Tapi, karena bukan aku yang mengurusnya bunga ini jadi tidak terlalu terawat," ujar Azriel.


"Sungguh? Saya juga sangat menyukai bunga Tuan, tapi di desa tanaman bunga seperti ini sangat mahal."


Tiba-tiba Azriel mendekati Ina, dan tanpa Ina sangka pria itu menggenggam tangannya. "Ina aku ingin mengucapkan terima kasih kepadamu. Maafkan sikapku. Mungkin jika bukan karena perjuanganmu, aku tidak akan bisa sembuh," ungkap Azriel.


Ini sebuah fakta. Pertama kali Azriel mengucapkan kata maaf dan terima kasih kepada orang selain kakak, mommy dan daddynya.


"Sudah tugas saya Tuan. Saya sangat senang atas kesembuhan Tuan. Mungkin, setelah ini pekerjaan saya telah usai. Saya akan kembali ke desa."


Mendengar itu, Azriel merasa tidak terima. "Jadi rasa semangatmu mengurusku karena ingin cepat pulang? Benar, kau itu hanya menjalankan misi dan rasa penasaranmu saja. Jika seperti itu, kenapa tidak dari awal saja kau pergi dari rumahku?!" sergah Azriel.


Pria itu langsung berdiri dan melangkah pergi.


"Tuan bukan seperti maksudku!" Ucapan Ina tak sampai ke telinganya. Azriel seakan sudah kehilangan mood baiknya.


"Sungguh aneh, dulu dia berusaha untuk mengusirku tapi sekarang aku bilang mau pulang, dia justru marah. Sikap tempramental Tuan itu sulit ditebak. Padahal, baru saja dia mengucapkan maaf dan terima kasih."


Gadis itu pun merasa keheranan sendiri.

__ADS_1


***


Saat ingin menyediakan susu untuk Azriel, tiba-tiba Ina menjumpai Aryan.


"Hai Nona Ina."


"Oh, hallo Tuan. Butuh bantuan?"


"Kau sedang membuatkan susu untuk kakakku ya?"


"Iya Tuan. Apa Tuan mau sekalian juga?"


"Boleh!"


"Baiklah ...."


"Hmm, Nona Ina. Setelah aku mengunggah foto denganmu waktu itu. Kau tahu,  Fatia langsung mengirim balasan kepadaku. Aku tahu dia cemburu haha!"


"Benarkah? Sebenarnya Nona Fatia itu juga mencintai Tuan, tetapi dia lebih privat dan tidak mudah menyadarkan perasaannya," ucap Ina.


"Ya, ya benar juga. Dan kau tahu juga, dia meminta foto itu dihapus dan diganti dengan foto aku bersama dengannya, haha!"


Ina ikut tertawa, mereka pun larut dalam berbagai cerita. Terutama dengan Aryan yang sangat terbuka kepada Ina jika sudah membahas tentang kekasih idamannya.


Tanpa mereka sadari ada Azriel yang melihat keakraban mereka. Azriel sampai putar balik ke kamarnya, karena niatnya hanya ingin menjemput Ina.


***


'Gadis itu yang selalu membuatku naik darah. Aku sangat benci dia akrab dengan orang lain selain aku!'


Tiba-tiba Azel sang kakak datang.


"Azriel ...."


Azel merasa terharu bahagia, karena ia melihat sang adik sudah berdiri dengan gagah. Azel memeluk saudara kembarnya yang lebih tinggi darinya itu.


"Kakak tidak bisa berkata-kata lagi. Kakak senang melihatmu kembali normal. Ternyata adikku sudah sembuh," ucap Azel. Mungkin karena kesibukannya, Azel tak sempat memantau keseharian adiknya. Dan, kini hal yang membuatnya kaget karena Azriel sudah kembali seperti dulu lagi.


"Kau begitu sibuk sampai tak tahu perkembangan adikmu," ucap Azriel dingin.


"Kau tahu sendiri bagaimana aku ...."


"Aku akan mengambil alih kembali perusahaan. Kakak sebaiknya fokus dengan Abel, dia masih kecil masih sangat butuh kau setiap waktu," ujar Azriel.


"Baiklah ... jika sudah di tanganmu, aku merasa tenang. Akhirnya aku kembali mempunyai sosok pelindungku selain Daddy," ucap Azel.

__ADS_1


"Aku ingin menyelidiki siapa sosok pria yang kau kenalkan waktu itu."


"Azriel sudahlah ... aku sudah memutuskan kerjasama dengannya bulan lalu. Tidak perlu ... aku tidak suka kau berusaha menguak masa lalu lagi. Kau sudah sembuh, sebaiknya nikmati saja kebebasanmu. Masa lalu akan selalu membuat kita sedih," ujar Azel.


'Waktu itu aku juga yakin, jika Alex sudah mati saat kejadian. Tetapi, pria itu tidak mungkin mempunyai kembaran. Aku mengenal siapa Alex, lantas pria itu siapa?' batin Azriel.


"Ya."


"Azriel berterimakasihlah dengan Ina. Mungkin jika bukan karenanya, kau belum tentu bisa seperti ini lagi. Kehadirannya membawa pengaruh baik untukmu, bukan?"


"Aku bosan membahas ini!"


"Aku tahu kau sedang panas 'kan karena Ina sekarang lebih akrab dengan Aryan? Tanpa kau sadari, gadis itu sudah masuk ke hatimu Azriel. Pria angkuh sepertimu mana paham tentang perasaan!"


Seketika Azriel mendadak terdiam dan tak berkata lagi untuk menyangkal.


'Tidak mungkin!' Hanya dalam hatilah


***


Pagi hari.


Saat Azriel bangun, pria itu sudah menatap keberadaan Ina yang sedang menyiapkan baju.


"Pagi Tuan!"


Azriel tidak menjawab, ia masih kesal prihal semalam. Azriel beranjak dari tempat tidurnya. Ia menghampiri Ina, lalu bergerak mengambil handuk.


Sementara Ina yang melihat sikap Azriel seperti itu, ia mengira jika Azriel masih marah dengannya prihal di taman kemarin.


"Aneh!"


Di meja makan.


Semua orang sudah berkumpul di meja untuk sarapan. Tiba-tiba mereka terkejut saat melihat Azriel datang untuk ikut sarapan bersama lagi.


"Akhirnya Kakak ikut sarapan bareng lagi," ujar Iren.


"Iya, biasanya dia disuapi sama pengasuhnya di dalam kamar," ledek Aryan.


"Sudah bisa berjalan, tidak boleh manja dengan Ina lagi," goda Azel.


"Sudah, nanti dia putar balik lagi!" tegur Shireen.


Azriel hanya memasang wajah seperti biasa, datar tanpa ekspresi. Ya, mungkin hidupnya kembali normal, tapi tidak dengan sikapnya. Kepribadiannya ini yang dinyatakan permanen bukan?

__ADS_1


"Sekalian Daddy juga mau membicarakan soal perjodohanmu. Setelah ini kau tidak lagi diurus oleh Ina. Kau akan menikah agar ada seseorang yang menggantikannya."


Bersambung ....


__ADS_2